Why I Don’t Write Romance Yet

Write a romance is not as easy as saying "I love you"

Novel yang penjualannya bagus itu yang bergenre romance. Ya, saya tahu. Sebagaimana lagu, yang cinta-cintaan selalu lebih laku. Film juga. Terus, ada yang tanya, kenapa saya tidak banting setir dan menulis novel cinta? Kenapa saya tetap bertahan di jalur thriller dan misteri yang pasarnya sempit (niche)? Baik, saya jelaskan secara singkat di sini.

Saya Berusaha Unik

Tahukah Anda berapa jumlah penulis genre romance? Yang pasti, jumlahnya jauh lebih banyak dari semua rak buku di sebuah toko buku besar di Indonesia. Banyak sekali kompetitornya, Saudara-saudara! Jadi, saya malas terjun ke sana. Bukan berarti saya takut berkompetisi. Hanya, keinginan saya menjadi unik tidak akan terwujud bila saya ikut arus yang terlampau masif ini. Saya enggan menjadi penulis kebanyakan. Itu intinya.

Saya Ingin Membangun Real Romance dalam Real Life

Saya selalu meyakini, thriller dan misteri adalah sesuatu untuk ditulis, bukan untuk dialami 🙂 Sebaliknya, romance itu untuk dialami, bukan cuma ditulis. Apa enaknya menjadi insan romantis hanya di atas kertas? Ini seperti ungkapan “macan kertas”, macan yang hanya ganas di atas kertas (teori), atau macan yang terbuat dari kertas (buatan).

Apakah penulis romance pasti romantis dan romantismenya terbukti di lapangan? Belum tentu. Bedakan antara karya dan pembuatnya. Lihat saja manusia setengah dewa dalam genre sastra romantis, Kahlil Gibran, yang melajang sampai ujung usianya. Lihat kasus-kasus vokalis band yang meniduri banyak wanita yang jelas-jelas bukan istrinya. Lihat juga artis yang lagu-lagunya sangat romantis yang enteng saja berselingkuh dengan pria lain yang sudah beristri. Apakah itu yang disebut romantisme?

Belum Cukup Ilmu

Saya toh tertarik menulis novel cinta. Tapi itu nanti, setelah saya mengalami dan memahami cinta yang levelnya lebih dari sekadar kulit dan debar jantung. Ibaratnya, untuk bisa mengajar di kelas S2, saya harus lulus S3 dulu. Padahal saat ini saya masih S1. Jujur, saya memandang genre romance itu proyek penulisan yang tersulit. Banyak teori dan hipotesa yang perlu dibuktikan langsung dan dieksperimenkan seiring berjalannya hubungan riil dua insan.

13 Replies to “Why I Don’t Write Romance Yet”

  1. Rini Nurul Badariah

    Aku menghormati pendirianmu dan tidak bermaksud mengusiknya. Namun aku sependapat dengan seorang editor yang “you know who”, bahwa romance tidak melulu antar pasangan kekasih. Suami-istri sangat perlu memupuk romance tanpa membawa-bawa perselingkuhan. Itu bisa diangkat. Belum lagi yang masih relatif jarang menurutku, kasih sayang antara orangtua dan anak.
    Nah, selamat menulis thriller, hehehe…
    Rini Nurul Badariah´s last blog post ..Baca Ulang Sekali Saja Tidak Cukup

    Reply
  2. Brahmanto Anindito Post author

    Kalau romance di luar hubungan kekasih tentu aku tertarik banget, Teh. Yang aku belum tertarik itu kan yang, seperti alasan #1, membuatku tidak unik karena sudah banyak pelakunya.

    Tumben komen di warung ini, Teh? Merasa kedatangan tamu agung nih, hehehe….

    Reply
  3. Brahmanto Anindito Post author

    Kata Pak Jusuf Kalla kan, “Cinta bukan masalah bilang ‘Aku cintai kamu’, tapi bagaimana kita bisa membuktikan sampai kapan cinta kita bisa bertahan.” Ini jelas butuh jam terbang tinggi untuk bisa menuliskan kisahnya tanpa berkesan picisan.

    Ya, ini tulisan yang menohok, Aleena. Menohok diriku sendiri 😀

    Reply
  4. Mochamad Yusuf

    Nggak kok… Banyak juga yang laris manis tanpa romance. Untuk Indonesia misal: trilogi Negeri 5 Menara,, trilogi (eh malah empat ya, apa namanya) Laskar Pelangi dll. Dan trhiller juga banyak yang laris seperti novel2nya Dan Brown. Kalau saya, selama penulis bukan profesi utama, menulislah apa yang kamu suka. Tapi kalau menulis sudah jadi mata pencaharian, konsepnya bisa beda. Hehehe.
    Mochamad Yusuf´s last blog post ..Tentang Kampung Inggris Pare Kediri(2): Bagaimana Caranya Ke Pare

    Reply
  5. Brahmanto Anindito Post author

    Ya memang banyak, Pak. Belum yang genre fantasi. Tapi kan tulisan ini sebenarnya merupakan respon dari pertanyaan beberapa pembaca, “Kenapa Kakak nggak coba nulis romance aja sih?”

    Tapi, menulis memang mata pencaharianku, Pak. Meski untuk novel, aku melihatnya sebagai investasi yang tidak langsung berbuah. Dibutuhkan kesabaran, keseriusan, konsistensi dan militansi 🙂

    Reply
  6. Parlina Wi

    Ya, romance nggak cuma sebatas kasi bunga mawar dan adegan ngetuk pintu di malam minggu! semoga hasil pertapaan bisa membuahkan sebuah novel romance yang nggak cuma menggigit tapi mencakar *loh?
    Parlina Wi´s last blog post ..Alone and Despair

    Reply
  7. Brahmanto Anindito Post author

    Lho, kok malah bertapa? Justru harus turun gunung dan mengalami manis-asamnya sendiri secara langsung dong. Biar bisa menggigit dan mencakar… eh, ini mau nulis horor ya? Kok ganas gini ;D

    Reply
  8. Dzafar

    Maaf komen ini mungkin udah kadaluarsa, hehe. Tapi kalau ada klien yg minta ghostwrite novel romance kira2 diterima ngga? 🙂

    Reply
    • Brahmanto Anindito Post author

      Yang di atas itu prinsipku sebagai penulis personal, bukan penulis bayaran. Aku nggak akan menolak klien hanya gara-gara genre. Jadi, diterima aja. Toh di bukunya nanti kan bukan namaku 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge