Kisah Inspiratif dari Seorang King (of Thriller)

Stephen KingSudah baca Hearts in Atlantis? The Girls Who Loved Tom Gordon? Bag of Bones? The Green Mile? Kalau Anda tak sempat, tonton saja filmnya. Judul-judul yang saya sebut barusan hanyalah segelintir dari kinarya seorang Stephen Edwin King yang berhasil memikat Hollywood dengan thriller-thriller tulisannya. Tak heran bila orang kemudian menjulukinya sebagai raja cerita triller.
Sebagai novelis produktif, Stephen King selalu tak habis pikir dengan penulis lain yang hanya menghasilkan tiga—empat karya sepanjang hidupnya (sungguh pun akhirnya semua berstatus best seller). Dia sendiri saat ini telah menghasilkan lebih dari 30 buku best seller tingkat dunia. Berbagai penghargaan pun telah diraihnya. Penerima medali The National Book Foundation Medal 2003 untuk kontribusi berharganya dalam dunia tulis Amerika ini juga menjadi juri untuk Prize Stories: The Best of 1999 dan The O. Henry Award.

Stephen lahir pada tahun 1947 di Maine, Portland. Dia anak kedua dari Donald dan Nellie Ruth Pillsbury King. Saat orangtuanya bercerai, dia dan kakaknya dibesarkan sendiri oleh sang ibu. Sebagian masa kecilnya dihabiskan di Fort Wayne, Indiana dan Stratford, Connecticut, di mana dia lebih sering di dalam rumah ketimbang sekolah lantaran kesehatannya yang buruk.

Stephen punya seorang kakak yang sinting, namanya David. Bocah ini penuh ide-ide gila. Yang sedikit waras mungkin ide menerbitkan Dave Rag, koran lokal yang diurus dan dicetak sendiri oleh remaja kencur itu. Stephen terlibat. Biasanya sang adik disuruh menulis tentang cerita bersambung. Pada debut karir “profesionalnya” sebagai penulis fiksi itulah Stephen mulai mempelajari pasar majalah Writer’s Digest.

Stephen mengirimkan cerita asli pertamanya, Happy Stamp, ke Alfred Hitchcock’s Mystery Magazines (AHMM). Tiga minggu kemudian cerpen itu dikembalikan dengan slip penolakan. Stephen lalu memalu paku di dinding dan menusukkan slip penolakan tersebut. Putus asa? Jangan salah. Secara periodik, Stephen tetap mengirimkan ceritanya ke beberapa majalah. Sampai tahu-tahu paku di dindingnya tak muat lagi dengan slip-slip penolakan. Cerpen pertama Stephen yang menghasilkan uang adalah The Glass Floor di Starting Mystery Stories. Itu terjadi baru pada tahun 1967 kelak.

Aktivitas di Dave Rag mengantar Stephen terpilih sebagai editor koran sekolah, The Drum. Di sini dia mendapat pelajaran yang tidak pernah dilupakannya. Pertama, saat Stephen mulai menyenangi film-film horor, fiksi ilmiah, atau film-film tentang geng remaja, datanglah ilham mengubah film The Pit and The Pendulum ke dalam buku. Stephen lalu mencetaknya di Drum Press, dan menjual kopiannya dengan label penerbit VIB (Very Important Book). Kedua, saat bosan mengedit The Drum dia malah membuat korannya sendiri, The Village Vomit, yang berisi kabar-kabar fiktif dan lelucon tentang para guru.

Kedua ulah itu sama-sama membawanya dipanggil ke kantor Kepala Sekolah. Tentu karena telah menjadikan sekolah sebagai ajang berjualan, seenaknya mengubah tulisan yang punya hak cipta, plus menjelek-jelekken citra guru. Ditambah lagi salah satu gurunya, Miss Hisler, menganggapnya menyia-nyiakan bakatnya dengan tulisan-tulisan sampah itu. Walaupun dengan tulus meminta maaf, Stephen tetap diskors.

Seminggu kemudian, pihak konselor sekolah dibantu John Gould dari mingguan Lisbon menyuruh Stephen menjadi reporter olahraga di Lisbon. Menurut mereka, itu akan baik untuk mengarahkan penanya yang gelisah ke saluran yang lebih konstruktif. Di sana, Stephen mendapat pelajaran berharga mengenai menulis dari Gould:

Menulislah dengan pintu tertutup, lalu menulis ulanglah dengan pintu terbuka. Hasil karyamu mulanya memang hanya untukmu, tapi kemudian keluar menjadi milik siapa saja yang ingin membaca atau mengkritiknya. Tapi yang terpenting, sadarilah bahwa pasti akan ada orang yang mengatakan apa yang kau lakukan sia-sia. Tiap penulis mengalaminya.

Kemampuan menulis Stephen pun terus diasah. Saat masa-masa susah di bangku kuliah Universitas Maine, Orono, dia disiplin menulis kolom mingguan untuk koran kampus. Stephen juga terlibat dalam gerakan antiperang Vietnam, aktif di percaturan politik kampus, menjadi anggota senat kampus. Dan satu lagi: Bertemu Tabitha Spruce, seorang mahasiswi Maine juga, di perpustakaan.

Stephen lulus dari Maine tahun 1970 dengan gelar B.A., dan berkualifikasi untuk mengajar di SMA. Tapi berderet masalah ditemukan dalam daftar kesehatan kelulusannya. Mulai dari tekanan darah tinggi, penglihatan yang terbatas, kaki datar, dan masalah di gendang telinga. Pada tahun 1971, Stephen menikahi Tabitha. Padahal dia tidak juga menemukan pekerjaan mengajar.

Stephen pun bekerja sebagai buruh di perusahaan laundry, sementara Tabitha bekerja di Dunkin’ Donuts. Dari sanalah keluarga King mengepulkan asap dapur, ditambah dengan uang pinjaman, tabungan, juga upah menulis cerpen di majalah-majalah pria. Sepanjang tahun awal-awal pernikahannya, Stephen terus menjual cerpen. Cerita-cerita tersebut kemudian dikumpulkan dalam koleksi Night Shift, atau dalam beberapa antologi.

Pada musim gugur 1971, Stephen mulai mengajar Business English SMA di Hampden Academy dengan gaji 6.400 dolar setahun. Tapi keadaan ekonomi keluarganya tidak kunjung membaik. Beberapa waktu keluarga itu tinggal di trailer besar tanpa telepon (mereka tak mampu membayar tagihannya). Namun Stephen terus menulis. Saat petang di akhir pekan, dia terus menghasilkan cerpen-cerpen, sambil menggarap novel Carrie, novel keempatnya setelah Rage, The Long Walk, dan The Runing Man.

Barulah di musim semi 1973, Stephen mendapat telegram dari Bill Thompson yang memberitahu bahwa Doubleday & Co. mau membeli novel Carrie. Stephen mendapat 2.500 dolar sebagai uang muka. Uang ini kemudian dibelanjakannya untuk mobil, sewa apatemen sederhana 90 dolar per bulan, dan memasang telepon lagi, sembari membayangkan bila novelnya dicetak dalam edisi paperback yang menawarkan keuntungan besar dan mengantarnya menjadi penulis penuh. Tapi novelnya tak kunjung terbit. Dia pun kembali pada rutinitasnya mengajar.

Di akhir musim panas 1973, Keluarga King pindah ke Selatan Maine karena ibunya jatuh sakit. Saat musim dingin, dia menyewa sebuah rumah musim panas di danau Sebago, Windham Utara, Stephen menulis novel di sebuah ruang kecil di garasi yang judul aslinya Second Coming and The Jerusalem’s Lot, namun akhirnya menjadi Salem’s Lot.

Pada Hari Ibu tahun 1973, tanpa diduga Bill Thompson dari Doubleday meneleponnya lagi. Beritanya, hak paperback untuk Carrie terjual ke Signet Books senilai 400.000 dolar, dan Stephen berhak menerima setengahnya. Angka yang menggiurkan. Tapi justru selama masa yang mulai menyenangkan tersebut, ibunya meninggal di usia 59 karena kanker.

Di musim gugur tahun yang sama keluarga King pindah ke Boulder, Colorado, dan tinggal di sana kurang dari setahun selama penulisan The Shining yang mengambil setting Colorado. Kembali ke Maine tahun 1975 dan membeli sebuah rumah di daerah bagian Barat danau Maine. Di rumah itulah Stephen selesai menulis The Stand, yang juga bersettingkan Boulder.

Keluarga King mencoba tinggal di Inggris pada tahun 1977 dalam waktu lama, namun baru tiga bulan, mereka memutuskan memotong waktu tinggal mereka dan membeli rumah baru di Center Lovell, Maine, pada pertengahan Desember. Setelah tinggal selama musim panas mereka kembali pindah ke Orrington, dekat Bangor, sehingga Stephen dapat mengajar penulisan kreatif di Universitas Maine, Orono.

Stephen membeli rumah kedua di sana dan menyewakan rumah di Center Lovell. Lantaran anak-anaknya mulai dewasa, dia dan istrinya sering menghabiskan musim dingin di Florida dan sisanya sepanjang tahun di Bangor dan Center Lovell. Mereka memiliki tiga anak, Anaomi Rachel, Joe Hill, dan Owen Philip, dan tiga orang cucu.

Dia mengambil beberapa teman kuliah yang berpengalaman di bidang drama untuk bermain di beberapa film yang mengadaptasi karyanya. Anaknya, Joe Hill, pun tampil di Creepshow yang dirilis tahun 1982. Stephen membuat debut penyutradaraan sebaik menulis naskah screenplay untuk film Maximum Overdrive yang mengadaptasi cerpennya, Truck (1985). Sampai sini, Stephen bukan lagi orang yang hidup susah. Nama Stephen King sudah menjadi jaminan novel-novel laris. Dia pun diundang di mana-mana, baik sebagai pembicara yang membahas penulisan fiksi maupun untuk pembacaan beberapa bagian novelnya di depan publik.

Stephen selalu mengandaikan pekerjaan menulis dengan pekerjaan pamannya yang tukang kayu. Paman Oren memiliki kotak perkakas kayu buatan tangan yang terdiri dari tiga tingkat. Walau berat, pamannya itu selalu membawa kotak perkakasnya lengkap, meski hanya untuk pekerjaan mudah.

Stephen pernah menanyakan masalah itu, mengapa membawa-bawa kotak perkakas keliling rumah padahal yang dia butuhkan cuma satu obeng. Coba dengar apa jawaban pamannya, “Ya. Tapi, Stevie, aku tidak tahu apa lagi yang akan kutemukan begitu aku sampai di sini, iya kan? Yang paling tepat adalah membawa semua peralatan. Jika tidak, kau biasanya akan menemukan sesuatu yang tidak kau harapkan dan jadi kecewa.”

Menurut Stephen, untuk menghasilkan tulisan terbaik, seorang penulis harus memiliki kotak perkakasnya sendiri, lalu mengerahkan segenap tenaga untuk mengangkat kotak perkakas tersebut. Selanjutnya, mengambil peralatan yang tepat untuk memulai menulis. Kotak perkakas penulis paling atas bisa jadi adalah kosakata, tata bahasa, dan sekelumit hal-hal di dalamnya.

Tapi yang terpenting untuk jadi penulis tentu saja banyak membaca dan banyak menulis. Dan jangan terlalu banyak menyaksikan tayangan televisi. Persaingan ketat untuk menjadi trend setter telah membuat televisi gagap dan terpaksa menjual program-program bermutu rendah. Televisi secara langsung telah membelusukkan masyarakat ke pola budaya instan, banyak omong, konsumerisme, gaya hidup mengharap pamrih hadiah.

Televisi datang relatif terlambat di rumah keluarga King, dan aku bersyukur karenanya. Aku, jika kau mau berhenti sejenak untuk merenungkannya, adalah anggota kelompok yang cukup terpilih: Sejumput novelis Amerika yang belajar membaca dan menulis sebelum mereka belajar menyantap sajian sampah televisi yang cenderung merugikan. Bila kau baru memulai menjadi penulis, dengan pengaruh televisi, engkau bisa bertindak lebih buruk ….

Ketika ditanya lebih lanjut rahasia kesuksesannya, Stephen biasa menjawab, “Ada dua: Berusaha tetap sehat secara fisik, dan mempertahankan perkawinan.” Bagaimanapun, kombinasi tubuh yang sehat dan hubungan yang stabil dengan seorang wanita telah membawa pabrik naskah itu terus berproduksi.

13 Replies to “Kisah Inspiratif dari Seorang King (of Thriller)”

  1. kabarihari

    Panjang banget ya.. 🙂 tapi cerita orang-orang terkenal dan sukses emang selalu menarik dan bisa menjadi sumber inspirasi.

    “Tapi yang terpenting, sadarilah bahwa pasti akan ada orang yang mengatakan apa yang kau lakukan sia-sia. Tiap penulis mengalaminya.”

    Reply
  2. Rori

    Trim Anisha, wah rupanya penyuka cerita-cerita thriller juga ya. Serunya tentang Stephen King adalah banyak percikan kesehariannya yang kadang menginpirasi karya-karyanya. Banyak pengalaman-pengalaman kehidupan yang kemudian melalui tangan dinginnya berkembang menjadi kisah novel yang menarik. Jangan lupa membaca karya lainnya yang terbaru dan sudah diterjemahkan. Salam.

    Reply
  3. Rori

    Stephen King memang sangat inspiratif. Jika membaca kisah-kisah kehidupannya, kita jadi tahu sedikit banyak latar belakang munculnya karya-karya yang dia buat. Apalagi bagi yang mempunyai minat di dunia tulis-menulis, saya rasa Stephen King dan konsep kepenulisannya pantas dijadikan panutan.

    Trim ya Hari.

    Reply
  4. Steven

    Emang membaca cerita kehidupan orang2 yang terkenal bgitu menyenangkan.. Kita biasanya hanya mengagumi,”wah hebat orang ini,dah terkenal+kaya lg”.. Sangat jarang kita mengetahui berapa kali orang tsb gagal,gagal,gagal+gagal lg seblm berhasil.. Saya jadi termotivasi lg untuk menulis..

    Reply
  5. Rori

    Syukurlah Anda termotivasi, Mas Steven (King?). Thanks. Seringkali kita dibuai oleh keberhasilan para pengarang dunia, tanpa mengetahui bagaimana proses dia memulai karirnya. Tidak ada cerita pengarang besar langsung jd besar.

    Reply
  6. HafidhYP

    Kisahnya inspiratif sekali ya. Karya-karya Stephen King memang terbaik dan banyak karyanya yang dibuatk menjadi film (walau adaptasinya kebanyakan tidak semenyeramkan novelnya).
    Omong-omong saya juga ingin berbagi artikel tentang 13 cerita pendek dari Stephen King yang mungkin kamu tidak tahu. Penasaran? cek link berikut untuk selengkapnya:
    http://hafidh-yanuar-prastiko-fst18.web.unair.ac.id/artikel_detail-315302-Unair.ac.id-13%20of%20the%20best%20Stephen%20King%20short%20stories%20you've%20never%20read.html

    Reply
  7. Pingback: Apa Profesi Penulis Bisa Hilang Tergusur oleh Mesin? | Blog Brahmanto

Leave a Reply to Rori Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.