Free Download

Free download Warung Fiksi

Silakan unduh buku atau komik di bawah ini secara gratis. Semuanya legal.

Public Domain E-Book

Jika setelah Anda pilih “Berkas .txt” halaman menjadi hitam, itu karena teksnya juga berwarna hitam. Klik pada bagian hitam itu dan blok semua (Ctrl+A atau Select All), lalu salin-tempel ke Word atau program pengolah kata lainnya.

Wuflite

5 Menit
Comic in Indonesian (file.pdf 1.75 MB)
Mendaki gunung membutuhkan waktu berminggu-minggu, jika kita memang hobi hiking. Mencari sekolah perlu berhari-hari, kalau kita tidak mau salah pilih. Bahkan untuk jalan-jalan saja, dibutuhkan waktu berjam-jam, ketika kita sedang stres. Lantas, apa yang dapat dilakukan seseorang dalam lima menit? Banyak, sebetulnya. Lima menit bukan waktu yang singkat. Dan kita tak perlu menjadi manusia super agar bisa melakukan hal-hal besar dalam waktu lima menit. Tidak percaya? Bacalah komik ini.


Non-Fiction

Writing Resource for Production

Writing Resource for Marketing

BAGIKAN HALAMAN INI DI

152 thoughts on “Free Download”

  1. Rencananya sih per bulan rilis satu e-book. Tp tergantung kiriman jg sih. Di sini nantinya bukan cuma cerpen, novel atau komik. Kumpulan artikel nonfiksi atau resume jg bisa. Yg penting mendukung riset cerita (fiksi) bersetting Indonesia. Bulan Januari bakal ada e-book ttg taman2 di Sby (berbahasa Inggris), kali aja ada yg mau membangun adegan cerita bersetting Sby.

    Oh ya, cerpenmu msh nunggu yg lain utk ditayangkan. Soalnya nggak mungkin dong dua cerpen dijadikan e-book. Nanggung kan. Atau kalau mau e-book sendiri (kyk Rie Yanti) bisa langsung kirim 9 cerpen lg, Riez. Dijamin lbh cepet. ^_^ Trims.

    Reply
  2. Ya, begitu. Hehehe …. Cerpenmu bagus. Puitis, tp nggak lebay. Malah bernas dan kontemplatif. Cuma itu yg bisa kukatakan, soalnya terlalu pendek tuh cerpenmu.

    Reply
  3. Makasih Ariez… ^_^

    Tema keseluruhan? Emangnya ga terdeteksi?

    Yah, kalo aku bocorin, ga seru donk! Kita maen tebak2an aja deh! Kalo kamu bisa jawab, aku kasih salam hangat, sehangat sinar matahari… Hehehe…

    Reply
  4. klo menrut sy…
    kayaknya dari semuanya nyinggung kenangan sama pasangan!!

    tapi ga tau juga sih!

    oh ya.
    selamat tahun baru islam 1430 H
    n tahun baru masehi 2009
    moga di tahun baru ini industri sastra semakin yahoood!
    amin!

    Reply
  5. Selamat, Ariez… Selamat Taun Baru 2009, maksudnya. Hehehe…

    Kamu mendapatkan 1/4 sinar matahari. Karena tebakannya blm tepat! Gpp ya… Lumayan, 1/4 juga bisa bikin anget…

    Tapi makasih loh udah mau main tebak2an ma saya… Kalo masih penasaran, silakan dibaca lagi kumcernya, hehehe…

    Eh, tapi jawabannya simpen sendiri aja, ga usah dibocorin di sini. Orang cuma perlu tahu kalo tulisan saya bagus. ^_-

    Reply
  6. Riez, saya lagi cuti bikin cerpen (walaupun waktu lihat “Bus Kuning” mangkal di sini saya pengen nulis cerpen lagi hehehe). Kamu bikin cerpen dong. Bikin kuncer trus kasih ke WufiNet buat dibikin ebook. Pasti saya baca.

    Reply
  7. OK mba…
    aku dah ngirim satu cerpen ke Wufi.. tinggal nunggu ja!

    tapi kalau kumcer insyaallah tar saya bikin!

    seneng loh dah da yang ngehargain kaya saya sebelum di buat!!
    makasih ya mba!!

    Reply
  8. Hehe… gpp. Tadinya aku mau saranin kamu panggil aku ‘eyang’.
    Bener kok, panggil aja ‘mbak’. Panggil ‘rie’ juga gpp.

    Kamu msh 17 th? Wah, msh muda ya? Berarti jalannya msh panjaang…. bgt. Amin. Kalo mau jd penulis, mulailah nulis dr sekarang. Ceritain ttg masa mudamu. Biar nanti ada kenang2an. ^_^

    Reply
  9. Buat Haru: bintang bersinar, bulan juga terang soalnya bulan seneng ada yang nemenin dia malem-malem. emang enak sendirian? Kalo ada bintang-bintang, kan, langit malem jadi rame.

    Reply
  10. Buat Haru juga: hehehe si bulan kan datengnya sebulan sekali (kata cwe, maaf klo nyinggung)
    makannya si bulan keluar klo bintang pada terang

    Reply
  11. Makasih, mas..info tentang penerbitnya berguna banget. Btw, yg dimaksud dengan sistem royalti berstandar internasional itu apa ya? Kalo nggak keberatan, tolong diberikan penjelasan mengenai hal itu, sekalian tentang sistem royalti lainnya. Terima kasih.
    NB : via japri juga oke, mas.. (alamat emailnya yg di atas ya, mas)

    Reply
  12. Itu Gagas ya yg ngomong gitu. Mbak Windy yg ngomong. Aku jg nggak ngerti maksudnya. Tp sepertinya, sistem berstandar internasional ya sama aja dg sistem penerbit lainnya (yg sehat) di Indonesia. Royalti para penerbit itu biasanya sekitar 10% dari harga jual (bandrol buku x eksemplar yg terjual).

    Reply
  13. oooo…oke, Mas Bram. Thanks banget buat infonya. Hmmm…kalo penerbit Terrant Books apa ada alamat contact-nya? Btw, berapa eksemplar sih yang dijadikan standar umum penerbit dalam satu kali cetakan?
    Thx.

    Reply
  14. Terrant Books nggak punya datanya, Ta. Sori. Kalau kamu punya (suatu hari nanti), di-share dong. Jumlah eksemplar sekali cetak sih terserah kebijakan masing2 penerbit. Ada yg 3.000, ada yg 1.500, bahkan ada yg cuma 1.000. Tergantung siapa penulisnya jg, alias kebijakan subyektif penerbit. Kalau yakin bukunya laku keras (nama penulisnya menjual), mrk langsung cetak banyak. Gitu.

    Reply
  15. minta alamat penerbit penerbit dong mas..trus, buat awal, tulisannya bisa di masukin kesini ya?? nanti biar dapet komen2 yang bagus, kan lumayan buat masukan.. gimana caranya ya mas??

    Reply
  16. assalamualaikum

    begini nih mas. saya punya satu mentahan novel, tapi saya bingung mau nerbitin dimana? sedangkan saya sekarang bukan di Indonesia. kalau mas berkenan, bisa minta alamat e-mailnya nggak? terima kasih sebelumnya ini.

    wassalamualaikum

    Reply
  17. Wa’alaikum salam, Nur. Juga buat Diva. Ya tinggal kirim aja. Lewat pos, email, atau diantar langsung. Nggak usah ragu. Cuma, pastikan kamu udah memenuhi syarat2 yg mrk minta. Download beberapa kebijakan Penerbit (termasuk syarat2 dan alamat2nya) lwt link “Para Pencari Fiksi” di atas. Saran ini jg buat Ira.

    Kalau mau cerpennya dimuat di sini, boleh jg. Gampang. Asal udah jd cerpen lho. Kirim aja via attachment ke emailku, bhanto@yahoo.com.

    Reply
  18. Aneh. Coba kamu download file lainnya, apa dipassword juga? Kalau iya, coba deh upgrade reader di komputermu. Kalau pakai Adobe Reader, ambil aja di Adobe.com. Instal versi 7 ke atas. Terus buka pdf-nya lg.

    Reply
  19. Salam kenal, Ahmad Mubarok. Pengen nulis ya nulis aja. Kalau nggak bisa, tiru aja tulisan penulis idolamu. Jiplak! Asal hsl jiplakannya jangan diaku-aku atau dipublikasikan.

    Tahap berikutnya, modifikasi jiplakan itu dg kata2mu sendiri. Tahap lebih lanjut, jiplak ide orang, tp tulisannya (kata2nya) murni dari kamu. Dan tahap terakhir, ide dan tulisan semua murni dari kamu.

    Kalau sampai tahap terakhir itu, baru publikasikan tulisanmu. Yg paling mudah di blog sendiri dulu. Lalu blog komunitas. Lalu media2 atau lomba2. Nikmati aja prosesnya. Selamat mencoba ya!

    Reply
  20. .masmas.
    .aku pernah nyoba ngirim naskah genrenya teenlit.
    .tapi ditolak, alasannya pasar lagi nggak minat.
    .tros aku harus gimana??.
    .bole minta alamat penerbit2 nggak?.

    Reply
  21. hallo mas brahm…aku udah lama punya impian jadi penulis novel bahkan cerpen2 ku sudah bertumpukan dirumah…aku ingin mengirimnya tapi aku takut ditolak…bantu aku dunk apalagi almarhum ayahku dulu ingin sekali melihat aku jadi penulis aki ingin mewujudkan impian itu,kasi aku jurus jitu agar karyaku bisa diterima….

    Reply
  22. Hi, Ella. Wow, jarang banget lho seorang ayah berharap anaknya jd penulis. Biasanya kan disuruh jd PNS, TNI, polisi, dokter atau insinyur.

    Eh, tp karyamu tuh apa? Kalau kumcer mending diecer deh, alias dikirim satu2 ke media (cetak). Krn sekarang jarang ada penerbit yg tertarik nerbitin kumcer, kecuali kamu udah punya nama besar di bidang sastra. Dari hsl ngobrol2ku dg pejabat salah satu penerbit, kumcer terbukti selalu kurang laku.

    Solusinya? Ya itu td, tulis cerpen buat koran atau majalah aja. Atau, tulis novel. Setelah itu kirim! Jangan takut ditolak (syukur2 kalau langsung diterima). Simak baik2 alasan mrk menolakmu, pelajari, perbaiki. Shg kamu jd makin sempurna setiap kali ditolak. Ingat kata bijak, “Badai pasti berlalu.” Yah, badai penolakan juga pasti berlalu. Aku nggak pernah lihat hujan yg nggak pernah berhenti.

    Reply

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.