About

Warung Fiksi

Assalamualaikum, Kakak Penulis!

Terasa, kan, dunia penulisan fiksi sedang berevolusi? Tidak seperti sepuluh tahun lalu, penulis hari ini tidak lagi cukup hanya bermodal laptop, internet, dan imajinasi. Kita hidup di masa ketika algoritma, teknologi Akal Imitasi (AI), dan strategi konten menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah karya serta citra penulisnya.

Sebenarnya, sejak berdiri pada 19 Mei 2008, Warung Fiksi (atau disingkat Wufi) sudah menyadari itu. Kami memiliki keyakinan bahwa kegiatan menulis memang bukan melulu soal kreativitas, imajinasi, dan emosi (otak kanan). Penulisan fiksi sekalipun tetap membutuhkan kinerja otak kiri, termasuk pemahaman akan logika, strategi, dan teknologi.

Itulah mengapa di situs web yang diperuntukkan untuk para penulis dan penikmat fiksi ini, kami tidak hanya berbicara soal mood atau inspirasi. Kami membedah juga teknis penulisan, meninjau perangkat-perangkat lunak (tools atau aplikasi) yang memudahkan kerja penulis, serta mendiskusikan strategi agar sebuah tulisan dapat menemukan pembacanya, dalam bentuk terbaiknya.

Di sini, Kakak bisa menemukan tulisan-tulisan bertema:

  • Brainstorming & Researching: Cara mengumpulkan dan mengolah ide tulisan.
  • Content Marketing: Strategi pemasaran penulis untuk menarik audiensnya melalui berbagai konten yang ia ciptakan.
  • Direct Selling: Pernak-pernik menjual karya secara langsung kepada calon pembeli.
  • Editing: Tip dan trik menyunting tulisan.
  • Frameworking: Cara membuat kerangka atau metode baku penulisan.
  • Highlighting: Ulasan menyeluruh mengenai sang kreator atau karya fiksi.
  • Marketing & Branding: Strategi pemasaran dan pembangunan brand untuk penulis.
  • Perspective Shifting: Ajakan untuk melihat sudut pandang baru dalam dunia kepenulisan.
  • Search Engine Optimizing: Taktik meningkatkan peringkat dan reputasi situs web penulis di hasil pencarian mesin penelusuran.
  • Self-Managing: Manajemen waktu, tenaga, dan keuangan bagi penulis.
  • Story Writing: Teknik penulisan cerita, baik fiksi maupun nonfiksi.
  • Translating: Kiat menerjemahkan tulisan.
  • Worth knowing: Wawasan yang mungkin berguna untuk penulis.

Jika semua hal itu terdengar menarik, maka Warung Fiksi mungkin memang cocok buat Kakak. Alhamdulillah!

Oh ya, sebelumnya, perkenalkan...

Warung Fiksi adalah tim penulis kreatif profesional yang berbasis di Surabaya, Indonesia.

Blognya pertama tayang pada 2007, ditulis bersama-sama oleh Brahmanto Anindito, Moch. Asrori, Ihsan Maulana, dan Rie Yanti. Namun, sejak 2008, ketika mulai menangani jasa penulisan profesional, Warung Fiksi dikelola sepenuhnya oleh Brahm dan Rie.

Brahmanto Anindito
@braindito

Brahmanto Anindito
  • Lulusan S-1 Komunikasi Universitas Airlangga.
  • Pernah menjadi wartawan majalah gaya hidup, editor majalah bisnis, copywriter perusahaan Integrated Marketing Communication.
  • Tulisannya telah dimuat di Intisari, Hai, Cinemags, Jawa Pos, Republika, dll.
  • Pernah menjadi Juara I di Lomba Karya Tulis Ilmiah 2002 yang dihelat UK Atma Jaya Jakarta, Juara III Lomba Penulisan Essai 2003 yang diadakan Kedubes Korea dan Diknas Indonesia, Juara I #IndonesiaUnite Blogger Competition 2009 yang diselenggarakan Kompasiana, dan 10 Terbaik Cerpen Anak 2023 yang diadakan oleh Wikimedia.
  • Novel-novelnya antara lain Pemuja Oksigen (Jaring Pena 2010), Satin Merah (GagasMedia 2010), Rahasia Sunyi (GagasMedia 2010), Tiga Sandera Terakhir (Noura Books 2015), Revival of Queen Leyak (DEVGRU-P 2017).
  • Pada 2012, Deutsche Welle (DW) Media mengundang dan membiayai Brahm selaku bloger Indonesia untuk menghadiri Global Media Forum di Jerman.

Rie Yanti
@rievijay

Rie Yanti
  • Lulusan S-1 Sastra Prancis dari Universitas Padjadjaran, Bandung.
  • Tulisannya telah dimuat di Harian Surya.
  • Buku-bukunya antara lain Satin Merah (GagasMedia 2010), Bukan Manusia (Lulu 2011), dan Visual Novel Precious Time (Nusa Project 2017).
  • Menulis beberapa cerpen dan novel juga di Kwikku.

Akhirnya, selamat datang di warung kami yang sederhana ini, Kakak Penulis. Semoga di sini Kakak bisa menemukan satu atau dua "resep" yang berguna untuk karya Kakak berikutnya. Atau sebaliknya, kami yang akan mendapat banyak ilmu dari Kakak. 🙏

Salam kreatif dan wassalamualaikum! 💛

BAGIKAN HALAMAN INI DI

230 thoughts on “About”

  1. Dear maz-maz

    Just wanna ask : Saya hanya dan sempat terpikir, apa sumbangsih karya fiksi terhadap perubahan masyarakat (tentu saja ke arah yang lebih baik, ato revolusi)?

    Reply
  2. Salam-salam bagi para Penjaga Warung…

    Blognya oke, seandainya aku bisa urun di dalamnya, pasti menyenangkan. Tapi tentang apa ya..! Soalnya aku belum pernah menekuni dunia fiksi ini sih.
    Bram, makasih ya berkunjung ke blogku. S’moga belum terlambat, “Met’ Lebaran ya, Minal Aidin wal Faidzin”

    Wassalam,

    Reply
  3. Hai, Nurul. Sori baru jwb sekarang. Sejujurnya aku bingung, ini pertanyaan serius atau guyon. Soalnya kalau serius, berarti ini pertanyaan yg jwbnya hrs panjang nih, pdhl aku agak blank krn abis kena liburan Lebaran. Tp daripada kelamaan, hari ini aku coba jwb sebisaku. Lihat di sini ya. Thx.

    Wah-wah-wah, minal aidin wal faizin jg, Mas Alim! Blog gini dibilang oke? Yah, aku matur suwun aja lah (tanpa berusaha menyangkal atau membenarkan, hehehe). Yg jls, semua orang bisa kok urun tulisan di sini, apalagi sampeyan yg notabene salah satu guru penulisanku. Yo wis, kalau nganggur2, tulis dan kirimkan aja ke bhanto@yahoo.com. Tp hrs lillahi ta’ala lho, krn nggak ada honornya 😛

    Reply
  4. Saya mau nanya, kalau mau ngirim tulisan ke media, kita tuh harus punya nama dulu nggak sih? Misalnya seorang dosen atau aktivis sebuah komunitas. Soalnya yang saya baca di media, penulis artikel atau karya sastra tuh pasti yang sudah punya pengalaman banyak. Nggak adil dong buat pemula. Mereka kan ngirim tulisan ke media buat cari nama juga.

    Reply
  5. Terima kasih, Rie Yanti (Riyanti?). Biasanya sih yg dibaca ide dan kualitas tulisan. Nama (konon) nomor dua, tp kupikir pengaruhnya pasti besar. Soalnya media kan jualan. Kalau ada nama2 besar di dlmnya, gengsi mrk kan ikut terkatrol. Jd mrk nggak bisa disalahkan jg soal “pilih kasih” pemuatan ini. Strategi bg pemula biasanya: (1) Ide tulisan hrs bnr2 baru & berkualitas, (2) Adakan pendekatan personal ke redakturnya, (3) Kirim ke media2 kecil dulu (yg kadang nggak ada honornya), (4) Kombinasi dari ketiganya, dan (5) Banyak berdoa ^_^.

    Reply
  6. Ok. tengkyu ya brahm. kalo saya nulis di situs ini boleh nggak? kalo nih. seandainya. kan musti mengawali dari media yang kecil2 dulu. saya butuh komentarnya. biasa sih saya nulis puisi atau cerpen. masih amatiran sih. trus dari strategi yang kamu kasih, saya mau nanya: pendekatan personal ke redaktur maksudnya musti kenal dulu? gimana caranya? apa musti rajin ngirim tulisan?
    satu lagi nih pertanyaannya. kenapa sih sekarang banyak banget novel-novel populer kaya teenlit atau chicklit? saya pernah baca salah satunya. bahasanya kok nggak begitu enak dibaca? nggak nyastra gitu? apa orang-orang pengen beken dengan menulis buku? makasih…

    Reply
  7. Nulis apa dulu nih? Di Wufi cuma boleh nulis fiksi dan nonfiksi ttg fiksi lho. Silakan baca keterangannya di komentar terdahulu (laman ini jg).

    Rajin ngirim tulisan boleh jg. Pdkt personal sih tergantung karakter masing2. Bisa dari yg simpel kayak dtg ke kantornya, kenalan dan sok tanya2 tulisan gimana sih yg dia cari, minta koreksinya langsung kalau memungkinkan, sampai teror kecil2an spt yg pernah dilakukan temenku: Scr berkala dia krm email, minta dg sopan si redaktur utk baca cerpennya, sambil mengingatkan bahwa dulu karya2nya pernah dimuat di situ. Redakturnya kan risih jg, akhirnya dimuat lg deh, hehehe. Tp cerpen temenku bagus jg sih. Makanya, yg paling aku sarankan ya kualitas tulisan dan keterbaruan ide. Pdkt personal hanya buat mengalihkan perhatian redaktur ke karya kita. Selebihnya, konten yg bicara. Eh, Rie, sebetulnya masalah ini jg lg kutulis di majalahku. Termasuk solusi bg penulis mula. Tp nggak bisa kubeberkan di sini sekarang, krn itu sama aja aku nabuh genderang perang dg orang2 marketing & pimredku, hehehe.

    Stereotip chicklit/teenlit kan: Bhs gaul ala Jakarta, kosakata terbatas, miskin ungkapan (mungkin itu yg kamu maksud nggak nyastra), isinya seringan kapas, bercerita kemewahan dan/atau percintaan, logika cerita amburadul, ending gampang ketebak, tapi … laku! Buktinya Gramedia msh trs menggerojok pasar dg karya2 semacam ini. Sama kayak sinetron: Dicaci sana-sini, tp ditonton jg. Jd?

    Reply
  8. Maaf, mungkin ini info gak bermutu ya, tapi gpp ya … begini kemaren saya nemu script gratisan buat website kayak friendster, namanya dolphin. ketoke bagus tuh untk buat komunitas ini. websitenya lupa seh … mungkin mas Brahm bisa menolong neh …

    Salam corat coret

    Reply
  9. Iya, ternyata banyak kok situs yg menyediakan free script Dolphin buat diunduh. Aku baru cari (dan nemu) ya setelah dikasih tahu ini, thanks ya. Tp rasanya Wufi msh terlalu kecil untuk dibikinkan model semacam ini. Blm lg kalau tdk terawat krn ke(sok)sibukan para penjaga warungnya. Wah-wah-wah, eman. Tp kalau buat eksperimen2 pembelajaran aja sih nanti pasti kucoba.

    Reply
  10. salam, saya lagi nulis ttg diri sendiri, judulnya Mengapa Aku Membaca Komik. kalau boleh buat ngeramein disini, tp gak tau cara sent atau upload-nya. apakah di bolehin? kalau mau dibaca edit dulu, kirimnya ke mana? trims

    Reply
  11. Mas BONARI: Ojo guyon, wong panjenengan yg sastrawan hebat gitu kok. Keder2 barang, blm sarapan ya? Hehehe. Matur suwun sudah berkunjung, Mas.

    MIFKA: Aku jg senang kamu mau mampir 🙂 Thx ya.

    Reply
  12. gimana caranya manampilkan cerita fiksi di blog ini sih??
    jenis karya fiksinya apa aja ya?? cerpen atau ap?
    saya belum punya blog jadi mohon di balas ke alamat email berikut ini

    tereima kasih

    Reply
  13. Sebagian karya fiksi di Wufi bisa dijumpai di laman Unduh Gratis (cerpen & komik). Tp sebagian besar memang sengaja nggak kami online-kan krn alasan tertentu. Jd, koleksi total (baik karya kami sendiri maupun karya2 kontributor) ada di komputer offline kami. Gitu.

    Mau ikut terlibat? Kirim aja karyamu ke bhanto@yahoo.com. Kutunggu ya ….

    Reply
  14. Hai Friends,
    Saya Hayato Kazami sang penulis novel Jepang baru. Saya baru prtama kali ngirim Novel Saya di salah satu penerbitan indonesia.setelah nunggu 3 bulan, Saya pingin mengoreksi atau merevisi novel saya itu. aku mau nanya, saat kita merevisi novel itu waktu novelnya sudah terbit pertama kali atau gimana, sih. bingung, nin.

    Reply
  15. Hai, Kazami. Aku sih menyarankan tunggu (atau kalau sdh 3 bln tagih aja) dulu keputusan si penerbit: Akan diterbitkan atau ditolak. Kalau ternyata ditolak, bebas. Tapi kalau akan diterbitkan, sebaiknya revisinya nggak terlalu banyak, dan perubahan2nya apa aja harus dikomunikasikan ke editor penerbit. Eh, novel Jepang? Maksudnya cerita bersetting Jepang? Atau dlm bhs Jepang?

    Reply
  16. Salam!

    Sudah lama saya mengintip Warung ini. Baru kali ini, saya mencoba untuk singgah agak lama di Warung Fiksi untuk melepas lelah, sepulang dari kerja. Pekerjaan saya sangat,sangat melelahkan. Saya berangkat kerja seusai Subuh dan baru pulang ketika Magrib. Selama saya bekerja, saya belum menemukan apa yang saya cari, yaitu uang, karena apa, karena pekerjaan saya adalah mencari pekerjaan. Hehehehe.(cerita ini ada di dalam buku kumpulan cerpen yang saya tulis).

    Saya mencoba tidak sekadar mampir di warung ini, karena setelah membaca beberapa comment dan FAQ tentang Warung Fiksi dari Mas Bhanto, saya jadi ingin add comment juga.

    Suasana Warung Fiksi membuat saya tidak merasa sedang singgah di warung, malah saya merasa seperti berada di Dixie Resto Jogja atau di Starbucks TP Surabaya. Suasananya sama seperti ketika saya memandang jalan raya di waktu senja dari salah satu meja yang berada dekat dengan kaca jendela. Biasanya, saya melakukannya sambil menyeruput kopi susu dan melahap Rolling Beff.

    Sajian Warung Fiksi belum ada di warung Pecel Madiun dekat UNAIR (masih ingat ga Mas Bhanto, dulu, kita sering makan disana?). Wah, saya jadi ingin ditraktir lagi oleh Mas Bhanto, makan soto di emperan Galaxi Mall seperti dulu. Kalau mau makan tempe penyet, pecel ala Madiun, atau tempe dan ikan Pe penyet seperti di Warung Ho Ha,warung di dekat jalan masuk ekstensi UNAIR , di sini memang bukan tempatnya. Ketika saya menikmati sajian Warung Fiksi, rasanya sama seperti ketika lidah saya sedang mencari-cari dimana letak enaknya makan Soupe à l’oignon gratinée atau Sukiyaki. Meski njelimet rasanya, tapi, lidah saya tidak bisa berdusta, lidah saya mengatakan enak. Resepnya apa donk?

    Setelah wareg singgah di Warung Fiksi, wawasan kuliner saya menjadi bertambah lagi. Setelah kaki saya melangkah keluar dari Warung Fiksi, tiba-tiba ada ide untuk menyurati Pak Bondan Winarno. Saya akan bercerita mengenai apa-apa yang telah saya lahap di Warung Fiksi. Bagaimana tanggapan Pak Bondan ketika mencicipi sajian Warung Fiksi nantinya. Mak Nyus, opo mmmm,….wuuuah…luar biasa…ini ni…bumbunya meresap di daging Ham-nya.

    Reply
  17. Gi, ngomong ae nek awakmu kangen Sby, hahaha. Wah, saiki produktif nyerpen yo. Jare nyeriusi film, yo’opo iku? Jane nek awakmu sido ngedekno PH, asyik lho, gak kebayang potensi ke depane. Bangunen ae po’o kalem2. Eh, opo wis ono?

    Ngomong2, ulasan Tim Burton (sing ta’sebut nang email) iso mbok kover ta? Suwi2 aku tertarik ambek karya2ne wong itu lho, hahaha. Engko nek ono info2/arep diskusi, adewe rembugan liwat email opo SMS ae yo. Suwun yo komene.

    Reply
  18. Masalah Tim Burton wes tak jawab nang e-mail-mu. PH? Hehehehe, itu pasti, Insya 4JJI sebentar lagi akan benar-benar berdiri. Ibarat bayi yang baru di tahap rambatan, arep melaku, tapi jek cekelan. Ya, masalahe aku wess duwe bojo dan anak. Do’a restu ne yo.

    O iyo, awakmu seneng karo sinema ekspresionisme Jerman ta? Hehehehe, aku duwe beberapa, kapan-kapan awakmu iso ndelok. Golek ae sek nang rental2 seng judule Cabinet of Dr Caligary(1919) arahan Robert Wiene.

    Atau ga karya sutradara besar Jerman lainnya, Friedrich Wilhelm Murnau, The Haunted Castle (1921), film horor Nosferatu (1922), Faust (1926).

    Alternatif liane karya Fritz Lang, Die Nibelungen (1923), Metropolis (1927).

    Nek ga,film Carl Boese dan Paul Wegner, The Golem (1921).

    Opo maneh yo?….Aku lali.

    Awakmu nek wes nonton film-film iku, isiiiiiiin banget nek kepengen cepet-cepet gawe film. Bayangno, adewe seng urip nang zaman saiki, iso ta gawe setting seng spektakuler koyok nang film-film seng tak sebutno mau. Misale, seng aku kagum, filme Fritz Lang seng judule Metropolis. Edan…edan tenan. Tapi, memang se jek luwe edan Charlie and the Chocolate Factory-ne Tim Burton. Burton memang konsisten dengan gaya ekspresionisme Jerman. Wong iku gendeng ketok e, hehehe. Iso gawe apik tenan.Tak pikir-pikir Gae opo aku gawe PH nek gak iso gawe karya seng apik koyok Tim Burton atau ide cemerlang The Rope-nya Hitchcock.

    Aku wes bayangno gawe ceritane wayang uwong nek digawe layar lebar dengan gaya ekspresionisme Jerman. Edan ga? Lahire Wisangeni digawe setting gaya ekspresionisme Jerman. Opo ceritane Laba-Laba Bumi digawe ekspresionisme Jerman pisan ae.

    Yo wes, sukses gawe awakmu dan konco-koncomu. Suroboyo never ending!

    Reply
  19. Eh, sek ileng opo ora nek awakmu tahu dicelok,”Mbak!”, karo bakul soto emperan nang Galaxi Mall? Wuakakakakakak. Bakul soto ne piye iku nek ngerti awakmu wes dadi Ronaldo ga Ronaldinho maneh?….

    Iki guyon lho.

    Reply
  20. Kata Mbak Nurul, “Saya hanya dan sempat terpikir, apa sumbangsih karya fiksi terhadap perubahan masyarakat (tentu saja ke arah yang lebih baik, ato revolusi?”.

    Mbak Nurul ketok e kudu nonton film iki, Metropolis(1927). Di tahun 1927,setting yang dibangun oleh Fritz Lang, di Metropolis, sudah bisa menggambarkan dunia di masa yang akan datang.

    Atau di era awal kelahiran sinema, era film bisu (1893-1902) film-nya Georges Melies, A Trip to the Moon(1902). Si pesulap ini mampu menggambarkan roket yang mendarat di bulan dan masuk ke mata “Man on the Moon”. Hal ini terjadi jauh sebelum NASA mengirimkan Neil Amstrong ke bulan (entah benar atau tidak misi ini?). Dalam film berdurasi 12 menit ini, Melies memperkenalkan ide,ilusi dan fantasinya untuk pergi ke bulan melalui media film. Pertanyaannya, apakah orang yg mengirim Neil Amstrong ke bulan itu punya ide ke bulan lantaran setelah menonton film-nya Melies? Atau NASA panas dengan roket buatan Rusia, seperti yang digambarkan film October Sky?….Saya juga ga tahu….. Paling tidak, orang-orang yang pernah menyaksikan film-nya Melies di tahun itu, pikirannya menjadi tergugah, betapa hebatnya manusia bisa sampai ke bulan. Setelah keluar dari gedung teater, ada yg menganggap Melies itu si pesulap gila, bikin film kok ya aneh-aneh. Mungkin ada juga yang pemikirannya menjadi terbuka dan percaya bahwa suatu saat nanti akan ada teknologi yang mampu mengantarkan manusia untuk pergi ke bulan, atau bahkan ada yang menjadi terobsesi, mencita-citakan dan berusaha untuk bisa terbang ke bulan dengan berbagai macam cara, barangkali.

    Yang jelas, fiksi (film) hanya merupakan media yang dimanfaatkan oleh si pembuat film untuk menyampaikan sesuatu, bisa ide, pemikiran, solusi, kritik dan lain sebagainya. Apakah sebuah fiksi (film) yang berisi ide, pemikiran, solusi, kritik dan lain sebagainya bisa mempengaruhi perubahan masyarakat, ya tergantung kepada masyarakatnya sendiri, apakah fiksi hanya dianggap sambil lalu saja, dapat mempengaruhi pemikiran, tapi tidak sampai pada mempengaruhi tingkah laku, atau fiksi dapat merubah pemikiran dan tingkah laku masyarakat malah. Istilah-istilah akademisnya saya lupa, karena malas buka-buka buku Teori Komunikasi.

    Mbak Nurul sendiri gimana ya setelah menonton film G 30 S PKI arahan Teguh Karya, kalau ga salah? Film itu diputar setiap tanggal 30 September, setiap setahun sekali di zaman Orde Baru. Menurut Mba Nurul, bagaimana pengaruh film tersebut bagi bangsa Indonesia?

    Wah, aku baru ikutan nongkrong di sini, baru sekarang. Mungkin kalau aku sudah jadi pelanggan warung ini sejak 10 Oktober 2007, aku bisa ikutan diskusi yang seru sama Mbak Nurul juga.

    Maaf, kalau pendapatku tadi asal-asalan, yang penting ikutan ngomong aja di warung ini. Sebenarnya, aku mau tanya juga ke Mbak Nurul, seberapa besar pengaruh fiksi (film) terhadap diri Mbak Nurul?

    Reply
  21. Nosferatu, Faust, Dr. Caligari wis suwi ndelok, wis jamane Stallion sik nyewakno installer2 bajakan biyen. Wis rodo lali sih, tp sa’elingku film2e asyik, pancen. Nek dipikir2 akeh lho film Eropa sebelum ’80-an sing kualitase lbh baik teko film jaman saiki. Heran aku, kok iso? Wong2 jaman biyen sing terlalu hebat, opo adewe sing menurun?

    Laba2 Bumi di-treat ekspresionisme Jerman, keren! Nek PH-mu bakal spesifik koyok ngono, menarik pisan. Tp ngelawan pasar maneh iku jenenge. Bojo ambek anakmu mangan opo engko? Eh, wis duwe anak, Gi? Selamat yo. Kpn yo aku iso dolan rono.

    Wah, bakul soto iku sik mbok eling2, Gi. Asem! Yo wis, ta’tunggu sinergine ambek Warung Fiksi. Jg, ta’tunggu tulisan2mu nang Warung Fiksi.

    Reply
  22. Di zaman dulu, ruang-ruang(gaya) di dalam aspek sinema masih banyak yang belum tergali. Nah, seiring bergulirnya waktu, hampir semua ruang(gaya) aspek-aspek sinema telah dijamah oleh sutradara-sutradara zaman dahulu yang lebih dulu berkarya. Mungkin, sutradara-sutradara sekarang sulit menemukan lagi ruang(gaya) di dalam aspek sinema yang belum pernah digunakan sutradara pendahulunya. Tapi, ada kok yang berhasil menemukan ruang(gaya) baru di dalam aspek sinema, misalnya The Wachowski Brothers. Laurence “Larry” Wachowski dan Andrew Paul “Andy” Wachowski telah berhasil menemukan sebuah ruang(gaya) aspek sinema untuk menggarap The Matrix. Tehnik-tehnik special effect yang digunakan di dalam The Matrix belum pernah ada yang menggunakan.

    Coba kita menengok kembali film The Matrix, di awal film,di scene sebuah kamar hotel. Seorang polisi gemuk berkata, “Hands behind your head! Now! Do it!”. Lalu, Trinity meletakkan tangannya di kepala pelan-pelan. Cut, beralih ke scene ketika agen Smith datang. Cut to back ke sebuah kamar hotel. Lalu, apa yang terjadi di kamar itu? Trinity menghabisi polisi yang menggerebeknya tadi. Yang keren dari adegan ini, ketika Trinity melompat dengan membentangkan tangan, dengan gaya kungfu (mirip jurus Bangau kaleeeee), adegan berhenti sejenak dan posisi kamera berputar 180 derajat, lalu, Trinity menendang polisi tadi. Tehnik dalam menghabisi polisi ini belum pernah ada di film-film sebelumnya. Atau yang paling terkenal, adegan ketika Neo menghindari peluru-peluru yang ditembakkan oleh musuh-musuhnya.

    The Matrix merupakan film yang membawa pengaruh besar, mempengaruhi gaya penggunaan special effect di film-film setelah The Matrix. Banyak sekali film-film action yang meniru gaya dan tehnik-tehnik special effect yang digunakan di dalam The Matrix.

    Selain itu, luar biasa sekali, bagaimana cemerlangnya The Wachowski Brothers memanfaatkan teknologi special effect dalam mencapai tujuannya. The Wachowski Brothers mampu meramu special effect dengan aspek filosofis dan teologis yang ingin disampaikannya melalui film The Matrix. Alhasil, memang sangat spektakuler.

    Sutradara India favoritmu juga sangat cemerlang menemukan ruang(gaya) di dalam aspek sinema lho. Coba diperhatikan, gaya pengambilan gambar Manoj Night Syamalan. Gayanya seperti orang yang sedang mengintip. Beberapa adegan diambil dengan sudut pandang, seolah-olah kamera melihat dari sudut pandang orang yang sedang mengintip. Cari aja di dalam film-filmnya. Hal ini mungkin berkaitan dengan tema-tema yang diangkat oleh Syamalan. Yang jadi pertanyaan, apa kaitannya orang mengintip dengan tema-tema yang diangkat oleh Syamalan ya?

    Fernando Meirelles juga menemukan gaya lain dalam hal editing di film City of God dan Constant Gardener.

    Kualitas film-film di era sekarang ini tidak mengalami kemunduran atau hebat enggaknya sutradara-sutradara zaman sekarang, tapi, memang sangatlah tidak mudah di dalam menemukan ruang(gaya) baru di dalam aspek sinema, karena Hitchcock, Orson Welles, Yasujiro Ozu, Kurosawa, Godard dan lain-lain telah menjamah ruang-ruang(gaya) di dalam aspek sinema lebih dulu. Hampir semua ruang(gaya) di dalam aspek sinema telah digunakan. Masalahnya, apakah kita sabar dan gigih untuk menemukan ruang(gaya) baru di dalam aspek sinema yang belum dijamah?

    Jangan-jangan malah merasa kelamaan, kapan bikin filmnya, kita butuh makan nih. Akibatnya, ya udah, yang penting bikin film aja.

    Reply
  23. Gi, timbangane nulis nang kene lak mending langsung posting nang halaman utama Warung Fiksi se. Pasti engko iso luwih diapresiasi. Akhir2 iki nang kene jarang tulisan soal film pisan. Dadi? Ta’enteni yo.

    Reply
  24. hai brahm…dah lama nih ga ngobrol…hehehe…
    cuma mau nanya aja. sebenernya kalau tulisan kita dimuat di web site kayak gini terjamin ga sih keamanannya? aku pengen banget mempublikasikan tulisanku di sini. tp khawatir juga kalo ada yg ngambil tulisanku seenaknya. diunduh trus diaku sbg karyanya.

    Reply
  25. ^_^ Hai, Rie. Kemana aja nih? Wah, kalau mau nulis di internet rasanya nggak pernah aman deh dari pencomotan sana-sini. Msh untung kalau si pencomot menuliskan nama pengarang asli, kalau nggak? Yah, udh resiko lah. Tp jgn kuatir, pecundang nggak kreatif tp suka main klaim spt itu jumlahnya dikit kok. Dan pd akhirnya masyarakat internet bisa menilai sendiri siapa yg kreator sejati dan siapa yg cuma plagiator.

    Di internet ada sistem waktu, Rie. Jd kalau kamu publikasikan tulisanmu di Warung Fiksi, memori internet akan tercatat secara akurat tempat kamu menulis (http://warungfiksi.wordpress.com) dan tglnya. Aku nggak sedang bicara soal penanggalan tulisan di WordPress, krn itu bisa diubah2: Tulisan tgl 12 Desember 2007 bisa kita ganti 12 Januari 2008, atau bahkan 17 Agustus 1945! Aku bicara sistem waktu yg terarsipkan scr natural di internet. Jd kalau kita posting 1 Juni 2008 (dan tdk diubah2 lg tglnya sampai beberapa waktu), ya tercatatlah lokasi kamu meletakkan tulisan dan bahwa itu tulisan dari tgl 1 Juni 2008, plus bentuk halamannya. Jd setidaknya ada bukti otentik lah bhw itu tulisanmu (orang yg pertama menulis), bukan yag lain.

    Yah, kecuali kalau yg nakal ternyata pemilik situsnya sendiri. Soal ini, kamu hrs cari tahu dulu latar belakang si pemilik situs (yg kamu mau nulis di dlmnya). Siapa dia, bgm reputasinya, kompetensinya, sdh brp lama dia eksis, sedikit atau banyakkah yg merekomendasikan dia, dsb. Lalu pd akhirnya, feeling kitalah yg menentukan, nih situs layak dipercaya atau enggak.

    Ini jg berlaku utk tulisan fiksi. Aku banyak mendengar cerita2 “mengerikan” lho soal ini. Wis pokoknya saranku, jgn taruh karyamu di media, penerbit, situs, atau agen yg nggak jls reputasinya. Kecuali kalau kamu memang nggak sayang dg karya2mu sih.

    Hei, aku bukannya lagi nakut2i. Aku cuma nggak ingin korps penulis (korps-ku, korps kita) jd bulan2an pihak yg berniat merenggut keuntungan tanpa susah2 bekerja/berinvestasi. Gitu aja.

    Eh, ngomong2, jd nulis kan?

    Reply
  26. ass..
    aku lagi sibuk nulis novel
    ini novel pertama aku
    aku mesti gimana yah?
    soalx aku masih awam banget nih?
    ada yang mau bantuin?

    Reply
  27. AYO NULIS BARENG

    heheh salam buat smuanya!
    nulis itu asik lo ! bisa jadi obat streez! kalo pikiran kita lagi ruwet,cepetan deh ambil pulpen trus tulis d kertas apa yang jadi uneg2 kita! siapa tau dengan gitu masalah2 tsbt bisa jadi ide buat cerita2 yang akan kita buat!
    nih aku punya sekoni(sedikit) tips buat yang mo bgt nulis crita fiksi!
    jangan langsung menuliskan crita tanpa ada pondasi yang kuat! pondasi di sini maksudnya, A.L: penokohan. anggap aja dia itu nyata. ada/hadir dalam kehidupan kamu. ajak ngomong dia. tanyain segala hal tentang dia terutama apa yg dia inginkan! hingga ia ingin berjuang ntuk mendapatkannya. informasi2 sedikitpun akan akan membwat tokohmu jadi lebih hidup! sekian (singkat bgt sih!)

    kapan2 nyambung lagi deh!
    dari “fatal frame”

    Reply
  28. aslm,,

    afwan kk,,

    mw tanya,,

    aku hoby bana nulis cerpen2,,slesai sh,,tp kalo kepikiran mw dilanjutin jd novel, kadang suka bosen ditengah jalan,trus ditinggalin gitu ajh dh,,tapi,kalol lg mw nerusin idenya udh ilang,,,

    yg aku mw tanyain,,gmn sh carana biar kita ga cpet bosen n ga cpet lupa atw plin-plan sm tujuan ending semula wktu kita mw buat karya-karya itu???

    syukron kk,,bwt bimbingannya..

    asLm,,

    Reply
  29. Trims udah mau mampir, Asahy. Kayaknya perlu dicatet tuh ide2. Masukkan folder khusus “Ide”. Kalau lg bosen, ya ikuti aja keinginan, bikin karya baru yg lain. Nanti baru kalau pas nggak ada ide, baca2lah karya2 yg belum jadi atau folder “Ide”. Insya Allah tertarik lagi bwt melanjutkan. Tp pakai cara ini jangan mengharap bisa produktif. Yg jls, takkan ada ide yg tersia-siakan.

    Reply
  30. syukron kk,,

    insyaAllah nti sahy coba,,faktor umur kali yyah,,hhee,,cpet bosenan,,

    mohon doa dn bimbinganna yyah kk,,

    tntg lomba yang bwt agustus itu,,sahy punya ide novel daerah,,tp masih kehidupan jaman skarang,,bahasa langsungnya (yg di dlam tanda petiknya) juga harus bahasa baku ya ka???

    syukron,,

    Reply
  31. Sebenernya nggak ada aturan baku sih, Asahy. Tp utk lomba ini, terutama bahasa narasinya sebaiknya berbahasa Indonesia yg baik dan bnr. Yg dlm petik (kalimat ujaran) kamu sesuaikan aja ama konteks ceritamu. Kalau tokoh yg sdg bicara berkarakter anak jalanan, ya masa’ dia ngomongnya dg bhs baku kyk Pak Menteri?

    Reply
  32. hee,,

    afwan kk,,,$$

    ohh cm narasiina ajjah to,,,

    iyah dh,,,syukron yyah kk bwt infona,,

    oiya,asahy ru tw ada situs ini baru seminggu lho ka,,hee,,mangna dsini ga bisa pake log in yyah ka??kan lbh seruuu,,,
    cm usul ko ka,,

    Reply
  33. Dear Para Pecinta Fiksi, Sastra dan Kaum Kerabatnya.

    Setengah takut aku menulis ini, karena kutahu kemungkinan tulisanku hanya bikin penuh tempat ini.
    Setengah takut aku mendengar kata mereka tentang tulisan ini, karena kutahu tulisanku bukanlah angin dingin penyejuk hati yang gerah.
    Setengah takut aku menulis menunggu saat waktunya tiba susunan kata ini harus di eksekusi, tanpa ada yang mengingatnya akan keberadaan tulisan ini.
    Setengah takut aku menulis, diantara rajutan-rajutan mutiara kata ini harus terganjal oleh kerikil hitamku
    Setengah takut aku menulis kiranya engkau para pendekar pena bersedia menjenguk ruang kecil dirumahku yang kupersiapkan untukmu ?
    dengan nol koma sekian sisa keberanianku untuk mengutarakan kepadamu, sudikah engkau menuangkan air mengalir dikalbumu untuk sedikit menyegarkan tanah kering di plataran pondokku ?
    ———[[[[[[[[[[[[[[[–=:000:=–]]]]]]]]]]]]]]]]———–

    Mengundang Para Penulis Muda Untuk menuangkan Karya maupun idenya di posbisnis.com
    Telah tersedia topik sepesial : Cerpen, Fiksi,dan Sastra
    Terimakasih Buat Warung Fiksi,
    kerabat Jogja.
    abi.

    Reply
  34. salam kenal pak brahm. lagi asik browsing, tiba2 nemu warung ini. asik juga isinya. mau nanya nih, kalo mau ikutan lomba dan ngirim naskah novel ke dkj itu, ada jaminan keamanan tulisan kita bakal ga dicuri ga ya? kalo di indonesia ada ga pendaftaran hak cipta tulisan, kaya lagu gitu? makasi sblmnya ya..

    Reply
  35. Buat Abi, nggak papa kok. Hm, situsnya menarik jg. Salam buat kerabat di Jogja ya.

    Salam balik, Cetra. Yah, DKJ tentu nggak mau mempertaruhkan reputasi bsr mrk dg hal2 semacam itu. Emang pencurian mungkin sj terjadi, tp jgn terlalu khawatir lah. Positif aja.

    Di Indonesia kan ada Dirjen HKI yg emang ngurus salah satunya hak cipta. Kalau posisimu di luar Jakarta Raya, mending titipkan urusan ini ke konsultan terdaftar di kotamu. Biayanya sekitar 1 jutaan per karya, kalau nggak salah. Tp kalau mau diajukan ke penerbit, lbh baik nggak usah pake gituan. Selain mahal (urusan itu seharusnya dibayari penerbit setelah naskah kita disetujui), jg penerbit mungkin ilfil duluan lihat naskah yg sdh berhak cipta.

    Reply
  36. apa itu sastra..??
    yg aqu tw cm nlis… nulis… nulis…
    n trakhir ga tw mw diapain tilisannya…
    pengennya bs terbit..
    tp ap pantes…???
    boleh tw gimn caranya bs nerbitin tulisan2.. specially tulisan2 caur dlm idub aq..
    yg cm bputar ditempatnya..
    tanpa aq rasain dunia tuw bneran bputar ato ga..
    mgkn bagi org lain iya.. tp ga bagi aq..
    bputar pd 1 poros..
    ato bputar hanya pd 1 titik jenuh..???
    kyk yg aq rasain sLama ini..

    n trakhir…
    dont know..

    just d o d o L…
    aka chemot…
    aka chela…

    n it was ME…

    kamsamhamnida….

    Reply
  37. Halo semuanya para penghuni warung fiksi.
    Waahh…Blognya Ma-nyuss baget. he…hee…heee.
    Oya, saya mau nanya nih…gima sih caranya nembus ke penerbit?

    Oke…salam kenal.

    Wassalam.

    Reply
  38. gimn cara ngirimnya mas..???

    smua tulisan2 qu terpencar-pencar…

    ga tw musti ngurutinnya lg…

    n yg pzti.. aq 1org yg nci rada gaptek ddunia fana inii..
    jd mci dlm bntuk lembaran2 kertas..

    hahaha

    btw…
    komawoo ahjussii…

    Reply
  39. Thx, Zaldym & Cella. Nembus penerbit? Baca deh tulisan Mbak Windy (pimred GagasMedia) di sini. Setelah itu pelajari karakter penerbit2, unduh resumenya di Free Download.

    Via email, Cella. Wah, ya hrs udah mbentuk cerita lah, minimal cerpen. Kirim aja ke bhanto@yahoo.com. Dlm bentuk file, jd ya hrs diketik dulu ya. Trims.

    Reply
  40. Permisi…Mas Brahm, aku mau nanya lagi… Kalo bikin e-book, karya2nya harus yang udah dipublikasikan di media lain ga? Terus, buat bikin e-book, musti ada berapa tulisan? Makasih…Monggo…

    Reply
  41. Kalau memang udah dimuat, tolong dibubuhkan keterangannya. Tp kalau blm, ya nggak masalah. Nggak wajib. Justru e-book Wufi ini bisa jd batu loncatan (tambahan jam terbang/reputasi) bg pengirimnya.

    SAtu ebook sekitar 10 cerpen, Rie. Sebenernya itu nggak banyak. Cuma yg susah kan mengumpulkan 10 cerpen yg setema. Makasih … Yyukk ….

    Reply

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.