Mengenal Anton Chekhov, Membahas Palata No. 6

Mengenal Anton Chekhov, Membahas Palata No. 6

Anton Pavlovich Chekhov dikenal sebagai master cerita pendek dan drama. Merupakan inovator, karena karya-karyanya lebih menekankan atmosfer cerita dibanding penggunaan plot atau aksi. Ketidaktergesaannya dalam bercerita dan kemahirannya menjalin ketegangan, komedi, serta kesedihan dalam fiksi panjang yang lugas menyindir, mengekspresikan repihan-repihan kenyataan pahit. Sulit dicari tandingannya.

Chekhov adalah raja cerita pendek Rusia. Lahir di Taganrog (Rusia Selatan), 29 Januari 1860. Kakeknya adalah petani budak yang baru bisa menebus kebebasan pada tahun 1841. Sementara ayahnya, karena bermasalah dengan utang, melarikan diri ke Moskwa pada 1875, disusul keluarganya yang lain.

Praktis, Chekhov remaja hidup sendiri semasa sekolah menengah (gimnasium) hingga lulus dan mendapat kartu tanda dewasa. Chekhov akhirnya melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran di Universitas Moskwa selama lima tahun untuk mendapat gelar tabib, dan menekuni karier dokter uyezd (daerah setingkat kabupaten).

Chekhov mulai menulis ketika mahasiswa. Ia mengirim tulisan-tulisan pendek untuk majalah-majalah humor guna membantu kehidupan keluarga. Lama-kelamaan, ia mulai tertarik pada dunia sastra. Baginya, seorang sastrawan harus mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat, terutama yang marginal. Untuk itulah dia menyusun temuanya dalam bentuk buku, Ostrov Sakhalin (Pulau Sakhalin) yang berisi susunan kartu data 10.000 para buangan dan pekerja paksa di pulau Sakhalin ciptaan Tsar Rusia pada 1890.

Kegiatannya yang padat sebagai pengabdi masyarakat dan pengarang yang menguras tenaganya membuatnya jatuh sakit. Mengetahui kondisinya yang invalid karena terjangkit TBC, Chekhov membangun dan pindah ke rumah peristirahatannya di Yalta, Semenanjung Krim, dan akhirnya meninggal pada 15 Juli 1904. Usia yang cukup singkat bagi seorang maestro.

Periode kepengarangan Chekov dibagi menjadi tiga, 1880-an, 1890-an, dan 1900-an. Tulisan awalnya berupa ejekan-ejekan yang menertawakan tetek bengek kehidupan sehari-hari, yang dimuat di majalah humor populer, seperti Oskolki (pecahan-pecahan) dan Strekoza (capung).

Cerpen-cerpennya masa itu juga mengkritik kesenjangan sosial antara tuan tanah dan buruh, sistem negara birokrasi yang sarat korupsi dan praktik penjilatan. Pada periode ini, Chekhov menggunakan nama samaran, seperti Anton Chekhonte, Manusia Tanpa Limpa, Saudaranya Saudara Saya, Uliss, dan lain-lain.

Pada 1886, terbitlah kumpulan cerpen Pyostriye Rasskazi (kumpulan pusparagam) yang menjadi simpulan proses kreatifnya selama lima tahun. Namun, ia tegas menyatakan tidak menyukai karya-karyanya yang telah terbit tersebut yang dianggapnya gado-gado sampah. Chekov lalu mencoba menulis dengan lebih serius, lebih menyerap apa yang hakiki dalam masyarakat. Hak ini menyebabkannya hanya bisa menulis sepuluh cerita selama 1888, bandingkan dengan seratus cerita selama 1886—1887.

Baru pada periode 1890-an, Chekhov menjadi penulis matang yang karya-karyanya dikenal luas seperti Palata No. 6 (Ruang Inap No. 6), Chelovyek v futlyare (Manusia dalam Kotak), Dama s sobachkoi (Wanita dengan Anjing), dan Skuchnaya istoriya (Riwayat yang Membosankan).

Palata No. 6 adalah salah satu dari sekian banyak cerpen panjang Chekhov yang terkenal. Cerpen ini hampir sepanjang seratus halaman, yang dibagi-bagi menjadi 19 bagian. Cerita ini diracik Chekhov secara cermat. Ia memang piawai menghidupkan atmosfer cerita dan dipadu padan dengan penggunaan plot yang lugas, serta watak-watak tokoh yang khas.

Simaklah bagaimana Chekhov membangun gambaran sebuah rumah sakit sebagai bagian awal cerpen Ruang Inap No. 6. Ia membangun deskripsi sisi-sisi rumah sakit secara cermat dan detail.

Di pekarangan rumah sakit, berdiri paviliun yang dikitari semak burdock, jelatang, dan rami liar. Atapnya sudah karatan, cerobong asapnya setengah runtuh, anak tangga serambinya sudah lapuk ditumbuhi rumput, dan plester dindingnya tinggal sisa-sisa. Pavilun itu menghadap ke rumah sakit, membelakangi ladang, dan dari ladang ia dipisahkan oleh pagar rumah sakit warna kelabu berpaku-paku. Paku-paku yang mendongak ke langit. Pagar, dan bahkan paviliun itu sendiri membentuk pemandangan paling terkutuk, muram, khas, seperti biasa terlihat pada bangunan rumahsakit dan penjara. 

Bila Anda tidak takut tersengat jelatang, marilah kita masuki jalan setapak sempit yang menuju paviliun itu, dan mari kita lihat apa yang terjadi di dalamnya. Sesudah membuka pintu pertama, kita sampai di lorong. Di sini, rapat di dinding dan dekat perapian, menumpuk onggokan sampah para pasien. Kasur-kasur, khalat compang-camping, celana panjang, kemeja bergaris-garis biru usang, sepatu rombeng—semua gombal itu tertimbun menjadi onggokan yang saling tumpang tidih dan saling sangkut, membusuk dan menyebarkan bau menyengat.

Ampun terhadap deskripsi tersebut, benar-benar indra kita disuguhkan dengan pemandangan yang tidak ingin kita lihat dari sebuah rumah sakit, indra kita jadi mengendus bau busuk yang fiktif tersebut. Chekhov benar-benar membabat habis latar yang memang menjadi tema utama cerpen kecuali tokoh-tokohnya.

Selain menggambarkan lingkungan rumah sakit yang kumuh, Chekhov juga menggambarkan manusia dalam cerpennya dengan sempurna. Lihatlah deskripsinya terhadap Nikita, si sipir rumah sakit.

Di atas onggokan sampah itu, sambil menggigit pipa, berbaring selalu si penjaga, Nikita, pensiunan serdadu yang sudah memutih alisnya. Mukanya keras, pipinya cekung, alisnya menjulai, hingga wajahnya terkesan seperti anjing penggembala padang rumput; hidungnya merah. sosok Nikita tidak tinggi, perawakannya kurus berotot, tetapi sikapnya meyakinkan dan tinjunya besar sekali. Ia tergolong orang yang terbuka, positif, rajin, bodoh, yang menganggap ketertiban lebih penting dari segalanya, dan karena itu ia yakin mereka harus dipukul. Ia memukul muka, dada, punggung, di bagian mana saja. Dan ia yakin bahwa tanpa itu, tidak mungkin ada ketertiban di sini.

Palata No. 6 menceritakan seorang dokter, Andrei Yefimich, yang baru ditempatkan di sebuah rumah sakit di daerah setingkat kabupaten. Di rumah sakit itu terdapat sebuah tempat bernama Palata No. 6 yang berisi lima orang pasien tidak waras. Salah satu pasien tersebut adalah Ivan Dmitrich yang pada bagian awal dikisahkan muasal gilanya hingga harus dijerumuskan ke ruang inap no. 6.

Andrey Yefimich adalah dokter yang cerdas. Ia menggemari filsafat-filsafat kehidupan. Sayangnya, ia tidak dapat bersikap tegas, cenderung mengalah dan takut.

Sebagai orang yang paling berkuasa di sana, harusnya ia mengubah segalanya, bukan malah abai dan membiarkan kekacaubalauan terjadi di rumah sakit. Andrey terlalu berhati-hati dan tidak ingin orang mendapat persepsi yang salah terhadap dirinya. Ia tahu segala kekurangan rumah sakit dan apa yang harus dibenahi, tetapi ia tidak berdaya.

Minta kepada pengawas agar tidak lagi mencuri, atau mengusirnya, atau sama sekali meniadakan jabatan yang tidak perlu dan membenalu, sama sekali tidak ada kekuatan padanya. Bila ia dibohongi atau dijilat, atau orang dengan sengaja datang meminta tanda tangan untuk kuitansi palsu, mukanya memerah seperti kepiting dan ia merasa dirinyalah yang bersalah, tetapi kuitansi tetap saja ia tandatangani. Bila para pasien mengadu kepadanya karena lapar atau sikap kasar para juru rawat, ia bingung dan dengan nada bersalah bergumam, “Baik, baik, nanti saya urus… Rupanya di sini ada salah pengertian…” 

Memasukkan pasien yang parah ke ruang inap dan menanganinya menurut aturan saja yang ada, tetapi penerapannya tidak. Sedangkan bila filsafat ditinggalkan dan melulu mengikuti aturan dokter-dokter lain, pertama-tama diperlukan kebersihan dan ventilasi, bukan sampah, makanan yang sehat, bukan schi kol asam, para pembantu yang baik, bukan pencuri.

Lambat laun, kehidupannya menjadi monoton, Andrey menjadi muak pada orang-orang hanya berobat dan pergi, tanpa berpikir meningkatkan taraf kesehatannya. Di kota ini, tampaknya tidak ada lagi orang yang mengenali intelektualitasnya. Kesal dengan situasi yang dihadapinya, ia menjadi putus asa dan berhenti berpikir untuk mengubah segalanya. Dan mulailah si dokter enggan datang ke rumah sakit.

Di rumah, ia berbincang dengan teman mengobrolnya, seorang mantan tuan tanah yang kaya bertugas di kavaleri, tetapi kemudian bangkrut, lalu masuk jawatan pos. Andrey Yefimich menyukainya karena keterpelajarannya.

Suatu ketika, tanpa sengaja, Andrey Yefimich terlibat percakapan serius dengan si gila Ivan Dmitrich mengenai persoalan filsafat. Ivan yang pada masa lalunya sebelum gila adalah seorang intelektual mencerca pemikiranya dengan lugas. Sedikit terbetik di pikirannya bahwa ia memiliki pembicaraan yang mengasyikkan dengan Ivan Dmitrich, hingga kemudian keduanya sering bercakap-cakap.

“Ini sangat orsinil,” kata Andrei Yefimich sambil tertawa puas dan menggosok-gosok kedua tangannya. “Saya terkesan akan kemampuan Anda menyimpulkan, dan karakteristik yang barusan Anda berkenan berikan itu betul-betul cemerlang. Saya akui percakapan dengan Anda memberikan kepuasan luar biasa kepada saya.”

Sayangnya, pembicaraan mereka berdua terdengar oleh Khobotov, asisten dokter. Karena ketidaklaziman tersebut, orang-orang mulai mencap Andrey Yefimich kurang waras. Dan dunia memang terbalik, Andrey Yefimich pun kemudian yang malah menghuni Ruang Inap No. 6.

Komedi satir. Penuh sindiran, ketegangan, dan kesedihan. Itulah cerpen Palata No. 6. karya Anton Chekhov yang tiada tanding.

BAGIKAN HALAMAN INI DI
Posted in highlighting | Tagged , | 8 Replies

About Mochammad Asrori

is an alumnus of Indonesian Literature Study. He is first winner of The Short Story Writing Competition 2003 which held by State University of Surabaya, third winner of The Writing Contest of East Java’s Student 2004, first winner of The Essay Writing Contest and also second winner of The Poetry Writing Contest in Surabaya Anniversary 2005 event, additional winner of The Youth Theater Script’s Writing Competition 2008 which held by Taman Budaya Jatim. Several publisher and media have published his works, e.g. Widyawara, Sesasi, Gema, Surya, Kompas, Jawa Pos, Radar Surabaya, etc. He is now a teacher in Mojokerto.

8 Replies to “Mengenal Anton Chekhov, Membahas Palata No. 6”

  1. Sawali Tuhusetya

    Postingan yang bagus, setidaknya mampu membuka mata publik sastra tanah air terhadap sastra dunia. Saya suka itu. Sekalian mohon izin ngelik blognya. Terima kasih. Salam budaya dan merdeka!

    Reply
  2. Rori

    Wah terima kasih Pak Sawali Tuhusetya, tujuannya sih juga begitu, apresiasi tak terbatas pada ragam cerita, Anton Chekov cuma sebagian kecil dari penulis-penulis andal yang patut diulas,dicermati, dan dipelajari kekuatannya dalam bercerita. Sangat universal, tapi tidak kehilangan nilai otentiknya. Silahkan ngeklik blog ini kapan saja lho Pak. Salam budaya.

    Reply
  3. Brahm

    Terima kasih atas linknya, Pak Sawali. Kami mmg berusaha supaya situs ini berguna bg siapapun yg menekuni dunia fiksi, termasuk sastra (semoga). Merdeka!

    Reply
  4. Giovanni Swastika

    Lebih detail lagi dong, soal cerpen-cerpen Chekov. Soalnya di toko buku di Bogor ngga ada buku kumpulan cerpennya. Sekalian saya lagi belajar menulis cerpen. Deskripsinya kayaknya keren!!

    Reply
  5. Rori

    Wah-wah semangat sekali ya Gio (bener gak ya panggilannya?), tapi Chekov memang keren kok. Soal Palata No. 6, sudah diterjemahkan dengan beberapa cerpen lain dalam bahasa Indonesia, kalau gak salah oleh Grasindo, judul bukunya Ruang inap No. 6, jadi kalau mau detilnya mending langsung baca, detil dari saya tidak akan bisa mengalahkan kenikmatan kalau baca sendiri bukunya, sumpah deh (he..he..he..), cari sekali lagi ya Gio, tanya ke bagian katalognya kalau perlu, dan simak deh…

    Reply
  6. dewi alf

    Aku suka kamar inap no. 6 khususnya cerpen yang kedua dari kumpulan itu. cerpen yang luar biasa. Menggambarkan kegelisahan2 seorang tua yang pernah berjaya dengan segala kesatiran yang dituturkan dengan begitu cerdas, detil dan menarik

    Reply
  7. hasan

    gan.. ada yang punya referensi cerpenya chekov yang di adaptasi sapardi djoko damono jadi naskah drama kisah cinta hari rabu?

    Reply

Leave a Reply to Sawali Tuhusetya Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.