SawungKampret, Sambil Tertawa Bicara Nasib Komik Indonesia

Kover-kover Sawungkampret

Dalam komik ini, SawungKampret, keanekaragaman Indonesia digambarkan dengan begitu menghibur, sekaligus menyentuh. Inilah salah satu masterpiece perkomikan kita, karya Dwi Koen alias Dwi Koendoro Brotoatmodjo.

Artikel tentang komik SawungKampret ini sebenarnya bukan tulisan baru. Warung Fiksi memublikasikannya pertama pada 2007. Sebelumnya, tulisan ini juga dimuat di Majalah Game Master volume 43 pada 2001. Kami memublikasikannya ulang untuk mengenang sang komikus yang baru saja meninggal beberapa jam lalu :’(

Review Komik SawungKampret

Review Komik Sawung Kampret

Hari itu, raja Majapahit menganugerahi dua abdi setianya, Panji Koming dan Pailul, sebilah keris bernama Sawungkampret. Mereka dianggap banyak berjasa terhadap kerajaan. Namun, mengapa hadiahnya hanya keris? Itu karena sebelumnya mereka menolak pemberian berupa uang dan jabatan.

Mereka memang bersahaja. Sayang, kerisnya hanya satu.

Panji memilih sarungnya, Pailul menyimpan kerisnya. Tujuan pembagian ini agar kelak jika ada keturunan mereka yang menikah, Keris Sawungkampret dan sarungnya dapat kembali bersatu, sebagai simbolisasi persahabatan dua insan abdi kerajaan tersebut.

Hal itu terjadi setelah beberapa generasi, tepatnya pada awal abad 17. Keris dan sarungnya jatuh ke tangan Sawungnogo. Dari perkawinannya dengan Ni Cut Srigati, pendekar Sawungnogo memiliki anak yang diberi nama persis keris itu.

Sawungkampret masih bau kencur ketika bapaknya dibunuh serdadu Portugis. Apesnya lagi, sang pembunuh membawa serta keris pemberian raja Majapahit itu. Masih kurang tragis, di kemudian hari, giliran sang ibu yang tewas.

Syahdan, sesuai amanat almarhum bapaknya, Sawung junior pergi ke padepokan silat di Cibadak, Jawa Barat.

Di sanalah, Sawungkampret bertemu si pipi tembem Na’ip bin Jali. Sebagai bocah normal, segera muncul hasrat ingin mengungguli makhluk sebayanya. Maka bertengkarlah kedua anak itu, padahal berkenalan saja belum. Itulah awal persaudaraan Sawung-Na’ip yang “manis” dan “penuh kasih”.

Sekalipun berupa komedi, fondasi cerita komik SawungKampret begitu kompleks. Latarnya di zaman VOC, sekutu dagang Belanda abad 17. Maka yang menjadi bulan-bulanan di sini adalah londo-londo itu. Sebagaimana Asterix dan Obelix tidak sungkan mempermainkan Julius Caesar yang perkasa, Sawung dan Na’ip juga hobi membuat stres tokoh besar sejarah, J.P. Coen. Walau, itu hanya kejadian di dalam semesta komik.

Namun jangan salah, di SawungKampret terkandung pula data-data sejarah yang valid, yang tentunya bukan karangan komikus. Barangkali, itulah maksud dari semboyan komik ini, yakni Ridendo Dicere Verum (sambil tertawa, kita berbicara tentang kebenaran).

Apa yang membuat komik seri terbitan Mizan (dan dilanjutkan Creativ Media) ini berbeda adalah kekuatan cerita dan penyampaiannya. Suatu halaman pembaca dibuat terpingkal-pingkal, lalu di halaman lain dibikin terharu dan terenyuh.

Gambar-gambar di komik SawungKampret begitu khas. Dwi Koen menggurat wajah serta postur karakter-karakter utama maupun pembantunya dengan ekspresif, jauh dari kesan seragam yang monoton. Ceritanya pun tidak pasaran.

Semua keistimewaan SawungKampret itu tak lepas dari turut nimbrungnya nama-nama besar seperti Arwah Setiawan (ahli humor), Marcel Boneff (peneliti komik Indonesia berkebangsaan Prancis), H. Boediardjo, Aji Damais (konsultan budaya), serta tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

Dalam ajang KOMIKASIA Award 2005, SawungKampret seri Malacca dan Flor De La Mar meraih lima penghargaan: Komik dengan Desain Karakter Terbaik, Komik Terpuji, Visualisasi Terbaik, Cerita Terbaik, dan Komik Pilihan Pembaca selama berlangsungnya KOMIKASIA 2005.

Sayang, prestasi itu seperti berlawanan dengan penjualan komiknya. Sehingga, di pasaran, komik SawungKampret terpaksa terbit sampai enam seri saja:

  1. Legenda Sawung Kampret I
  2. Legenda Sawung Kampret II
  3. Marietje Van Der Bloemkool I
  4. Marietje Van Der Bloemkool II
  5. Malacca & Flor De La Mar
  6. Ni Woro Sendang

Setelah itu, penerbit kita lebih suka dengan jualan komik-komik impor. Sampai hari ini pun, orang lebih akrab dengan karya Dwi Koen Panji Koming, komik strip yang rajin muncul di Harian Kompas Minggu, ketimbang komik SawungKampret.

Di Balik Layar Komik SawungKampret

Ide tentang SawungKampret tidak hadir dalam setahun-dua tahun. Prosesnya lama sekali, dimulai sejak 1969 saat Dwi Koen bekerja di Televisi Exprimentil Surabaya. Maka pantaslah bila konsep komik ini tampak demikian matang dan bermutu.

Dwi Koen mulanya menciptakan karakter Mahesa Aspirin (cikal bakal tokoh Sawungkampret) dan Panji Kemis (cikal bakal tokoh Na’ip). Akan tetapi, proyek ini terpaksa ditunda lantaran kesibukannya sendiri.

Diakui Dwi Koen, SawungKampret memang mendapat pengaruh dari kisah Mahesa Jenar ciptaan SH Mintardja. Saat Dwi Koen kecil, dia pernah tinggal di Bandung dan menonton sandiwara Sunda yang sukses mengocok perutnya. Tokoh pentas itu bernama Jaka Aspirin. Di sanalah, Dwi Koen mendapat inspirasi menciptakan tokoh Mahesa Aspirin.

Dalam menggarap SawungKampret fase awal, Dwi Koen bermitra dengan Panji Kemis alias Ringo. Salah seorang teman kuliahnya di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, Yan Mintaraga, juga terus menyemangatinya.

Hingga pada 1990, Majalah HumOr mulai memuat SawungKampret di rubrik serial komik. Pembaca menyambut hangat. Malah enam tahun kemudian, kisah komedi zaman kolonial ini disinetronkan di SCTV. Gito Gilas sebagai Sawung, dan Taufik Savalas sebagai Na’ip. Dalam versi filmnya, Adjie Pangestu memerankan SawungKampret. Sesudah itu, barulah komik lepas SawungKampret dirilis.

Sekilas tentang Dwi Koen, Komikus SawungKampret

Dwi Koendoro

Dwi Koendoro (foto dipinjam dari Okezone.com)

Bukan hanya mahir membuat kartun, Dwi Koen sebenarnya juga piawai menggambar ilustrasi, menulis, mengarang lagu, membuat film animasi, bahkan menyutradarai film. Keturunan RNG Ronggowarsito ini lahir di Banjar, Jawa Barat, pada 13 Mei 1941.

R. Soemantri Brotoatmodjo, sang ayah, adalah seorang insinyur teknik yang sebenarnya menginginkan Dwi Koen menjadi insinyur pula. Namun, setelah melihat kecenderungan si anak, Soemantri membebaskan Dwi Koen menentukan sendiri bidang pendidikan.

Dwi Koen memperoleh darah seninya dari sang ibu yang berprofesi sebagai seorang perias pengantin. Bakat menggambarnya terasah setelah Herman, seorang tetangganya di Bandung, mengajaknya bergabung di Sanggar Lukis Cipta Panca Angkasa. Ini seperti api kecil yang disiram dengan bensin.

Kendati demikian, Dwi Koen sempat meninggalkan hobi menggambarnya saat keluarganya boyongan ke Surabaya, Jawa Timur. Namun, lantaran sudah sangat mencintai dunia menggambar, Dwi Koen kemudian meneruskan studinya di ASRI Yogyakarta. Di sana, Dwi Koen memilih Jurusan Seni Lukis, tetapi karena tidak cocok, dia beralih ke Jurusan Ilustrasi Grafik. Dwi Koen kuliah mulai 1958 hingga 1965.

Dwi Koen menikah dengan Cik Dewasih pada 1969 dan dikaruniai tiga anak laki-laki. Dewasih sendiri lulusan Desain Komunikasi Visual ITB. Meskipun sama-sama orang seni, mereka membebaskan ketiga anaknya memilih sendiri pendidikan mereka. Namun, barangkali karena terlalu sering melihat ayahnya berkutat di dunia ilustrasi dan komik, mereka akhirnya juga suka menggambar.

Dedikasi Dwi Koen terhadap perkomikan Indonesia tidak bisa dimungkiri. Namun, baru saja melihat komik Indonesia kembali bergeliat dan tokoh-tokoh rekaan semasanya (Wiro Sableng, Gundala, dan sebagainya) diangkat ke layar lebar Zaman Now, komikus yang ramah dan komunikatif ini sudah dipanggil Yang Kuasa pada usia 78 tahun.

Dwi Koen meninggal di Rumah Sakit Premier Bintaro, Kamis, 22 Agustus 2019, pukul 03.14 WIB, karena sakit. Warung Fiksi turut berbelasungkawa. Selamat jalan, Maestro!

52 Replies to “SawungKampret, Sambil Tertawa Bicara Nasib Komik Indonesia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.