Jejak-Jejak Petualangan Karl May

By: Mochammad Asrori

Karl May adalah penulis Jerman yang sangat populer dengan karya-karya terlaris sepanjang masa. Kebanyakan buku-bukunya bersettingkan petualangan di alam liar Amerika, Oriental dan daerah Timur Tengah. Selain novel, Karl juga menulis beberapa puisi dan naskah lakon. Dia juga mahir memainkan beberapa alat musik serta menggubah lagu.

Karl Friedrich May lahir pada 25 Februari 1842 dalam lingkungan keluarga miskin di Ernstthal. Sejak lahir, Karl kecil menderita kebutaan karena kekurangan vitamin A dan D. Untungnya, saat ia berumur 5 tahun, Karl kecil dioperasi sehingga bisa melihat lagi.

Awalnya Karl bukanlah penulis, dia menyelesaikan sekolah keguruan dan menjadi guru di Waldeburg dan Plauen. Mengajar pada masa itu tidak menjanjikan imbalan yang layak, bahkan tidak sebegitu dipandang dalam status sosial. Karirnya sebagai guru tiba-tiba berakhir pada tahun 1863 ketika lisensi mengajarnya dicabut secara permanen, gara-gara rekan apartemennya menuduhnya mencuri sebuah jam saku.

Peristiwa ini cukup meng-KO mental Karl. Dia didiagnosa mendapat dissociative identity disorder. Eh, beberapa tahun kemudian Karl mendapat beberapa tuduhan serupa yang mengantarnya dua kali masuk penjara.

Selama masa menjadi tahanan itulah Karl mulai banyak membaca, terutama buku geografis yang mengilhaminya untuk menulis kisah petualangan. Karl cukup lama menunggu hingga dapat menerbitkan karya pertamanya pada tahun 1875. Dia mengecap kesuksesan sebagai penulis baru pada tahun1892, ketika Winnetou I tercetak dalam edisi buku dan meledak.

Karl menjadi kondang, setelah itu. Penggemar-penggemarnya bahkan muncul dari lingkaran atas, seperti Adolf Hitler, Albert Einstein, Herman Heiss, dan Bertha von Suttner.

Karl May terkenal dengan cara menggarap pokok cerita yang menimbulkan gambaran sangat menarik bagi pembaca. Kisah-kisah tentang orang Indian yang melawan orang kulit putih, nilai-nilai keberanian, kejujuran, serta keadilan yang tersirat di dalamnya adalah sesuatu yang berharga dari karya-karyanya.

Winnetou adalah buku Karl May yang paling populer. Di Indonesia diterbitkan ulang oleh Pustaka Primatama. Buku ini menceritakan petualangan orang Eropa yang tanpa sengaja bertemu Winnetou, seorang kepala suku Indian Apache. Orang Eropa tersebut diberi nama Old Shatterhand, sebab dia memiliki kekuatan pukulan tangan yang kuat.

Winnetou menjadi Ketua Suku indian Mescalero-Apache setelah ayahnya (Intschu-tschuna) dan adiknya (Nscho-tschi) terbunuh oleh bandit kulit putih bernama Santer. Dia menunggang kuda yang bernama Iltschi yang berarti angin, dan memiliki senapan perak, senapan berlaras ganda yang terkenal karena popornya marak oleh hiasan dari perak.

Pertemuan Old Shatterhand dan Winnetou melalui rangkaian cerita pendahuluan yang sangat dramatis, sehingga tumbuhlah persahabatan kekal antara mereka berdua. Old kemudian menjadi saudara sedarah dari Winnetou yang menunggang saudara Iltschi, yang dinamakan Hatatitla (kilat). Dua tokoh ini membuktikan keahlian berkelahi secara jantan sekaligus memberikan pengasihan bagi manusia lainnya. Cerita ini sengaja melukiskan suatu pandangan “kebaikan” sebagai bawaan lahir manusia yang selalu dihadapkan pada musuh-musuh yang “sakit”.

Ketika menulis Winnetou, Karl samasekali belum pernah melancong ke bagian barat Buffalo, New York. Dia baru sekali mengunjungi Amerika Utara pada tahun 1908, jauh sesudah menulis novel yang bersetting di sana. Kecemerlangan ceritanya merupakan kombinasi imajinasi, kreativitas, dan sumber-sumber faktual, termasuk peta, akun perjalanan, buku guide, dan pengetahuan antropologi serta linguistik yang digalinya. Semua itu menutupi sisi kelemahan pengalaman langsungnya di dunia western.

Seri novel lain yang menuai sukses dari Karl May ialah Kara Ben Nemsi. Novel ini bersetting di Kekaisaran Ottoman. Tokoh protagonis yang menjadi narator, yang tak lain adalah Kara Ben Nemsi, melakukan perjalanan dengan pelayan sekaligus pemandu lokal Hadschi Halef Omar melintasi gurun Sahara yang menawarkan petualangan yang mengasyikkan.

Seri novel Kara Ben Nemsi kurang lebih menawarkan hal yang sejenis: Kesamaan sudut pandang orang pertama, yaitu oleh narator Old Shatterhand dan Kara Ben Nemsi, serta keluasan referensi dan kekuatan karakter-karakter pendukungnya. Kebanyakan buku-buku Karl memang ditulis dengan sudut pandang orang pertama.

Dalam berkarya, Karl juga pernah menggunakan banyak nama samaran (pseudonyms), seperti Capitan Ramon Diaz de la Escosura, M. Gisela, Hobble-Frank, Karl Hohenthal, D. Jam, Prinz Muhamel Lautreamont, Ernst von Linden, P. van der Lowen, Franz Langer, dan Emma Pollmer. Sekarang ini semua karyanya diterbitkan dengan nama aslinya sendiri.

Karl May meninggal pada 30 Maret 1912 karena sakit paru-paru. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa, termasuk bahasa Hebrew, Latin, Volapuk, Esperanto, dan Ido. Lebih dari 200 juta kopi buku-buku Karl terjual di seluruh dunia.

Pada periode tahun 1960-an, beberapa novelnya juga diadaptasi menjadi sekitar 16 film. Buku-bukunya telah memberi sesuatu yang berharga, yaitu keindahan masa persahabatan antara ras-ras yang berbeda.

The Karl May Society didirikan pada tahun 1969 untuk memeringati hidup dan karya-karyanya. Tempat tinggalnya di Radebeul, dekat Dresden, Jerman, pun dibuat menjadi museum yang didedikasikan untuknya dan koleksi-koleksinya yang merupakan artefak suku pribumi Indian di Amerika.

BAGIKAN HALAMAN INI DI
Posted in fiction writing | Tagged | 14 Replies

About Mochammad Asrori

is an alumnus of Indonesian Literature Study. He is first winner of The Short Story Writing Competition 2003 which held by State University of Surabaya, third winner of The Writing Contest of East Java’s Student 2004, first winner of The Essay Writing Contest and also second winner of The Poetry Writing Contest in Surabaya Anniversary 2005 event, additional winner of The Youth Theater Script’s Writing Competition 2008 which held by Taman Budaya Jatim. Several publisher and media have published his works, e.g. Widyawara, Sesasi, Gema, Surya, Kompas, Jawa Pos, Radar Surabaya, etc. He is now a teacher in Mojokerto.

14 Replies to “Jejak-Jejak Petualangan Karl May”

  1. Andika

    Aku terguncang baca buku pertama Winnetou sampai2 nggak baca seri selanjutnya karena trauma. Jadi waktu baca seri pertama aku belum tahu kalau si May ini belum pernah ke Wild Wild West. Dan memang, deskripsinya memang betul-betul believable, referensinya menutupi kekurangan pengalaman dia. Yang membuat trauma adalah ketika buku pertama tanpa diduga berakhir dengan tragedi, dan aku nggak terima karena sudah betul-betul jatuh cinta dengan para karakternya! Aku marah: sudah bukunya tebal, endingnya sedih pula! Semakin marah lagi ketika di halaman-halaman terakhir ada biografi singkat May yang menyatakan dia belum pernah ke Wild West! Aduuh!

    Mungkin ini agak dangkal, tapi menurutku ada baiknya sebelum menulis tentang kehidupan Wild West si Karl May ini ke Wild West dulu. Jadi dia bisa melihat masyarakat Indian di Wild West sebagai subyek yang hidup juga. Jadi tulisannya nggak terlalu obyektif secara brutal: maksudnya dalam pertempuran indian melawan koboi, kan hampir dipastikan para koboi yang bakal menang. Menurutku dalam situasi seperti ini Karl May lebih berpihak kepada korban, (atau memang sudah sangat berpihak pada para Indian? aku nggak tahu pasti karena nggak baca buku selanjutnya.) Sejak selesai baca buku Winnetou yang pertama aku nggak lagi baca lanjutannya, dan nggak mau lagi baca buku yang bertema indian versus koboi.

    Artikel yang bagus!

    Reply
  2. Andika

    Ada yang kurang,

    Menurutku dalam situasi seperti ini Karl May (seharusnya) lebih berpihak kepada korban, (atau memang sudah sangat berpihak pada para Indian? aku nggak tahu pasti karena nggak baca buku selanjutnya.)

    Aku jadi menyampaikan kesebalan terhadap Karl May di sini! 🙂

    Reply
  3. Rori

    Wah-wah rupanya punya sedikit kekecewaan ya baca Winnetou. Trims buat komentar puanjangnya 🙂 Tapi masak sampai ngambek baca-baca yang berbau Indian Vs Koboi lagi? Tapi kalau dipikir-pikir kamu benar juga. Mungkin pas jaman Karl May, pemahaman akan “anti marginalisasi” belum dianggap prioritas. Semua masih barat-oriented. Harap dimaklumi. Kalau Karl May masih hidup hingga kini, karya-karyanya pasti lebih dewasa. Bagaimanapun, terlepas dari semua itu, seru abis kan membaca karya-karya avonturir Karl May.

    Reply
  4. Abednego AP

    Salut!!!
    Saya juga penggemar buku karangan Karl May.
    Dari kelas 1 s/d 3 SMP. aku baca semua karangannya, lewat buku perpustakaan sekolah.
    Good Story,
    Thanks

    Reply
  5. bens

    tolong dong kisah old shatterhand adn winnetou baik yang bentuk novel atau buku cerita bergambar di jual dimana,thank info rekan-rekan, karena saya sudah lama sekali mencari-cari belum ketemu..

    Reply
  6. anto

    karl may penulis favorit sy..
    saat SD sy ingat telah menamatkan kisah Winnetou..
    saking mahirx karl may menulis, sy sampai mengira dia sendiri adalah Old Sutterland itu sendiri.
    cara bertuturx begitu hidup.. show don’t tell…
    .-= anto´s last blog ..Bayar Dobel =-.

    Reply
  7. budi elang semeru

    ane ada koleksi karl may gan…mungkin berminat bisa hub 08995325172
    gambarnya dpt di lihat di fb budi elang seneru

    Reply
  8. adam teja

    awal nya saya membaca novel karya karl may
    ini merasa biasa saja tapi setelah membaca alur nya ini sya semakin tertarik dengan cerita na
    saya merasakan sedih pilu bahkan marah dan lain lain
    dan saya sudah mengungkap kan nya howgh

    Reply
  9. edith

    pernah jatuh cinta deep-deep-deeeeeep sama Old Shatterhand hahaha maklum baca waktu zaman smp yg labil banget 😀

    Reply
    • Umari

      Aku pertama kali baca buku karyanya karl may itu waktu SMP yg judulnya winetou sama balkan dan aku nyari yg terusan balkan yg judulnya pemburu binatang berbulu tebal tp ga dapet sampe sekarang dan barusan aku nemu yg ebook nya tp judul itu juga ga ada, aku cuma nemu yg judulnya pemburu beruang, apa itu buku yg sama ya…

      Reply
  10. abi

    itu kelebihannya, gak pergi kesana tapi bisa membuat kita hanyut da terbuai dan selalu mencari lanjutan ceritanya… saluuut…

    Reply

Leave a Reply to edith Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.