Selama ini, kita cenderung menikmati fiksi sekadar sebagai pelarian dari ruwetnya hidup atau hiburan untuk mengisi waktu luang. Padahal, peran karya fiksi bisa jadi penting di era yang penuh tekanan mental seperti sekarang. Secara biologis, cerita dapat menjadi “obat penenang” bagi otak kita.
Setidaknya, itu menurut buku Art Cure: The Science of How the Arts Save Lives karya Daisy Fancourt. Buku tersebut sebenarnya membahas berbagai jenis karya seni. Namun, di sini, kita fokuskan pada seni karya fiksinya saja, seperti film, novel, hingga sandiwara radio.
Peran Karya Fiksi sebagai Dopamin
Saat menonton film yang menegangkan, otak sebenarnya sedang menjalankan strategi pertahanan dan pemulihannya. Interaksi dengan cerita fiksi mengaktifkan area-area penting di otak, seperti amygdala (pusat pemrosesan emosi), nucleus accumbens, dan striatum.
Aktivitas ini memicu produksi dopamin, hormon yang berperan penting dalam mengatur suasana hati, motivasi, gerakan, dan berbagai fungsi tubuh lainnya. Dopamin bukan hanya membuat kita merasa senang, tetapi juga mengurangi stres dan memperkuat sistem imun.
Secara alami, otak kita dilatih untuk mengenali pola dan memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya sebagai strategi bertahan hidup. Dalam konteks fiksi, antisipasi terhadap plot twist atau perkembangan karakter memberikan perasaan yang menyenangkan.
Bahkan, ketika ekspektasi kita “dikhianati” oleh alur cerita yang tidak terduga, otak malah melepaskan dopamin ekstra. Inilah alasan mengapa kita sering “ketagihan” menunggu episode terbaru dari serial favorit.
Paradoks Tragedi: Menangis demi Kesehatan Mental
Mengapa kita terkadang sengaja memilih novel tragedi atau film yang menyayat hati saat suasana hati sedang gundah?
Sains menyebutnya sebagai Tragedy Paradox. Seharusnya, manusia menghindari hal-hal yang memicu emosi negatif. Namun, dalam dunia fiksi, kita justru mencarinya untuk memuaskan diri.
Berdasarkan data dari Daisy Fancourt, hal ini dimungkinkan karena adanya “jarak psikologis”. Penikmat fiksi menyadari bahwa cerita yang dikonsumsinya hanyalah fiktif, sehingga ia dapat memproses emosi sedih, takut, atau marah secara aman tanpa merasakan ancaman nyata terhadap dirinya.
Proses ini menghasilkan katarsis emosional yang luar biasa. Melalui fiksi, kita memperkaya apa yang disebut sebagai thought-action repertoires atau perbendaharaan tindakan. Fiksi memperluas variasi respons dan solusi seseorang dalam menghadapi situasi kritis di dunia nyata.
Dengan memperluas variasi tindakan ini, fiksi secara tidak langsung melatih ketangguhan mental kita dalam menavigasi krisis hidup yang sesungguhnya.
Bagaimana Peran Karya Fiksi dalam Mengantisipasi Depresi
Bagi banyak anak muda yang berjuang dengan kesehatan mental, depresi sering berbentuk lingkaran setan sikap diri yang kaku. Ini semacam narasi negatif tentang diri sendiri yang diyakini secara berulang-ulang, tanpa mampu melihat adanya jalan keluar. Di sinilah peran karya fiksi untuk membukakan jalan keluar.
Temuan neuroimaging menunjukkan bahwa saat seseorang berinteraksi dengan seni naratif, terjadi peningkatan aktivitas yang signifikan di dorsolateral prefrontal cortex, yaitu bagian otak yang mengatur fungsi eksekutif seperti perhatian, penalaran, dan pemecahan masalah.
Saat Kakak membaca sebuah novel yang kompleks, otak tidak sedang berada dalam mode istirahat pasif. Sebaliknya, otak Kakak sedang melakukan latihan intensif untuk membayangkan berbagai kemungkinan masa depan dan menyimulasikan solusi atas konflik yang dialami oleh sang tokoh utama.
Di sinilah fiksi hadir bukan sekadar sebagai pelarian, melainkan sebuah metode untuk membuka kembali perasaan bahwa masa depan yang berbeda itu mungkin terjadi. Bagi seseorang yang merasa mentok, mengikuti perjalanan tokoh yang mampu bangkit dari keterpurukan dapat memutus lingkaran setan tadi.
Pengalaman ini membantu otak melatih fleksibilitas kognitif dan menerima perspektif baru yang lebih luas. Dengan demikian, lahirlah harapan baru dalam melihat masalah-masalah pribadi.
Peran Karya Fiksi sebagai Intervensi Publik
Jangan saja, kekuatan cerita fiksi ternyata juga memiliki dampak keren dalam bidang kesehatan masyarakat. Alih-alih menggunakan pesan edukasi kesehatan yang kaku dan menggurui, peran karya fiksi terbukti jauh lebih efektif mengubah perilaku masyarakat.
Ambil contoh kesuksesan program East Los High di platform Hulu. Meski terlihat seperti drama remaja biasa, program ini dirancang secara ilmiah untuk menyampaikan pesan kesehatan reproduksi.
Dampaknya sangat nyata! Planned Parenthood mencatat bahwa 22% pengunjung situs web mereka berasal dari tautan di situs web East Los High.
Sementara itu, studi dari University of Buffalo mengonfirmasi bahwa remaja yang menonton drama ini memiliki pengetahuan kesehatan yang lebih mendalam dan bertahan lebih lama dibandingkan mereka yang hanya membaca buku atau artikel biasa.
Contoh yang lebih heroik dapat kita lihat pada Kampanye #ISurvivedEbola di Afrika Barat melalui sandiwara radio. Di tengah krisis kesehatan yang penuh ketakutan dan misinformasi, kampanye ini menggunakan cerita dari para penyintas untuk mengedukasi masyarakat.
Program ini disiarkan di lebih dari 50 stasiun radio dengan menggunakan 12 bahasa lokal, dan diperkirakan mencapai hampir setengah dari total populasi Liberia, Sierra Leone, serta Guinea.
Gaya penceritaan penyintas dalam format drama radio ini mampu menghancurkan stigma dan ketakutan jauh lebih efektif ketimbang instruksi-instruksi medis formal. Hal ini membuktikan bahwa bagi manusia, sebuah cerita yang menyentuh hati jauh lebih kuat daripada sekadar deretan angka statistik.
Menikmati Karya Fiksi: Investasi untuk Hidup Lebih Lama
Waktu yang kita habiskan untuk menikmati fiksi bukanlah sebuah kesia-siaan, melainkan investasi kesehatan jangka panjang yang sangat berharga. Melibatkan diri dalam kegiatan budaya secara rutin semacam ini, menurut buku Art Cure, memiliki korelasi langsung dengan usia harapan hidup.
Data dari studi terhadap 7.000 orang dewasa menunjukkan bahwa mereka yang rutin terlibat dalam kegiatan budaya, seperti pergi ke bioskop atau teater, memiliki risiko kematian 31% lebih rendah. Bahkan bagi mereka yang hanya sempat melakukannya sesekali, risiko kematian tetap menurun sebesar 14%.
Yang lebih mengejutkan lagi adalah temuan mengenai pencegahan rasa sakit kronis. Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan dengan karya seni dan budaya ternyata jauh lebih efektif dalam mencegah kemunculan rasa sakit kronis di masa tua dibandingkan dengan aktivitas fisik mingguan berintensitas sedang sekalipun.
Hal ini menegaskan bahwa kebutuhan manusia akan cerita bersifat biologis, bukan sekadar hobi untuk mengisi waktu senggang. Otak kita memang dirancang untuk menyerap narasi demi memperkuat sistem pertahanan tubuh secara menyeluruh.
Nah, positif, kan? Makanya, selamat melanjutkan “terapi” melalui cerita-cerita hebat yang Kakak sukai. Namun, pastikan waktu tidur Kakak jangan sampai terganggu.