What You Choose in Writing: Easy or Tricky Way?

Easy way or tricky way?Some say, writing is easy, some say is not. Basically, writing is get the ideas or feelings into written. If that is the definition, I’m sure everyone can write. But, writing can be more complex than that.

The second definition of writing, let’s say, is the activity which involve feeling and thinking at once, the right brain and left brain. A writer with this standard will always be willing to “waste” time to do research, build consistent logic, and innovate story. It’s trickier, but the result will be more excellence.

Whatever your choice, the easy one or the tricky one, go ahead. Just don’t forget, a writer should be able to feel the object of his writing as deep as possible, practice as often as possible, and read as many as possible.

* * *

Ada yang berpendapat menulis itu mudah, ada juga yang mengatakan susah. Hm, saya jadi berpikir, sebetulnya menulis itu bagaimana sih? Pada dasarnya, menulis adalah menuangkan gagasan atau perasaan ke dalam bentuk tulisan.

Jika pengertiannya seperti itu, saya yakin semua orang bisa menulis. Anda tinggal menceritakan pengalaman sehari-hari, opini, khayalan, atau keinginan. Tak perlu memikirkan bagus-tidaknya ide itu, menyentuh emosi pembaca atau tidak, bahasanya rapi atau tidak. Tulis saja terus, maka Anda layak dipanggil penulis.

Namun, menulis bisa jadi tidak hanya sebatas itu. Pengertian kedua menulis, sebut saja begitu, adalah kegiatan membuat tulisan dengan melibatkan perasaan sekaligus pikiran, otak kanan sekaligus otak kiri. Seorang penulis dengan standar ini akan selalu bersedia “membuang” waktunya untuk mengurus:

  • Riset cerita. Biasanya yang diriset adalah setting (lokasi atau waktu), tokoh (karakter psikologis atau sosialnya), dan alat-alat yang tampil di cerita. Caranya? Bisa dengan diskusi atau konsultasi ke orang yang tepat, observasi ke TKP, membaca buku atau media, menonton film, browsing internet, dan sebagainya. Tujuannya satu: menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak menyakinkan bila dijawab hanya oleh imajinasi.
  • Logika cerita. Meliputi penentuan genre (agar tahu gambaran logika apa yang dipakai) dan pendefinisian keajaiban. Tokoh utama selalu punya “sesuatu” yang mestinya membuat pembaca respek (kalau tidak punya, pecat saja dia sebagai tokoh utama). Tapi jangan munculkan “sesuatu” itu secara tiba-tiba, di saat tokoh utama terdesak. Anda perlu mendefinisikannya pelan-pelan sejak bab-bab awal.
  • Inovasi cerita. Bisa saja dari temanya, tokohnya, alurnya, gaya penuturannya, atau lainnya. Misalnya, cerita dengan sudut pandang orang pertama (“aku”), tapi di akhir cerita pembaca memergoki bahwa tokoh utama sekaligus narator itu ternyata orang gila yang tidak bisa dipercaya. Bisa dibayangkan geramnya pembaca. Tapi bila penyampaian ceritanya cantik, bukan mustahil pembaca malah bertepuk tangan. Jadi ini bukan tentang novel yang dijual sepaket dengan CD soundtrack-nya. Yah, itu inovasi juga (10 tahun yang lalu), tapi bukan di bidang penulisan.

Terdengar sulit ya? Tidak salah memang bila ada yang menganggap menulis itu susah. Pasti dia menjadikan pengertian kedua sebagai patokan. Tapi tidak salah kalau ada yang bilang menulis itu mudah. Pasti dia menggunakan patokan pengertian menulis yang pertama. Berita buruknya, banyak sekali orang (kompetitor) yang menulis di kotak ini.

Apapun pilihan Anda, silakan saja. Namun aturan umumnya tetap, seorang penulis harus bisa merasakan obyek tulisannya sedalam-dalamnya, bersedia berlatih sesering-seringnya, dan membaca sebanyak-banyaknya.