
Brahmanto Anindito
Bagaimana Tokoh Narsis Jadi Tokoh Pembunuh
By: Brahmanto Anindito
Individu dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki pandangan berlebihan mengenai keunikan dan kemampuan mereka. Merasa spesial, mereka berharap diperlakuan spesial. Jika rajin blogwalking, Anda tentu sering menemukan blogger-blogger tipe ini. Dalam keseharian saja, pastinya banyak juga orang yang suka memuji pemikiran-pemikirannya sendiri, meskipun kadang tidak secara langsung. Tapi, bukan narsis seperti itu maksud saya. Narsis yang kita bicarakan ini narsis yang bisa mengubah seseorang menjadi pembunuh, berdasarkan Ilmu Psikologi.
M-Novel: Menggerakkan Industri Novel dengan Ponsel

Suka atau tidak, generasi sekarang lebih dekat ke televisi, internet, atau ponsel ketimbang koran atau buku. Padahal, merekalah yang akan menjadi pasar dari produk-produk penerbit atau media. Maka secanggih apapun perkembangan teknologi, anak muda harus tetap membaca. Dasar pemikiran inilah salah satu yang digunakan oleh perusahaan content provider untuk berdagang konten melalui m-novel. Tak tanggung-tanggung, novel tebal pun sekonyong-konyong muncul di tempat biasanya orang baca SMS.
Keniscayaan E-Book

Di penghujung 2006, Rachmania Arunita meluncurkan Lost in Love. Mendistribusikan melalui bluetooth ponsel, Nia menyebutnya e-book. “Ya hitung-hitung bikin gebrakan, sekaligus menggalang budaya membaca dan menulis,” katanya waktu itu. Media e-book dipilihnya untuk menghindari kerepotan dan membengkaknya biaya produksi-distribusi seperti yang pernah dia alami saat memasarkan Eiffel I’m in Love. Sayang, kalangan pembaca adem ayem saja menyambutnya. Novel digital memang belum populer. Tapi, siapa berani menyangkal, kita sedang menuju ke sana.