Bagaimana Hidup Minimalis secara Maksimal

Bagaimana Hidup Minimalis secara Maksimal

Di tengah dunia yang semakin materialistis dan mengagung-agungkan kepemilikan banyak barang ini, beberapa orang justru memutuskan hidup minimalis. Apa untungnya? Apa menariknya?

Hidup minimalis adalah hidup sederhana dengan beberapa barang yang benar-benar diperlukan. Sementara barang-barang yang tidak dibutuhkan, membuat rumah kumuh, ruwet, dan berantakan harus disingkirkan.

Ide yang bagus. Namun pertanyaannya, mungkinkah kita menjalani gaya hidup minimalisme seperti ini di Indonesia yang menuntut kita sering menongkrong atau menjamu keluarga besar, sehingga memerlukan banyak kursi, piring, gelas, dan sebagainya?

Hidup Minimalis ala Barat

Hidup Minimalis ala Barat

Jawabannya, bisa! Terutama bila kita beracuan kepada versi Francine Jay. Miss Minimalist ini adalah seorang ibu rumah tangga dengan satu anak, jadi kondisi minimalisnya cenderung moderat.

Dalam bukunya, Seni Membuat Hidup Jadi Lebih Ringan, Francine menggunakan analogi kamar hotel berbintang. Tempat tidurnya rapi, bersih, perabotannya sedikit, tetapi semua tertata dengan efisien.

Mengapa kita datang ke hotel dengan satu atau dua koper saja? Karena kita tidak mau repot membawanya atau capek-capek mengaturnya. Jadi, di kamar hotel itu, hidup kita bisa lebih mudah dan ringan. Nah, seperti itulah gambaran hidup minimalis.

Saat konsep ini kita bawa ke rumah, dampaknya pun serupa. Dengan barang-barang yang sedikit, kita tidak perlu bingung setiap kali hendak bepergian. Kita takkan bingung mau mengenakan pakaian apa hari ini, atau sepatu mana yang cocok dengan baju ini.

Acara beres-beres rumah juga takkan terasa merepotkan jika perabotan yang perlu diatur dan dibersihkan hanya sedikit. Alih-alih merasa stres sehingga sering menunda kegiatan bersih-bersih, kita akan lebih mudah bergerak untuk melakukannya.

Ruang kosong akan membuat hati kita lapang, tangan bebas bergerak, dan langkah terasa enteng. Semakin sedikit barang yang kita miliki, semakin tidak terbebani pikiran kita. Kita pun jadi mempunyai waktu untuk hal-hal lain yang lebih penting. Misalnya, pekerjaan, ibadah, keluarga, atau diri sendiri.

Sebaliknya, memiliki banyak barang jelas akan menguras waktu untuk membereskan dan merawatnya. Bahkan ketika barang-barang itu mau kita singkirkan, kita masih bingung bagaimana menjualnya? Kalau dibuang, mau dibuang ke mana? Disumbangkan kepada siapa?

Bukan hanya soal barang, menurut Francine, jadwal kegiatan sebenarnya dapat kita minimalkan. Matikan ponsel, kurangi jadwal hura-hura bersama teman, jangan terlampau sibuk bekerja, dan kurangi beban pikiran.

Berpikir ringan berarti kita sadar dengan kemampuan. Tidak perlu mengerjakan apa yang melebihi kemampuan kita, sehingga tidak ada kata “stres” atau “tidak puas”. Siapapun tahu, ketidakpuasan akan menggiring seseorang menginginkan lebih, dan ujung-ujungnya merasa terbebani.

Hidup Minimalis ala Orang Jepang

Hidup Minimalis ala Orang Jepang

Pada dasarnya, prinsip hidup minimalis di mana-mana sama. Tujuannya untuk membebaskan diri dari beban kepemilikan yang tidak diperlukan. Yang membedakan mungkin konteksnya.

Dalam kaitan dengan orang Jepang, barangkali kondisi geografi berpengaruh terhadap pendekatan minimalisme mereka. Negara Jepang, kita tahu, rawan bencana. Mereka akrab dengan gempa bumi, tsunami, atau bencana alam lainnya.

Minimalisme Fumio Sasaki

Itulah pertimbangan Fumio Sasaki untuk menjadi seorang minimalis. Awalnya, pria yang berprofesi sebagai editor ini hidup maksimalis dengan setumpuk koleksi buku dan CD. Menganggap benda-benda ini merepotkan dan membahayakan ketika terjadi bencana, dia menjual semuanya.

Bukan hanya itu, Fumio juga mengurangi sebagian besar pakaian dan perabotan miliknya. Kebetulan dia belum menikah, jadi di dalam apartemennya hanya tersedia barang pribadi sehari-hari, seperti berapa potong pakaian, sepatu, satu laptop, satu ponsel, dompet, dan tatami (kasur ala Jepang). Peralatan memasak dan makannya pun bisa dihitung dengan jari.

Menganut minimalisme ekstrem seperti ini membuat tempat tinggalnya nyaris kosong dan sangat rapi. Ini memudahkan Fumio melakukan evakuasi sewaktu-waktu bencana alam terjadi.

Namun, bagaimana seandainya ada tamu berkunjung ke apartemennya? Bagaimana menjamu mereka dengan makanan dan minuman? Fumio memilih solusi praktis: ajak saja mereka makan di luar. Toh, tidak setiap hari dia menerima tamu.

Selain Fumio Sasaki, sebenarnya ada beberapa orang Jepang lainnya yang mengikuti gaya minimalis yang ekstrem. Mungkin ini pengaruh falsafah Zen, ajaran Buddha yang mendorong seseorang untuk melepaskan hal-hal yang bersifat duniawi dan materi.

Minimalisme Marie Kondo

Lain halnya dengan Marie Kondo alias KonMari. Metode minimalis ibu satu anak ini banyak diadopsi orang-orang Indonesia. Sebagaimana Francine Jay, Marie Kondo memilih fleksibel. Baginya, boleh-boleh saja punya banyak pakaian atau perabot rumah, tetapi ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan:

    1. Rapikan barang untuk mengurangi kekacauan, berikan gambaran tentang gaya hidup yang ideal, buang lalu bersihkan, bereskan barang sesuai kategori, dan tanyakan apakah barang yang disimpan memancarkan kebahagiaan (spark joy).
    2. Jangan menyimpan barang karena berpikir kita akan membutuhkannya suatu saat nanti.
    3. Prinsip dalam menyimpan barang: lipat, susun tegak lurus, simpan dalam sebuah tempat seperti kardus atau keranjang, pisah-pisahkan sesuai kategori dan subkategori, isi wadah-wadah itu sampai 90%, dan jangan lupa menambahkan keceriaan dengan memperlihatkan benda yang paling disukai.
    4. Mulailah dengan membereskan pakaian, sepatu, dan aksesori. Setiap jenis pakaian punya cara penyimpanan yang berbeda. Pastikan semuanya dilipat sesuai Metode KonMari. Ingat, simpan sepatu di rak atau kotak sepatu. Hal yang sama berlaku untuk aksesori.
    5. Atur buku dan kertas. Pilih buku yang paling disukai dan memancarkan kegembiraan dan letakkan secara berdiri, bukan ditumpuk. Sedangkan kertas bisa disimpan dengan cara ditumpuk. Kertas-kertas penting seperti kartu garansi, disimpan di dalam wadah plastik. Sementara untuk manual atau petunjuk penggunaan sebuah barang, bisa dibuang karena kita dapat menemukannya di internet.
    6. Membeli barang yang dibutuhkan, seperti sabun atau bahan makanan, bisa dilakukan jika barang yang lama sudah atau hampir habis. Tidak disarankan menyimpan barang yang sama dalam jumlah yang banyak.
    7. Jika tidak ingin berpisah dengan barang kesayangan, rekamlah dalam bentuk foto atau video sebelumnya.

Hidup Minimalis dalam Islam

Hidup Minimalis dalam Islam

Prinsip minimalis sejatinya telah diajarkan dalam ajaran Islam sejak berabad-abad silam. Tengoklah panutan tertinggi umat Islam, Rasulullah Muhammad Salallahu alaihi was Sallam.

Selain sebagai rasul, ulama, dan pemimpin umat, Nabi Muhammad juga pernah menjadi pedagang, pebisnis, jenderal perang, dan pimpinan pemerintahan yang sukses. Sahabat-sahabat yang kaya raya pun mengelilingi beliau setiap harinya.

Namun, itu semua tidak memalingkan beliau dari hidup sederhana, alias hidup minimalis. Rasulullah tetap tinggal di rumah yang bersahaja, rajin puasa, makan secukupnya (beliau lebih suka menyedekahkannya), gaya berpakaiannya juga sederhana.

Dalam ajaran Islam, semua hal akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Termasuk kepemilikan barang. Kemampuan seseorang membeli banyak barang secara halal, tidak menjadikannya boleh bertindak sesukanya, boros, atau mubazir. Karena akan ada hisab mengenai detail pemanfaatan barang-barang ini.

Ibaratnya di supermarket, kita boleh mengambil sebanyak mungkin barang. Tetapi cepat atau lambat, kita akan melewati meja kasir. Semakin banyak barang di troli kita, semakin lama urusan kita di kasir.

Muslim yang baik bukan hanya bertanggung jawab atas dirinya, keluarganya, dan anak-anaknya, melainkan juga barang-barangnya. Selain itu, juga tanggung jawab terhadap bumi. Ingat, selain menjadi penguasa bumi, manusia juga diperintah untuk memelihara dan memakmurkan bumi.

Ketika membeli sesuatu, sedikit atau banyak, kita berarti turut mencemari lingkungan melalui limbah produksinya, emisi karbon dari kendaraan yang mendistribusikannya, plastik pembungkusnya, sampai bendanya sendiri yang cepat atau lambat akan menjadi sampah.

Maka dari itu, kalau tidak perlu-perlu sekali, cobalah menahan diri dari perilaku konsumtif. Minim barang berarti minim sampah. Planet ini sudah banyak menderita akibat ulah kita. Secara global, hanya 9% sampah yang dapat didaur ulang. Sisanya, dibiarkan apa adanya dan lama-lama tentu akan memenuhi daratan dan lautan di bumi.

Janganlah berlebihan. Setiap benda kita harus dapat dipertanggungjawabkan pemanfaatannya. Akan ada perhitungannya. Makanya, daripada membebani diri kita di akhirat, sebaiknya cermatlah dalam membeli barang, jasa, atau kegiatan. Itulah hidup minimalis ala Rasulullah.

Lepaskan Beban, Mulailah Hidup Minimalis!

Lepaskan Beban, Mulailah Hidup Minimalis!

Menjadi minimalis itu bisa karena memang tidak punya uang (ini namanya “terpaksa hidup minimalis”), tetapi juga bisa karena enggan terbebani. Entah itu terbebani secara psikis karena tumpukan barang, takut membahayakan dan membingungkan kita ketika terjadi bencana alam, atau murni tanggung jawab terhadap sang Khalik.

Ada berbagai sudut pandang minimalisme yang dapat kita pilih. Sekarang, tinggal kita bersedia atau tidak. Jika bersedia, siapkah kita menjalani hidup minimalis secara maksimal?

Referensi

  • Sasaki, Fumio. Goodbye, Things: Hidup Minimalis Ala Orang Jepang, terjemahan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2018.
  • Jay, Francine. Seni Membuat Hidup Jadi Lebih Ringan, terjemahan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2019.
  • Kondo, Marie. Spark Joy, Ten Speed Press, California: 2016.
  • Rahayu, Henik Tri. 8 Januari 2020. “Gaya Hidup Minimalisme ala Islam”, IBTimes.id, diakses 4 Juli 2021.
BAGIKAN HALAMAN INI DI

2 thoughts on “Bagaimana Hidup Minimalis secara Maksimal”

  1. Sepertinya tidak perlu memilih diantara 3 versi itu (barat, Jepang, atau Islam). Karena bisa jadi alasan hidup minimalis itu bisa ketiganya sekaligus. Bener ga?

    Reply

Leave a Reply to Leva Cancel reply

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

No right-click, please!