What is Google Books to You

Google BooksSince 2004, Google has a plan to digitize the books from all over the world, as many as it can. So when you feel like to find some books that has already become public domain, or books which the publisher and author let open, you can just freely and legally read it, even download it. With Google Books, you can read books from your legendary authors far before you were born, you’ll get more than material to do the research as well, you may promote your new book by launch some open pages for teaser, and sell books (via Google Play). Join it, and see what advantage you can get by this cool project.

* * *

Google Books menurut saya merupakan salah satu proyek gila. Mungkin lebih gila dari ide membuat ensiklopedia online yang massif tapi gratis. Melalui proyek Google Books ini, Google berniat mendigitalkan buku-buku di seluruh dunia. Ini dilakukan sejak 2004. Jadi, ketika Anda hendak mencari buku yang sudah menjadi public domain, atau buku-buku yang diikhlaskan penerbit dan pengarangnya, Anda tinggal membacanya, bahkan mengunduhnya. Tanpa beli. Tanpa mengorek-ngorek lapak toko buku seken yang berdebu.

Terlihat seperti merugikan pelaku industri buku? Ah, tidak juga. Sebab Google selalu memberi kita pilihan untuk ikut atau tidak pada proyek ini. Kalaupun memilih ikut, Anda bisa menentukan buku Anda bisa diakses Full View (semua halaman), Limited Preview (sebagian halaman dengan jumlah persentase yang Anda tentukan sendiri), atau No Preview (tidak ada halaman yang bisa dibuka oleh pengakses Google Books kecuali keterangan sekilas tentang buku itu).

Apapun pilihan Anda, dengan berpartisipasi dalam Google Books, Anda bisa memperbesar keterlihatan buku Anda di jagat maya.

Dari sisi pembaca, kita juga banyak diuntungkan. Google Books membuat kita tidak perlu repot-repot pergi ke perpustakaan atau toko buku saat ingin meriset sesuatu (meski kedua tempat itu jelas takkan tergantikan). Bayangkan, ada sejuta lebih buku dengan status public domain (hak ciptanya milik umum karena penulisnya sudah meninggal selama puluhan tahun). Alih-alih mengunjungi perpustakaan, Anda bisa membangun sendiri perpustakaan digital yang megah. Begini caranya:

  1. Kunjungi Google Books dalam keadaan signed in ke Google Account (misalnya gmail, Google+, Youtube, Blogspot, atau lainnya).
  2. Cari judul buku (atau kata-kata tertentu di dalam buku) yang Anda mau. Gunakan Advanced Book Search untuk hasil pencarian buku yang lebih baik.
  3. Arahkan kursor ke tombol “Add to My Library”, lalu pilih bookshelf (rak) yang Anda inginkan. Nanti Anda pun bisa membuat bookshelf baru dengan label apapun.
  4. Anda bisa men-share perpustakaan ini dengan mengesetnya statusnya menjadi “Public”. Sebaliknya, Anda bisa merahasiakannya dengan mengatur bookshelf itu menjadi “Private”.
  5. Mau mengkloning perpustakaan Anda? Atau memindahnya ke akun yang lain? Gampang. Ekspor saja ke XML. Lalu upload file XML itu ke akun baru Anda. Setahu saya, setiap produk Google punya fasilitas ekspor-impor begini.

Voilà! Lihatlah, Anda dapat menyimpan buku-buku dalam bentuk e-book. Hebatnya, semua itu tanpa perlu repot-repot menyediakan server atau harddisk, karena semua beban space ada di Google!

Membaca e-book memang tidak senyaman membaca buku fisik, namun ada beberapa keunggulan juga. Salah satunya adalah sistem navigasi yang memungkinkan pembaca langsung menuju halaman tertentu. Anda juga mudah search kata tertentu. Bayangkan kalau itu buku fisik, tentu repot sekadar untuk mencari kata, misalnya “bisnis kentang”, di dalam beratus-ratus halaman kertas.

Eh, saya tidak cuma bicara buku lho. Namanya perpustakaan, majalah dan jurnal juga ada dong. Semoga nanti koran dan tabloid menyusul bergabung di Google Books Project ini. Melalui Google Books, Anda bisa membaca dan menyimpan Majalah Gadis, National Geographic, Life, dan lain-lain. Yah, meskipun tentu saja bukan edisi-edisi yang baru.

Yang jelas, semua itu legal! Karena telah melewati persetujuan penerbit.

Jika Anda menemukan buku Anda tiba-tiba nongol di Google Books tanpa seizin Anda, hubungi penerbit Anda. Mungkin mereka sudah ada kesepakatan dengan Google. Jangan berprasangka buruk, karena penerbit pun pasti tidak mau buku penulis-penulisnya digratiskan begitu saja. Pasti ada rencana marketing dari mereka. Tanyakan saja.

Kalau Anda menerbitkan buku sendiri dan tidak merasa menjadi Project Partner, tidak setuju dengan proyek ini, tapi buku Anda ada di Google Books, wah, berarti ada yang tidak beres! Segera lapor Google untuk memintanya menarik buku tersebut dari direktori Google Books. Mudah kan?

Akhir kata, selamat melakukan riset pustaka melalui Google Books. Selamat membaca buku-buku dari para penulis legendaris. Selamat berpromosi. Dan, selamat berjualan buku!

Oh ya, sepertinya saya lupa memberi tahu. Kalau nanti di Indonesia sudah tersedia layanan jual-beli buku lewat Google Play Store, Anda pun semakin punya alternatif untuk self-publish. Sebab, buku-buku Anda juga bisa dijual lewat Google Books. Nanti dipasarkannya melalui Google Play, sehingga buku Anda bisa menjangkau user-user PC maupun gadget di seantero dunia. [photo from Newyorker.com]

SEO for Writers

A writer in internet era must know how to do SEOSearch Engine Optimization (SEO) is a process to systematically increase traffic quantity and quality of a website through search engines. It’s very important for writers. Imagine this. You have a novel called The Secret of Silence. Later on, you notice that there has been a novel with the same exact title. Damn! You can’t revise your title. It’s already printed and about to send to book stores.

The disaster doesn’t stop there. When your readers browse “secret of silence”, they have the other novel dominates the first Google SERPs (Search Engine Result Pages). Oh, boy. If this is a brands war, you already lost.

But, I’ll be cool if I were you. I’ll fix my novel’s website and do some SEO. So, in just a few weeks, Google will start to show my URLs on its first SERPs.

* * *

Ketika penerbit menentukan judul novel baru saya adalah Rahasia Sunyi, saya merasa biasa-biasa saja. Saya memang bukan tipikal penulis yang mempermasalahkan hal-hal kecil.

Toh saya yakin penerbit sudah mempertimbangkan segalanya, termasuk dari sudut pandang marketing, sebelum mengganti Kirey (judul yang saya ajukan) menjadi Rahasia Sunyi.

Tapi saya terkejut saat browsing “rahasia sunyi” untuk kroscek. Hasil pencarian urutan pertama di Google adalah artikel yang mengadvokasi kaum lesbi! Wah, gawat. Rahasia Sunyi karya saya kan tidak menyinggung soal queer sedikit pun. Takutnya ada yang menghubung-hubungkan.

Daripada timbul kesalahpahaman, saya putuskan untuk memisahkan antara Rahasia Sunyi saya dan artikel lesbianisme yang ditulis oleh RR. Sri Agustine itu. Saya pun mencoba menjauhkan hasil pencarian Google (dan search engines lainnya) antara novel saya dan artikel tersebut, sepanjang setidaknya 20 urutan, atau dua halaman hasil pencarian.

Bagaimana caranya? Yah, boleh dikata, dengan SEO (Search Engine Optimization) copywriting.

Misi ini dibilang sulit ya sulit, karena artikel itu sepengetahuan saya sudah bertengger di hasil pencarian search engines sejak 2011. Ditambah lagi, artikel-artikel lainnya yang berkaitan dengan artikel Rahasia Sunyi, baik yang pro maupun yang kontra dengan lesbianisme. Mereka semakin memperberat misi menggeser urutan di halaman pencarian ini.

Tapi dibilang gampang ya gampang, karena saya tidak bekerja sendirian. Saya dibantu beberapa resensi dan artikel dari penerbit, GoodReads, toko online, dan lain-lain. Belum lagi kicauan social media dan tulisan-tulisan saya sendiri (salah satunya yang sedang Anda baca ini).

Yang jelas, inilah salah satu fungsi SEO, serangkaian proses yang dilakukan secara sistematis untuk meningkatkan jumlah dan kualitas kunjungan ke sebuah web melalui search engines. Teknik dasar SEO selalu sama: in site (pengoptimalan di dalam web) dan off site (pengoptimalan luar web).

Mempelajari SEO bagi seorang penulis era internet saya kira merupakan keharusan. Namun hati-hati, mempelajarinya terlalu dalam juga berisiko, sebab bisa-bisa Anda tergoda untuk melakukan rekayasa-rekayasa web yang justru tidak disukai Om Google.

Menurut hemat saya, cukup gunakan SEO untuk kepentingan praktis bagi penulis. Misalnya seperti kasus saya. Setiap kali orang mengetikkan “rahasia sunyi” di Google, saya ingin 20 hasil pencarian awalnya adalah situs-situs yang berhubungan dengan novel thriller Rahasia Sunyi.

Apakah saat ini sudah seperti itu? Hahaha, belum. Tapi saya masih berusaha. Dalam dua bulan ini, progresnya sekitar 70%. Padahal saya cuma menerapkan langkah-langkah SEO sederhana yang gratisan ini:

  • Web Optimizating: Mengoptimalkan web sesuai standar search engines seperti judul, deskripsi, keywords, permalink, pengaturan meta tag, dan lain-lain. Meta description, meskipun tidak mempengaruhi ranking, tapi sekitar 100 karakternya akan muncul sebagai snippet (deskripsi singkat di bawah judul) di SERP (halaman hasil pencarian search engines. Jadi buatlah semenarik mungkin, agar pencari mengklik link Anda, alih-alih sembilan links yang lain di SERP.
  • Domain Naming: Nama domain membantu proses SEO Anda sebesar kurang-lebih 30%. Maka kalau jualan Anda adalah jaket kulit rusa, belilah domain JaketKulitRusa.com. Jangan malah sok narsis memilih NamaAnda.com. Kalau belum mampu beli domain (dan memperpanjangnya tiap tahun), setidaknya nebenglah di Blogspot.com atau WordPress.com menggunakan user JaketKulitRusa.
  • Original Content Filling: Isilah web/blog itu dengan artikel-artikel original yang relevan dengan tema web. Semakin spesifik tema itu, semakin bagus. Cuma, Anda harus putar otak agar tidak kehabisan ide tulisan.
  • Keyword Density Setting: Mengatur persentase keyword 4-6%. Rumusnya, jumlah kata dalam tulisan Anda dibagi jumlah pengulangan keywords, lalu dikali 100% (keyword/words x 100%). Misalkan Anda mengincar keywordsbaju bodo modern” dan tulisan Anda adalah 300 kata. Maka, usahakan frase “baju bodo modern” muncul atau diulang dalam tulisan sebanyak 12-18 kali. Kurang dari itu, search engines bisa jadi menganggap tulisan itu bukan tentang baju bodo modern. Lebih banyak dari itu, search engines bisa menganggapnya tulisan spam.
  • Words Emphasizing: Memakai penekanan dengan bold (cetak tebal), italic (cetak miring), atau underline (bergaris bawah) pada frase-frase atau kalimat-kalimat yang dianggap penting. Tapi jangan berlebihan. Sekali lagi, bila berlebihan, search engine berpeluang menganggapnya sebagai tulisan spam.
  • URL Submissing: Mendaftarkan web di search engines dan direktori-direktori internet. Lakukan ini terutama bila web Anda masih baru. Lalu, setelah proses memasukkan alamat web, lanjutkan dengan memasukkan ke social bookmark sites, seperti digg.com, stumbleupon.com, reddit.com, del.icio.us, lintas.me, dll. setiap publish artikel. Ini untuk membantu artikel tersebut agar lebih cepat di-index oleh search engines dan mengantarkan visitors baru ke artikel itu.
  • Social Media Updating: Social media sekarang bukan lagi ajang narsis para ABG labil. Ia telah menjadi alat marketing yang ampuh. Hanya, pastikan social media itu terhubung (setidaknya melalui link) dengan web Anda. Lebih bagus lagi bila namanya sama dengan domain Anda. Umpamanya Anda punya domain JudulBuku.com, alangkah bagusnya kalau ada juga akun Facebook.com/Judul.Buku (Fanpage lho, bukan Profile), Twitter.com/JudulBuku, dan Google+ bernama sama.
  • Link Building: Menciptakan sebanyak mungkin link berkualitas yang mengarah ke web Anda. Sistem perangkingan di sebagian besar search engines adalah dengan menghitung berapa banyak links yang masuk ke web kita, dan seberapa berkualitasnya tautan-tautan itu. Seorang profesional (seperti dokter atau pengacara) yang dirujuk oleh banyak orang akan semakin laris dan eksis. Demikian pula web, semakin banyak dirujuk (dalam bentuk links) oleh web-web lain, semakin dipandang tinggilah ia oleh search engines.

Hm, begitu saja sih dasar-dasar SEO itu. Anda bisa mencoba-cobanya sendiri. Tapi menurut saya, langkah awalnya adalah memiliki blog atau web sendiri. Dengan begitu, Anda bisa bereksperimen SEO secara lebih leluasa.