Mengapa bahasa Indonesia lebih populer dari bahasa Thailand? Mengapa bahasa Inggris lebih “internasional” dibanding bahasa Prancis? Salah satunya karena lebih sederhana! Sesuatu yang sederhana lebih mudah diterima. Itulah kenapa kita harus selalu menyederhanakan tulisan.
Bayangkan sebagai editor, Kakak sedang memelototi naskah yang bahasanya rumit, berat, bikin mumet. Apa yang Kakak pikirkan? Jangan-jangan, “Aduh, siapa yang mau baca naskah seperti ini?” Lalu, apa yang akan Kakak lakukan dengan tulisan itu?
Menyederhanakan Tulisan vs Merumitkan Tulisan
Karya yang disusun dengan bahasa ringan, walaupun temanya berat, cenderung lebih mudah dipahami oleh pembaca, sehingga berpotensi lebih disukai. Pembaca dari berbagai latar belakang dan tingkat pendidikan dapat menikmati naskah-naskah semacam ini.
Durasi baca tulisan yang ringan dan sederhana juga cenderung lebih singkat, karena jarang membuat dahi pembacanya berkerut.
Naskah “berat”, sebaliknya. Biasanya, naskah ini banyak menggunakan istilah-istilah teknis, elitis, atau puitis. Pembaca yang tidak memiliki pengetahuan cukup dijamin sulit mencernanya. Bagi orang yang pandai di bidang itu sekalipun, tulisan begini cenderung lebih lambat dibaca.
Ini seperti daging yang alot. Meskipun bergizi, ia susah dikunyah dan gagal memanjakan lidah.
Memang, ada beberapa pembaca yang lebih suka tulisan-tulisan berat, karena ingin mendapat informasi yang levelnya di atas pengetahuan umum. Pembaca-pembaca elite seperti ini justru haus dengan tulisan-tulisan yang mendalam dan terperinci.
Namun, menariknya, informasi yang mendalam dan terperinci pun pada dasarnya tetap bisa disampaikan dengan bahasa yang ringan dan sederhana. Nah, kan! Kesimpulannya kembali lagi: keterampilan mengedit untuk menyederhanakan tulisan itu penting, karena akan selalu Kakak butuhkan.
5 Trik Menyederhanakan Tulisan
Supaya tulisan menjadi lebih sederhana, mudah dipahami, dan enak dibaca, editlah (atau sarankan revisi kepada penulisnya).
1. Pastikan struktur tulisan jelas
Misalnya, naskah buku nonfiksi. Pastikan isinya memiliki struktur yang jelas dan mudah dipahami:
- Pengantar
- Penjelasan, lengkap dengan beberapa contoh, tabel, dan gambar.
- Studi kasus.
- Kutipan menarik yang relevan.
- Fun fact.
- Rangkuman penutup berupa infografik.
Gunakan struktur itu secara berulang di tiap bab, agar pembaca bisa langsung membaca polanya. Harapannya, saat tulisan memiliki pola yang konsisten, proses memahami materi atau mempelajarinya menjadi lebih mudah.
2. Pilihlah kosakata sederhana
Untuk menyederhanakan isi naskah agar lebih enak dibaca dan dipahami, gunakan bahasa yang simpel. Contohnya? Alih-alih menggunakan istilah militerisme “di-BKO” alias “Bawah Kendali Operasi”, gunakan kata yang lebih sederhana: “diperbantukan”.
Hindari menggunakan analogi, metafora, atau satire bila dikhawatirkan itu membuat pembaca bingung atau salah tafsir. Intinya, keep it simple!
Mungkin Kakak kemudian bertanya, “Tapi saya ingin mempertahankan beberapa istilah teknis, karena memang enggak ada padanan lain. Memangnya, enggak boleh?”
Boleh, dong! Kakak selalu dapat mempertahankan bahasa dan kata-kata teknis dalam naskah. Hanya, jelaskan dahulu istilah atau konsep itu secara sederhana, sampai pembaca paham. Barulah kata itu bebas dipergunakan.
3. Gunakan sinonim dan variasi kata
Selama proses penyuntingan, hindari pengulangan kata secara berlebihan. Membaca kata atau frasa yang terus diulang itu rasanya seperti kita sedang didoktrin atau dihipnotis oleh penulis, hehehe. Rasanya pasti tidak nyaman.
Jadi, cobalah untuk memvariasikan kata-kata itu dengan sinonimnya, atau menggunakan kalimat dengan struktur yang berbeda. Ini berlaku terutama untuk hal-hal yang bukan kata kunci dari tulisan tersebut.
Umpamanya, Kakak sedang menangani berita sepak bola. Kata kuncinya adalah “Kylian Mbappé”, bukan “mengegolkan”. Nah, daripada terus-terusan memakai kata “mengegolkan”, gunakan variasi seperti “menyarangkan bola”, “membobol gawang”, “menyobek jala”, atau “menggetarkan jaring”.
Bebas! Hanya, jangan sampai variasi kata tersebut:
- Menimbulkan pertanyaan pembaca. Seperti, “Kok, tiba-tiba ada ‘teman satu timnya yang tampan itu’? Tadi, yang dibahas Rodrygo, Vinícius Júnior, dan Brahim Díaz. Yang mana yang tampan?” Kalau muncul pertanyaan demikian di benak editor atau pembaca, atau kalau pembaca sampai harus mengulang membaca sekadar agar bisa paham siapa yang dimaksud, artinya tulisan itu tersendat. Sederhanakan!
- Membuat kata kunci menjadi samar. Ini khusus untuk kepentingan SEO dunia maya. Dalam artikel atau video, ketika berkali-kali terdeteksi kata “Kylian Mbappé” (secara wajar), maka konten dianggap memang tentang Kylian Mbappé. Sebaliknya, kalau nama itu disebut hanya dua kali, sisanya “pesepakbola blasteran Kamerun-Aljazair”, “atlet yang adiknya, Ethan Mbappé, satu klub dengan pesepakbola Indonesia Calvin Verdonk”, dll., konten akan dianggap bukan membahas Kylian Mbappé secara spesifik.
- Ada di kata kunci yang utama. Variasikan kata-kata yang bukan kata kunci utama, alias kata-kata yang tidak penting saja. Misalnya, ganti “menggunakan” dengan “memanfaatkan”, “bisa” dengan “dapat”, “makan siang” dengan “bersantap siang”, dll. Sementara untuk kata kunci utama, justru sebagiknya Kakak tulis “Kylian Mbappé” secara lempeng saja, agar pembaca memahami materi dengan lebih cepat.
Hati-hati, jangan asal “variatif agar tulisan tidak membosankan” saja. Pertimbangkan faktor psikologis dan daya cerna pembaca.
4. Pendek lebih baik dari panjang
Pastikan naskah yang Kakak edit menerapkan bab, paragraf, dan kalimat pendek. Jika penggunaannya efektif, pembaca lebih suka bab pendek ketimbang bab panjang. Trik ini juga digunakan oleh Dan Brown dalam novel-novelnya, lo!
Paragraf pendek juga lebih nyaman di mata dibanding paragraf yang panjang. Bayangkan membaca satu halaman buku yang hanya terdiri dari dua paragraf. Apalagi bila fonnya berukuran 8. Waduuuh….
Dengan logika yang sama, kalimat pendek akan lebih enak dibaca dari kalimat panjang. Coba perhatikan dua kalimat ini:
- Kalimat-kalimat pendek jelas lebih gampang dicerna oleh pembaca.
- Bandingkan dengan kalimat-kalimat panjang yang terus berangkai dalam satu paragraf, meskipun memang kaya akan informasi, tetapi titik dari kalimat ini seolah entah di mana dan kalimatnya sendiri bercabang-cabang, beranak-pinak—bahkan bercucu.
Kalimat mana yang kira-kira lebih nyaman dibaca? Yang pertama atau kedua?
5. Perkaya dengan grafik
Buku, jurnal, laporan, atau tulisan-tulisan (nonfiksi) panjang lain dapat terasa menjemukan jika hanya diisi deretan huruf dan tanda baca. Bila Kakak penulisnya atau sekadar mengeditnya, cobalah opsi untuk menambahkan ilustrasi, tabel, atau infografik.
Pengayaan visual ini dapat membantu pembaca untuk tidak bosan, sekaligus memahami informasi dengan lebih mudah.
Pernahkah Kakak mengunjungi toko buku semisal Periplus, menghadiri pameran buku semacam Big Bad Wolf, atau sekadar menumpang baca di perpustakaan seperti mediatek Institut français Indonésie (IFI)?
Dari tempat-tempat itu, kita tahu, ternyata buku-buku di luar sana sudah jauh lebih berwarna, bentuknya bermacam-macam, isinya pun kreatif serta inovatif.
Maka, pikiran kita jangan terjebak dengan wujud buku-buku di awal tahun 2000-an. Jangan mentang-mentang kita adalah penulis atau editor, lantas fanatik dan bersikeras bahwa buku harus dominan teks: huruf atau angka.
Tidak!
Pembaca sudah mulai bosan dengan format seperti itu. Kalau mau tetap dibaca, mau tak mau, kita perlu memperkaya tulisan itu, minimal dengan visualisasi yang menarik.
Ya, tugas kita sebagai penulis atau editor di era visual ini memang bertambah berat. Namun, bagaimana lagi. Inilah perkembangan zaman.
Ringkasan Cara Menyederhanakan Tulisan
Mengapa Sederhana Itu Asyik?
Bahasa Inggris lebih mendunia dan bahasa Indonesia lebih cepat populer salah satunya karena sederhana. Sesuatu yang sederhana selalu lebih mudah diterima, dinikmati, dan diresapi oleh pembaca dari berbagai latar belakang.
Tulisan Berat & Mumet
Ibarat daging alot. Meski bergizi, ia susah dikunyah dan gagal memanjakan lidah pembaca.
Tulisan Ringan & Lugas
Materi mendalam pun tetap lezat disantap, durasi baca ringkas, dan jarang membuat dahi berkerut!
5 Trik Menyederhanakan Tulisan
Intisari PraktikPastikan Struktur Tulisan Jelas & Berpola
Gunakan pola berulang di setiap bab: Pengantar → Penjelasan + Contoh/Tabel/Gambar → Studi Kasus → Kutipan → Fun Fact → Rangkuman Visual.
Pilihlah Kosakata Sederhana (Keep It Simple)
Ganti istilah elitis atau militeristik; contoh: gunakan “diperbantukan” alih-alih “di-BKO”. Istilah teknis tetap boleh dipakai asalkan dijelaskan dulu konsepnya.
Gunakan Sinonim Tanpa Mengaburkan Kata Kunci
Cegah kesan pembaca terhipnotis atau didoktrin. Variasikan kata kerja umum (misal: “mengegolkan” → “membobol gawang”, “menyobek jala”).
Pendek Lebih Baik daripada Panjang
Terapkan 3 rumus ringkas: Bab Pendek (ala Dan Brown), Paragraf Pendek (nyaman di mata), dan Kalimat Pendek (tanpa cabang beranak-pinak apalagi bercucu).
Perkaya Naskah dengan Grafik & Ilustrasi
Buku modern di Periplus, Big Bad Wolf, atau perpustakaan IFI sudah kaya visual. Jangan terjebak naskah era 2000-an yang kaku hanya huruf dan angka. Sisipkan tabel atau infografik agar pembaca tidak jenuh.
Format Modern
Visual Kreatif
Bantu pemahaman & antijenuh