Broker HP di WTC Surabaya, Dibutuhkan atau Mengganggu?

World Trade Center (WTC) Surabaya hingga sekarang ini masih dikenal sebagai pusat perdagangan ponsel di kota buaya, walau belakangan banyak mal juga memberikan ruangnya terhadap perdagangan kebutuhan ”wajib” warga kota ini. Hingga saat ini misalnya, sudah tercatat tidak kurang dari empat mal yang menyediakan ruang untuk bisnis HP, mulai Plaza Marina, Hi-Tech Mall, Royal Plaza, sampai yang berdiri belakangan seperti BG Junction.

HP yang sekarang telah menjadi kebutuhan primer warga Surabaya ini membuat banyak pihak berlomba-lomba ikut terjun. Tidak hanya mereka yang memiliki modal besar, mereka yang bermodal kecil pun memanfaatkannya dengan berjualan pulsa pada end user. Bukan hanya itu, mereka yang tidak mempunyai modal sama sekalipun mencoba gambling dengan menjadi broker di pusat perbelanjaan HP di Jawa Timur itu.

Broker HP atau yang juga dikenal sebagai makelar HP di WTC menurut Sukardi, salah seorang broker HP di lantai dua WTC, sudah ada sejak tahun 2000. Saat itu cerita Di, demikian ia biasa dipanggil, belum banyak orang terjun ke dunia ini. Waktu itu, kenang Di yang telah menjadi broker HP sejak tahun 2002, menjadi broker HP di WTC adalah pekerjaan bergengsi dan menjanjikan, “Bayangkan saja, Mas, saat itu broker belum banyak. Orang-orang juga masih awam terhadap HP.” Dalam satu kali transaksi ia bisa mendapatkan uang hingga Rp 300,000. “Kalau sekarang, paling-paling cuma di kisaran 50 ribu,” kata Di sambil tertawa kecut.

Saat ke WTC Surabaya, Anda akan disambut dengan para broker HP, terutama jika Anda memarkir kendaraan Anda di parkiran Plasa Surabaya yang perlu berjalan kaki untuk sampai ke WTC. Maka Anda akan mendapati puluhan broker atau makelar yang menawarkan diri untuk membeli ponsel Anda atau menawarkan jasa mencarikan HP.

Lalu bagaimana dengan di dalam gedung? Masih menurut pria berkumis ini, “Sejak tiga tahun yang lalu, para makelar sudah tidak diperkenankan lagi beroperasi di dalam gedung.” Karena kebijakan itu, para broker pun pindah ke luar gedung. Lantas kenapa Sukardi sendiri bisa bertahan di dalam gedung? “Saya sudah lama. Kalau yang lama-lama sih biasanya sudah tahu sama tahu. Jadi nggak masalah.”

Lain Sukardi, lain Abu Zainuddin yang menjadi seorang makelar di luar gedung. Abu menceritakan bahwa dulu ia bisa beroperasi di dalam gedung, tapi sejak beberapa tahun ini ia harus mencari klien di luar lantaran kebijakan dari pengelola gedung. Yang bisa menjadi makelar di dalam gedung memang sangat terbatas. Abu menambahkan, sebenarnya saat ini ia bisa beroperasi di dalam, tapi syaratnya harus diakui sebagai salah seorang pegawai toko handphone di dalam WTC Surabaya. Itu pun operasinya terbatas di depan toko tempat ia diakui saja. Abu pun lebih memilih beroperasi di luar gedung, agar lebih bebas.

Tapi, sebenarnya sampai sejauh mana manfaat broker bagi pengunjung?

Heny, mahasiswi Prisma Profesional, justru menganggap keberadaan broker kontraproduktif, “Mengganggu banget, Mas. Apalagi mereka tak segan-segan membohongi kami untuk mendapatkan komisi lebih banyak.” Begitu juga yang dikatakan oleh Wawan yang pernah diikuti seorang makelar HP. Sewaktu ditanya tentang keberatannya dia beralasan, ”Wah, saya nggak berani memakai jasa mereka untuk mencari HP. Bisa-bisa barang bobrok di bilang bagus.”

Namun komplain Wawan ini disanggah oleh Abu, “Ya tidak bisa digenelisasi seperti itu. Banyak juga dari kami masih mengatakan apa adanya kok.” Hal sama diungkapkan oleh Mudjib, seorang yang juga biasa mencari ponsel di WTC. Ia biasa memakai jasa makelar di WTC supaya bisa lebih cepat dapat barang yang dicarinya. “Barang itu biasanya saya jual lagi di rumah,” lanjut Mudjib.

Sepenelusuran saya, di dalam gedung WTC Surabaya, memang jika kita dibawa oleh seorang makelar maka kita akan menyepakati harga dengan si makelar, bukan dengan pemilik toko. Jika calon pembeli menawar biasanya juga akan diserahkan harganya pada si broker. Tapi walau begitu, ada kode-kode khusus yang dilakukan antara pemilik toko handphone dengan si Makelar untuk menilai tawaran calon pembeli HP seken.

Abu menambahkan, jika seorang customer tidak mau, makelar biasanya tidak memaksakan kehendaknya, “Katakan saja maaf atau terima kasih. Kami pasti tidak memaksakan jasa kami.” Dengan begitu sebenarnya para mekelar ini bukanlah sesuatu yang menganggu. Yang mengganggu adalah bila WTC masih memperbolehkan para makelar beroperasi di dalam, karena bakal ada puluhan makelar yang beroperasi di sekitar WTC Surabaya.

Menurut Anda sendiri, broker ponsel mengganggu atau tidak?

11 Replies to “Broker HP di WTC Surabaya, Dibutuhkan atau Mengganggu?”

  1. budi

    menurut hemat saya penjulukan ‘broker’ pd kasus ini sangat tidak tepat.yg namanya broker setahu saya tidak bermain eceran tp partai besar & jg satu broker bisa menjual berbagai macam variasi produk.sekian & terima kasih.

    Reply
  2. Pras

    Mas mau tanya kalo layar sentuhnya StarTech 69 tidak berfungsi pa masih bisa diservice?? padahal udah di kalibrasi.

    Reply
  3. wicaksono

    pengalaman buruk dg makelar bung.dl wkt awal” di sby tuh makelar srg maksa” gtu mpe pegang” tas.pake acara ancam segala,,,FUCK U MAKELAR

    Reply
  4. kurniawati

    Hp China SPC ada LCDnya Ngak?Soalnya HandPhoneku LCDnya udah Ngak Bisa Dipake.Tlong informasi secepatnya yach…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.