Be Famous First or Just Write?

There are always good options for the famous. As a well-known person, you could overcome many writer’s problems in no time, such as promotion or marketing stuffs. Not to mention your money, you surely had influence to magnetize people into your books, whether it is your own crafting or by a ghostwriter.

So, what is your focus now: be famous first or just write?

Me? Well, I choose the second. It is my nature. Besides, I always believe that Rome was not built in a day. I am not in hurry, my friends. I prefer the organic process of writership.

* * *

Mendengar saya sedang menyiapkan naskah kumcer untuk dikirim ke penerbit, seorang teman mengingatkan saya untuk sekalian menyiapkan mental. Akan ada banyak penolakan, katanya. Banyak penerbit setengah hati menggarap kumpulan cerpen atau puisi. Wajarlah. Statistik membuktikan, kumcer jarang dibeli orang. Apalagi buku puisi, genre sastra yang menurut Tiana Rosa paling tidak laku.

“Yah, kecuali kamu sudah punya nama alias terkenal, Rie,” lanjut teman saya.

Terkenal? Aduh.

Namun memang, buku dari pengarang terkenal, entah kondangnya di dunia tulis atau di show biz, nasibnya cenderung bagus. Tidak peduli itu tulisannya sendiri atau hasil menyewa ghostwriter, karya seorang seleb lebih gampang mencuri hati penerbit, juga menghipnotis pengunjung toko buku untuk pergi ke kasir sambil menjinjing buku tersebut.

Bagi orang terkenal, mau kumcer kek, puisi kek, tak ada masalah. Bahkan mungkin para penerbit besarlah yang akan saling memperebutkan hak penerbitannya. Rieke Dyah Pitaloka saja sudah meluncurkan dua kumpulan puisi melalui penerbit mayor. Padahal aktris yang juga anggota DPR itu bukanlah penyair terkemuka setara (Alm.) W. S. Rendra atau Taufik Ismail.

Tengoklah pula Tamara Geraldine yang menulis Kamu Sadar, Saya Punya Alasan untuk Selingkuh ‘Kan, Sayang?. Kumpulan 12 cerpen presenter kesohor itu adalah buku perdananya, dan langsung best seller.

Sebut saya iri, saya takkan menyangkal. Kalau memang karya mereka bagus (Dewi Lestari termasuk di dalamnya), saya akan iri dengan ide atau kemampuan menulisnya. Tapi kalau karya itu pas-pasan, saya pun tetap iri. Dengan ke-seleb-annya!

Seandainya saya seleb, naskah-naskah saya juga pasti mudah mendapat anggukan dari penerbit. Karena minimal mereka tidak perlu khawatir bakal tekor gara-gara sudah mencetak 3.000 eksemplar atau jor-joran mempromosikan buku saya. Jika ternyata tetap tidak laku? Ah, jangan mengada-ada. Saya kan seleb.

Saya bisa meminta teman-teman kaya saya untuk membelinya. Tidak harus dibaca, dibeli saja dulu. Saya bahkan akan memprovokasi mereka supaya memborongnya untuk cindera mata pernikahan seseorang atau untuk disumbangkan ke pihak tertentu (tentu dengan mengundang wartawan dari puluhan media terlebih dahulu).

Bukan hanya itu, saya juga bisa nge-tweet agar followers saya segera memburu buku itu. Saya selaraskan pula dengan status FanPage saya.

Saya pun dapat sewaktu-waktu menyuruh asisten saya jualan langsung di jeda syuting sinetron, jumpa fans, atau open house seperti saat Lebaran kemarin. Yang beli on the spot bakal memperoleh tanda tangan plus kesempatan foto bareng saya.

Marketing yang efektif, bukan? Menarik, bukan? Orang kondang gitu loh!

Lantas, bagaimana penulis non kondang menyikapi situasi yang serupa? Agak berat dan mengharukan. Sebab dia harus bergerilya “memaksa” teman dan keluarganya untuk membeli buku itu. Syukur-syukur teman dan keluarganya tahu etika, sehingga si penulis tidak perlu mendengar kalimat-kalimat konyol seperti, “Kan yang nulis kamu, masa’ sih aku nggak dikasih gratisan?”

Penulis non kondang juga tidak bisa seenaknya mengirim press release, karena pihak media bisa nyengir kuda, “Siapa elo?”

Maka penulis non kondang biasanya meminta bantuan penerbitnya. Di sini, yang harus dipersiapkan adalah rayuan yang logis (alih-alih gombal) dan beberapa alternatif program promo yang diajukan. Jangan senang dulu, dari sekian alternatif itu, belum tentu ada yang dijalankan. Boleh jadi ditolak semua seraya dikhutbahi, “Cari ide program yang LBHI, Mbak, LBHI! Low budget high impact!”

Serba susah memang jadi orang tidak terkenal.

Namun kalau pilihannya adalah berusaha “terkenal dulu” atau “menulis dulu”, saya tetap mengutamakan menulis dulu. Pertama, karena itu naluri serta kebutuhan saya. Kedua, karena saya percaya Kota Roma tidak dibangun dalam sehari. Saya tidak harus terburu-buru untuk mencapai sesuatu.

BAGIKAN HALAMAN INI DI

6 thoughts on “Be Famous First or Just Write?”

  1. Sangat setuju bu….

    Kenapa menulis dulu? Karena semakin banyak kita menulis, semakin tajam kemampuan kita. Kita tidak tahu kapan kita mendapat kesempatan…. tapi satu hal pasti, sedapatnya, tidak seperti sebagian ‘seleb’ yang jadi ‘ok writer’ karena mereka seleb, setidaknya mba menjadi dikenal karena tulisan mba memang bagus, Kesempatan? Nah, itu kita tidak pernah tahu. Tapi kita tidak perlu menyerah kan?

    Mungkin situs berikut mengenai novelis James King bisa membantu membangkitkan semangat kita semua yang memang ‘ingin menjadi penulis’ dan bukan ‘penulis dadakan’.

    http://www.politicsdaily.com/2010/08/06/after-54-book-agents-said-no-thanks-james-kings-first-novel/

    Salam

    Reply
  2. Artikel yg bagus 🙂

    Menulis mmg sebuah seni yg harus diasah terus menerus sehingga penulisnya menemukan bentuk yang pas atau suaranya sendiri, dan saya pikir itu jauh lebih bagus daripada seleb yg menulis, sebab kita sendiri tidak tahu apakah buku itu memang bagus atau hanya biasa-biasa saja tapi jadi luarbiasa karena “nama”-nya, coba saja pakai nama samaran, apakah akan menjadi best seller juga? Well, selamat menulis dan menerbitkan kumcer-nya 🙂
    ge´s last blog post ..PurhatPuisi Curhat Cuma Aku Dalam Liang Kepalaku

    Reply

Leave a Reply to Zaki Jaihutan Cancel reply

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

No right-click, please!