Banyak orang punya blog. Namun, seiring berjalannya waktu, semangat untuk rutin posting artikel di blog itu mengendur. Dari yang awalnya setiap hari, menjadi tiga hari sekali. Lalu jadi seminggu sekali. Kalau pola ini diteruskan, bisa-bisa hanya setiap Lebaran ia memublikasikan tulisan. Itu pun hanya ucapan mohon maaf lahir batin, hahaha…
Saya sendiri sejak awal menetapkan periode update Warung Fiksi adalah seminggu sekali, biar tidak terlalu merepotkan. Kecuali kalau tidak sibuk sekali, aturan ini takkan saya langgar. Sudah jalan lima tahun (enam kalau era blog di WordPress.com-nya dihitung sekalian). Seingat saya, Warung Fiksi tak pernah vakum tulisan lebih dari dua minggu. Padahal, pemiliknya sebenarnya pemalas 😛
Rahasia bisa konsisten nge-blog secara rutin ini sebenarnya sederhana, Kak.
Coba pikirkan, kenapa seorang siswa bisa rutin pergi ke sekolah? Kenapa seorang pegawai bisa rutin pergi ke tempat kerja? Kenapa seorang atlet bisa rutin berlatih? Kenapa stasiun-stasiun televisi bisa rutin menayangkan acara tanpa putus? Karena mereka punya jadwal! Sehingga, mereka tidak lagi berpikir tentang ide. Tapi tinggal menjalankan ide-ide yang sudah mereka rancang sebelumnya.
Lebih mudah, lebih praktis. Ya, rahasia rutin blogging adalah jadwal!
Kapan dan Seberapa Sering
Tentukan komitmen, seberapa sering blog Kakak harus diperbarui. Idealnya setiap hari. Namun, bila Kakak tidak memiliki waktu dan sumber daya, tidak usahlah setel kenceng begitu. Salah-salah, dalam 1-2 bulan berjalan lancar, setelah itu melempem.
Mending, Kakak posting seminggu sekali, tetapi rutin selama bertahun-tahun. Blogging itu seperti maraton. Kalau Kakak tidak bijak mengatur energi, bisa-bisa capek terlalu dini dan memutuskan berhenti di tengah jalan.
Bagaimanapun, kalau bisa jangan posting cuma sebulan sekali. Itu rasanya terlalu malas.
Jangan pula acak: posting hanya kalau ada ide. Dalam arti, kalau ide sedang banyak-banyaknya, posting setiap hari. Kalau dalam sebulan tidak ada ide, tidak posting dulu. Yang begini, menurut saya, tidak bagus. Sebab, itu akan membuat kecele pembaca blog Kakak dan robot Google atau search engines lainnya.
Antara Kualitas dan Kuantitas
Tentukan juga, setiap kali membuat tulisan, ia terdiri dari berapa kata. Usahakan jangan kurang dari 700 kata, karena itu membuat tulisan berkesan selintas dan kurang mendalam. Jadi seperti status social media atau sekadar quote di Tumblr.
Bagaimanapun, jangan pula sampai lebih dari 2.000 kata. Memang Google akan menghargai in-depth article yang salah satunya dicirikan dengan tulisan yang panjang.
Namun, di Indonesia, saya rasa tulisan terlalu panjang malah jarang ada yang mau serius membacany sampai habis. Meskipun pengunjungnya barangkali secara jangka panjang akan lebih banyak dibanding pengunjung artikel biasa, karena tulisan panjang pasti mengandung lebih banyak keywords.
Seandainya saya punya artikel bertema spesifik yang terdiri dari 2.000 kata, mending saya kembangkan jadi buku atau e-book. Bukan artikel blog.
Namun ingat, terkadang kualitas tulisan tidak ditentukan dengan banyak-sedikitnya kata. Tulisan 1.000 kata bisa saja terasa tidak ada bobotnya bila diisi dengan banyak basa-basi (padahal intinya hanya ada di dua paragraf terakhir), contoh-contoh yang berlimpah ruah, atau pembicaraan yang diulang-ulang seperti orang cerewet sedang mengomel.
Sebaliknya, artikel 700 kata bisa jadi terasa berbobot bila penyampaiannya bernas dan efektif.
Pentingnya (Membatasi) Tema
Tentukan tema tulisan-tulisan di blog Kakak, misalnya sampai enam bulan ke depan. Tentu, tema itu disesuaikan dengan tema umum blog Kakak. Jika sejak awal blog itu tentang bepergian bersama keluarga, ya tulisan-tulisannya mestinya soal bagaimana mempersiapkan perjalanan, membeli tiket, mengatasi permasalahan-permasalahan di perjalan, dan sebagainya.
Makanya sejak awal, memilih tema blog jangan terlalu spesifik, karena risikonya kita akan mudah kehabisan bahan tulisan. Pun, jangan terlalu general sampai semua bidang mau kita bahas, karena risikonya kita sulit optimal dan harus bersaing dengan portal-portal besar seperti Detik atau Kompas.
Yang sedang-sedang sajalah.
Tentukan Jadwal Publikasi
Begitu tema beres, buatlah rencana terpadu. Kecuali kalau Kakak berniat menggunakan jasa penulis profesional yang akan membereskan semuanya untuk Kakak, coba rancanglah jadwal berdasarkan ketentuan-ketentuan yang Kakak buat sendiri itu.
Umpamanya, blog Kakak bertema perawatan rumah, dalam bahasa Inggris. Kakak sudah menentukan frekuensi posting seminggu sekali, buat saja tabel sederhana semacam ini:
|
Publish |
Subject |
Words |
| Nov. 22 | When & where to buy cheap furniture | 700 |
| Nov. 29 | How to maintain the teak furniture | 800 |
| Dec. 5 | Tricks to make a little house looks wider | 1.000 |
| Etc. | Etc. | Etc. |
Kakak cukup merencanakan. Tidak harus menulis artikelnya semua saat itu juga. Toh, kalau pun menulis semuanya di depan, nanti sesaat sebelum posting, Kakak tetap harus membacanya ulang. Siapa tahu ada yang basi, sudah tidak relevan lagi, atau ada pengulangan bahasan. Tulisan itu, kan, Kakak buat di masa lalu, dan mau dipublikasikan di masa kini. Jadi mungkin sekali ada hal-hal “mengganggu” semacam itu.
Kalau saya, sih, memilih menuliskan judul-judulnya dulu. Soal menulis isinya, biasanya saya lakukan sehari sebelum jadwal publikasi. Atau bahkan beberapa jam sebelum itu, hehehe.
Penjadwalan berguna jika Kakak punya lebih dari lima blog (yang harus diisi sendiri) seperti saya. Dengan penjadwalan seperti ini, nantinya Kakak tidak perlu lagi berpikir, “Mau posting apa, ya, besok?” Ketika mencari bahan tulisan pun Kakak sudah terfokus, sehingga tidak membuang-buang waktu lagi.
Namun, jadwal ini juga sewaktu-waktu bisa Kakak ubah, jika di tengah jalan ada tema yang lebih menarik dan hot. Tinggal digeser-geser saja tanggalnya. Atau lebih mudahnya, posting saja tulisan “sisipan” itu, sementara untuk tulisan yang sudah disiapkan sejak awal tinggal dipindah ke tanggal yang paling terakhir. Dengan begini, Kakak tidak perlu menggeser-geser jadwal publikasi semua tulisan.
Lebih tertata, bukan? Metode ini bukan ciptaan saya. Yang jelas, ini sudah dipraktikkan para bloger kawakan, baik di dalam maupun di luar negeri. Saya hanya meniru metode mereka. Kakak pun jangan sungkan untuk menyontek metode simpel ini.
Wow… ini sih kalau blogging sebagai sesuatu yang serius ya? Bagaimana kalau hanya sekedar hobi saja? Tapi memang di mana2 kuncinya adalah istiqomah! Konsisten! Terima kasih tipsnya. Btw, fotonya itu bukan dari sxc.hu ta? Soalnya saya hapal dengan foto itu.
Ya namanya tips kan pastinya buat yang serius, Pak. Tips memancing ya buat yang serius memancing, tips membeli rumah jelas buat yang serius mau beli rumah, dst.
Yups, Anda benar! Itu kan slideshare era jaya-jayanya SCE dulu, Pak 🙂