How to Appraise a Movie

Sometimes we make a different appraisal with others. You said A is a good movie, your friend said it boring one. It is very normal. Different individual, different taste, different point of view.

However, there is always a standard, if I can say it “standard”.

There are two approaches to understand a movie, i.e. Thematic and Aesthetic. Thematic Achievement of a movie consists of story, theme, plot, and dramaturgy. Aesthetic Achievement is technique of film making: mise en scène, camera angle and movement, editing and sounds.

A movie can be lame in Thematic Achievement, but outstanding in Aesthetic Achievement, and vice versa. You can also see it lame or outstanding in both ways. So, appraising a movie depends very much on how rich is your mental and culture experiences (about movie). The richer your experiences, the better your appraisal system.

* * *

Terkadang kita berbeda pendapat dengan orang lain ketika menilai sebuah film yang sama. Si Nani mengatakan film The A-Team berkelas, efek-efeknya keren. Eh, si Bejo bilang film itu jayus dan menggelikan. Seberapa sering perbedaan pendapat semacam ini terjadi di antara Anda dan kawan-kawan? Saya pikir lumayan sering. Namanya juga manusia, seleranya pasti berbeda-beda.

Namun kata seorang kritikus film Amerika yang sekaligus penulis dan pendidik, James Monaco, menilai sebuah karya seni itu sangat tergantung dari pengalaman mental dan budaya seseorang. Semakin banyak pengalaman mental dan budayanya, semakin bagus sistem penilaiannya.

Ada dua pendekatan untuk memahami pencapaian sebuah film. Yaitu Pencapaian Tematik dan Estetik.

Pencapaian Tematik menyangkut cerita, tema, alur (latar belakang masalah, permasalahan, penyelesaian masalah, dan kesimpulan), juga tangga dramatik yang terkandung di dalamnya. Di sini kita tinggal mencari tahu, sejauh mana dan bagaimana cara sebuah film memaparkan tema, alur cerita, serta tangga dramatiknya?

Sementara Pencapaian Estetik berhubungan dengan teknik membuat film: mise en scène, kamera, editing dan sound. Mise en scène adalah segala sesuatu yang ada di depan kamera, seperti: setting, pencahayaan, pemain, pakaian dan properti. Kamera berkaitan dengan sudut pengambilan gambar dan pergerakannya. Editing merupakan kegiatan penyatuan gambar dan penambahan efek. Sound berhubungan dengan bunyi, termasuk musik latar (score) serta soundtrack.

Kedua pencapaian ini seharusnya kita pakai dua-duanya sebagai tolak ukur. Bila hanya menggunakan salah satunya, penilaian kita terhadap sebuah film bakal pincang.

Misalnya, film itu bagus dan sangat religius, film itu tidak logis, film itu menyedihkan ceritanya, film itu sadis, film itu memukau jurus-jurus jagoannya, film itu oke aksi balap mobilnya, film itu aktornya ganteng. Sebuah penilaian yang hanya melihat satu sisi.

Padahal, sebuah film bisa saja memiliki tema yang tidak terlalu istimewa, tapi luar biasa secara estetis. Atau sebaliknya. Atau baik Pencapaian Tematik maupun Estetik sama kerennya. Atau mungkin juga dua-duanya jelek di mata Anda!

Apapun itu, kita tidak boleh menghakimi sebuah karya film bermutu atau tidak sebelum kita benar-benar memahami apa yang ingin disampaikan sineas melalui gaya tertentu. Sebelum menilai, kita harus paham dulu, kenapa seorang sutradara menggunakan satu shot yang panjang sekali? Kenapa plotnya maju-mundur, meloncat-loncat? Kenapa tidak ada dialog sama sekali?

Kita perlu memiliki pengalaman mental dan budaya yang lebih banyak, seperti kata Monaco. Dan itu saya kira dapat diperoleh dengan menonton sebanyak mungkin film, dari segala genre, mencoba mengapresiasinya, dan membaca literatur-literatur soal film.

Beberapa kali terjadi, dulu saya menilai film A jelek. Tapi, setelah mendapat wawasan baru tentang film itu dan saya tonton lagi, penilaian tersebut berubah 180 derajat. Saya yakin Anda juga pernah mengalami hal semacam ini.

Maka ingat, bagaimana pun buruknya sebuah film, selama ia dibuat dengan tujuan baik, kita tidak semestinya buru-buru merendahkannya. Mengabaikannya dan tidak merekomendasikannya ke siapapun rasanya sudah cukup untuk “menghukum” film itu. Namun tetap hargailah usaha para sineas.

Kecuali bila film tersebut memang tujuannya tidak elok. Film biru, misalnya. Bukan, bukan Avatar. Film biru itu … Anda tahu kan? Yah, seperti film seri Peterporn itu lho. [written by Goegi Poerwono Atmojo]

BAGIKAN HALAMAN INI DI

6 thoughts on “How to Appraise a Movie”

  1. mungkin ada baiknya jika kita memang bilang sebuah film itu jelek dan bagus…

    saat ini saya kurang mengerti soal apresiasi dalam hal penilaian sebuah karya, yang penting pas dihati setiap banyak penonton (yang mengerti tematik dan estetika) udah cukup menjawab 🙂

    salam

    Reply

Leave a Reply to aris Cancel reply

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

No right-click, please!