Masa Depan Industri Kreatif di Indonesia

Masa Depan Industri Kreatif di Indonesia

Peradaban selalu berkembang melalui tahapan-tahapan. Pada awalnya, manusia hidup di zaman Bercocok Tanam. Setelah terjadi Revolusi Industri yang dipantik dari penemuan mesin uap, segera kita mengalami Zaman Industri. Kemudian, seiring dengan perkembangan teknologi, kita dengan bangga mengklaim hidup di Zaman Informasi.

Sekarang? Orang menyebut zaman ketika Anda membaca tulisan ini sebagai Zaman Konseptual. Ciri-cirinya, kreativitas menjadi modal dasar untuk menghadapi persaingan di segala sektor. Jadi, di era peradaban yang keempat ini, yang dibutuhkan adalah para kreator.

14 Subsektor Industri Kreatif

Dari sinilah, muncul istilah “industri kreatif”. Maksudnya, industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, daya cipta, keterampilan, dan bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan kerja.

Apa saja yang termasuk industri kreatif itu? Setiap negara memiliki pengategoriannya. Begitu pula Indonesia. Menurut Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia, Indonesia mengelompokkan industri kreatifnya menjadi 14 subsektor:

  1. Arsitektur. Jasa desain bangunan secara menyeluruh, baik dari level makro (perencanaan kota, urban design, arsitektur lanskap), sampai dengan level mikro (detail konstruksi).
  2. Desain. Kreasi desain industri, grafis, interior, produk, juga konsultasi identitas perusahaan, jasa riset pemasaran, produksi kemasan, dan pengepakan.
  3. Fesyen. Kreasi desain pakaian, alas kaki atau aksesoris mode lainnya, produksi pakaian mode dan aksesorisnya, konsultansi lini produk fesyen, serta distribusi produk fesyen.
  4. Film, Video, dan Fotografi. Kreasi produksi video, film, dan jasa fotografi, serta distribusi rekaman video dan film. Termasuk penulisan naskah, sulih suara, sinematografi, sinetron, dan eksibisi film.
  5. Kerajinan. Kreasi, produksi dan distribusi produk dari para pengrajin berbahan batu, kulit, rotan, bambu, logam, kayu, kaca, porselin, kain, marmer, tanah liat, kapur, serat, dan sebagainya.
  6. Layanan Komputer dan Piranti Lunak. Pengembangan teknologi informasi termasuk jasa layanan komputer, pengembangan piranti lunak, integrasi sistem, desain dan analisis sistem, desain arsitektur piranti lunak, desain prasarana piranti lunak dan piranti keras, serta desain portal.
  7. Musik. Kreasi/komposisi, pertunjukan, reproduksi, dan distribusi dari rekaman suara.
  8. Pasar dan Barang Seni. Perdagangan barang-barang asli, unik, langka serta memiliki nilai estetika tinggi melalui lelang, galeri, toko, pasar swalayan, dan internet.
  9. Penerbitan dan Percetakan. Penulisan konten dan penerbitan buku, jurnal, koran, majalah, tabloid, konten digital, serta kegiatan kantor berita.
  10. Periklanan. Jasa komunikasi satu arah dengan menggunakan medium tertentu, yang meliput proses kreasi, produksi dan distribusi dari iklan yang dihasilkan.
  11. Permainan Interaktif. Kreasi, produksi, dan distribusi permainan komputer dan video yang bersifat hiburan, ketangkasan, dan edukasi.
  12. Riset dan Pengembangan. Usaha inovatif yang menawarkan penemuan ilmu dan teknologi dan penerapan ilmu dan pengetahuan tersebut untuk perbaikan produk dan kreasi produk baru, proses baru, material baru, alat baru, metode baru, dan teknologi baru yang dapat memenuhi kebutuhan pasar.
  13. Seni Pertunjukan. Pengembangan konten, produksi pertunjukan, pertunjukan balet, tarian, drama, musik-tradisional, musik-teater, opera, termasuk tur musik etnik, desain dan pembuatan busana pertunjukan, tata panggung, dan tata pencahayaan.
  14. Televisi dan Radio. Kreasi, produksi dan pengemasan, penyiaran, serta transmisi televisi dan radio.

Meski tergolong baru di negara kita, peranan ke-14 pilar itu terhadap perekonomian Indonesia pada rentang 2000-2009 ada di kisaran 6%. Angka ini tentu belum sebesar industri sektor riil atau manufaktur, tetapi sudah cukup signifikan.

Ditambah fakta bahwa pengusaha golongan muda mendominasinya, industri kreatif pun terlihat lebih seksi, terutama bagi mereka yang berjiwa inovatif.

Prospek Industri Kreatif

Industri kreatif begitu menjanjikan di masa depan. Pasalnya, bahan bakunya adalah Sumber Daya Manusia (SDM) dan kreativitas, sumber daya yang takkan pernah kering dieksplorasi.

Negara-negara maju yang miskin Sumber Daya Alam (SDA) telah membuktikan betapa sebuah gagasan yang cemerlang merupakan senjata ampuh untuk menguasai dunia. Lihatlah si kecil Jepang dan Swiss, produk-produk berkelas internasional lahir dari sana.

Di Indonesia sendiri, sejak tahun 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah mengarahkan pengembangan ekonomi kreatif. Lalu, tahun 2009 ditetapkan sebagai tahun Indonesia Kreatif.

Dan pada 2010 ini, Menteri Perdagangan Dr. Mari Elka Pangestu menargetkan industri kreatif berkontribusi 7,9% pada pendapatan negara. Kemudian, lima tahun ke depan diharapkan sumbangsihnya sudah menyentuh angka 9%.

Rasanya, wajar bila pemerintah getol menggairahkan industri ini. Selain alasan ekonomi seperti menciptakan peluang kerja, memberi kontribusi signifikan terhadap pendapatan bruto negara, dan bahan bakunya terbarukan, industri kreatif juga bisa membangun citra serta identitas bangsa.

Bukankah jenama sebuah negara dibangun dari faktor-faktor ini: SDM, budaya & warisan budaya, pariwisata, pemerintahan, investasi & keimigrasian, dan ekspor? Dua faktor pertama adalah ranah industri kreatif.

Lantas, lihatlah kembali ke-14 subsektor Industri Kreatif di atas. Hampir semuanya berangkat dari hobi. Ini sesuatu yang dahulu sulit diandalkan untuk mencari nafkah. Sebagian besar subsektor itu dahulu dianggap bukan pekerjaan serius. Namun kini, bahkan pemerintah pun mendukungnya!

Jadi, jangan berhenti mengembangkan hobi. Sebab, kita sudah berada di jalur yang tepat.

BAGIKAN HALAMAN INI DI

14 thoughts on “Masa Depan Industri Kreatif di Indonesia”

  1. Hai, Pasha. Kehadiranmu kembali di sini bikin aku sedikit mengabaikan tulisan Brahm dan malah mengomentari kedatanganmu. Halah!

    BTW, Brahm, belakangan ini aku lagi krisis keyakinan. Tepatnya, lagi frustasi nulis. Untungnya ada tulisan ini. Jadi semanget lagi deh!
    .-= Rie´s last blog ..Ujan Lebat, Payung, Ujan Reda =-.

    Reply
  2. Hai!

    Senangnya, ternyata ada juga yang senang dengan kedatanganku 😀
    Gak kok Brahm, cuma lagi sibuk aja. Saya tugas di daerah terpencil yang sinyal HP aja susah, apalagi internetan. Kalo mo lancar, harus ke ibukota provinsi dulu, baru bisa main. Gitu. Internetan di HP juga males, soalnya layarnya kecil, mendingan di komputer.(mulai deh kebiasaan lama saya, doyan curhat! 😀 )

    Oh, primadonanya bukan musik ya?
    .-= pasha´s last blog ..KARAKTER YANG UNIK DAN MENCURI PERHATIAN : AKU MERINDUKANMU! =-.

    Reply
  3. Lho, nggak papa kan pake Opmin? Lbh kecil layarnya emang, tp lumayan jelas. Apalagi kalau website2 yg diakses udah ramah mobile browser kyk WarungFiksi.net ini. Pasti nggak berat. Dg kualitas akses GPRS aja tetep bisa akses dg lancar. Di daerah mana sih, kalau boleh tahu?

    Kalau dilihat dari persentasenya, rasanya bukan musik.

    Reply
  4. Wow, Pasha, kayaknya seru tuh bertugas di daerah terpencil!

    Bener, primadonanya kayaknya bukan musik. Lagian menurutku dunia musik Indonesia nggak ada perkembangannya deh. Gitu2 terus, monoton. Hm, coba kuramal… naga2nya yg jadi primadona tetep: kerajinan.
    .-= Rie´s last blog ..DAR! =-.

    Reply
  5. whats up everyone

    great forum lots of lovely people just what i need

    hopefully this is just what im looking for looks like i have a lot to read.

    Reply

Leave a Reply to Aleena Cancel reply

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

No right-click, please!