Upaya Hanung Bramantyo Membumikan Cerita Ayat-ayat Cinta

Wuah, akhirnya! Jadi juga menonton Ayat-ayat Cinta.

Di media novel, kehebatan kisah karya Habiburrahman El Shirazy ini terfasilitasi oleh kesempatan seluas-luasnya pengarang untuk bertutur detail. Sementara di filmnya, kedahsyatan cerita ini terfasilitasi oleh efek audio serta visualisasi yang memanjakan mata. Mana yang lebih saya rekomendasikan? Tidak salah satunya. Saya merekomendasikan dua-duanya. Karena, baik novelnya maupun filmnya, sama-sama membuat saya merinding.

Sekedar mengingatkan, Ayat-ayat Cinta bertutur tentang jatuh-bangun hidup Fahri bin Abdullah Shiddiq, pemuda dari Indonesia yang menyelesaikan S2-nya di Universitas Al Ahzar, Mesir. Di sana Fahri menemui banyak tantangan, mulai dari masalah keuangan, kehidupan bertetangga, kesehatan, sampai urusan cinta. Satu per satu tantangan tersebut diselesaikannya dengan cara yang islami.

Entah sengaja atau tidak, Fahri digambarkan oleh sang novelis dengan begitu sempurna: Cerdas, bijak, baik hati, sporty (suka main sepakbola), tampan, romantis, dan … dekat dengan Tuhan. Yang menarik, kedekatan Fahri dengan Tuhan ini tidak hanya diklaim orang-orang sekelilingnya, melainkan juga dirinya sendiri.

Ingatkah Anda pada adegan novel ketika Fahri bermimpi bertemu dan berdialog dengan Abdullah bin Mas’ud (halaman 181, bab 14)? Fahri mendiskusikan mushaf Utsmani dengan tokoh yang sudah meninggal itu dalam mimpinya. Keesokan harinya, datanglah Syaikh Utsman, guru Fahri, yang mengafirmasi kehadiran Abdullah radhiyallahu anhu dalam mimpi mereka. Fahri akhirnya bernarasi (karena ini novel dengan sudut pandang orang pertama) di halaman 185 bab 15, “Jawaban singkat Syaikh Utsman menyadarkan diriku akan kekuatan mimpi orang-orang soleh yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala.” Suka atau tidak, narasi tersebut menyiratkan bahwa tokoh Fahri sendiri menganggap dirinya soleh dan dicintai Allah.

Kesempurnaan demi kesempurnaan itulah yang coba “dibelokkan” di dalam adaptasi produksi MD Pictures ini. Di tangan sang sutradara (Hanung Bramantyo) serta penulis skenario (Salman Aristo dan Ginatri S. Noer), tokoh Ayat-ayat Cinta menjadi lebih manusiawi. Lebih membumi. Fahri jadi peragu, rapuh, bisa meledak, tidak selalu beruntung. Tokoh Aisha jadi pecemburu, suka bertindak sepihak, bahkan membantah suaminya.

Hanung menjelaskan semuanya melalui blog Friendsternya, “Di novel, saya mendapatkan kesan Fahri seorang jagoan, seorang nabi yang sedang memberikan wejangan pada umatnya. Saya tidak bisa membayangkan jika itu difilmkan. Pasti jadinya seperti sinetron religius yang berisi ceramah-ceramah verbal. Film adalah bahasa visual, karena itu saya menghindari verbalitas.”

Tapi rupanya keputusan Hanung mengecewakan penggemar novel atau cerbung (sewaktu masih dimuat di Harian Republika) Kang Abik—panggilan akrab Habiburrahman. Dilihat dari kualitas dakwah yang ingin disampaikan, film Ayat-ayat Cinta memang merupakan kemunduran dibandingkan novelnya. Namun dari segi kuantitas, saya kira filmnya akan menjangkau khalayak yang lebih luas. Tetap religius, tapi inklusif.

“Bagi saya, religius adalah ketika manusia berada dalam kesadaran penuh atas ketidaksempurnaannya. Ketidaksempurnaan itu membuat manusia merasa dirinya tolol, merunduk, bersujud dan … bertawakal. Saya merasa pada saat difitnah, Fahri menjadi tokoh yang sangat saya cintai. Sebelumnya, Fahri adalah malaikat. Fahri adalah lelaki sempurna yang menurut saya tidak ada di dunia ini. Sekalipun Kang Abik bilang sosok Fahri banyak kita temui di Kairo, saya tetap tidak percaya. Saya memang melihat banyak Fahri di sana: Orang dengan pengetahuan agama Islam tinggi, rendah hati, pejuang hidup, sederhana dan pintar. Keraguan saya bertambah ketika tahu Fahri ternyata dicintai oleh empat gadis cantik dengan karakteristik berbeda: Maria, Nurul, Noura, dan Aisha yang keturunan Jerman-Turki-Palsetina. Aisha kaya raya, setia, pintar, solehah, bahkan rela suaminya berpoligami. Sungguh, saya tidak tahan melihat sosok Fahri yang tanpa cacat itu,” terang peraih Piala Citra 2004 dan 2007 untuk kategori Sutradara Terbaik ini.

Kutak-katik tokoh, alur dan treatment pun dilakukan. Dan segera menjadi bumerang, khususnya di mata penggemar Habiburrahman. Beberapa fans Ayat-ayat Cinta versi cetak menganggap Hanung terlalu bebas mengadaptasi novel best seller ini.

Tapi bukankah ekranisasi dari dulu tidak harus 100% patuh pada novel? Ada bagian yang ditambahi, dikurangi, dipertahankan, dibelokkan, dipertajam. Itu lumrah, terserah sineasnya. Sama seperti novelisasi film. Tidak harus persis filmnya. Coba tonton ekranisasi Laskar Pelangi. Atau baca Naga Bonar Jadi 2 versi Akmal Nasery Basral. Tidak sama dengan film besutan Deddy Mizwar, bukan? Beberapa sudut pandang dihilangkan, sebagian lagi diperkaya. Tidak ada masalah. Malah menuai pujian di sana-sini.

Justru karya adaptasi yang setia pada karya media sebelumnyalah yang saya pikir tidak menarik. Contohnya beberapa novel yang diadaptasi dari film-film popcorn Indonesia tahun-tahun belakangan ini yang membuat konsumen bergumam, “Udah nonton filmnya, ngapain juga beli novelnya. Toh isinya sama persis.” Dalam adaptasi, modifikasi kreatif memang diperlukan.

Nah, lantas apakah modifikasi kreatif film Ayat-ayat Cinta sesuai selera sebagian besar konsumen atau tidak, itu lain masalah. Semua orang berhak menilai. Saya sendiri kecewa pada beberapa bagian di film bersetting Mesir tapi syuting di India ini yang menurut saya kurang islami. Tapi itulah produk massal. Mustahil semua konsumen terpuaskan.

Yang jelas, apapun hujatan-kritik-caci maki orang-orang di luar sana terhadap film Ayat-ayat Cinta, saya tetap menghargai usaha Hanung Bramantyo dalam mempersembahkan sisi religiusitasnya. Dengar-dengar, mulai dari proses produksi (syuting) sampai gala premiere, timnya terus-terusan mengalami kesialan.

Sudah begitu, sampai di Indonesia, filmnya dibajak pula! Banyak yang mengunduh fail bajakannya atau mengopi DVD ilegalnya, untuk kemudian di-share lagi. Yang lebih menyedihkan, sebagian melakukan itu bukannya buat menikmati karya besar sutradara kenamaan Indonesia ini, mereka menonton bajakannya hanya supaya punya energi berlimpah untuk berteriak, “Film ini tidak islami seperti novelnya!!!”

Tapi itu masih sopan. Bila Anda punya waktu, silakan blogwalking mencari hujatan-hujatan yang jauh lebih “mengerikan” terhadap film yang diproduseri Dhamoo dan Manoj Punjabi ini.

Kalau sekedar mengungkapkan kekecewaannya di blog pribadi, itu wajar (siapapun berhak beropini). Kalau sekedar mendikte-dikte sineas tentang bagian mana yang seharusnya ada dan yang mestinya tidak ada, bagaimana harusnya setiap tokoh ditampilkan … itu juga wajar (namanya kritikus ya gitu itu sejak dulu).

Namun yang bikin saya miris, ada yang mencerca film Ayat-ayat Cinta (bahkan mengumpat pribadi sutradaranya) dengan kata-kata yang pastinya tidak islami. Ada yang menyamakan karya ini dengan karya orang-orang kafir. Ada yang berkampanye supaya jangan pergi ke bioskop (“Kalau bener-bener penasaran, tonton aja bajakannya!” kurang-lebih demikian himbauan mereka).

Saya yang tidak ikut punya film saja turut sakit hati membaca tulisan-tulisan sangar itu. Apalagi tim film Ayat-ayat Cinta. Yah, semoga mereka diberi ketabahan sebagaimana tokoh Fahri tatkala difitnah dengan sadis.

Eh, ngomong-ngomong, terima kasih ya sudah mewarnai bioskop-bioskop di Indonesia dengan karya yang islami.

62 comments for “Upaya Hanung Bramantyo Membumikan Cerita Ayat-ayat Cinta

  1. May 5, 2008 at 09:24

    iabh,ayat-ayat cinta buages banged!meski gag sama ma novelnya tapi patut diacungi jempol coz keren.n buwad para pembajak,silahkan aja Xan bergembira bud inged Allah bakal bales louch

  2. noora
    May 20, 2008 at 05:49

    I just finished watching AAC. I am appalled that a movie with such a stupid storyline which projects women as either a liar (Noora), a compromising housewife (Aisha), a weak-hearted fool who would rather die than live when her love chooses to marry for money (Maria), and a wishful student who would rather stare at a picture than bloom as a woman (Nurul) can be so popular in Indonesia. Aisha actually has more heroic qualities than Fahri, yet she consented to share the love of that mediocre man with someone else. Maria is actually more intelligent than Fahri, yet she wanted to die when such a mediocre man decides to marry for money. And I don’t want to bother with Nurul and Noora as the two “N’s” represent women in a state of poor spiritual development and not very interesting. At least, Nurul’s character wasn’t fully developed in the film. And what is so special about this Fahri? He marries for money, tells another woman that he loves her after his loving wife rescued him from prison, needs help from a woman to fix his computer, uses his wife’s money for his apartment and brought another woman to live there with them, started crying when Al-Azhar decided to throw him out (as if his worth depends on a stupid university degree as opposed to the depth of his own heart). In fact being in that prison was a blessing for him because he actually met a fellow prisoner who knew more about Islam’s teaching of faith, patience, and egolessness than the sought-after, weak-hearted Fahri. WOMEN – WAKE UP!!! Don’t you know you are being brainwashed? And Men – do the women in the film represent how you want your daughters and your sisters to aspire to be?

  3. May 22, 2008 at 03:34

    Noora, thanks for coming and commenting. However, with your opinion, I guess you didn’t read my article above. Either, you didn’t Ayat-ayat Cinta the novel. Though this movie stands independently, separated from the novel, reading it will help you comprehend its story better.

    Are Maria & Aisha more intelligent than Fahri? Is Fahri married for money? Noora, please watch this movie again, attentively. Yeah, Fahri tells another woman that he loves her, but there was chain of raison d’être before. You might be missed that part.

    I agree with you. These four characters represent the weakness of woman gender. But I think it’s useless to try mixing Islam with feminist values. You’re using feminist approach. On the other hand, the author used Islam approach. Here’s my best suggestion: Let’s appreciate each others.

  4. May 30, 2008 at 12:17

    alhamdulillah.. setelah menanti sekian lama akhirnya saya bisa menonton filmnya..

  5. July 1, 2008 at 15:26

    Alhamdulillah, saya menonton 2 kali filem ini di panggung. Filem yang sangat bagus dan hampir membuatkan saya mengalir air mata.
    Namun mungkin promosi yang kurang di Malaysia menyebabkan filem ini kurang mendapat sambutan. Sesiapa yang keluar dari panggung wayang pastinya memuji filem yang hebat ini.

    Syabas!!!

  6. tesya
    July 3, 2008 at 06:11

    allow nma qu tesya…
    qu mw nanya dvd ayat ayat cinta kapan keluar??? aku gak sabar nie nnngunya…
    dalam film aac ini yg pling aku suka adalah sifat sabar, bijaksana, adil aisha dalam rumah tangga…
    dan selain itu film ini mengharukan lho..
    dan aku banyak belajar dari aisha*(rianti cartwright)
    thanks ^_^

  7. July 4, 2008 at 08:37

    Allo, Izzo dan Tesya. Oh, di Malaysia sudah di-screening (dan tak begitu booming) ya. Di sini 3 jutaan penonton. Yah, mungkin MD Picture kurang promosi di negeri Pak Cik. Sayang sekali.

    Wah, Tesya DVD-nya ya mene ketehe lah. Biasanya sih paling lama setengah thn setelah berhenti diputer di bioskop. Btw, Aisha dlm novelnya lbh sabar lho.

  8. iNDra
    October 31, 2008 at 16:16

    lam knl mas hanung…
    mas sy mau bljr dong gmn crnya mnls naskah tv,pkknya yang b’HBngn dgn dunia bRoadcastiNG….dR tehnik kamera,penyutRAdaraan,buat film indie, pkknya bnyk mau tau mas hanung…sy mahaSISwa BRoadcasting yg prl bnyk bljr,email sy mas hanung minoutaur_p@yahoo.co.id mnt email mas hanung ya…sy mau tnya2…TQ. sukses truz mas hanung tuk kry2 nya

  9. penggemar setia aac
    June 1, 2010 at 17:05

    aq sangat suka buuuannget filmnya aac, tapi yang kurang aku puas adalah ketika filmnya sudah di edit, untuk warna di acungi jempol karena editot vid biasa gak bakalan bisa seperti itu,hehe…tapi yang aku sayangkan kenapa suara pemainnya nggak sama yang belum di edit???apalagi adegan sungai nil,yang belum di edit menyentuuuuuuuuuuuh bgt bisa membawa kita seperti di alam mesir di sore hari,tp stlh di edit jd kok malah jelek menurut aku,jadi kebawa keindia aslinya dan juga waktu maria duduk di kursi roda sambil membuka diary nya,sebelum di edit rasanya pengen nangis,tp stlh di edit sound effectnya jd k bawa lagi ke india

  10. penggemar setia aac
    June 1, 2010 at 17:09

    oh ya satu lagi harusnya gambar al-azharnya di ganti yang laen yang lebih kelihatan kayak di mesir,anddd plus stlh di edit adalah waktu gambar kairo waktu panas dan di selingi aac guitar and piano,menyentuuuuuuuuuuuh bgt

  11. mega
    July 20, 2010 at 10:52

    buat om hanung aku ngefans banget ma karya2 om,,,ak pengen jdi kayak om,,,seorang sutradara yang handal,hebat,dan trkenal….
    kalau boleh tau dlu om ambil sekolah apa???????

  12. April 26, 2011 at 20:14

    mmmm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge