Bagi seorang penulis, film bisa memberi inspirasi sekaligus referensi. Saya pun selalu menyempatkan diri menonton film. Kalau bisa sih di bioskop. Layar lebar, suara membahana, kita akan lebih mudah terseret ke tengah-tengah cerita. Seperti kemarin kami menonton The Raid. Seru! Sampai ikut ngos-ngosan dan ngilu-ngilu, rasanya. Sayang, kami dapat kursi baris J, jadi harus terima nasib: menengadah sepanjang film. Memang, di bioskop kita tak bisa seenaknya memilih duduk, kecuali tentu saja di film-film yang kurang laku.
Worth Knowing
Wawasan yang mungkin berguna untuk penulis.
Netbook yang Bisa Satu… Dua… Nyala!
Hari Kamis pukul 11 siang, seorang teman menelepon. Dia hendak memesan tiket pesawat Surabaya-Bali untuk berlibur. Bukan hal yang aneh. Warung Fiksi kan secara rutin menulis tentang Indonesia. Blog ini juga mengajak penulis, tak terkecuali orang luar Indonesia, untuk menulis cerita tentang negeri indah ini. Nah, tidak mau sekadar memprovokasi, kami juga merasa perlu untuk memfasilitasi mereka yang ingin berkunjung dan melihat sendiri kekayaan Indonesia. Lahirlah Wufi Travel.
Ileisme: Kata Ganti Orang Pertama ala Tarzan

“Chika mau makan, nih,” kata Chika. Menyebut nama sendiri ketika berdialog atau ileisme. Pernahkah Anda menemukan gaya bicara ala Tarzan semacam ini?
Festival Film Solo Hadir Kembali

Berita baik bagi para kreator film. Solo punya gawe! Namanya Festival Film Solo. Ini festival film tahunan yang diadakan di Kota Surakarta, Jawa Tengah. Fokusnya pada film fiksi pendek Indonesia.