What is Your Deja Lu in Fiction?

Like a cliche, deja lu is repetition

Same with the déjà vu, the deja lu (I like to type this way rather than “déjà lu”, because it’s more practical) is a French term. It is something you feel have read such plot or idea before, somewhere, sometime. For instance, my mind will shout “It’s deja lu!” when reading such story circumstance:

  • Creative person is having trouble creating. A writer has writer’s block, a sculptor cannot seem to sculpt any masterpiece, a painter is detested by critics who don’t understand how brilliant it is.
  • Sexual orientation’s vague. Two friends are very close, say they’re women. Third person comes. He is then falling of love with one of them. But her friend doesn’t agree. I thought, it could be only a jealousy. Near the end, it is clear that she’s a lesbian. She’s jealous because she loves her.
  • Weird things happen, but it turns out they’re not real. In the closing stage, it turns out it was all a dream, in virtual reality, the protagonist is insane, the protagonist is writing a novel and the events I’ve seen are part of the novel.
  • Modern protagonist follows the mystical advice of a hillbilly folk.
  • Strange and mysterious things keep happening persistently for half the story, without even a hint of explanation. The protagonist is surrounded by people who know the explanation but refuse to give it.
  • Et cetera.

And you, what is your deja lu? The funny thing is, the longer your deja lu list, the harder you’ll get idea for your next story. Especially when you’re a perfectionist and don’t fancy to write anything cliche.

* * *

Seperti deja vu (arti harfiah: sudah lihat), deja lu (arti harfiah: sudah baca) adalah kosakata Prancis. Maksudnya, suatu alur atau ide cerita yang sudah pernah dibaca, sehingga Anda mudah menebak arahnya.

Entah Anda benar-benar sudah baca cerita semacam itu atau ada anomali di memori otak Anda yang menyebabkan seolah-olah sudah membacanya. Berikut ini contoh beberapa deja lu dalam otak saya:

  • Tokoh kreatif yang sedang buntu. Seorang penulis yang mengalami writer’s block, pematung yang gagal memahat masterpiece, atau pelukis yang dikritik habis-habisan oleh kritikus yang tidak bisa melihat sisi brilian dari lukisannya.
  • Orientasi seksual yang mengecoh. Dua wanita berteman baik. Seorang pria kemudian jatuh cinta pada salah satu dari mereka. Tapi teman baik wanita itu tidak setuju. Seakan-akan ada kecemburuan. Ya, dia memang cemburu. Namun bukan kepada si pria. Di akhir cerita dibeberkan kalau dia lesbian.
  • Keunikan terjadi, tapi berakhir dengan “ci luk ba”. Di akhir cerita ternyata: semua itu mimpi, permainan virtual, tokoh utamanya tidak waras, tokoh utamanya sedang menulis fiksi dan kejadian yang saya lihat adalah bagian dari fiksi itu.
  • Orang modern mengikuti nasehat klenik ala orang pedalaman.
  • Keganjilan terus terjadi sampai separuh cerita, tanpa penjelasan. Tokoh utama dikelilingi orang-orang yang mengerti permasalahannya, tapi mereka menolak menjelaskan.
  • Dan lain-lain.

Tahukah Anda, semakin panjang daftar deja lu Anda, semakin sulit Anda mengarang cerita baru. Terutama bila Anda seorang perfeksionis dan anti menulis sesuatu yang klise.

Omong-omong, apa saja deja lu Anda?

28 Replies to “What is Your Deja Lu in Fiction?”

  1. ariez

    apa ya?
    seringnya klo liat sinetron.
    klo baca kayaknya jarang
    klo sinetron gini :
    1. hilang ingatan
    2. ngejer warisan
    3. si kaya dan si miskin jadi suami istri
    4. antagonisnya bener2 kliatan

    Reply
  2. Romase

    A protagonist takes revenge for the wrongs done. He’s put through heavy-handed humiliation after humiliation. Yet he swallows it all quietly. But finally, he’s triggered and murders someone.

    Reply
  3. rie

    Ada nih, tp ga tau ini general atau unik, dlm cerita anak, suka ada tokoh murid baru. Coba tengok Laskar Pelangi, Totto-chan, film King, di buku2 anak Prancis juga sama. Kenapa coba? (Ini serius nanya lho, bukan mau ngetes.)
    .-= rie´s last blog ..What is Your Deja Lu in Fiction? =-.

    Reply
  4. Brahmanto Anindito Post author

    Oh iya, Rie, nggak kepikiran tuh. Kenapa ya? Dan itu mengakibatkan efek apa ke pembaca/penonton? Kalau udah nemu jawabannya, kasih tahu ya (lho kok malah aku yg tanya).

    Reply
  5. rie

    He-eh, knp kamu jd balas nanya? Tp kupikir kamu punya bakat jd filsuf. Filsuf kan ngejawab pertanyaan dgn pertanyaan lagi hehehe (btw yg bener filsuf apa filosof sih?).

    Menurut Dea, mungkin krn anak2 selalu excited sama sst yg baru. Bisa jadi sih. Aku juga lg mikir2, apa aku musti masukin plot kayak gitu ke naskahku.
    .-= rie´s last blog ..What is Your Deja Lu in Fiction? =-.

    Reply
  6. Brahmanto Anindito Post author

    Filsuf? Filosof? Au’ ah, gelap. Tp yg jelas, orang2 kayak Socrates emang kerjaannya bertanya mulu.

    Eh, perasaan, nggak cuma anak2 yg excited ama sesuatu yg baru deh. Orang dewasa jg kan. Terserah sih, mau dipakai jg bisa. Deja lu emang boleh diterabas. Asal pede dan yakin plotnya kreatif, nggak mengulang2 alias klise.

    Reply
  7. ariez

    iya ya…
    moga ga deh
    waktu saya baca maryamah karpov tuh akhirnya bener2 diluar dugaan… bertentangan banget
    tapi bikin pembaca gmn gitu

    Reply
  8. Romase

    Not only in action genre. I read the typical plot in thriller and 3-acts drama too. It’s like a common recipe.

    Reply
  9. Brahmanto Anindito Post author

    Aku belum baca Maryamah, Riez. Dan kayaknya nggak ada rencana baca itu dlm waktu dekat ini. Jd ceritain dong, “bertentangan banget” gimana maksudmu? “Bikin pembaca gmn” gimana?

    Romase, I just remember, I watched a movie, I think that’s adaptation from Stephen King’s novel. It’s about someone who had been bullied by his friend in the childhood. The guy grew up, make a happy family. And suddenly, the bully come up again in his life. It’s good movie. And the plot follows your pattern.

    Yes, it’s not only the superhero movie (DareDevil, Spider-man) or classical kungfu movie that use it. I agree. It’s a common deja lu.

    Reply
  10. ariez

    misalkan ada orang yang taat banget ma pendiriannya nah di akhir crita bener2 nentang pendiriannya demi pendiriannya yang lain…

    Reply
  11. ariez

    saya saranin baca deh
    critanya merakyat, ada hal yang nggak mungkin tapi penggambarannya ringan ko..
    bagus lah

    Reply
  12. ariez

    iya sih
    emang pemaparan bahasanya hampir sama kaya novel sebelumnya!
    tanggung ga diselesein tuh!

    mas brahm dah saya add.
    mba rie dah saya konfirm!

    klo da ide sharing ya…
    saya aktifnya di FB sih

    Reply
  13. Pradna

    kalo jawab deja gue, mesti ndak boleh

    yang paling sering aku temukan deja lu tu di karya2 Jepang. Beberapa kali baca komik Jepang, terutama yang Samurai, beberapa kali pula ada kemiripan trik atau plot cerita yang sama dengan “Mushashi” dan “Taiko” karya Yoshikawa Eiji.
    .-= Pradna´s last blog ..Obrolan Sore 08 : Dum! =-.

    Reply
  14. Brahmanto Anindito Post author

    Deja lu, Prad! Bukan deja loe! Hehehe ….

    Hm, sepertinya nggak cuma komiknya. Baru aku baca koran hari ini, sekarang orang2 Jepang pada gandrung drama Amerika: 24, Heroes, Prison Break, dll. Kenapa? Di media, mereka secara eksplisit mengatakan alur2 dorama mudah ketebak dan monoton.

    Benarkah? Aku sendiri nggak ngikuti drama Jepang, jd aku nggak bisa menyimpulkan apa2. Tp kalau benar, berarti virus deja lu yang mewabah di sinetron kita udah nular ke dorama Jepang dong.

    Reply
  15. Pingback: Memilih Tema Fiksi yang Mengena | Warung Fiksi ®

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.