Budaya Beli Follower, Subscriber, dan Akun Media Sosial serta YouTube

Budaya Beli Follower, Subscriber, dan Akun Media Sosial serta YouTube

Ada banyak cara untuk membangun follower Instagram, X, LinkedIn, Facebook, subscriber YouTube, maupun platform-platform media sosial (medsos) lainnya. Salah satu cara itu adalah dengan membeli follower atau akun medsos (ber-follower banyak) secara langsung.

Membeli followers merupakan taktik lama jenama (brand), artis, atau warganet jelata yang merasa tidak punya waktu dan kesabaran untuk membangun basis pengikut medsosnya dari nol. Sementara, gengsi atau prestise ingin diperoleh dengan cepat.

Sejak dulu, masyarakat silau dengan orang yang memiliki banyak follower. Orang-orang cenderung lebih menghormati tokoh yang memiliki banyak pengikut. Dalam ilmu psikologi, fenomena ini disebut social proof, bukti bahwa seseorang memiliki kemampuan atau otoritas tertentu, atau minimal fans setia.

Maka tidak heran bila bisnis jual-beli follower medsos dan subscriber YouTube tetap marak di dunia maya.

Cara Beli Follower atau Subscriber

Membeli follower itu mudah. Tinggal ikuti langkah-langkah berikut ini:

  1. Temukan penjualnya. Cari di mesin penelusuran seperti Google untuk menemukan akun medsos, lapak di lokapasar (marketplace), forum daring, atau situs web penjualnya.
  2. Amati akun medsosnya. Terutama jumlah follower dan kualitas interaksinya. Bila follower-nya banyak tetapi tidak aktif, dicirikan dengan kontennya yang hanya sedikit dikomentari atau komentar di sana pendek-pendek seperti “setuju!”, “nice!”, atau “keren!”, itu nilai minus buat penjual. Apalagi bila follower-nya cuma segelintir. Bagaimana mungkin seseorang menjual obat penumbuh rambut kalau dia sendiri botak?
  3. Pelajari syarat dan ketentuannya. Ada sebagian penjual yang meminta username dan password kita, dengan alasan ingin mengaturnya dari dalam sebagai admin. Ada juga yang meminta username saja, karena penambahan follower akan mereka lakukan dari luar. Yang pertama terkesan profesional, tetapi lebih berisiko. Bekerjasamalah hanya bila Kakak mengenal atau sudah sangat mempercayai penjualnya.
  4. Pilih paket yang diinginkan. Bila menurut Kakak penjual ini kompeten dan layak dipercaya, lanjutkan ke bagian paket-paket yang dijualnya. Pelajari. Sesuaikan dengan kebutuhan serta bujet Kakak.
  5. Hubungi penjualnya. Walaupun paket dan instruksi pembeliannya sudah jelas, formulirnya juga mengesankan semua serbaotomatis, tetap jangan langsung mentransfer biaya. Pastikan dulu apakah lapak ini masih berjualan dan sedang ada slot. Penjual follower muncul dan tenggelam, terutama karena bisnis mereka setengah ilegal. Beberapa juga memperlakukan ini sebagai bisnis sambilan belaka, sehingga tidak bisa dipastikan selalu siap melayani.
  6. Lakukan pembayaran. Begitu penjual mengonfirmasikan kesanggupannya, lakukan transfer sesuai permintaannya. Pembayaran bisa dengan pulsa, transfer bank, PayPal atau tekfin populer lain. Biasanya, penjual follower meminta Kakak mentransfer semua biayanya di depan.
  7. Tunggu mereka bekerja. Berapa lama? Tergantung banyak hal. Untuk jelasnya, Kakak dapat bertanya langsung kepada penjualnya. Namun, biasanya, jika follower yang Kakak pesan di bawah 100.000, proses akan selesai dalam 1-2 hari.
  8. Merasa tanggung hanya beli follower? Kakak bisa membeli langsung akun yang sudah memiliki banyak follower. Kalau di lapak yang Kakak temukan tidak ada paket penjualan akun, Kakak bisa mencarinya secara terpisah di Google.

Cara Jualan Follower atau Subscriber

Supaya lebih holistik, mari kita intip sekalian dapur penjual follower Twitter, IG, Facebook, atau subscriber YouTube. Siapa tahu Kakak malah terinspirasi untuk ikut jualan 🙂

Sama seperti produk-produk lain, ada dua cara untuk berjualan follower atau subscriber. Yang pertama, jadilah reseller dari lapak pemasok follower. Tugas Kakak tinggal mencari orang yang sudah punya stok akun-akun medsos, lalu tawarkan diri untuk menjadi reseller-nya.

Bingung di mana mencari pemasok follower? Mulailah dari penjual follower yang Kakak temukan. Tanyakan apakah Kakak dapat menjadi sales atau reseller-nya? Tanyakan juga berapa komisinya bila berhasil mendapatkan pembeli. Kalau sepakat, mulailah berjualan.

Cara kedua, bangunlah “pasukan” akun medsos Kakak sendiri. Bagaimana bisa menyediakan ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu akun? Memang sulit, tetapi bukan mustahil. Buktinya, toh ada orang yang berjualan ratusan ribu akun, bukan?

Langkah-langkah untuk membangun pasukan secara umum seperti ini:

  1. Buatlah akun-akun medsos tersebut secara manual
  2. Buatlah akun-akun secara otomatis melalui program atau aplikasi khusus

Sebagai langkah cadangan, Kakak selalu bisa:

  1. Bergabung dengan program pertukaran follow dengan pihak ketiga. Di situs web “makelar” semacam ini, Kakak akan mendapat poin bila mem-follow akun asing yang diminta. Dengan poin itu, Kakak juga bisa mendaftarkan akun tertentu untuk di-follow oleh akun asing. Poin juga bisa dibeli, sehingga kita tidak perlu repot-repot mem-follow orang dulu.
  2. Beriklan langsung di platform yang bersangkutan. Misalnya, bila klien Kakak butuh follower IG, tinggal pasang IG Ads. Ini satu-satunya langkah legal dalam tips ini.

Tentu saja membangun “pasukan” sendiri lebih enak daripada harus menjadi sales dari seorang penjual follower. Hanya, jangan kaget bila Kakak mendapati pasukan Kakak mati satu per satu. Bisa jadi kena cekal di medsos atau kena blokir di email.

Anggap saja itu risiko berbisnis. Mati satu tumbuh seribu. Satu akun tumbang, buatlah akun-akun baru yang lain.

Begitulah cara untuk berjualan follower, subscriber, atau akun medsos. Bagaimana teknis jualannya, tinggal tiru saja apa yang dilakukan oleh lapak-lapak yang lebih dulu ada.

Cara Jualan Akun Medsos atau YouTube

Kakak juga bisa memberi pilihan pelanggan dengan menyediakan jualan akun Facebook yang sudah Adbreak (bisa dimonetasi), Instagram dengan aneka jumlah follower, YouTube yang sudah aktif Adsense-nya. Itulah akun-akun yang sedang banyak dicari orang.

Segmennya bukan lagi perusahaan besar, melainkan orang yang ingin meraih dolar dari medsos atau YouTube. Atau penjual-penjual retail level menengah dan bawah. Jangan salah, meskipun segmennya “orang kecil”, sebuah akun Instagram dengan follower 100.000 pasarannya bisa belasan juta rupiah!

Cara jualannya ada tiga, sama seperti berjualan ternak:

  1. Sebagai reseller atau makelar dari orang yang berjualan akun.
  2. Membangun akun sendiri dari nol hingga jumlah follower atau subscriber-nya bernilai jual
  3. Membeli dari penjual, membesarkan atau menggabungkan (merger) akun-akun bertema sama (khusus untuk Facebook), merawatnya hingga lebih sehat dan “gemuk”, sampai angka follower dan subscriber-nya jauh lebih banyak.

Semua tentu membutuhkan “ilmu” dan jam terbang.

Sudah Tenar, Mengapa Beli Follower

Beberapa brand besar tetap membeli follower ketika baru membuat media sosial. Kenapa? Kurang lebih sama saja alasannya:

  1. Gengsi. Masa brand besar pengikutnya cuma ratusan ribu?
  2. Tidak ada waktu untuk membangun dari nol. Bagaimanapun tenar di dunia nyata tidak otomatis langsung tenar di dunia maya.
  3. Sebagai pancingan belaka.

Follower menarik follower. Jumlah follower yang banyak akan membuat pengguna lainnya tertarik dan menganggap sebuah akun memang layak diikuti. Akhirnya, mereka pun klik tombol Follow di akun itu.

Jangan salah, Prinsip Social Proof dan Hukum Tarik-Menarik ini tetap berlaku meskipun diawali dengan follower palsu.

Setelah follower mulai tumbuh secara alami, mereka akan menghentikan metode instan ini, bahkan segera menghapus akun-akun follower yang ditengarai palsu dan tidak aktif. Inilah seninya.

Namun, bukankah itu akan membuat follower mereka turun lagi?

Bukan masalah. Di Instagram, misalnya. Setelah follower IG Kakak mencapai ratusan ribu, angka detailnya tidak lagi terpampang. Jumlah pengikut 124.942 akan tertulis 124K. Apalagi jika sudah berjuta juta. Jumlah follower 1.512.012 hanya akan ditulis 1.5M. Jadi, Kakak kehilangan puluhan ribu follower pun publik takkan tahu.

Di samping itu, lantaran pertumbuhan follower sudah alami, kehilangan akibat penghapusan tadi akan segera tertambal oleh hadirnya follower baru yang lebih sehat (akun asli).

Selain itu, jenama besar sengaja menyisir dan mendepak barisan follower palsunya adalah karena alasan keamanan. Follower palsu atau akun-akun yang dibuat khusus untuk spam, following akun lain, tanpa ada niat untuk mengisi konten secara wajar, merupakan pelanggaran di platform medsos apapun dan YouTube.

Makin sedikit akun kita terhubung dengan akun-akun berisiko itu, makin aman akun kita.

Risiko Beli Follower

Ketika algoritma platform menengarai sebuah akun melanggar aturan dan kebijakan, mereka dapat memblokir serta membatasi fasilitasnya selama beberapa waktu, atau bahkan menghapus akun tersebut. Bukan hanya itu, akun-akun yang terkait dengan akun palsu ini pun akan ditandai.

Pada akhirnya, kegiatan penambahan follower yang tidak wajar ini membahayakan akun kita. Salah-salah, akun kita ikut diblokir.

Risiko berikutnya datang dari penjual follower yang tidak mampu menjamin jualannya. Garansi yang mereka tawarkan terbatas, “Kalau ada pengurangan follower dalam seminggu, kami akan menggantinya.”

Hanya seminggu! Padahal, rontoknya follower biasanya terjadi secara bertahap setelah dua minggu. Penyebabnya dua:

  1. Terkena cekal (terblokir), karena akun palsu, spammer, atau lainnya. Follower robot (bot), cepat atau lambat, akan tercekal algoritma medsos dan akunnya akan di-suspend.
  2. Di-unfollow sendiri oleh pemilik akun masing-masing. Follower manusia (yang dibayar), cepat atau lambat akan meng-unfollow Kakak. Toh sudah lewat masa garansinya, bukan? Kalau ini terjadi, Kakak bisa apa?

Jadi, apapun yang ditawarkan penjual, baik itu “follower kami asli manusia” atau “follower kami robot sehingga akan follow akun Kakak selamanya”, ujung-ujungnya sama: follower bisa rontok satu per satu.

Hal tersebut memicu risiko ketiga: Kakak bisa ketagihan cara instan dan selalu resah dalam bermedsos.

Katakanlah setelah membeli follower IG, jumlah follower Kakak 100.000. Cepat atau lambat, Kakak akan merasa konyol melihat dari jumlah follower segitu ternyata yang likes hanya 10-20 per konten. Warganet juga akan merasa aneh, bahkan bisa saja ada yang mencurigai follower hasil beli.

Maka untuk menghilangkan kecurigaan itu, Kakak juga membeli likes setiap selesai posting konten. Keluar uang lagi. “Tapi tak apalah, likes tiap konten sekarang ribuan. Tidak akan ada yang curiga!” batin Kakak.

Hanya, lama-lama, Kakak berpikir, “Tapi mencurigakan juga, sih. Di antara ribuan likes itu, kenapa hanya ada 2-3 komentar? Tidak wajar!”

Akhirnya, Kakak juga membeli komentar sambil berpesan ke penjualnya, “Komentarnya yang alami dan agak panjang, ya. Jangan cuma ‘keren’, ‘nice’, atau ‘beautiful’. Minimal tiga kalimat, ya!”

Kakak pun lega. Kini, setiap konten, selain likes-nya ribuan, komentarnya pun puluhan. Tidak terlalu mencurigakan.

Masalah selesai? Tidak. Dalam sebulan, ternyata jumlah follower Kakak jadi 97.000. Kakak panik lagi! “Kurang ajar, siapa ini yang unfollow. Waduh, bagaimana kalau orang-orang melihat ini? Iiiih, ketahuan, dong, pakai follower karbitan. Bagaimana, nih?”

Kakak yang sudah terbiasa mengambil jalan pintas pun sekali lagi menghubungi penjual follower untuk menutup kehilangan 3.000 follower tadi. Kakak beli 10.000 followers baru. Bayar, selesai. Dalam dua hari, jumlah follower Kakak terkatrol menjadi 107.000. Lebih besar dari sebelumnya.

“Hore!” Kakak bersorak. Tanpa sadar, Kakak sudah masuk di lingkaran setan follower palsu. Coba hitung, berapa uang yang telah Kakak suntikkan di medsos atau YouTube demi gengsi? Sepadankah dengan hasilnya? Sepadankah dengan kerepotan dan kegalauan yang ditimbulkannya?

BAGIKAN HALAMAN INI DI

1 thought on “Budaya Beli Follower, Subscriber, dan Akun Media Sosial serta YouTube”

  1. Fungsi periklanan dalam media sosial semacam ini adalah untuk menambah daya jangkau atau tingkat keterlihatan sebuah konten atau akun ke lebih banyak pengguna media sosial, terutama kepada akun yang belum menjadi pengikutnya.

    Reply

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don't do that, please!