Terjebak Menjadi Pemburu Pesan

By: Mochammad Asrori

Jangan salah menduga saya akan bicara masalah SMS, email, atau model-model penyampaian pesan lainnya. Saya sekedar mau ikut membincang masalah-masalah pembacaan karya sastra. Aktivitas membaca tersebut, entah cerita pendek maupun novel, dapat kita ibaratkan seseorang yang sedang bepergian ke kota lain, baik untuk tujuan rekreasi, tugas kerja, atau sekedar silaturrahim. Setelah semua selesai, dan ketika sudah tiba kembali lagi ke rumah, kita bakal mendapat todongan yang tidak bisa tidak, pasti akan terlontar, “Wah, sudah pulang, Mas. Apa nih oleh-olehnya?”

Jika lebih sopan, mungkin pertanyaan tersebut akan hadir setelah pertanyaan-pertanyaan penggugah selera, katakanlah: (1) “Bagaimana perjalanannya, lancar?” (2) “Berkunjung ke mana saja sewaktu di sana?” (3) “Wah asyiknya, cerita dong gimana serunya?” Setelah itu biasanya pembicaraan berkembang menjadi dua arah, dan barulah saat seluruh menu utama pembicaraan habis, masalah oleh-oleh menjadi semacam inti pertanyaan penutup, atau konflik dalam rangkaian pasca perjalanan.

Tentu jika tidak menyiapkannya dari semula kita akan kelimpungan juga untuk menjawabnya. Buah tangan menjadi sesuatu yang wajib dihadirkan sebagai efek samping berpergian. Malu juga rasanya jika kita sekedar menjawab lupa tidak membawa oleh-oleh.

Perlu diketahui bahwa karya sastra merupakan satu dunia penjelajahan baru bagi pembacanya. Di dalamnya kita bisa hanyut dalam aneka rasa petualangan tema, belukar karakter tokoh, atau rimba alur yang memilin-milin jadi ular konflik yang menarik. Sama menyenangkan dengan sebuah perjalanan liburan, barangkali juga sama melelahkan. Mungkin bila dituntut untuk menceritakan kembali, kita tidak akan mengalami kesulitan yang cukup.

Analogi panjang di atas rasanya cukup pas untuk kasus ketika seseorang membaca karya sastra. Apalagi jika pembaca tersebut berada dalam satu lingkup lingkungan pembaca aktif, orang-orang yang gemar membaca dan merefleksikannya, katakanlah berada di lingkungan kampus. Tak ayal, pertanyaan seputar karya-karya sastra yang telah dibaca oleh masing-masing orang akan turut menjadi bahan perbincangan.

Masalah yang timbul pada pembaca aktif adalah sama seperti ketika orang menjalani masa liburannya. Dia tidak ingin mengecewakan orang-orang dekatnya, maka disiapkannya berbagai daftar oleh-oleh sebagai rambu-rambu agar tidak kelewatan. Dia merasa malu cukup hanya mengatakan: (1) “Betapa menyenangkan liburan,” (2) “Wah tempatnya indah sekali,” (3) “Alhamdulillah, yah sekarang tinggal capeknya nih.”

Maka dia selalu terlebih dahulu membangun sebuah mitraliur praduga dan selalu menembak-nembak pada saat pembacaan, bukan pasca pembacaan. Pikirannya dipenuhi pertanyaan: (1) “Buku ini bicara masalah apa?” (2) “Apa memiliki alur yang bagus, tokoh yang bulat, dan setting yang prima?” (3) “Apa ada hal urgen dan baru yang ditawarkan?” (4) “Apa memiliki nilai-nilai psikologis, sosiologis, atau historis yang bisa dipetik?” Pendeknya, dia mencari-cari kutu pada saat pembacaan, mencoba memahami isi buku langsung di saat membacanya.

Model pembacaan ini, membuat kita menomorsatukan sebuah pemahaman dan mengesampingkan pentingnya penghayatan dalam membaca karya sastra. Hal tersebut membuat kita lebih dulu mencoba menangkap pesan dalam membaca karya sastra, terlepas ada atau tidaknya pesan tersebut dalam karya yang dibaca.

Jadilah kita terjebak menjadi pemburu pesan. Pesan selalu memerlukan pemahaman, tanpa pemahaman dia tidak akan mampu memetik apapun di dalamnya. Berbeda dengan makna, makna bukanlah sebuah pesan, ia hadir bukan untuk dipahami, tapi harus dihayati.

Membaca karya sastra berbeda dengan membaca sebuah buku pengetahuan, karena karya sastra merupakan keunikan yang dihasilkan seorang penulis dengan licencia puitika-nya. Kita tidak bisa melekati pikiran kita langsung dengan pertanyaan, “Apa maksud dan tujuan pengarang ketika menciptakannya?”

Akan sangat mengecewakan jika kita kemudian tidak bisa menemukan apa yang kita cari, sesuatu yang telah kita beri praduga, sesuatu yang sudah kita siapkan sebagai satu pisau bedah untuk mengulas karya tersebut dan mengurai pemahaman karya sebelum melalui tahapan membaca serta memaknainya.

Jadi saya rasa yang paling baik adalah kita tak perlu berpusing-pusing memikirkan pemahaman akan karya yang kita baca. Cukup kita mencoba menghayatinya, turut merasakan sedihnya, gembiranya, kemencekamannya, keasingannya, kenakalannya, keegoisannya, kemarahannya. Dari sanalah nantinya terbit satu medan makna dalam pikiran kita. Kita bisa memaknainya sebagai satu yang berarti dalam kehidupan, sesuatu yang membekas dalam hati. Barulah pada tahap lebih lanjut, kita bisa menggali pemahaman di dalamnya.

Katakanlah seperti seorang pacar yang sedang kesal dengan kekasihnya, “Kamu tidak memahami perasaanku?” katanya. Haha, bagaimana mau memahami perasaan si doi jika kita tidak menganggapnya bermakna dalam hati!

BAGIKAN HALAMAN INI DI

2 thoughts on “Terjebak Menjadi Pemburu Pesan”

  1. Thanks, Mas Scarion. Sori baru bisa menanggapi sekarang, habis liburan nih. Ganti perspektif penulisan? Mungkin yang dimaksud ganti perspektif pembacaan kali ya? Tulisan ini cuma untuk meluruskan gaya pembacaan tradisional khas pelajaran sekolah dimana kita selalu dituntut untuk mencari pesan-pesan dalam suatu karya. Karena sebelum membaca kita dibebani untuk selalu mencari kesan begitu, jadi kita melewatkan tahap yang menyenangkan dalam menikmati bacaan.

    Reply

Leave a Reply to scarion Cancel reply

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

No right-click, please!