Terapi Itu Bernama Menulis

Write is a cure

Mungkin Anda sudah pernah mendengar ini: menulis itu obat awet muda, obat pikun, terapi untuk problem-problem psikologis. Saya berkali-kali membuktikannya. Dan saya mempersilakan Anda mencobanya sendiri.

Saat resah, kecewa, patah hati, putus cinta, menulislah. Kalau bisa, tulisannya lebih dari sekadar diary atau puisi. Menulislah dalam bentuk yang lebih serius dan panjang. Entah nanti cuma jadi esai atau artikel, syukur-syukur bisa jadi memoar, atau mungkin novel horor.

Hm, yang bilang mustahil curhatan bisa jadi karya horor, saya tantang: berani bayar berapa kalau saya berhasil membuktikannya? Hehehe….

Menulislah, tetapi Jangan di Medsos

Intinya, menulislah! Jangan malah curhat di media sosial atau medsos. Terkadang, kalau kita menuliskan kegalauan di medsos, bukannya diberi solusi oleh teman-temannya, malah dijadikan bulan-bulanan. Alternatif lain, kita mungkin dikasihani, diberi nasihat-nasihat sok tahu, atau minimal diabaikan. Dari sekian yang mengabaikan, sebagiannya justru diam-diam bersyukur mengetahui kita mendapat musibah itu. Alamak….

Jujur saja, saya sendiri suka risih kalau beranda medsos dipenuhi curhatan-curhatan atau makian-makian seseorang.

Ya, mungkin mereka tidak mampu menulis sesuatu yang lebih panjang dan runut, saya maklumi. Namun, bagi Anda yang memiliki kemampuan menulis, keterlaluan kalau masih saja bergalau-galau ria di medsos dan membuat mood orang lain ikut negatif.

Menulis sajalah yang serius. Buka Word. Lalu mulai ketik. Jangan berhenti sampai jadi karya yang dapat dibanggakan. Galau hilang, karya pun mewujud!

Menulis: Terapi Pikiran-pikiran yang Mengganggu

Saya pernah punya khayalan yang begitu mendominasi benak, yaitu tentang menyatukan dua atau lebih makhluk hidup menjadi satu. Saya ingin menjadi satu tubuh dengan orang-orang terdekat saya, supaya tak pernah kesepian dan selalu terhibur.

Ini terjadi sejak saya SD, dan terus berlanjut sampai SMA. Cukup mengganggu, karena waktu saya jadi tersita banyak hanya untuk melamun dan membayangkan asyiknya bila peristiwa itu benar-benar terjadi.

Namun sekarang, pikiran-pikiran itu tidak mengganggu lagi. Tahu apa yang saya lakukan? Saya menulis Pemuja Oksigen. Di novel itu, ada plot yang berkembang dari khayalan saya semasa kecil: penggabungan manusia. Namun tentu saja, di novel, alur ini saya rasionalisasikan.

Sejak Pemuja Oksigen kelar ditulis, saya semakin jarang melamun tentang penggabungan manusia. Barangkali karena semua sudah tertuang, sehingga tak lagi menyisakan ruang untuk membahasnya kembali. Yang selalu saya yakini, menulis masalah (dan mengembangkannya atau membunuhnya dalam cerita) adalah obat atau terapi bagi masalah itu.

Saya juga pernah punya pemikiran lain yang begitu mengganggu. Yakni tentang pertanyaan, “Sampai kapan manusia hidup?”

Katakanlah terminal akhir adalah surga, sampai kapan kita di sana? Selamanya? Apa tidak bosan? Karena di sana sudah tidak ada tantangan. Mau rumah, langsung tercipta rumah. Mau berkreasi, kreasi itu langsung jadi. Mau makan, langsung ada makanan, bahkan bisa saja kita sudah tidak perlu makan-minum. Pun, tak ada orang yang perlu bantuan kita di surga, karena semua serba ada. Terus, apa yang kita kerjakan? Menganggur, dong?

Oh ya, kita di surga bukan sekadar satu abad, satu milenium, atau bahkan triliunan milenium. Kita di sana untuk selamanya, untuk waktu yang tak terhingga!”

Saya tahu, itu rentetan pertanyaan konyol, tapi sampai sekarang pun saya belum menemukan jawabannya. Pemikiran ini membuat otak saya panas. Membuat saya resah dalam ketidakberdayaan sebagai makhluk ciptaan. Nah, tahu apa yang saya lakukan kemudian?

Ya, menulis! Saya menulis skenario film pendek dengan tokoh yang juga dililit pertanyaan-pertanyaan seperti saya. Setelah filmnya terealisasi, keajaiban tersebut kembali datang. Saya jadi tidak memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu lagi sampai sekarang.

Di kemudian hari, saya juga menulis novel dari cerita ini lantaran merasa film pendek itu kurang detail. Kalau tidak ada aral, novel ini tahun depan akan diterbitkan oleh GagasMedia.

Menulis adalah Obat Jiwa yang Mujarab

Sudah berkali-kali, dalam pengalaman hidup saya, menulis adalah obat yang manjur. Saya tidak tahu bagaimana penjelasan ilmiahnya. Dan belum tentu juga yang berhasil di saya, berhasil pula di Anda.

Namun, tidak ada salahnya Anda coba juga menulis. Semoga juga berhasil. Saya yakin, bila Terapi Sinema mengobati kita sebagai penikmat, menulis akan mengobati kita sebagai kreator.

BAGIKAN HALAMAN INI DI

5 thoughts on “Terapi Itu Bernama Menulis”

  1. Aku daripada nulis2 status mendingan ngeblog. Tapi kalo tulisannya masih blm layak dimuat, ya disimpen dulu aja. Yg penting ada “pelampiasan” stres & orang2 nggak tau aku lagi galau.

    Reply
  2. Selamat datang… semoga betah di sini.Silakan kunjungi juga rumah saya yang baru di Di sini, adalah tempat pertama saya untuk bermimpi menjadi penulis novel fantasi profesional. Terlalu keren bahasanya? Gini aja deh: ini tempat saya belajar menulis novel. Selain buat memajang karya, beberapa tips penulisan novel fiksi juga saya tempel di sini. Lumayan, kan mesti banyak belajar… Salam dari Sang Pemimpi,Villam.
    Villam´s last blog post ..No last blog posts to return.

    Reply

Leave a Reply to Brahmanto Anindito Cancel reply

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

No right-click, please!