About

Warung Fiksi (or Wufi) is a professional team of creative writers based in Surabaya, Indonesia. It offers ghostwriting, copywriting, and scriptwriting services, as well as translating, editing, digital or physical publishing, and web creating solutions. Please visit our homepage to see detailed services.

The blog was founded in 2007 by Brahmanto Anindito, Moch. Asrori, Ihsan Maulana, and Rie Yanti. But since 2008 when Warung Fiksi started to handle professional writings, it’s owned and managed by Brahm and Rie.

BrahmBrahmanto Anindito is a Communication Studies scholar from Airlangga University. His articles and works of fiction have been published in media outlets that include Intisari, Hai, Cinemags, Mossaik, Nurul Hayat, Clea, Jawa Pos, Surya, Bangka Pos, Padang Ekspres, Radar Bojonegoro, etc. Brahm has also published books, including Semanyun Senyuman Mahasiswa (Lulu), Pemuja Oksigen (Jaring Pena), Satin Merah (GagasMedia), Rahasia Sunyi (GagasMedia), Tiga Sandera Terakhir (Noura Books), as well as the game Revival of Queen Leyak (DEVGRU-P). In 2002, he won first place in the Scientific Writing Competition for university students held by Atma Jaya Catholic University, Jakarta. In 2003, the Korean Embassy and Indonesian National Education Service picked him as the third-place winner of the Essay Writing Competition about Korea. In 2009, Kompas chose him as the first-place winner of the #IndonesiaUnite Blogger Competition. In 2012, Deutsche Welle invited and fully funded him to go to the DW Global Media Forum in Bonn, Germany, as a blogger. Brahm was previously a journalist for a lifestyle magazine, an editor for a business magazine, and a copywriter for an integrated marketing communication company.

RieRie Yanti has a bachelor’s degree from Padjadjaran University in French Literature Studies. She has been writing since her childhood and has produced both short stories and poetry. Rie loves writing about animals and small things that happen in her life. She has published three books, Satin Merah (GagasMedia 2010), Bukan Manusia (Lulu 2011), and game Precious Time (Nusa Project 2017).

Warung Fiksi now has more writers to handle the growing need for texts in this industry. Its clients don’t only come from Surabaya, but also from many other cities in Indonesia, as well as from Singapore, Malaysia, Australia, and the U.S.

In Warung Fiksi, we all believes everything begins with the texts. So the words first, then everything you can imagine.

About the Blog

WarungFiksi.net a.k.a. WufiNet shares things about Indonesian culture, nature, and creatures. Why Indonesia? Because, first, the writers are Indonesians. And second, there are literally tons of stories that can be dug out of Indonesia. For instance…

  • The Komodo monster, the world’s largest carnivore lizard that is frequently featured by Hollywood filmmakers, is an Indonesian native dragon.
  • The Indonesian jungle is inhabited by pygmy tarsiers, the smallest primate in the world, with a size as tiny as a mouse.
  • Two of the biggest species of flower on the planet, Titan Arum and Rafflesia arnoldii, grow deep in the Indonesian forest.
  • Borobudur, in Central Java, is the largest Buddhist temple in the world.
  • Indonesia has about 17,500 islands, with 300 ethnicities of people who speak 750 local languages. Each of them retain their cultural mysteries and political intrigues.
  • As well as many more interesting facts.

Sometimes, Wufi also analyzes Indonesian fiction, trends, and topics related to the motivation of writing. For the rest, please explore this blog yourself. Make yourself at home.

And if you have question or feedback, don’t hesitate to write it down on the comment box.

229 Replies to “About”

  1. Muljo

    bagaimana kalau aku kirim tulisan ke sini dulu biar dikomen para pakar di sini sebelum dikirim ke media cetak, atau malah kalau redakturnya juga suka mampir and ikut baca di sini, malah ngga dimuat, ketahuan amatir he he he….

    Reply
  2. Brahmanto Anindito Post author

    Wah wah wah, tiap media punya standar berbeda lho. Jd saranku, langsung kirim aja ke media yg diincar. Nanti kan kalau ditolak ada catatan kecil. Pelajari dari catatan itu aja. Lalu kirim lg yg lbh sesuai dg kemauan mereka.

    Reply
  3. dian

    assalamu’alaikum…
    halo kakak2 wf(warung fiksi-red) hoho
    salam kenal
    tulisannya keren euy
    btw, bole usul teu di web ini diberi link lomba menulis
    hoho
    trims
    wassalamu’alaikum
    ^_^

    Reply
  4. Windri Arini

    salam,

    salam kenal mas brahm.

    senang sekali rasanya bisa mampir di wufi ini.
    saya juga senang sekali bisa ikut andil dalam bagian untaian Pemuja Oksigen mas Brahm.

    terus berkarya!!

    tabik!!
    windri

    Reply
  5. Windri Arini

    selamat pagi. saya berkunjung lagi…
    -sesuai permintaan mas Brahm :)))-

    Pemuja Oksigen sudah selesai edit, cover pun juga sudah di desain.
    kapan ada waktu mampir JePe?

    saya tunggu. Terima kasih.

    salam

    Reply
  6. Ainun M

    Salam buat tuan rumah warung fiksi,
    Dah hampir setahun menimba ilmu diblog ini, bermanfaat banget,
    thx mas Brahm dkk.

    Selama mengikuti dunia perfiksian (novel), aku sering lihat banyak sekali novel yg bagus, tapi setelah aku lihat tanggal cetakkan pertamanya, novel itu dah 4-5 tahun lalu dicetak, dan aku baru tahu kalau novel itu ternyata sudah lama lahir. Gak tahu aku yang kuper atau memang publikasi yang kurang terhadap novel-novel tersebut (kayaknya 99,9 % sih aku yang kuper). Nah, melihat konteks ini, bisa gak mas brahm menuliskan sebuah ulasan tentang strategi-strategi yang mungkin dilakukan untuk mempublikasikan sebuah novel, agar novel itu masyhur. Strategi yang biasa dilakukan oleh novelis-novelis sukses atau strategi yang biasa dilakukan oleh penerbit atau distributor besar. Misalnya launcing perdana, itu menjadi tanggung jawab siapa & bagaimana melakukannya, media ads dan sebagainya. Artinya seluk-beluk bagaimana biar sebuah novel itu bisa dikenal khalayak ramai, dan siapa yang wajib terlibat atas kesuksesan itu. duh, maaf yah panjang banget… 🙂

    Salam untuk semua, sukses selalu

    Reply
  7. Brahmanto Anindito Post author

    Wah, menimba ilmu kok diam2, Nun. Kan lbh enak diskusinya.

    Tp saran2mu mantap. Marketing. Selama ini memang di Wufi kebanyakan bahas proses kreatif. Lain kali marketingnya deh, karena marketing ini lbh menegangkan dan sulit dibandingkan produksinya sendiri. Di lain pihak, ia tak kalah mengasyikkannya.

    Trims!

    Reply
  8. Brahmanto Anindito Post author

    Iya nih, Ndi. Ya untungnya aku penulis profesional, jd per bulan msh ada pemasukan beberapa juta dari tulisan. Coba kalau ngandalin dari novel doang, wuah, nggak tahu deh.

    Reply
  9. andi

    iya,,,aq udh banyk nulis tp kayaknya ga layak di publish..hancur semua…mash belum terlatih..padahal kata temen2 aku “tukang tulis” tapi aq ga pede..amatiran yang berkabung karena prosa yang dibuat berkarat dan menyebabkan ngantuk..hmmm, oia, salam kenal ya,aq boleh kan sharing/minta pendapat ama yd udah pro…

    Reply
  10. Brahmanto Anindito Post author

    Kalau saranku sih singkat aja: teruslah nulis buat diterbitkan, tp cari jg pemasukan yg rutin (entah dari nulis atau lainnya). Ini akan menjaga skill penulisan kita agar ttp tajam, tp mulut jg ttp bisa makan enak 🙂

    Salam kenal jg ya.

    Reply
  11. Ainun M

    Halo mas brahm,
    Mohon izin ganggu lagi sedikit. masih penasaran sama perihal penerbitan. sering kita temui di dalam sebuah buku (novel) ada ucapan seperti setelah pengantar, ucapan terimakasih untuk orang-orang tercinta atau kata2 mutiara/semboyan hidup.

    Nah pertanyaannya, tulisan2 yang aku maksud di atas itu, dituliskan bersama-sama draft waktu akan di tawarkan ke penerbit atau nanti bersifat additional kalau tulisan seseorang sudah disetujui akan diterbitkan oleh penerbit…?

    Paham ya kira-kira mas Brahm maksud ainun? Oh iya, gak masalahkan kalau bertanya2 seperti ini lewat fasilitas guestbook ini?

    Salam

    Reply
  12. Brahmanto Anindito Post author

    Sebaiknya setelah setuju diterbitkan aja. Editor kan hanya tertarik pd ceritamu, dan nggak punya waktu buat baca2 yg selain itu. Jangankan editor, dosen pembimbing skripsi aja males baca hal2 yg suplementer gitu. Jd ingat dosenku dulu mewanti2, “Kalian nggak usah repot2 bikin ucapan terima kasih segala! Disetujui maju sidang aja belum tentu kok.”

    Kalau pengarang belum2 udah menyertakan halaman tambahan yg dikirim ke penerbit, itu sama aja dg aktris yg udah nyiapin pidato di atas podium Oscar, padahal dia dinominasikan aja belum (apalagi menang sampai diberi waktu berpidato di atas podium).

    Reply
  13. rini

    salam kenal..
    aku pernah liat ada lomba nulis novel yang batas akhirnya bulan september 2010 dan akan diumumkan awal tahun 2011. ajang ini juga bisa digunakan sebagai unjuk kebolehan bagi penulis pemula… apa benar? mohon detailnya ya?

    Reply
  14. aris

    oh iya, waktu itu wufi pernah ada artikel yang bahas search engine buat nyari info2 perfiksian kan? (kalo ga salah, saya lupa)

    dimana tuh?

    Reply
  15. Rie

    Mau-mau aja. Sekalian sama kawatnya, mau kujadiin behel. Kapan mau dikirim? *awas kalo minta bantuan nyi bawel itu atau aku takut2in sama hantu tanpa kepala*

    Reply
  16. Brahmanto Anindito Post author

    Bener tuh si Mbak Rie. Nggak ada yg ringan, Ris. Tp semua mudah dipahami kok, kan pakai bahasa sehari2. Aku sih merekomendasikan Pemuja Oksigen (hohoho). Tp kamu mending baca2 sinopsis/ulasan-nya masing2 dulu deh, mana yg sesuai seleramu.

    Reply
  17. Rie

    Betul, betul, betullll. Baca reviewnya di blogku. Hehehe.

    Brahm, aku nggak tega ngebiarin kamu sibuk gitu. Aku bantu deh. Lg nulis buat Wufinet nih. Moga2 bisa dua.

    Reply
  18. 'Ne

    salam..
    saya tahu blog ini dari Mbak Rie..
    wah ternyata ada yang semacam ini ya.. saya juga suka nulis dan belajar sambil ngeblog. apakah tulisan2 di WuFi itu kumpulan dari orang2 lain? thx..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *