John Grisham, Inspirasi dari Ruang Sidang

By: Mochammad Asrori

John Ray Grisham merupakan novelis yang pernah juga menjadi pengacara dan politisi Amerika. Hingga tahun 2008, buku-bukunya telah terjual lebih dari 235 juta kopi di seluruh dunia. Grisham muda sangat lahap membaca, dan diakuinya sendiri bahwa ia banyak mendapat pengaruh dari karya-karya John le Carre dan John Steinbeck yang dikaguminya.

Grisham lahir pada 8 Februari 1955 di Jonesboro, Arkansas. Putra kedua dari lima bersaudara ini awalnya bermimpi bisa jadi pemain baseball profesional. Ayahnya merupakan pekerja konstruksi dan petani kapas, sementara ibunya cuma seorang ibu rumah tangga. Keluarga itu sudah berkali-kali pindah rumah sebelum pada tahun 1967 menetap di Southhaven, DeSoto County, Missisippi. Bisa dibilang tidak ada basic keluarga intelektual dalam keluarganya.

Tapi ibunyalah yang berkeras memompa semangat dan menyiapkan Grisham untuk masuk bangku kuliah. Wanita itu sangat tidak memercayai televisi, itulah mengapa dia mendidik Grisham kecil supaya rajin membaca. Dr. Seuss, The Hardy Boys, Emil and the Detectives, Chip Hilton, serta banyak buku-buku karangan Mark Twain dan Dickens pun tandas.

Gemar membaca tak menjadikan Grisham seorang kutu buku. Sejak sekolah dia berkecenderungan menjadi atlet. Grisham sempat bercita-cita menjadi pemain baseball profesional. Dia juga mencoba masuk dalam tim baseball Universitas Negeri Delta. Sayang, dia kemudian disingkirkan oleh pelatihnya yang mantan pitcher Boston Red Sox, Dave Ferriss.

Tahun 1977 Grisham meraih gelar Sarjana Sains di bidang Akuntansi dari Universitas Negeri Missisippi. Selama masa kuliah, pengarang ini rajin menulis jurnal, sesuatu yang terbukti membantu ketajaman kreatifnya. Grisham lalu juga menggondol gelar hukumnya di Sekolah Hukum Universitas Missisippi pada tahun 1981.

Ia lalu merintis karir sebagai pengacara muda selama satu dekade di kota kecil Southave. Hari-harinya dihabiskan di ruang sidang mewakili berbagai klien. Grisham bahkan terpilih sebagai anggota legislatif wilayah Missisippi dari Partai Demokrat tahun 1983 hingga tahun 1990. Selama masa jabatannya, dia tetap meneruskan praktiknya sebagai pengacara pribadi di Southaven.

Tahun 1984 di ruang sidang De Soto County Hernando, Grisham mendengar sebuah pengakuan traumatik seorang gadis 12 tahun korban perkosaan. Mulailah Grisham, di waktu luangnya mengeksplorasi kisah gadis itu untuk dituangkan dalam hobi rahasianya. Grisham bertanya-tanya, “Apa yang akan terjadi jika ayah dari gadis itu merencanakan untuk membunuhnya?”

Tiap pukul 5 pagi hingga menjelang berangkat ke kantor, Grisham memulai menulis. Ini berlangsung selama tiga tahun. Tujuannya sederhana: Menyelesaikan secepat mungkin manuskrip pertamanya! Hingga rampunglah sebuah novel berjudul A Time to Kill yang baru selesai tahun 1987. Novel ini ditolak oleh banyak penerbit, sebelum akhirnya dibeli oleh Wynwood Press yang kemudian mencetaknya hanya sebanyak 5.000 kopi dan diterbitkan pada Juni 1988.

Setelah menyelesaikan A Time to Kill, Grisham mulai mengerjakan novel lain, sebuah cerita mengenai pengacara muda brilian yang terperangkap dalam sebuah firma hukum yang tampak sempurna, tapi ternyata penuh kebusukan. Novel keduanya ini, The Firm, bertengger selama 47 minggu di daftar buku bestseller New York Times hingga akhirnya menjadi Bestselling Novel tahun 1991.

Novel ini membuat Paramount Picture tertarik dan membayar seharga $600.000 untuk membuat versi layar lebarnya. Dari sinilah, di usia 36 tahun, Grisham menjelma jadi properti yang menggiurkan bagi penerbit. Hingga akhirnya hak penerbitan buku-bukunya dibeli oleh Doubleday.

Grisham kemudian selalu memproduksi sedikitnya sebuah buku tiap tahun, yang kebanyakan menjadi populer dimana-mana. Grisham merupakan satu-satunya pengarang yang menulis serentetan novel-novel bestseller selama tujuh tahun berturut-turut (1994–2000). Tercatat lebih dari 225 juta buku-buku cetakan John Grisham di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam 29 bahasa.

Sembilan novelnya, termasuk The Firm, juga telah dibuat versi layar lebarnya, seperti The Pelican Brief, The Client, A Time to Kill, The Rainmaker, The Chamber, A Painted House, The Runaway Jury, dan Skipping Christmas.

Pada sebuah wawancara di Charlie Rose Show, bulan Oktober 2006, Grisham memaparkan bahwa ia biasanya hanya memerlukan enam bulan untuk menulis sebuah buku. Ia membawa semua temuan mengenai cerita apa yang akan dituliskannya, mengenai gaya pengucapannya, karakter tokoh-tokohnya, alurnya, semuanya ke atas loteng kerjanya.

Ia menuliskannya selama enam jam dalam sehari, selama enam bulan. Ia menutup diri dari apapun kecuali keluarganya. Tanpa tekanan. Ia menulis tanpa memikirkan pembaca, penjualan, film. Ia hanya berfokus pada ceritanya.

Maka hadirlah deretan buku-bukunya ini: A Time to Kill (1989), The Firm (1991), The Pelican Brief (1992), The Client (1993), The Chamber (1994), The Rainmaker (1995), The Runaway Jury (1996), The Partner (1997), The Street Lawyer (1998), The Testament (1999), The Brethren (2000), A Painted House (2001), Skipping Christmas (2002), The Summons (2002), The King of Torts (2003), Bleachers (2003), The Last Juror (2004), The Broker (2005), The Innocent Man (2006), Playing for Pizza (2007), dan The Appeal (2008).

Publishers Weekly menobatkan Grisham sebagai “The Bestselling Novelist of the 90s”, yang total menjual 60.742.289 kopi novel. Dia juga satu dari sedikit pengarang yang mampu menjual dua juta kopi novel di cetakan pertamanya, selain Tom Clancy dan J.K. Rowling. Tengok saja novelnya The Pelican Brief (1992) yang terjual 11.232.480 kopi hanya di Amerika saja.

Grisham sangat terkenal di kalangan komunitas sastra karena berbagai usahanya menyokong kesinambungan tradisi bersastra penduduk asli wilayah Selatan. Grisham memberikan sebuah beasiswa dan tempat tingal bagi penulis di Fakultas Inggris dan Program Penulisan Kreatif Lanjutan di Universitas Missisippi.

Di bulan Agustus 1994, Grisham mengembangkan sayap dan menambah satu daftar pekerjaannya, yaitu menjadi penerbit. Hal ini terjadi setelah ia menyelamatkan majalah The Oxford American yang berjuang keluar dari masalah keuangan. Di majalah yang membidik topik penulisan sastra dan musik ini, di tahun 2000, Grisham menerbitkan novel A Painted House secara berseri, sebelum dibukukan pada tahun 2001.

Di tahun 1996, Grisham mengambil jeda beberapa bulan dari kegiatan menulis. Grisham kembali ke ruang sidang setelah absen selama lima 5 tahun. Ia mewakili sebuah keluarga pekerja di jalur kereta api yang seorang anggota keluarganya tewas ketika terjepit di antara dua mobil.

Grisham menyiapkan kasusnya dengan hasrat dan dedikasi yang sama dengan hasrat menulis buku-bukunya. Grisham lalu sukses meraih hati para juri yang memenangkan kasus $683.500 tersebut atas nama kliennya.

Aksi ini merupakan aksi sidang terakhirnya karena ia memutuskan pensiun dari ruang sidang dan berkomitmen untuk menjadi penulis purnawaktu. Saat disodori pertanyaan seputar hal terbaik dari profesi pengacara yang telah dilakukannya bertahun-tahun, Grisham pun menjawab singkat, “Pensiun merupakan hal terbaik.” Menurutnya persidangan merupakan pekerjaan penuh tekanan dan rentan stres. Ia tidak bisa membayangkan jadinya jika tiap hari seumur hidupnya bekerja di sana.

Walau mantap sebagai penulis, Grisham ternyata tetap menjaga hasratnya pada dunia baseball. Bukan hanya sekedar latar dari tulisan-tulisan dalam novelnya, seperti A Painted House, Grisham kini juga turut mengabdikan diri sebagai pelatih untuk Liga Kecil Baseball di Oxford, Mississippi dan Charlottesville, Virginia.

Bahkan ia juga menulis naskah asli untuk film bertema baseball yang diproduksinya berjudul Mickey, yang dibintangi Harry Connick, Jr. Film ini dirilis dalam bentuk DVD pada bulan April 2004. Grisham yang dikenal sebagai fans tim baseball Universitas Negeri Missisipi ini pun bersedia menulis sebuah pegantar untuk universitasnya dan Left Field Lounge dalam sebuah buku Dudy Noble Field: A Celebration of MSU Baseball.

Grisham, yang berkebiasaan hanya bercukur di hari minggu sebelum berangkat ke gereja, hidup bersama istrinya, Renee, dan dikaruniai dua orang anak, Ty dan Shea. Grisham berkomentar bahwa istrinya merupakan teman menulisnya. Tiap waktu Grisham menjejali Renee dengan ide-ide cerita sampai kemudian menyuruhnya diam dan fokus untuk mencari referensi.

Menurut Grisham, Renee memiliki intuisi yang bagus dalam meletakkan alur kerangka cerita. Renee juga sangat menikmati memulung dan membuang hal-hal yang berlebihan dalam subplot, tokoh-tokoh lemah, dan setting-setting tidak perlu dalam cerita-cerita Grisham.

Saya heran, kenapa di balik penulis-penulis sukses, peran istri selalu besar?

BAGIKAN HALAMAN INI DI
Posted in fiction writing | Tagged | 12 Replies

About Mochammad Asrori

is an alumnus of Indonesian Literature Study. He is first winner of The Short Story Writing Competition 2003 which held by State University of Surabaya, third winner of The Writing Contest of East Java’s Student 2004, first winner of The Essay Writing Contest and also second winner of The Poetry Writing Contest in Surabaya Anniversary 2005 event, additional winner of The Youth Theater Script’s Writing Competition 2008 which held by Taman Budaya Jatim. Several publisher and media have published his works, e.g. Widyawara, Sesasi, Gema, Surya, Kompas, Jawa Pos, Radar Surabaya, etc. He is now a teacher in Mojokerto.

12 Replies to “John Grisham, Inspirasi dari Ruang Sidang”

  1. Calvin Michel Sidjaja

    tulisan yang bagus sekali, mengingatkan kita untuk tidak menyerah dan merasa nyaman dengan hobi kita sebagai penulis. John Grisham dan penulis-penulis lainnya juga mulai dari 0, ada waktu dimana naskah mereka ditolak pertama kali.

    Mungkin terlalu jauh kalau kita bermimpi kalau novel kita jadi global best seller, karena kans penulis non-bahasa inggris menerbitkan tulisannya dalam market amerika lebih kecil, walau tidak mustahil.

    Tapi kita semua sebagai penulis harus memiliki mimpi itu, agar kita semua memiliki satu impian yang membuat kita terus maju.

    Reply
  2. Rori

    Terima kasih atas komentarnya Mas Calvin. Memang saya sengaja memperlihatkan sisi proses kreatif John Grisham agar dapat menjadi inspirasi bagi kita-kita.

    Reply
  3. Merapendra

    GENERE CAFE
    CAFE PUSTAKA

    Untuk Pertama kalinya, kami undang untuk berkunjung ke sebuah Cafe Pustaka. Berkunjunglah ke Cafe kami.

    Kunjungi kami di :

    http://generecafe.blogspot.com.

    Sebuah Ruang Pustaka yang kami suguhkan bagi para pengunjung setia penikmat Blogger di Seluruh Indonesia.

    Simpanlah undangan kami ini, apabila suatu saat nanti anda membutuhkan sebuah Cafe Pustaka sebagai bahan refrensi anda.

    Hormat kami,

    Genere Cafe

    Reply
  4. christ

    Wow…menarik juga membaca cerita di atas. Buku sekelas A Time To Kill aja pernah ditolak penerbit dan ketika diterima – cuma dicetak 5000 kopi. Apa ya alasan para penerbit menolak buku itu ???

    Reply
  5. Rori

    Trims, Christ. Penerbit memang begitu. Tidak mau ambil resiko dengan penulis baru. Sikap hati-hati yang masuk akal, meskipun kadang menjengkelkan bagi para penulis.

    Reply
  6. Anes

    Menarik sekali ulasanya….!q jadi tahu banyak mengenai john grisham…sebagi penggemar pemula,q mulai baca bukunya 2 minggu yang lalu ketika habis UNas ” the partner” dan “the king of torts”.pertama baca bukunya q langsung pengen baca karangannya yang lain.. .n pengin jadi pengacara.

    Reply
  7. Rori

    Waduh pengen jadi pengacara? Bukannya Si John Grisham malah pensiun dari pengacara dan mutusin jadi full writer… Anyway thanks Nes buat komentarnya. Buku2 John Grisham yang lain masih seabrek lho yang diterjemahkan Gramedia.

    Reply
  8. Andri

    Sebuah inspirasi dalam pemecahan masalah yang akurat. novel-novelnya begitu sangat berbeda dengan karya-karya lainnya.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.