Lan Fang, The Wrong Man or The Man Who is Wrong

Lan FangLan Fang, in memoriam Indonesian literary circles mourn following the unexpected death of a prolific writer namely Lan Fang on X-mas yesterday. Lan Fang was born in Banjarmasin, South Borneo, on March 5, 1970. She is first of two daughters of the late Johnny Gautama and Yang Mei Ing. She had her first short story published in Anita Cemerlang magazine in 1986. She was a prolific writer, be for novels and short stories. But now she can no longer write. So long, Lan Fang….

* * *

Lan Fang, the wrong man or the man who is wrong?”

Itulah kutipan secuil komentar Budi Dharma di halaman awal kumpulan cerpen Laki-Laki yang Salah karya Lan Fang. Mungkin sekedar mengingatkan tarikan antara obyektivitas dan subyektivitas pandangan perempuan terhadap laki-laki. Sudah menjadi rahasia umum, perempuan tidak menyukai menulis perempuan dalam situasi kalah, menjadi korban laki-laki, atau perempuan yang tergerus patriarki. Tapi Lan Fang menuliskannya.

Tidak sepenuhnya, memang. Hanya beberapa dari cerpen dalam kumpulan cerpen ini, selebihnya dia merasa perlu untuk menyeimbangkan pandangannya terhadap kaumnya sendiri. Setengah-setengah? Atau kebingungan dalam memihak antara kodrat dan feminisme?

Lan Fang merupakan satu di antara rentetan kemunculan generasi penulis perempuan di Indonesia. Karya-karya awalnya muncul di beberapa majalah remaja. Penulis yang lahir di Banjarmasin, 5 Maret 1970 ini telah mengoleksi banyak karya. Beberapa yang telah terbit antara lain Reinkarnasi, Pai Yin, Kembang Gunung Purei, dan Wanita Kembang Jepun, Ciuman di Bawah Hujan, yang kesemuanya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Seperti pengakuannya, Laki-Laki yang Salah bisa jadi sebuah kumpulan cerpen yang salah. Cerpen-cerpen di dalamnya merupakan cerpen yang pernah dimuat di dua genre media; koran dan majalah wanita, yang tentu memiliki garis tegas akan nuansa sastra dan nuansa pop.

Dalam nuansa popnya, kumpulan cerpen ini hadir melalui kata-kata, atau kalimat yang mendayu-dayu. Tengok saja dalam cerpen Bicara tentang Sri:

Indra? Sri mengernyitkan kening ketika mengingat nama itu. Sejenak dirasakannya dadanya sesak ketika nama itu kembali mengusiknya. Terlebih kenangan-kenangan manis bersama Indra masih bermain di pelupuk matanya. Rasa rindu semakin sarat bergayut di hatinya.

“Sri aku tidak akan melupakanmu,” begitu kata Indra seminggu sebelum pemuda itu berangkat ke Perth. (halaman 42)

Atau dalam cerpen Ambilkan Bulan Bu:

Angan kembali melemparkanku ke masa lalu. Di ambang usia tujuh belas tahun, seorang pemuda berusia dua puluh tahun menerobos ke dalamnya. Andi namanya. Ia anak rekan bisnis Ayah. Kebetulan kami bertemu saat pesta ulang tahun ibunya. Tatapan tajamnya langsung menggetarkan hatiku yang terdalam sehingga kami berjabat tangan untuk pertama kali. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Hubungan kami yang semakin dekat telah memberikan warna di duniaku yang semula hanya berwarna putih. (halaman 176)

Membaca nukilan kalimat tersebut saya jadi langsung tergambar adegan-adegan sinetron yang sarat mengumbar air mata, kemewahan, dan cerita cinta yang cengeng tanpa jiwa. Anehnya, ternyata masih banyak sekali kata-kata serupa di atas dalam kumpulan cerpen ini. Kebanyakan merupakan cerita cinta sumir dari perempuan-perempuan yang terlalu mengagungkan cintanya, kekanak-kanakan, sehingga harus menelan kepahitan hidup, hanya karena cintanya.

Tapi seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, tidak semua cerpen dalam kumpulan ini berkarakter seperti di atas. Lan Fang membagi kumpulan cerpen ini menjadi tiga bagian besar:

  1. Siang, yang berisi cerpen Mulut, Ketika Tidak Harus Menunggu, Bicara tentang Cinta Sri, Terlambat.
  2. Malam, berisi cerpen Bayang-Bayang, Dejavu, Jangan Main-Main dengan Perempuan, Perempuan Abu-Abu, Perempuan Bermata Sepi, Kepada Suzanna, Laki-Laki yang Salah.
  3. Pagi, berisi cerpen 05.03.2004, Ambilkan Bulan Bu, Pangeran Api dan Putri Air, Kunang-kunang di Mata Indri.

Paling tidak, ada dua tema dan gaya lain yang diusung oleh Lan Fang: Realis romantis dan eksistensial yang kadang berlari pada absurditas. Mungkin kita akan terkaget-keget setelah membaca di bagian awal menuju bagian tengah. Cerpen-cerpen Lan Fang berubah drastis, paling tidak ada tiga kategori: (1) Gambaran perempuan yang lemah dijawab dengan keperkasaan perempuan, (2) Beberapa jalinan cinta menjadi lebih dewasa dengan konflik dan dialog yang menarik, dan (3) Beberapa cerita menjadi lebih dalam di kata dan makna, lebih filosofis.

Kita tegok kutipan cerpen Dejavu berikut:

“Laki-laki sama seperti seekor kucing. Licik…,” sahutnya enteng. “Seekor kucing yang mengeong-ngeong minta dipangku dan dielus-elus tengkuknya. Lalu ia merem-melek tidur di pangkuan. Tetapi ketika tetangga sebelah menawarkan pindang, dengan mudahnya ia mengeong, mengendus, dan menjilat kepada tetangga sebelah…,” sahutnya sejurus setelah menghirup float avocado-nya lagi.

Aku tertawa tanpa bisa kucegah. “Masa sampai seperti itu?”

….

“Hm…, kalau laki-laki seperti kucing. Bagaimana dengan perempuan?” tanyaku sejurus kemudian.

“Perempuan seperti anjing…”

“Anjing?!” aku terpana.

“Ya…, setia seperti anjing. Apa pun anjing itu. Anjing heder, peking, chow-chow, atau anjing kampung sekalipun, akan tetap duduk setia menunggu pintu sampai tuannya pulang ke rumah. Ia tidak akan makan pemberian tetangga sebelah. Anjing hanya makan yang disodorkan tuannya. Ia tidak akan mencuri-curi kesempatan. Bahkan terkadang, tuannya sudah bosan dan mengusirnya sambil melemparnya dengan sepatu, sang anjing masih kembali menjaga pintu rumah tuannya,” ia berbicara sambil tertawa. (halaman 88—89)

Dialog cerita ini begitu lugas dan enak dinikmati, berbeda sekali sentuhannya dengan contoh kutipan sebelumnya. Di sini Lan Fang mencoba menggali dan mendalami pemaknaannya terhadap maksud yang akan disampaikan dalam cerita.

Atau simak pula cerpen Jangan Main-Main dengan Perempuan, dengan nuansa absurdnya, gambaran perempuan yang lemah dijawab dengan keperkasaan perempuan. Perempuan yang mempertanyakan kapasitas keperempuanannya. Semacam perubahan sikap, atau sekedar pembelaan dan simpati atas perempuan kalah dalam beberapa cerpen sebelumnya, lihatlah betapa perempuan di sini menjadi sangat otoriter, kritis, dan tidak mau diatur.

“Apa kau menulis tentang peremuan lagi?!” suara perempuanku menggelegar kali ini.

Aku menengadah karena terkejut. Jemariku berhenti menari di atas keyboard laptopku. Dan aku tereranjat tidak kepalang tanggung ketika menyadari perempuanku berdiri di depanku dengan begitu perkasa!

Jahitan di bibirnya sudah rentas. Gigi geliginya sudah menjadi taring semua. Dan lidahnya berapi! Astaga! Aku melarikan pandanganku ke stoples berisi air keras tempat mengawetkan organ-organ mulut perempuanku. Semua masih lengkap di dalam stoples itu…

“Bah! Kau kira kau bisa memasung mulutku untuk selamanya?” tanyanya ketus

….

“Bah! Perempuan mempunyai nilai jual? Apa maksudnya perempuan itu menarik? Lalu dengan seenaknya saja mempelajari dan membedah perempuan bukan saja secara visual tetapi juga secara riil. Dokter-doikter kandungan mengobok-obok perempuan mulai dari labia mayora, labia minora, saluran falopii, uterus, bahkan menjadikannya kelinci percobaan untuk inseminasi, bayi tabung, bahkan mungkin program kloning di kemudian hari, dengan alasan kemajuan ilmu kedokteran…”

“Itu namanya kodrat! Karena itu perempuan berharga…”

“Apa katamu?” ia seperti harimau meradang.

“Perempuan berharga?! Kalau perempuan berharga, kenapa undang-undang perkawinan hanya mengatur tentang poligami? Kenapa tidak mengatur tentang poliandri? Kenapa kalau perempuan tidak bisa memberikan keturunan bisa menjadi alasan laki-laki untuk kawin lagi? Bagaimana dengan laki-laki yang impoten, azospermia, ejakulasi dini, atau apa saja namanya…, bisakah dijadikan alasan buat perempuan kawin lagi? Di mana hukum perkawinan kita menempatkan bahwa perempuan itu berharga?” (halaman 95–97)

Segala uneg-uneg, pertanyaan-pertanyaaan, mengenai permasalahan perempuan, poligami, dan undang-undang yang mengaturnya, yang sempat booming menjadi isu nasional, tumpah dalam retorika dalam kutipan paragraf di atas. Isu yang senada, namun dengan cerita berbeda diangkat juga dalam cerpen Perempuan Abu-Abu.

Beberapa kisah cerita lain mengalir lebih lembut dan romantis, syukurlah tidak sumir. Jalinan ceritanya membentuk konflik dan pengungkapan kata yang menarik. Walaupun temanya tetap dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan, cinta segitiga, atau cinta yang datang terlambat. Namun lebih enak untuk dinikmati, seperti Perempuan Bermata Sepi, Kepada Suzanna, dan Laki-Laki yang Salah.

Namun entah sebagai klarifikasi, atau persiapan jika pembaca nantinya bertanya-tanya atas kumpulan cerpen ini (seperti halnya penulis ketika selesai membaca), Lan Fang memberikan empat paragraf diplomasi sebagai penutup. Satu paragraf di antaranya berbunyi:

Kutarik-tarik sendiri benang merah tentang apa yang “salah” dari para laki-laki itu. Entahlah… Karena ternyata, semua yang “salah” itu kutemukan di dalam satu black box! Cinta yang tidak pada tempatnya, jatuh cinta pada saat yang salah, jatuh cinta pada orang yang salah, kelahiran yang salah, protes-protes atas segala kesalahan, bahkan sampai menikmati kesalahan. Aku pun tak tahu apakah juga merupakan “kesalahan” lagi, ketika aku mencampurkan semua cerpen-cerpenku di dalam buku ini.

Yah, tidak ada yang salah dalam sebuah buku. Yang ada hanya pikiran-pikiran yang berlaku seperti timbangan, berlaku berat sebelah atau seimbang atas persoalan, dan membubuhkannya pada orang-orang yang kita kenal, bukannya menikmatinya sebagai bacaan dan menambah keragaman berpikir.

Itulah kutipan secuil komentar Budi Dharma di halaman awal kumpulan cerpen Laki-Laki yang Salah karya Lan Fang. Mungkin sekedar mengingatkan tarikan antara obyektivitas dan subyektivitas pandangan perempuan terhadap laki-laki. Sudah menjadi rahasia umum, perempuan tidak menyukai menulis perempuan dalam situasi kalah, menjadi korban laki-laki, atau perempuan yang tergerus patriarki. Tapi Lan Fang menuliskannya.

Tidak sepenuhnya, memang. Hanya beberapa dari cerpen dalam kumpulan cerpen ini, selebihnya dia merasa perlu untuk menyeimbangkan pandangannya terhadap kaumnya sendiri. Setengah-setengah? Atau kebingungan dalam memihak antara kodrat dan feminisme?

Lan Fang merupakan satu di antara rentetan kemunculan generasi penulis perempuan di Indonesia. Karya-karya awalnya muncul di beberapa majalah remaja. Penulis yang lahir di Banjarmasin, 5 Maret 1970 ini telah mengoleksi banyak karya. Beberapa yang telah terbit antara lain Reinkarnasi, Pai Yin, Kembang Gunung Purei, dan Wanita Kembang Jepun, Ciuman di Bawah Hujan, yang kesemuanya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Seperti pengakuannya, Laki-Laki yang Salah bisa jadi sebuah kumpulan cerpen yang salah. Cerpen-cerpen di dalamnya merupakan cerpen yang pernah dimuat di dua genre media; koran dan majalah wanita, yang tentu memiliki garis tegas akan nuansa sastra dan nuansa pop.

Dalam nuansa popnya, kumpulan cerpen ini hadir melalui kata-kata, atau kalimat yang mendayu-dayu. Tengok saja dalam cerpen Bicara tentang Sri:

Indra? Sri mengernyitkan kening ketika mengingat nama itu. Sejenak dirasakannya dadanya sesak ketika nama itu kembali mengusiknya. Terlebih kenangan-kenangan manis bersama Indra masih bermain di pelupuk matanya. Rasa rindu semakin sarat bergayut di hatinya.

“Sri aku tidak akan melupakanmu,” begitu kata Indra seminggu sebelum pemuda itu berangkat ke Perth. (halaman 42)

Atau dalam cerpen Ambilkan Bulan Bu:

Angan kembali melemparkanku ke masa lalu. Di ambang usia tujuh belas tahun, seorang pemuda berusia dua puluh tahun menerobos ke dalamnya. Andi namanya. Ia anak rekan bisnis Ayah. Kebetulan kami bertemu saat pesta ulang tahun ibunya. Tatapan tajamnya langsung menggetarkan hatiku yang terdalam sehingga kami berjabat tangan untuk pertama kali. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Hubungan kami yang semakin dekat telah memberikan warna di duniaku yang semula hanya berwarna putih. (halaman 176)

Membaca nukilan kalimat tersebut saya jadi langsung tergambar adegan-adegan sinetron yang sarat mengumbar air mata, kemewahan, dan cerita cinta yang cengeng tanpa jiwa. Anehnya, ternyata masih banyak sekali kata-kata serupa di atas dalam kumpulan cerpen ini. Kebanyakan merupakan cerita cinta sumir dari perempuan-perempuan yang terlalu mengagungkan cintanya, kekanak-kanakan, sehingga harus menelan kepahitan hidup, hanya karena cintanya.

Tapi seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, tidak semua cerpen dalam kumpulan ini berkarakter seperti di atas. Lan Fang membagi kumpulan cerpen ini menjadi tiga bagian besar:

  1. Siang, yang berisi cerpen Mulut, Ketika Tidak Harus Menunggu, Bicara tentang Cinta Sri, Terlambat.
  2. Malam, berisi cerpen Bayang-Bayang, Dejavu, Jangan Main-Main dengan Perempuan, Perempuan Abu-Abu, Perempuan Bermata Sepi, Kepada Suzanna, Laki-Laki yang Salah.
  3. Pagi, berisi cerpen 05.03.2004, Ambilkan Bulan Bu, Pangeran Api dan Putri Air, Kunang-kunang di Mata Indri.

Paling tidak, ada dua tema dan gaya lain yang diusung oleh Lan Fang: Realis romantis dan eksistensial yang kadang berlari pada absurditas. Mungkin kita akan terkaget-keget setelah membaca di bagian awal menuju bagian tengah. Cerpen-cerpen Lan Fang berubah drastis, paling tidak ada tiga kategori: (1) Gambaran perempuan yang lemah dijawab dengan keperkasaan perempuan, (2) Beberapa jalinan cinta menjadi lebih dewasa dengan konflik dan dialog yang menarik, dan (3) Beberapa cerita menjadi lebih dalam di kata dan makna, lebih filosofis.

Kita tegok kutipan cerpen Dejavu berikut:

“Laki-laki sama seperti seekor kucing. Licik…,” sahutnya enteng. “Seekor kucing yang mengeong-ngeong minta dipangku dan dielus-elus tengkuknya. Lalu ia merem-melek tidur di pangkuan. Tetapi ketika tetangga sebelah menawarkan pindang, dengan mudahnya ia mengeong, mengendus, dan menjilat kepada tetangga sebelah…,” sahutnya sejurus setelah menghirup float avocado-nya lagi.

Aku tertawa tanpa bisa kucegah. “Masa sampai seperti itu?”

….

“Hm…, kalau laki-laki seperti kucing. Bagaimana dengan perempuan?” tanyaku sejurus kemudian.

“Perempuan seperti anjing…”

 

“Anjing?!” aku terpana.

“Ya…, setia seperti anjing. Apa pun anjing itu. Anjing heder, peking, chow-chow, atau anjing kampung sekalipun, akan tetap duduk setia menunggu pintu sampai tuannya pulang ke rumah. Ia tidak akan makan pemberian tetangga sebelah. Anjing hanya makan yang disodorkan tuannya. Ia tidak akan mencuri-curi kesempatan. Bahkan terkadang, tuannya sudah bosan dan mengusirnya sambil melemparnya dengan sepatu, sang anjing masih kembali menjaga pintu rumah tuannya,” ia berbicara sambil tertawa. (halaman 88—89)

Dialog cerita ini begitu lugas dan enak dinikmati, berbeda sekali sentuhannya dengan contoh kutipan sebelumnya. Di sini Lan Fang mencoba menggali dan mendalami pemaknaannya terhadap maksud yang akan disampaikan dalam cerita.

Atau simak pula cerpen Jangan Main-Main dengan Perempuan, dengan nuansa absurdnya, gambaran perempuan yang lemah dijawab dengan keperkasaan perempuan. Perempuan yang mempertanyakan kapasitas keperempuanannya. Semacam perubahan sikap, atau sekedar pembelaan dan simpati atas perempuan kalah dalam beberapa cerpen sebelumnya, lihatlah betapa perempuan di sini menjadi sangat otoriter, kritis, dan tidak mau diatur.

“Apa kau menulis tentang peremuan lagi?!” suara perempuanku menggelegar kali ini.

Aku menengadah karena terkejut. Jemariku berhenti menari di atas keyboard laptopku. Dan aku tereranjat tidak kepalang tanggung ketika menyadari perempuanku berdiri di depanku dengan begitu perkasa!

Jahitan di bibirnya sudah rentas. Gigi geliginya sudah menjadi taring semua. Dan lidahnya berapi! Astaga! Aku melarikan pandanganku ke stoples berisi air keras tempat mengawetkan organ-organ mulut perempuanku. Semua masih lengkap di dalam stoples itu…

“Bah! Kau kira kau bisa memasung mulutku untuk selamanya?” tanyanya ketus

….

“Bah! Perempuan mempunyai nilai jual? Apa maksudnya perempuan itu menarik? Lalu dengan seenaknya saja mempelajari dan membedah perempuan bukan saja secara visual tetapi juga secara riil. Dokter-doikter kandungan mengobok-obok perempuan mulai dari labia mayora, labia minora, saluran falopii, uterus, bahkan menjadikannya kelinci percobaan untuk inseminasi, bayi tabung, bahkan mungkin program kloning di kemudian hari, dengan alasan kemajuan ilmu kedokteran…”

“Itu namanya kodrat! Karena itu perempuan berharga…”

“Apa katamu?” ia seperti harimau meradang.

“Perempuan berharga?! Kalau perempuan berharga, kenapa undang-undang perkawinan hanya mengatur tentang poligami? Kenapa tidak mengatur tentang poliandri? Kenapa kalau perempuan tidak bisa memberikan keturunan bisa menjadi alasan laki-laki untuk kawin lagi? Bagaimana dengan laki-laki yang impoten, azospermia, ejakulasi dini, atau apa saja namanya…, bisakah dijadikan alasan buat perempuan kawin lagi? Di mana hukum perkawinan kita menempatkan bahwa perempuan itu berharga?” (halaman 95–97)

Segala uneg-uneg, pertanyaan-pertanyaaan, mengenai permasalahan perempuan, poligami, dan undang-undang yang mengaturnya, yang sempat booming menjadi isu nasional, tumpah dalam retorika dalam kutipan paragraf di atas. Isu yang senada, namun dengan cerita berbeda diangkat juga dalam cerpen Perempuan Abu-Abu.

Beberapa kisah cerita lain mengalir lebih lembut dan romantis, syukurlah tidak sumir. Jalinan ceritanya membentuk konflik dan pengungkapan kata yang menarik. Walaupun temanya tetap dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan, cinta segitiga, atau cinta yang datang terlambat. Namun lebih enak untuk dinikmati, seperti Perempuan Bermata Sepi, Kepada Suzanna, dan Laki-Laki yang Salah.

Namun entah sebagai klarifikasi, atau persiapan jika pembaca nantinya bertanya-tanya atas kumpulan cerpen ini (seperti halnya penulis ketika selesai membaca), Lan Fang memberikan empat paragraf diplomasi sebagai penutup. Satu paragraf di antaranya berbunyi:

Kutarik-tarik sendiri benang merah tentang apa yang “salah” dari para laki-laki itu. Entahlah… Karena ternyata, semua yang “salah” itu kutemukan di dalam satu black box! Cinta yang tidak pada tempatnya, jatuh cinta pada saat yang salah, jatuh cinta pada orang yang salah, kelahiran yang salah, protes-protes atas segala kesalahan, bahkan sampai menikmati kesalahan. Aku pun tak tahu apakah juga merupakan “kesalahan” lagi, ketika aku mencampurkan semua cerpen-cerpenku di dalam buku ini.

Yah, tidak ada yang salah dalam sebuah buku. Yang ada hanya pikiran-pikiran yang berlaku seperti timbangan, berlaku berat sebelah atau seimbang atas persoalan, dan membubuhkannya pada orang-orang yang kita kenal, bukannya menikmatinya sebagai bacaan dan menambah keragaman berpikir.

Apapun, penulis produktif itu telah tiada. Kanker telah merenggutnya dari para pembaca setianya pada 25 Desember 2011.

Yang menarik, sebelum meninggal, Lan Fang ternyata pernah menumpahkan curahan hatinya soal sutradara Hanung Bramantyo. Menurut kawannya, Wina Bojonegoro, Lan Fang kecewa kepada Hanung karena telah menyadur novel Tanda Tanya karyanya dalam film berjudul ?. Tapi di Twitter-nya, Hanung menyangkal dan mengatakan bahwa dia belum membaca novel tersebut. Mana yang benar, well, saya tidak ada wewenang untuk menghakimi. Yang jelas, pendekar sastra yang bergiat di Surabaya itu sudah berpulang. Selamat jalan, Cece…. [photo from Gramedia.com]

One Reply to “Lan Fang, The Wrong Man or The Man Who is Wrong”

  1. Brahmanto Anindito

    Pada 2 Januari 2012, terjadi crash di database Warung Fiksi. Semua artikel lenyap. Termasuk artikel ini. Backup kami hanya mampu mengkover sampai 19 Oktober 2011. Sisanya? Amblas! Untungnya, kami masih memiliki second backup berupa file .rtf, sehingga masih bisa mem-posting artikel-artikel yang hilang itu secara manual. Bagaimanapun, komentar-komentar Anda di artikel setelah 19 Oktober 2011 tetap hilang. Kami mohon maaf atas kecelakaan ini.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.