Writers Love to Write a Writer Character, Why?

Tintin the journalistI notice that writers have been always tempted to write in his work a main character who is a writer. Including myself. First, because a writer knows how the writer is. Second, because there are many great stories behind writing profession. A writer is a person with high dose of curiosity. And a writer has always wanted to tell the world what is in his brain. He can be so insightful. And such insights could potentially be a thrilling stories.

Just watch The Shining (1980), Misery (1990), The Disappearance of Garcia Lorca (1997), Quills (2000), Moulin Rouge (2001), Adaptation (2002), Secret Window (2004), King Kong (2005), and so on. You’ll know that I’m right.

* * *

Beberapa hari lalu di Bandung, saya menonton The Adventures of Tintin bareng Rie Yanti. Saya terhibur dengan beberapa adegan yang bombastis tapi lucu dan seru di film itu. Yah, adegan-adegan tersebut rasanya senapas dengan komiknya. Walau disesaki banyak adegan kebetulan, Tintin merupakan salah satu komik favorit saya karena ceritanya cerdas. Kelihatan sekali kalau pengarangnya berwawasan.

Diceritakan, Tintin adalah wartawan yang banyak membongkar jaringan kriminal tingkat atas. Tintin bukanlah polisi, detektif atau agen rahasia. Tapi wartawan. Seorang wartawan memang berpeluang melakukan hal-hal besar seperti yang dilakukan Tintin. Maka, saat menonton film yang disutradari Stephen Spielberg itu, spontan otak saya mengingat-ingat kembali beberapa film yang tokoh utamanya wartawan, atau paling tidak, penulis. Film-film semacam ini biasanya seru.

Tontonlah The Disappearance of Garcia Lorca (1997). Di sini, Andy Garcia memerankan wartawan yang menyusuri hilangnya seorang Garcia Lorca. Seru. Menegangkan. Banyak intrik politik di sana. Inilah salah satu film yang membuat saya berencana untuk menulis konflik yang sama peliknya.

Quills (2000). Geoffrey Rush memerankan Marquis de Sade, tokoh nyata yang mengawali munculnya unsur sadisme dalam seksualitas modern. Divonis meresahkan masyarakat dengan karya-karya seronoknya, sang marquis pun dicekal Napoleon: karya-karyanya dibakar, dia dipenjara, disiksa, sampai ditelanjangi supaya dia tidak punya media apa-apa untuk menulis. Toh tokoh konyol ini memiliki banyak cara untuk terus menerbitkan karya-karya gilanya.

Moulin Rouge (2001). Ewan McGregor memerankan penulis drama teater yang sedang berjuang mencari sesuap nasi. Namun dalam perjalanannya, dia jatuh cinta pada sang pemeran utama di Moulin Rouge, sebuah panggung hiburan populer di Paris. Itu artinya dia harus bersaing dengan seorang penguasa yang juga jatuh hati pada sang primadona. Maka, penulis miskin ini nekat menciptakan naskah yang menguntungkan kisah cintanya sendiri.

Adaptation (2002). Nicholas Cage memerankan seorang penulis skenario yang berusaha mengadaptasi buku nonfiksi ke dalam skrip film. Namun gagal. Yang unik dari Adaptation adalah plotnya yang membuat otak melintir. Inilah salah satu film yang membuat saya ingin menulis sebuah alur cerita yang juga tidak lazim.

King Kong (2005). Adrien Brody memerankan penulis yang disewa untuk membuat naskah berbasis kisah gorila superbesar.

Saya kira penulis sering tergoda untuk memasukkan tokoh penulis. Tengoklah Stephen King, novelis horor dan thriller ini sepertinya tidak pernah bisa lepas dari tokoh utama penulis. Tonton saja film-film yang diadaptasi dari novelnya: The Shining (1980, diperankan Jack Nicholson), Misery (1990, diperankan James Caan), Secret Window (2004, diperankan Johny Depp).

Kawan saya, seorang penulis novel Malaysia yang produktif, juga mengidap “penyakit” ini. Dia mengatakan “penyakit” ini adalah sebuah kewajaran. Pertama, karena profesi penulis itulah satu-satunya dinamika profesi yang paling diketahui oleh penulis. Jelas, tidak ada yang lebih tahu soal penulis selain penulis kan? Kedua, karena memang banyak kisah yang bisa digali dari pengalaman seorang penulis dalam menjalankan profesinya.

Saya setuju. Penulis adalah orang dengan rasa penasaran dosis tinggi. Dia bisa saja berkawan dengan pilot, mewawancari seorang pilot, atau membaca belasan buku tentang bagaimana menerbangkan pesawat. Jadi, walau bukan penerbang, dia akan mampu menceritakan kehidupan penerbang dengan meyakinkan. Dan seorang penulis selalu ingin menceritakan apa yang ada di otaknya kepada khalayak. Otomatis, seorang penulis (yang baik) selalu berwawasan luas.

Wawasan semacam itu berpotensi menjadi sebuah cerita. Maka perjuangan seorang penulis dalam berkarya atau menguak sesuatu pastinya bisa diangkat menjadi cerita yang seru. Saya pikir, itulah kenapa penulis selalu tergoda untuk memasukkan tokoh penulis dalam karyanya.

6 Replies to “Writers Love to Write a Writer Character, Why?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.