Simple Idea Yet Unexpected

Did you know, every good book has always one simple idea which easy to understand, but unexpected. Just one. Not that more ideas in a book is forbidden. But, the books that stick on readers’ mind have only one simple idea yet unexpected. I give you examples. The Secret: “Ask, you’ll be given”. Message from Water: “Behave and speak in positive manner, because it would affect the waters around you.” Simple, yet unexpected!

* * *

Tahukah Anda, setiap buku yang baik selalu punya satu ide yang sederhana, mudah dipahami, namun tak terduga. Satu saja. Bukan berarti punya banyak ide dalam satu buku tidak boleh. Hanya, biasanya buku-buku yang akan diingat terus oleh pembacanya memang yang memiliki satu saja ide simple yet unexpected. Buku-buku ini adalah beberapa contohnya:

  • Rich Dad, Poor Dad (Robert Kiyosaki, 2000): Mulai sekarang, jangan mau jadi orang gajian atau hanya rajin menabung.
  • The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference (Malcolm Gladwell, 2000): Ternyata ada hal kecil yang sulit kita kontrol tapi bisa membuat kita sukses besar.
  • Message from Water (Masaru Emoto, 2004): Bersikap dan berkata-katalah yang positif, karena itu akan mempengaruhi air-air di sekitarmu.
  • Blink: The Power of Thinking Without Thinking (Malcolm Gladwell, 2005): Pada tingkatan kepakaran tertentu, seseorang bisa mendeteksi ketidakberesan atau potensi sukses seseorang/sesuatu dalam satu kedipan mata.
  • The Secret (Rhonda Byrne, 2006): Mintalah, kau pasti akan diberi.
  • Outliers: The Story of Success (Malcolm Gladwell, 2008): Untuk sukses, milikilah setidaknya 10.000 jam terbang di bidangmu.

Buku-buku fiksi? Film? Komik? Ternyata sama saja. Karya-karya yang melekat di benak pembaca/penonton, apapun itu, selalu punya satu ide yang simple yet unexpected. Satu saja!

Kalau tidak percaya, ambil buku-buku koleksi terbaik Anda. Baca lagi sekilas. Dan buktikan apa kata-kata saya ini benar atau tidak.

FAQ (Frequently Accused-Questions) to Fiction Writers

Evil judgeHave you, as a fiction author, ever been asked by people pretended to know everything about work of writing and publishing? Were you boxed into a corner by those questions? I was. I have ever faced few “judges” like that. But I never give a damn, ha-ha. I have a list of what did my friends negatively say about work of fiction. Unfortunately, I didn’t have time to translate those into English. But I bet you already knew things like: all fiction writers are liar, a words waster, ones who live in imagination without seeing the real world, blah. Insignificant accusations that can be easily countered. Continue Reading →

Mind Mapping for Fiction Writing

Mind mapping exampleDo you make a skeleton before writing your work of fiction? I do. It is important for me. The skeleton is like a railroad that makes the machinist saves his time from thinking all the time, “Where do I go after this station?” You can say, skeleton for a novel is the same as scenario for a movie. The audience does not need it, but the storymakers do. Continue Reading →

Growing Pains

Blancengmekar in growing pains
When you were a toddler, you had probably ever cranky about the pain on your foot. There was no injury or wound, but pain happened. When your teeth started to grow and your gums ached. Or, when your last molar was about to appear. Those are few instances of growing pains, the pain due to growth.

But do growing pains have something to do with writing? Sure! I believe I experience one. I have been writing a draft of thriller novel since the beginning of the year. Yet, it is not finished. I feel a bunch of difficulties. So my option is: give up to keep away the “pain”, or keep going and consider it as a period of growing pains.

Once you believe in what you do, always choose the second option. Such pain is not a punishment for your deeds in the past. Such pain is a clear sign that there is something within you that is growing. Avoid it, and your skill would be stagnant. Face it, and you would grow.

* * *

Dulu sewaktu masih balita, mungkin Anda pernah rewel karena kaki Anda terasa sakit. Padahal Anda tidak kecapekan, terluka atau cedera apapun. Atau, saat itu gusi Anda merasa ngilu ketika gigi Anda mulai tumbuh. Bahkan saat dewasa, ketika akan muncul gigi geraham terakhir, Anda mengalami kesakitan sekali lagi.

Yah, mungkin Anda sudah lupa itu semua. Yang mau saya katakan, itulah growing pains, nyeri akibat pertumbuhan. Setiap orang mengalaminya. Rasanya tidak enak. Tapi setelah periode tersebut terlewati, niscaya tinggal manisnya dan Anda segera melupakan rasa sakitnya. Seperti jargon iklan, Sudah lupa tuh!

Growing pains juga tidak hanya terjadi dalam tubuh. Contohnya saya saja. Saya kan hobi bermain bulutangkis (tapi saya tidak mengatakan jago lho). Nah, dulu saya terbiasa men-smash dengan hanya mengandalkan ayunan lengan. Keras. Mantap. Banyak yang jadi korban, hehehe.

Eh, kemudian seorang kenalan bilang bahwa itu salah, “Smash yang benar itu selain dengan kekuatan ayunan, kamu juga harus memutar sikut dan pergelangan dalam sekali hentak.” Karena kemampuan kenalan saya itu memang sekelas atlet, saya pun menurut. Saya mulai mengubah cara men-smash. Jujur saja, tidak begitu mengenakkan. Selain smash saya menjadi lemah, sering menyangkut di net, saya masih harus mendapat bonus nyeri-nyeri di persendian tangan kanan keesokan harinya.

Namun saya mencoba terus mempraktikkan cara itu. Toh, bentuk tangan pebulutangkis-pebulutangkis yang saya tonton di televisi juga seperti itu sewaktu melakukan smash. Saya terus mencoba. Hingga akhirnya terbiasa juga. Pukulan smash saya pun berangsur-angsur tidak hanya menjadi lebih keras, melainkan juga lebih tajam! Saya memberi selamat pada diri sendiri. Saya telah melewati fase growing pains dan tumbuh!

Sebentar, tapi apakah growing pains ini berhubungan dengan dunia penulisan? Tentu! Seperti yang sedang saya alami. Saya menulis novel sejak awal tahun, namun tidak selesai-selesai. Rasanya kok sulit sekali, apalagi ada beberapa kesibukan lain yang menyita waktu. Maka pilihannya dua: menyerah agar tidak perlu mengalami “nyeri” ini, atau terus maju dan menganggapnya tak lebih dari sekadar periode growing pains.

Ketika Anda yakin pada apa yang Anda kerjakan, selalu pilihlah opsi yang kedua. Memahami bahwa setiap pertumbuhan selalu membutuhkan “penderitaan” akan membuat Anda tetap optimis. Misalnya, bagi Anda penulis yang masih sering diremehkan orang, yakinlah, Anda sedang mengalami periode growing pains. Sakit, memang.

Tapi kesakitan semacam ini bukanlah hukuman atas perbuatan kita di masa lalu. Kesakitan semacam ini adalah pertanda yang gamblang bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang sedang tumbuh. Hindarilah, dan kemampuan kita akan tetap begini-begini saja. Alamilah, dan kita akan tumbuh. [photo by Rie]