Giving Names to Fictional Characters

If you are going to have a baby, I bet you are busy to think about its name. Simply because a name is a prayer, an image. Wrong in naming, wrong in the future. Ask any brand strategist, ask any parent. Giving names to the fictional characters too.

If you really don’t have any idea, try to look up the dictionary, White Pages, visit some naming websites, or other fictions. I am quite surprised that these days there are authors who still have a problem in naming her heroes.

* * *

Shakespeare boleh bilang, “What is a name.” Tapi bagi segelintir orang, nama adalah sesuatu yang sakral. Orangtua tidak boleh asal-asalan memberi nama pada si bayi. Nama anak harus punya arti yang bagus, sebab nama sama dengan doa.

Maka tak heran, beberapa orang tua sibuk mencari nama yang bagus bagi anaknya. Jika sempat, mereka mencari di buku nama-nama bayi. Ada juga yang menelusuri berbagai website yang menyajikan nama plus artinya. Atau, membuka kamus. Atau, buka White Pages.

Bagaimana dengan penulis fiksi?

Kurang lebih sama saja. Mereka juga pasti ingin memberikan nama yang keren bagi tokoh-tokoh dalam ceritanya. Penamaan tokoh tergantung pada ceritanya juga. Misalnya tokoh cerita itu seorang perempuan cantik, bunga desa, maka namanya adalah Jasmin atau Rosa.

Contoh lain Gadis Pantai, salah satu novel karya Pramoedya Ananta Toer yang bercerita tentang kehidupan seorang wanita yang dinikahi pembesar santri nan kaya raya. Karena gadis itu berasal dari pantai, maka namanya Gadis Pantai.

Kenal Elektra, tokoh utama Supernova: Petir? Si tokoh diberi nama Elektra karena latar belakang kehidupannya akrab dengan listrik. Ayah Elektra adalah tukang servis barang-barang elektronik. Elektronik dan Elektra, hubungannya sangat dekat kan? Belum lagi kakaknya bernama Watti, dengan “t” dobel.

Tapi ada juga pengarang yang tidak memperhatikan arti sebuah nama alias penganut Shakespearean.

Semua tergantung kebutuhan dan selera. Kalau Anda mau nama-nama tokoh cerita fiksi Anda punya arti yang bagus, ya jangan malas-malas buka buku nama-nama, kamus, White Pages, atau browsing di internet. Tapi kalau Anda penganut Shakespearean, asal comot nama pun tidak apa-apa. (Seperti kata Mario Teguh) Lalu perhatikan apa yang terjadi.

9 Replies to “Giving Names to Fictional Characters”

  1. Brahmanto Anindito

    Kalau buka Yellow Pages, biasanya nemu nama2 yg jadul, hehehe. Tp itulah nama2 riil yg ada di masyarakat. Bila karya fiksinya bergenre drama, realistis, bersetting budaya yg kuat, kayaknya nama2 dari sumber Yellow Pages bisa diandalkan.

    Tp utk cari nama2 keren yg kurang membumi, pergi aja ke SD atau SMP swasta yg elite, dan lihat daftar presensi murid di sana. Banyak nama “futuristik” di sana. Bagaimanapun, nanti nama2 spt itu yg akan menghiasi Yellow Pages belasan tahun ke depan.

    Reply
  2. Rie

    Ya, ya, itu kalo tokoh2nya manusia. Kalo bukan? Pake nama manusia, yg jadul atau modern, nggak lucu. Jd hrs bikin nama lain. Nggak harus keren, yg penting lucu. Dan aku payah sekali dlm memberi nama tokoh cerita. Bantuin dong, Brahm.

    Reply
  3. Brahmanto Anindito

    Lha dipikir aku jago kasih nama? Sulit, apalagi utk cerita2 bersetting spt itu. Tp, bukannya tokoh2 nonmanusia jg meniru nama2 manusia (krn toh yg baca jg manusia)? Novelet2 atau majalah2 anak2 referensinya.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.