Creative Process of Satin Merah

Ketika Satin Merah sudah ada di tangan dalam bentuk buku cetak, esoknya saya langsung membacanya sampai tamat. Menyenangkan rasanya membaca karya sendiri. Bayangkan saja, jauh sebelum novel ini diterbitkan menjadi buku seperti sekarang, Satin Merah hanya berupa konsep.

Konsep itu kemudian kami kembangkan menjadi sebuah cerita. Tidak serta merta selesai, tentunya. Setiap kata, kalimat, paragraf, bab, harus disunting. Dihilangkan kalau tidak perlu, ditambah kalau kurang.

Draf pertama selesai. Saatnya mengujibacakan naskah. Banyak kritik dan komentar. Kami perbaiki. Jadilah draf kedua. Diujibacakan lagi. Dapat kritik dan komentar lagi. Kami benahi sekali lagi. Lalu, dikirim ke penerbit.

Selang tiga bulan, kami mendapat kabar bahwa GagasMedia bersedia menerbitkannya. Namun kami tidak bisa langsung melonjak-lonjak girang. Masih ada tahapan revisi. Ini memakan waktu lama, empat sampai lima bulan. Banyak bagian yang harus dihilangkan. Penyuntingan lebih mendetail. Mulai dari ejaan sampai isi cerita.

Entah berapa kali kami menerima email revisi dari penerbit. Entah berapa kali pula naskah harus kami baca dari awal sampai akhir. Mengecek bagian mana saja yang harus diganti, diciptakan atau dihilangkan, menimbang-nimbang masukan dan mengaplikasikannya ke dalam naskah.

Kadang membosankan dan melelahkan. Tapi ini wajib dilakukan supaya naskah benar-benar menjadi menarik dan berisi. Demi pembaca.

Tidak heran bila banyak penulis sampai menganggap karyanya seperti anaknya sendiri. Betapa tidak, karya itu terus tumbuh dan berkembang layaknya sosok buah hati. “Orangtuanya” pun begitu, semakin dewasa, dan seharusnya tak pernah berhenti belajar.

Oh ya, beberapa waktu lalu kami diwawancarai Aveline Agrippina dari GagasMedia. Saya cuplikkan sedikit wawancara itu ya.

Ide Satin Merah lahir darimana dan bagaimana proses pengembangan ide tersebut?

Rie: Dari otak kami, hehehe. Aku memang ingin buat cerita bersetting budaya Indonesia dan kebetulah Brahm punya keinginan yang sama. Terus, kami dapat informasi kalau Sastra Sunda itu layak diangkat “derajatnya”. Dari situ, kami goreng lebih lanjut. Yah, kalau bercerita Sastra Sunda aja, dimana dramanya? Dimana serunya? Itu yang perlu kami jawab.
Brahm: Tema selesai, genre disepakati, tokoh-tokoh utamanya kelar dikonsep, ya sudah. Otak kanan dibiarkan bekerja dulu. Ide-ide liar dikeluarkan. Imajinasi dibebaskan. Baru setelah itu, otak kiri mengambil alih. Kami rajut benang-benang alur yang logis. Riset dilakukan. Muncullah ide-ide baru. Nantinya ide-ide baru itu akan jadi bahan untuk memantik ide-ide yang lebih baru. Begitulah seterusnya. Sampai puyeng, hahaha.

Bagaimana bisa mendapatkan ide seperti itu?

Brahm: Ide awal menciptakan ide-ide lain, dan pada gilirannya ide-ide yang lain lagi. Pokoknya ide awal ketemu, berikutnya akan seperti bola salju yang menggelinding, semakin lama semakin besar. Tapi tentu praktiknya nggak semudah ngomongnya.

Pengalaman apa yang paling mengesankan ketika menuliskan Satin Merah?

Rie: Banyak. Pertama, bisa memberdayakan fasilitas internet. Sebelumnya, aku jarang sekali menggunakan internet. Kedua, tahu Bandung lebih banyak karena aku kan harus berburu komunitas Sunda. Ketiga, kenal orang-orang baru yang suka menulis dan bisa belajar banyak dari mereka.
Brahm: Pengalaman mengesankan bagiku justru setelah naskah jadi dan disuguhkan ke proofreaders. Menghadapi kritik-kritik, bahkan cacian mereka, seru lho! Kami harus belajar sabar dan membuka mata.

Untuk penulisan yang ditulis oleh dua kepala, apakah ada kendala selama penulisan?

Brahm: Nggak ada tuh. Begini, sekalipun ini novel duet, tetap harus ada “komandan” yang berhak mengambil keputusan akhir. Kalau segalanya pakai demokrasi, bisa-bisa naskah tidak jalan kemana-mana sewaktu terjadi perdebatan. Dalam satu kapal jangan ada dua nahkoda. Terdengar otoriter? Nggak juga. Toh nanti ada para proofreaders dan editor yang akan membuktikan keputusan si komandan “benar” atau “salah”.
Rie: Dan faktanya, percaya atau tidak, kami jarang sekali berdebat selama menulis Satin Merah.

Bagaimana menyatukan dua ide yang berbeda menjadi satu kesatuan di dalam Satin Merah?

Rie: Wah, Mbak menanyakan sesuatu yang aku sendiri nggak tahu jawabannya. Aku sendiri heran, kok bisa kami menyatukan ide? Kok bisa ide acak yang dipunya masing-masing penulis berubah wujud jadi satu novel?
Brahm: Lihat saja pemain bulutangkis ganda atau penyanyi duet. Mereka bisa kompak kan? Novelis juga bisa dong! Karena satu visi, kupikir. Kalau belum satu visi, diskusilah terus sampai satu visi. Kalau masih juga dua kubu tidak melihat ke satu arah, jangan dilanjutkan deh.

Setiap penulis tentu memiliki suka-dukanya ketika menulis novel, apa sih suka-duka yang kamu rasakan saat menulis novel ini?

Brahm: Sukanya, satu lagi ideku, yang kali ini dipadukan ide Rie, terealisasi jadi cerita yang bisa dinikmati banyak orang. Dukanya, pas buntu saat mengarang atau menyambungkan benang-benang alur. Kalau aku buntu tapi tulisan Rie lancar sih nggak masalah. Aku lancar meski Rie buntu juga oke aja. Tapi kalau dua-duanya buntu? Atau menemukan solusi tapi saat dibaca ulang kok bikin ketawa? Itu masalah. Dan kami bisa berminggu-minggu mandeg menulis gara-gara itu.
Rie: Aku selalu suka sih. Duka juga jadi suka aja. Jangan tanya kenapa.

Bagaimana sih proses kreatif kalian selama menulis Satin Merah?

Brahm: Kami menjalankan apa yang dulu diperintahkan guru bahasa Indonesia SD kami: buat kerangka dulu! Yah, begitu tema, genre dan tokoh-tokoh utama sudah ditentukan, kami segera bikin kerangka pembabakan. Setelah kerangka mewujud jadi satu bangunan utuh, kami belah lagi cerita itu jadi empat bagian. Rie dapat tugas mengurus dua bagian, aku juga dua.
Rie: Terus Brahm dapat tugas tambahan, mengurus unsur thriller dan logika penyelidikan. Sementara aku mengurus setting tempat dan segala hal berkaitan dengan kultur Sunda. Semua hasil tulisan kami rembug bersama tiap minggu.

Begitulah kurang-lebih proses kreatif novel Satin Merah. Sama sekali tidak sulit untuk Anda tiru, bukan? [Wawancara seutuhnya bisa dibaca di sini.]

Posted in fiction writing | Tagged , | 10 Replies

About Rie Yanti

Has a bachelor degree from Padjadjaran University in French Literature Studies. She has been writing since her childhood and has produced both short stories and poetry. Rie loves writing about animals and small things that happen in her life. She has published three books, Satin Merah (GagasMedia 2010), Bukan Manusia (Lulu 2011), game Precious Time (Nusa Project 2017), et cetera.

10 Replies to “Creative Process of Satin Merah”

  1. Aleena

    Novel tandem yach kali ini, Bram.
    Apa sich kelebihan kekuarangan novel yang dikerjakan tandem di banding oleh 1 penulis?

    Reply
  2. pasha

    Kayanya kekurangan yang paling akhir disebut itu yang paling berat buat penulis2 yang terlibat di dalamnya, duitnya jadi dikitan ya? 😀

    Reply
  3. Rie

    Maaf, maaf, baru dateng. 😛

    Aku skrg lg bikin novel sendiri. Sumpah, serba membingungkan, krn apa2 dipikirin sendiri. Beda sama waktu ngerjain Satin Merah dulu. Tp enaknya, kalo diterbitkan nanti semua royalti buatku. Nggak ada lg fifty-fifty. Huehehehehe…

    Reply
  4. claramppribadi

    aku suka banget sama novel satin merah sampe kebawa mimpi hihi. temanya fresh banget dan bikin penasaran sampe akhir 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.