Tahun 2007 belumlah berakhir, tapi sudah bisa ditebak siapa jawara dalam perfilman Indonesia. Sebagaimana tahun lalu, genre yang paling sering diproduksi masih Horor. Berdasarkan data kami (Anda bisa mengambilnya di halaman Unduh Gratis), 13 atau 36,11% dari total 36 film layar lebar tahun ini bernuansakan horor. Sebenarnya, Drama lebih banyak jumlahnya. Namun kalau genre yang memang terlampau luas itu dipecah-pecah menjadi subgenre seperti Drama Percintaan, Drama Komedi, dsb., maka Hororlah yang nomor satu.
film & video
Adegan-adegan Klise yang Masih Menjajah Film Indonesia
By: Brahmanto Anindito
Bulan ini, Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-62. Umur perfilman Indonesia sendiri sudah 80 tahun lebih. Tapi di usia segitu, ternyata kita belum merdeka dari adegan-adegan tertentu yang klise. Saya hanya bisa menduga-duga, mungkin maksud keklisean tersebut untuk memberi penekanan kuat pada adegan. Yang Horor biar tambah menyeramkan, yang Suspens biar tambah menegangkan, yang Komedi biar tambah mengocok perut, yang Drama biar tambah tragis, yang Laga biar tambah gagah. Intinya, supaya lebih mengesankan lah. Tapi … saya kok malah tidak terkesan ya?
Menonton Orang-orang Korea, Kenapa Tidak?
Jarum jam sudah menunjuk angka 9, tapi sepasang muda-mudi masih asyik memilah VCD-VCD yang hendak mereka sewa. Di tangan wanita itu telah terselip banyak kotak VCD dari film-film Mandarin dan Hollywood. Oh, ternyata masih kurang. Sebuah kotak berhiaskan aksara hangeul pun dipungut. Hanya dalam hitungan detik sang pria di sebelahnya merespon, “Jangan! Film Korea itu gitu-gitu aja.” Dan si wanita segera mengembalikan kotak tadi, tanpa sedikit pun berusaha mendebat.
Lika-liku Membisniskan Agama melalui Film
By: Brahmanto Anindito
Kata kawan saya, di kampungnya ada pemuda yang bandelnya nggak ketulungan: Kurang ajar terhadap orangtua, maling sandal di musala, mencuri kotak amal masjid. Benar-benar menjengkelkan, pokoknya. Sampai-sampai salah satu ibu di sana nyeletuk, “Aku pingin tau matinya tuh anak. Pasti ada banyak belatung di mayatnya.” Komentar ini dipicu—apalagi kalau bukan—oleh sinetron-sinetron religius kegemaran warga sana. Kami pun geleng-geleng berjamaah.