Mengapa Saya Membaca Komik

By: Karna Mustaqim

Dulu, rasanya komik begitu sederhana. Dibendel, diikat tali pada tepian jilidannya, baunya apek oleh debu, tiap halaman cuma diisi dua kotak panel: Atas-bawah, hitam-putih, itupun kadang berbagi tempat dengan balon teks dan teks suara. Sudah begitu, pembagian panelnya biasanya tidak konsisten. Kualitas cetaknya pun berbeda-beda. Apa sih menariknya media ini? Mengapa saya tetap membaca komik?

Read more

Setelah Homeland, Quo Vadis Studiokasatmata?

Kemarin saya blogwalking, lalu nyasar ke Studiokasatmata.com. Sunyi senyap. Kondisi situs itu seperti rumah yang sudah lama ditinggalkan penghuninya. “Haloooo? Ada oraaang??” Masih sunyi. Hanya terdengar gaung dari suara saya sendiri. Iseng-iseng, saya masuk ke ruang News. Eh, kosong juga! Bahkan kalender yang dipajang masih tahun 2005. Saya tiba-tiba jadi merasa sendirian dan angker. Tanda tanya pun berjejalan di otak ketika saya melangkahkan kaki keluar dari rumah itu. Studiokasatmata pindah rumah? Atau kebetulan saja penghuninya sedang pergi semua tadi? Atau … Studiokasatmata memang telah tiada?

Read more

Bonjour, Asterix!

Bonjour, Asterix!

Tiga dekade sudah Asterix menjadi yatim. Pada tahun 1977, “ayahnya” meninggal. Dialah penulis awal cerita serial Une Aventure d’Asterix le Gaulois atau Kisah Petualangan Asterix (selanjutnya saya sebut Asterix saja). Meskipun masih ada “ibu” yang tidak kalah berjasa dalam membesarkannya, tetap saja Asterix tak pernah sama sepeninggalan René Goscinny.

Read more

Don't do that, please!