Lingkaran Moral dalam Cerpen Kuntowijoyo

Karya sastra yang baik selalu mengajak pembaca untuk menjunjung tinggi norma-norma dan moral. Melalui karya sastra, seorang pengarang mampu menyisipkan nilai-nilai moral yang tidak bersifat menggurui atau memberatkan, sehingga pesan-pesan moral itu dapat ditangkap penikmat sastra dengan baik. Jika Anda perlu contoh karya sastra sarat pesan moral tapi yang tidak menggurui, cerpen inilah salah satu yang saya sarankan.

Rt 03 Rw 22: Jalan Belimbing Atau Jalan Asmaradana adalah cerpen unik, lugas, dirajut dengan jalinan kisah yang mengalir lancar. Maka pantaslah jika akhirnya dinobatkan sebagai Cerpen Terbaik Pilihan Kompas tahun 2005.

Di dalam cerpen itu kita akan dibuat takjub, geli sekaligus mengelus dada terhadap fragmen-fragmen kehidupan yang sarat nilai moral. Saling berkaitan membentuk satu lingkaran hubungan manusia dengan dirinya, dengan lingkungan sosial, dan juga dengan Tuhan.

Tampaklah pada tokoh saya, Ketua RT berijasah S3 doktor ilmu politik luar negeri, yang sedang berhadapan dengan permasalahan yang dialami warganya. Salah satu permasalahan yang muncul dan paling membuatnya gerah adalah perseteruan Said Tuasikal, orang Ambon yang baru menikahi perempuan Jawa, dengan Dwiyatmo.

Test case yang pertama—apakah doktor luar negeri bisa jadi ketua RT—ialah mengurus perkara Pak Dwiyatmo dan Said Tuasikal. Mereka tinggal satu kopel, di dinding dari asbes menyekat RS mereka yang masih asli itu.

Permasalahan muncul karena keluhan Said Tuasikal terhadap Dwiyatmo yang dianggap mengganggu kenyamanan hidupnya sebagai pengantin baru.

Singkatnya, Pak Dwiyatno dianggap membuat bising. Sebab, larut malam malah dia bekerja, memaku, membenarkan dipan atau apa begitu, thok-thok-thok. Tak seorangpun tahu apa yang dikerjakannya.

Sebagai seorang pendatang, Said Tuasikal, atas saran istrinya, tidak menegur secara langsung Dwiyatmo perihal kelakuannya, karena orang Jawa dikenal mempunyai sifat jalma limpat, mampu menangkap isyarat. Jadilah Said Tuasikal mencoba bersabar dan menunggu. Namun kesabarannya habis, dan ia pun mengadukan permasalahannya pada ketua RT.

Seminggu kemudian Said datang ke rumah. “Coba, Bapak. Kami sedang mau tidur, tiba-tiba dari kamar sebelah, kami mendengar suara-suara. Ah, beta malu mengatakannya.” Sementara itu, petugas Siskamling juga melaporkan bahwa suara “aneh” itu pindah ke kamar tamu yang berdempetan dengan kamar tidur di rumah sebelah. Klop!

Ketua RT menunjukkan sikap moral sosial kepada warganya, Said Tuasikal dan istrinya. Dia mau mendengarkan keluhan-keluhan warganya dan mencoba memberikan saran-saran yang diharapkannya mampu mengatasi masalah tersebut. Ketua RT merasa ikut bertanggung jawab atas kerukunan warganya. Dia mencoba untuk menjadi mitra dalam proses penyelesaian perkara Said tersebut dengan menawarkan solusi-solusi. Walaupun akhirnya penawaran-penawaran itu dimentahkan oleh Said.

Saya mencoba menyarankan Said untuk melapisi dinding-dinding dengan gypsum yang kedap suara. “Ala, Bapak ini bagaimana. Kalau saya kaya pasti sudah menyewa rumah di luar perumnas.” Istrinya menyambung, “Maaf, kalau kata-kata suami saya menyinggung Bapak.” Saya usul, “Kalau begitu, bagaimana kalau kamar tamu diubah jadi tempat tidur?” Katanya, “Ya, besoknya lagi Bapak akan menyarankan kami tidur di halaman.” Lagi, istrinya memintakan maaf suaminya.

Moralitas dalam hubungannya dengan diri pribadi tampak ketika Ketua RT dengan jujur menyadari kesalahan dirinya yang tidak segera menegur Dwiyatmo dan tidak mampu memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi Said. Bahkan kasus tersebut sampai dilaporkan Said kepada pengadilan. Ketua RT menyadari sepenuhnya tanggung jawab yang dipikulnya, dari dalam dirinya, dia merasa tidak mampu dan bersalah tidak segera menyelesaikan perkara dua warga yang menjadi tanggung jawabnya.

Melihat keranda itu rupanya Said atau istrinya betul-betul tidak tahan. Pantas mereka kabur dan menggugat lewat pengadilan. Mereka berpikir bahwa paling-paling Ketua RT menyarankan agar mereka menyesuaikan diri, karena saya tidak juga menegur Pak Dwiyatmo. Saya merasa bersalah. Sungguh mati, saya tidak tahu kalau Pak Dwiyatmo sedang membuat keranda.

Ketua RT dalam hal ini belum mampu membina disiplin pribadi yang merupakan salah satu nilai moral terhadap diri pribadi. Ketidakdisiplinan itu membawa dirinya kepada perasaan bersalah. Kesadaran dan kejujuran dari dalam diri inilah yang memberi pelajaran kehidupan bagi kepribadiannya. Ketua RT jujur merasa dirinya telah gagal untuk mendamaikan perkara dua warganya, Dwiyatmo dan Said.

Walhasil, saya gagal jadi Ketua RT, gagal mendamaikan Pak Dwiyatmo dan Said. Saya, doktor ilmu politik berijazah luar negeri! Entah apa yang akan saya katakan pada Said kalau kebetulan ketemu di kampus. Saya juga menghindar setiap mau ketemu orang yang saya persangkakan dari Ambon, nyata atau khayalan, hidup atau mati, di mana saja. Saya sangat malu. Leiriza, Luhulima, Tuhuleley, Patirajawane, Raja Hitu, sepertinya semua berwajah Said Tuasikal.

Saya juga gagal memahami Pak Dwiyatmo. Saya sudah pergi ke empat benua untuk belajar, riset, seminar, dan mengajar. Tetapi, bahkan tentang tetangga saya, Pak Dwiyatmo, saya tidak tahu apa-apa. Pak Dwiyatno, Pak Dwiyatmo. Manusia itu misteri bagi orang lain. Tiba-tiba saya merasa bodoh, sangat bodoh.

Perasaan malu dan kejujuran yang tulus dari dalam dirinya inilah nilai moral yang dapat diambil sebagai contoh nilai moral kepada diri pribadi. Ketua RT mau dan mampu mengintrospeksi ke dalam diri pribadinya. Introspeksi ini merupakan sarana pembelajaran dalam diri seseorang dan akan membawa perubahan lebih baik di masa yang akan datang.

Terhadap makhluk yang setaraf, kodrat manusia adalah sosial. Manusia lahir dalam masyarakat keluarga dan tercipta untuk menjadi mitra bagi manusia sesamanya, tempat dia bergantung dalam memenuhi kebutuhannya Maka apa yang mengganggu manusia dalam tolong-menolong, dalam kerjasama, dalam kebersamaan sejati, adalah buruk bagi manusia. Namun karena hal itu tidak dapat diraih, ketua RT hanya bisa mendoakan kebaikan kepada warganya, menunjukkan kepeduliannya kepada sesama, terutama pada tokoh Dwiyatmo, yang melakukan protes kepada Tuhan atas musibah yang telah menimpa.

Memang, para tetangga bilang kalau ada yang aneh pada Pak Dwiyatmo setelah istrinya meninggal. Dia, yang dulu rajin, tidak lagi ke masjid. Sebagian orang masjid mengatakan ia tidak qanaah, artinya tidak ikhlas menerima takdir Tuhan, itu sebabnya ia protes kepada-Nya (Allahumaghfirlahu, semoga Allah mengampuninya. Semoga dipanjangkan umurnya sehingga ia sempat bertaubat).

Terhadap apa yang berada di atas manusia, kodrat manusia adalah diciptakan atau contingent. Bergantung kepada Tuhan, ada yang harus ada, sumber dari adanya manusia. Terhadap Tuhan manusia berkewajiban menyembah dan taat. Manusia yang mengatakan bahwa dirinya mutlak tidak bergantung pada sesuatu pun adalah menolak posisinya sebagai suatu makhluk ciptaan.

Tokoh Ketua RT menampilkan moral kepada Tuhan sebagai makhluk yang memiliki kewajiban yaitu beriman, taat, ikhlas, berpengharapan pada Tuhan, dan sikap berbaik sangka kepada Tuhan. Dia berdoa untuk kebaikan salah seorang warganya. Ini menunjukkan dia memiliki keimanan kepada Tuhan yang baik.

Ketua RT bermoral baik kepada warganya. Dia mampu melaksanakan kewajibannya kepada warganya. Mau mendoakan dan memberikan dukungan moral untuk kebaikan warganya. Dia pun mampu manjaga hubungan baik dengan warganya. Walaupun dia gagal menjaga hubungan baik antara dua warganya yang berselisih.

Ini menunjukkan bahwa ketua RT peduli dan tidak ingin membiarkan warganya terjerumus ke dalam kekhilafan. Ketua RT inilah cermin kita akan nilai-nilai moral yang saling berhubungan membentuk satu lingkaran hubungan antara manusia dengan diri pribadi, dengan lingkungan sosialnya, dan juga dengan Tuhan.

Dan yang terpenting, semua itu disampaikan tanpa pretensi menggurui.

BAGIKAN HALAMAN INI DI
Posted in fiction writing | Tagged | 15 Replies

About Mochammad Asrori

is an alumnus of Indonesian Literature Study. He is first winner of The Short Story Writing Competition 2003 which held by State University of Surabaya, third winner of The Writing Contest of East Java’s Student 2004, first winner of The Essay Writing Contest and also second winner of The Poetry Writing Contest in Surabaya Anniversary 2005 event, additional winner of The Youth Theater Script’s Writing Competition 2008 which held by Taman Budaya Jatim. Several publisher and media have published his works, e.g. Widyawara, Sesasi, Gema, Surya, Kompas, Jawa Pos, Radar Surabaya, etc. He is now a teacher in Mojokerto.

15 Replies to “Lingkaran Moral dalam Cerpen Kuntowijoyo”

  1. Andika

    Memang saya bukan siapa2, tapi saya dibuat kagum dan iri oleh penulis tulisan ini. Cerpen Kuntowijoyo dimaknai dengan betul-betul…

    Saya jadi sedih karena ingat Kuntowijoyo sudah meninggal 🙁

    Reply
  2. Rori

    Trims atas tanggapan atas tulisan di atas Mas andika dan Aroengbinang (Wah namanya unik,apa ya artinya ya?). Yap, tepat sekali, nyatanya cerpen ini memang sangat kontekstual. Bungkus nuansa kesehariannya memikat, juga bisa dibilang tak mudah lekang oleh jaman. Permasalahan sederhana dalam kehidupan bermasyarakat kadang begitu pelik untuk dipecahkan jika menyangkut kepentingan antar individu yang berbeda sisi psikologisnya. Kearifan seseorang dalam menyingkapinya tidak bisa diukur dari latar pendidikan. Semua murni pengalaman hidup. Setujukan?

    Reply
  3. yana

    seandainya saja pemimpin kita seperti ketua rt dalam cerpen diatas yang mau menyadari akan tanggung jawabnya sebagai pemimpin mungkin negeri ini hanya dalam hitungan jari dapat lebih makmur sentosa dari saat ini dan segera bangkit dari keterpurukan.
    seandainya saja pemimpin kita adalah orang yang mau mengerti tentang nilai-nilai kemanusian dibandingkan nilai-nilai nalar logika dan keilmuan, mungkin rakyat indonesia tidak perlu melapor keluar negeri untuk penyelesaian masalah dalam negeri.
    seandainya saja pemimpin kita mau melihat dan mengontrol apa-apa yang dikerjakan oleh rakyatnya dan apa yang dibutuhkan oleh rakyatnya. mungkin negeri ini akan menjadi negeri yang dipenuhi oleh karya-karya anak negeri ini.
    dan…dan…dan..seandainya pemimpin kita menyempatkan diri untuk membaca cerpen diatas.

    Reply
  4. Rori

    Terima kasih Mbak Aulia dan Yana. Maaf jika saya terlambat memberi komentar balik, sebulan belakangan saya menghilang dari aktifitas warung, hehe…

    Yap idealnya seorang pemimpin memang harus terlibat dan bersentuhan langsung dengan urusan rakyat, karena kesulitan-kesulitan hidup pada tiap strata sosial juga beda-beda, jadi seandainya…

    Wah, gak baik lho berandai-andai, sebagai kawula alit kita doakan semoga para pemimpin kita punya kesadaran dan komitmen tinggi buat rakyatnya.

    Salam.

    Reply
  5. Ares

    Cerpen ini membuka mata saya ternyata cerpen tidak hanya sekedar kisah picisan semata. Ada suatu makna dan pesan yang ingin disampaikan penulisnya.

    Reply
  6. Rori

    Waduh jadi dari dahulu anggapannya cerpen hanya kisah picisan belaka ya? Ya nggak lah, mungkin Ares terlalu banyak baca cerpen remaja yang memang menawarkan kisah-kisah picisan, banyak hal yang dapat kita petik dari sebuah cerpen lho, tentunya dari cerpen-cerpen bermutu, mungkin jika saya mau sarankan baca postingan Menyaran Bacaan Wajib di sana ada segelintir novel atau kumpulan cerpen yang perlu kamu baca. Trims

    Reply
  7. FAJAR

    WAH, BAGUS SEKALI CERPENNYA, AKU AMAT KAGUM, YANG JELAS AKU AMAT MENCINTAI KARYA SASTRA APALAGI YANG MENGANDUNG BANYAK AMANAT SEPERTI DIATAS, JADI CERPENPUN BISAA DIGUNAKAN UNTUK MENYAMPAIKAN PESAN YANG ” OGAH ” KITAA KATAKAN…
    SO SWEET!!!!!!

    Reply
  8. Rori

    Trims buat Fajar. Yap, saya rasa poin yang kamu utarakan tepat sekali. Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak mudah mengatakan sesuatu hal secara langsung, walaupun itu untuk kebaikan dan perubahan positif, apalagi jika yang ingin kita utarakan menyangkut persoalan yang telah dipegang teguh oleh seseorang atau kelompok orang sebagai keyakinan. Itulah salah satu sebab lahirnya karya sastra, dari persoalan kawin paksa jaman Balai Pustaka sampai persoalan sastra wangi di era kontemporer, semuanya memapar mata kita dengan cakrawala pandang yang baru.

    Reply
  9. Saman

    Menurut saya, inilah karakter khas dari karya-karya fiksi Kuntowijoyo, secara khusus pada cerpennya. Pertama, karya-karya beliau terbilang sangat fenomenologis, mampu menyeret pembaca dalam pengalaman-pengalaman yang disajikan dalam novel dan cerpennya. melalui karyanya, Kuntowijoyo mampu menyampaikan konsep-konsep besar melalui cerita keseharian yang remeh-temeh, spontanitas dan mengalir nyata. Termasuki di dalamnya adalah upaya untuk mendekonstruksi mitos justru dengan menampilkan mitos. kedua, terkait muatan moral, tak lain adalah sebangun dengan semangat sastra profetik yang digulirkannya. Kuntowijoyo adalah satu dari sedikit budayawan dan sastrawan Indonesia yang menawarkan konsep profetik sebagai basis epistimologis ilmu maupun sastra. hasilnya adalah karya-karya yang penuh muatan moral sekaligus membebaskan dan mencerahkan pembaca dari cara berpikir lama yang tak rasional…

    Reply
  10. Rori

    Trims buat Saman, analisa Anda sangat tajam dan tepat sekali. Memang melalui setting keseharian, Kuntowijoyo biasa membungkus dekonstruksi permasalahan sosial dan permasalahan moral yang banyak menjadi pusat perhatiannya. Tipikal cerpennya selalu menampilkan tokoh dengan perwatakan yang benar-benar hidup, tidak ngambang. Banyak kritisi sastra Indonesia menuding sastra Indonesia adalah sastra yang menghindari konflik, dan memang kebanyakan memang demikian. Tapi pengecualian buat Kuntowijoyo, ia tipikal cerpenis yang sadar konflik sehingga konflik garapannya selalu penuh greget. Saya pribadi mengagumi karya-karya Kuntowijoyo.

    Reply
  11. juita

    cerpen cerpen pak kuntowijoyo begitu sangat memberikan inspirasi bagi saya.. dan memotipasi saya sebagai seorang pemimpin di sekolah…

    Reply

Leave a Reply to juita Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.