Di livetweet Rahasia Sunyi beberapa hari lalu, ada pertanyaan dari @naui_sesang_ tentang kendala-kendala copywriting. Mungkin OOT, tetapi pertanyaannya menarik juga. Kita tahu, di era industri dan digital ini, penulis memang seharusnya tidak hanya berkutat pada novel atau skenario film. Mereka juga bisa menulis teks-teks untuk mendukung marketing, penjualan, atau promosi.
Content Marketing
Strategi pemasaran penulis untuk menarik audiensnya melalui berbagai konten yang ia ciptakan.
Is Blog Still In?

This question came up my mind when I attended Deutsche Welle Global Media Forum in Bonn, Germany, a week ago. One of the events there was BOBs (Best of Blogs) Awarding. Blog might be promising type of media in 2005-2009. But now, the quantity is declining since the netizen prefer social media as microphone for their inner voice. What a bitter fact.
Keniscayaan E-Book

Di penghujung 2006, Rachmania Arunita meluncurkan Lost in Love. Mendistribusikan melalui bluetooth ponsel, Nia menyebutnya e-book. “Ya hitung-hitung bikin gebrakan, sekaligus menggalang budaya membaca dan menulis,” katanya waktu itu. Media e-book dipilihnya untuk menghindari kerepotan dan membengkaknya biaya produksi-distribusi seperti yang pernah dia alami saat memasarkan Eiffel I’m in Love. Sayang, kalangan pembaca adem ayem saja menyambutnya. Novel digital memang belum populer. Tapi, siapa berani menyangkal, kita sedang menuju ke sana.