When to End a Chapter

The readers today are impatient. When they think that a chapter is too long-winded, they will skip it, even worst: they stop to read. So, the writers must rack their brain to anticipate them. If we focus on the chapter element, in my opinion, there are some signs when a chapter should be ended.

Close your chapter when the story has to change its setting (e.g. from a room to a campus) or its point of view (e.g. from X’s eyes into Y’s eyes). But much more simple, end your chapter when it becomes too long. It’s good to divide your extended chapter into short ones. Just chop it where the plot is swooping into interesting conflict or are in the midst of the action.

Use some cliffhanger. But do not overdo it. Look at in the real life, one who was give surprises every day has incrementally adapted to it, so he becomes more difficult to be surprised again. It’s same case with the repeated use of cliffhanger.

* * *

Sampai sekira 10 tahun silam, para novelis cenderung memilih mengakhiri bab setelah rentetan peristiwa dalam ceritanya tuntas. Saat itu, sebuah bab biasanya mewakili satu ide, bisa tokoh atau kejadian tertentu. Jadi, kalau ide itu belum tuntas disampaikan, mereka enggan berganti bab.

Tapi, sekarang tidak demikian lagi. Pembaca yang mereka hadapi sekarang adalah pembaca yang tidak sabaran. Jika sebuah bab dirasa bertele-tele, pembaca tak segan-segan melompatinya. Bahkan lebih ngeri lagi: memutuskan berhenti membaca novel itu.

Maka penulis modern memutar otak untuk mengantisipasi “kemalasan” para pembaca ini. Mereka mulai fleksibel dalam menuntaskan sebuah bab. Namun, tidak ngawur juga. Ada rambu-rambunya. Apakah rambu-rambu itu? Kapankah sebuah bab harus diakhiri?

Yang paling mudah, akhiri bab Anda saat cerita harus berganti setting. Misalnya dari setting kamar ke setting kampus, atau dari setting 2011 ke setting 1987. Meskipun, pergantian setting sebenarnya juga dapat dilakukan tanpa pergantian bab.

Anda juga bisa mengakhiri sebuah bab ketika cerita harus berganti sudut pandang. Contohnya pergantian dari mata tokoh A ke mata tokoh B, terutama saat Anda menulisnya dengan sudut pandang orang ketiga (dia). Pergantian mata tokoh ini sebetulnya tidak harus dilakukan dengan membuka bab baru.

Ada alasan pergantian bab yang lebih pas, yaitu saat ia menjadi terlalu panjang, setidaknya bila dibandingkan dengan bab-bab sebelumnya. Saat itulah Anda harus menulis bab baru. Ingat, pembaca sekarang mudah lelah dan gampang bosan. Apalagi jika harus melahap bab-bab yang masing-masingnya terdiri dari puluhan lembar.

Bila memang yang ingin Anda ceritakan sebanyak itu, ada baiknya membagi bab yang panjang itu menjadi bab-bab pendek. Penggal saja sebuah bab ketika cerita di dalamnya sedang menukik ke konflik atau sedang di tengah-tengah aksi. Orang-orang televisi jago untuk urusan begini. Saat film mencapai adegan menegangkan, eh, jeda iklan!

Inilah yang disebut cliffhanger. Biarkan pembaca merasa digantung di akhir bab. Dia akan menjadi tak sabar untuk meneruskan membaca bab berikutnya. Padahal di akhir bab berikutnya itu sudah Anda pasang cliffhanger lain.

Namun sekadar catatan, teknik ini tidak bagus juga bila diterapkan di setiap bab atau mayoritas bab. Dalam kehidupan riil saja, orang yang diberi kejutan tiap hari, otaknya pasti akan beradaptasi terhadap kejutan yang rutin itu. Akibatnya, dia berangsur-angsur menjadi kebal, semakin sulit untuk dibuat terkejut lagi. Sama dengan penggunaan cliffhanger yang diulang-ulang secara berlebihan di sepanjang novel.

Sekian sharing dari saya. Selamat mencoba.

6 Replies to “When to End a Chapter”

  1. Marta

    Mas numpang nyamber yah… Temanya menarik. Saya kebetulan lagi belajar nulis.
    Saya ada pertanyaan, Berapa halaman yang dikatakan bab terlalu panjang itu?

    Reply
  2. Skylashtar

    Serial THE SECRETS OF THE IMMORTAL NICHOLAS FLAMEL karya Michael Scott adalah contoh yang bagus dalam hal menutup bab. Scott pandai sekali menghilangkan kebosanan pembaca sekaligus
    mendatangkan kejutan demi kejutan tanpa membuat kita jantungan. Di akhir bab, kita benar-benar dibuat penasaran. Lalu dia berpindah ke adegan lain dengan tokoh yang lain. Selera humornya pun cerdas (Kalau ini tak lepas dari translatornya)

    Reply
  3. Brahmanto Anindito Post author

    Itu juga relatif. Tapi satu halaman kupikir adalah jumlah yg paling minimal. Jangan sampai satu bab terdiri dari setengah halaman, hahaha….

    Nggak papa, Marta, silakan tanya2 lg. Asalkan relevan.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.