You Can Podcast Your Fiction Too

Podcast is a hybrid of internet and radio. A quite new way to communicate things profiting the auditory media advantages. You can make use of it to create another version of your fiction. An auditory version! So the ones who used to be read your story may now listen it while doing any other activity.

How to make one? It’s simple and fun. To be more practical, you may use the “text to speech” feature in some word processing software. The same system runs on Odiogo.com. Everything you write will be pronounced and saved as .MP3.

Making a podcast through PC is little bit more complex. You will need a microphone and software to record the voice and edit it. Don’t have such software? Try Audacity. I think it’s a good freeware to start.

When your .MP3 is ready, upload it somewhere on internet. And syndicate it by the feed. It is what “cast” means in podcast.

* * *

Sewaktu kecil, saya suka sekali menyimak sandiwara radio Saur Sepuh, Tutur Tinular, dan Misteri Gunung Merapi. Saya bersama kakak saya bahkan kemudian menulis cerita-cerita serupa untuk diperankan oleh teman-teman kampung dan, tentu saja, saya sendiri. Kami merekam drama amatir itu melalui tape compo yang saat itu segede printer modern.

Sesudah rampung, kaset diputar ulang. Kami duduk serius mengelilingi tape compo. Begitu tenang. Bila ada dialog yang meleset dan canggung, baru tawa kami meledak. Tapi, puas rasanya bisa menghasilkan karya “selevel” drama-drama radio beken itu. Karena acara-acara semacam ini ternyata banyak juga penggemarnya.

Sayangnya, setelah saya SMP, stasiun-stasiun radio semakin jarang menyiarkan drama-drama audiotory begini. Barangkali lantaran kalah bersaing dengan televisi dan internet. Radio sebagai media saja sudah banyak ditinggalkan, saat ini.

Tapi jangan salah, media yang berfokus pada telinga ini takkan pernah mati juga. Semaju apapun televisi atau internet, radio takkan bisa mereka bunuh. Apalagi jika ia terus ber-evolusi mengikuti perkembangan teknologi. Podcast, contohnya. Inilah hasil perkawinan media auditory dengan internet.

Podcast terdiri dari kata “POD” (Personal On Demand atau Portable On Demand atau Play On Demand) dan “cast” (menampilkan/menyiarkan). Berbeda dengan televisi atau radio konvensional, podcast memungkinkan kita menikmati acara/program favorit kapan saja kita mau. Anda bisa mendengarkannya di komputer, iPod, ponsel, atau pemutar .MP3.

Sebagai penulis, kita dapat memanfaatkannya, baik untuk menciptakan fiksi (drama-drama seperti di radio waktu saya SD, bahkan trailer film bioskop) maupun nonfiksi (berita, talkshow, ceramah motivasi, khutbah, panduan relaksasi). Dan, untuk memperlihatkan sisi survivalnya: setiap podcast bisa disisipi iklan.

Ini bukan media yang rumit. Cara membuatnya hampir sesimpel dan seasyik saya bersama tape compo dulu. Anda tinggal merekam, mengedit, lantas meng-upload-nya. Sediakan saja 1 MB untuk setiap podcast (.MP3) berdurasi dua menit. Yap, ini akan lumayan makan tempat.

Namun Anda selalu bisa mencari penyedia space gratisan, portal semacam YouTube tapi yang spesifik untuk podcast. Meskipun, “Ada pembatasan di tempat-tempat gratis itu,” terang Imam Muttaqin Sholihin, salah satu pengelola Indonesia Bercerita. “Jadi, akhirnya kami meletakkan podcast-podcast kami di server sendiri.”

Sekadar informasi, Indonesia Bercerita adalah portal podcast nonkomersial yang mendedikasikan diri untuk mendidik anak melalui cerita. Gerakan ini sudah menjalar ke berbagai kota besar di Indonesia. Saya pikir, ini contoh pemanfaatan podcast yang bagus, sekaligus inovasi di bidang perfiksian.

Bersama Indonesia Bercerita, Anda bisa mengunduh, menggunakan, menggandakan dan menyebarluaskan podcast mereka untuk berbagai keperluan. Selain itu, Anda juga bisa berkonstribusi.

“Siapapun Anda, dengan keterbatasan alat apapun, silakan bergabung,” Imam menawarkan. “Bahkan kami bersedia menerima cerita yang cuma direkam dengan HP oleh satu orang narator amatir. Asal isi podcast-nya sesuai dengan visi-misi Indonesia Bercerita.”

Tertarik? Cobalah. Cari tahu bagaimana menulis untuk telinga dan contoh naskah rancangan (script) sebuah podcast yang profesional. Namun kalau Anda mau yang praktis, buat saja sesederhana ini:

Musik pembuka

SFX. Suara aliran sungai

NARATOR: Di sekitar sungai yang besar, hiduplah seekor kelinci yang ceria dan beruang yang pemarah. Si Kelinci tinggal di sisi utara sungai. Sementara, di sisi selatan atau seberangnya, si Beruang sedang menikmati buah kesukaannya.

KELINCI: (Teriak) Hoee! Hoe, Beruang, menyeberanglah kemari. Ada yang mau kutunjukkan padamu!

BERUANG: (Teriak, dengan mulut penuh makanan) Nanti saja! Aku sedang makan siang!

KELINCI: Ayolaaaah! Ini benar-benar penting buatmu…

Sunyi 2 detik

KELINCI: Cepatlah, gendut! Atau kau akan melewatkannya!!

BERUANG: (Mengunyah sisa makanannya) (berkata dengan ogah-ogahan) Hm, baiklah, baiklah…

SFX. Suara beruang mencebur ke sungai

NARATOR: Si Beruang pun menyeberangi sungai yang deras itu.

SFX. Suara Beruang berjuang melawan derasnya air (5 detik)

BERUANG: (Terengah-engah) Nah… apa… yang ingin… kau beritahukan, Kelinci?

KELINCI: Oh iya, Beruang, coba kau lihat ke seberang sungai ini. Banyak sekali buah-buahan di sana! Kau pasti suka….

SFX.

Lihat, mudah bukan menulis script sebuah podcast? Yang relatif sulit adalah merekam dan merealisasikannya. Bila Anda bukan seorang pro dan tidak memiliki alat-alat yang pro, akan ada saja masalah: suara di sekitar kurang jernih lah, pengucapan dialog kurang natural lah, editingnya kedodoran lah, dan sebagainya.

Ada alternatif solusi jika cerita Anda berbahasa Inggris. Gunakan saja fasilitas “text to speech” di software pengolah kata. Di sana, Anda bisa menulis sebuah naskah, entah fiksi atau nonfiksi, lalu biarkan software itu mengonvertnya ke .MP3.

Tidak punya software semacam itu? Pergilah ke Odiogo.com. Odiogo Podcast akan “membaca” tulisan Anda di blog dan mengonvertnya. Anda tahu beres.

Namun bila naskahnya berbahasa Indonesia, sebaiknya Anda menggarapnya manual saja. Untuk pengerjaan dari ponsel atau voice recorder, tentu mudah, tinggal rekam lalu transfer ke komputer. Tapi untuk pengerjaan langsung dengan komputer, Anda butuh mikropon dan software perekam.

Tak ada mikropon? Pakailah mikropon internal laptop Anda. Tidak ada masalah di situ selain Anda harus bicara lebih keras atau lebih dekat.

Tak ada software perekam? Install saja Audacity. Bukan hanya untuk merekam, freeware ini juga bagus untuk mengedit file audio. Silakan mempelajari tutorialnya di sini.

Setelah file .MP3 tersebut jadi, upload-lah. Misalnya di web Anda sendiri, Odiogo, iTunes, terserah Anda. Jangan lupa sindikasikan feed-nya. Karena file audio yang tidak “disiarkan” di internet itu bukan podcast namanya.

NB: Looking for fiction writing opportunity in podcast? Here is one of them.

7 Replies to “You Can Podcast Your Fiction Too”

  1. dominique

    sepertinya menyenangkan.
    tapi berat kalo di taruh di webhost sendiri, bikin berat situs.
    ada rekomendasi tempat penampungan podcast yang oke punya ??

    Reply
  2. Brahmanto Anindito Post author

    @Dominique: Aku pernah nyari tempat2 free host podcast. Nyoba beberapa. Tp kupikir yg terbaik, seperti kata Imam IDCerita, ditaruh di host sendiri. Memang berat (di ongkos). Tp nggak bikin web berat kok. Ukur aja kecepatan akses ke Indonesia Bercerita.

    @Cherie: Fun, pastinya.

    Reply
  3. Brahmanto Anindito Post author

    Udah dong, Adhi. Odiogo jelas udah. Coba lihat ikon kecil “listen now” di antara judul dan gambar, artinya postingan di Warung Fiksi udah bisa didengarkan, nggak sekadar dibaca.

    Cara manual juga udah. Dari aku kecil, bahkan. Bedanya sekarang kan hasilnya dlm bentuk digital dan disiarkan di internet, jd prosesnya pun lbh canggih dibanding proses produksi di zaman baheula dulu. Aku nggak profesional di sini sih, tapi, sebagaimana yg kubilang, this is fun! 🙂

    Reply
  4. Brahmanto Anindito Post author

    Jiakakakak… kayak bule belajar Indonesia ya. Makanya aku nggak merekomendasikan software2 pembantu spt di Odiogo.com kalau kontennya bukan berbahasa Inggris. Berbahasa Inggris pun punya kelemahan, ternyata: gaya ngomongnya lempeng, nggak ada emosinya. Yah, yg terbaik adalah menggarap podcast secara manual, memang.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge