Tired of Mainstreams? Make Your Own Web Series

A web series called CybergeddonThe numbers of creative people are growing rapidly. Meanwhile, the opportunities aren’t increasing that fast. A lot of talented people have difficulty to access, for instance, television stations or production houses to drain their creativity.

What to do, then? I think, with a legacy of Internet’s nature, this is where a web series gives solution. A web series is a series of video released on the Internet. It also means by cellular phone and web television. A web series is given the nature of online viewership. A webisode tends to run 2-10 minutes, with an entire season, averaging 60-90 minutes in total.

Producing and distributing a web series is cheaper than those in traditional media. Furthermore, it allows you to reach a potentially global audience who can access your shows 24 hours a day. Everyone can produce a web series, from amateur to professional filmmakers. As long as your product is unique (one quality that netizen really loves), you can grab some loyal audience here.

So, let’s stop whining about opportunity in mainstream media. Show your true colors through the web series.

* * *

Bulan lalu, setiap kali sign in atau sign out dari Yahoo!Mail, iklan Cybergeddon sering tampil. Saya kira itu iklan produk Hollywood biasa, jadi saya tidak tergoda untuk meresponnya. Namun seiring kerapnya penayangan iklan itu, lama-lama saya penasaran juga. Saya klik. Ternyata, saya diantar ke situs dari sebuah film thriller tentang kiamat cyber yang diproduksi Yahoo! dan Norton Symantec. Seru juga web series itu.

Eh, tahu web series kan? Web series (nama lainnya web show, online series, web television atau episodic digital) adalah serial video, baik fiksi maupun nonfiksi, yang dirilis untuk dinikmati melalui internet. Setiap webisode-nya terdiri dari 2-10 menit. Sengaja dibuat pendek-pendek begitu untuk menyesuaikan karakter netizen yang dinamis dan tidak suka berlama-lama.

Web series ada sejak 1995, dipelopori oleh The Spot (Scott Zakarin). Sayang, di Indonesia, pembuat web series belum sebanyak di luar. Barangkali karena jaringan internet kita belum berkualitas dan masih mahal. Tapi saya percaya, tidak lama lagi web series akan menjadi tren di sini.

Bayangkan, tayangan televisi kita semakin seragam, sementara jumlah orang kreatif kian membludak sejalan pertambahan penduduk. Maka saat pertelevisian dan perfilman dikuasai penganut aliran mainstream, kemana lagi orang-orang “gila” itu menyalurkan hajat kreatifnya selain lewat internet?

Semua boleh berkarya di internet! Maka web series pun menjadi media yang demokratis dibanding media-media tradisional yang terasa birokratis dan aristokratis. Selain itu, segmen web series bisa sangat luas (lintas negara), distribusinya mudah dan murah (bisa lewat YouTube, Vimeo, Blip, dsb), pun bisa dinikmati di mana-mana: PC, netbook, komputer tablet, ponsel, bahkan juga di TV bila ada stasiun televisi yang tertarik menayangkannya.

Jenis-jenis tayangan web series ini kan sebenarnya mirip dengan variasi tayangan di stasiun TV. Ada tiga bentuk web series, setidaknya:

  • Entertainment. Contohnya seperti Cybergeddon tadi, atau Jalan-jalan Men! di MalesBanget.com (program travel yang menurut saya kreatif).
  • Promo. Web series bukan iklan, setidaknya bukan iklan yang hard selling. Selalu sisipkan informasi dan unsur human interest. Misalnya, akan ada reuni akbar dan Anda berencana membuat web series sebagai salah satu sarana promosinya. Ceritakan saja, di satu webisode, perbedaan mencolok sekolah Anda dulu dan sekarang. Di webisode selanjutnya, tampilkan guru-guru Anda, juga profil teman-teman yang dulu pendiam atau bandel, sekarang mereka jadi apa? Di webisode berikutnya, gambarkan keseruan apa yang telah disiapkan untuk reuni ini. Dan seterusnya.
  • Education. Tujuannya adalah mendidik. Matt Cutts secara periodik merilis web series untuk menginformasikan kebijakan-kebijakan baru Google. Asal mengemasnya bagus, web series semacam ini akan ditunggu-tunggu kemunculan setiap webisode-nya.

Ketiga bentuk itu bisa juga dikombinasikan. Umpamanya, web series berbentuk entertainment sekaligus education. Sewaktu membolang ke Jerman, saya sempat menghadiri diskusi panel dari Shirin Kasraeian-Moghaddam, kreator Jojo sucht das Glück. Ini adalah sebuah web series bergenre telenovela yang berisi pelajaran bahasa Jerman. Dengan konsep edutainment, Jojo Mencari Kebahagiaan (terjemahan dari Jojo sucht das Glück) sekarang berhasil menjaring 5 juta penonton tiap bulannya.

Menarik, bukan? Ingin membuat web series versi Anda? Bagus… Sebenarnya, membuat web series sama dengan membuat film biasa. Bedanya, ada beberapa hal yang perlu diingat:

  1. 15 Seconds Rule. Menurut YouTube Creator Playbook, penonton akan memutuskan terus menonton atau tidak dalam 15 detik pertama. Jika tidak segera ditemukan alasan untuk melanjutkan, mereka akan menutup window dari web series Anda.
  2. Originality. Audiens online cenderung menghargai keunikan. Takkan ada Shinta-Jojo atau Briptu Norman kedua. Yang kedua pasti jauh tidak sesukses yang pertama, karena sudah tidak unik lagi. Di Amerika, beberapa web video production terpaksa gulung tikar lantaran mencoba mengusung apa yang ada di televisi ke internet. Coba bayangkan, kalau seseorang memindah sinetron ke internet, apa bakal banyak yang menonton?
  3. Audience. Menurut Felicia Day (penulis dan bintang web series The Guild), Anda harus bisa menjawab dengan cepat dua pertanyaan. Pertama, deskripsikan orang-orang seperti apa yang suka dengan video Anda. Kedua, sebutkan lima tempat online yang biasa mereka kunjungi.
  4. Story. Apa yang mau Anda ceritakan? Bagaimana cara menceritakannya? Apa tujuan Anda membuat cerita ini?
  5. Production. Anda bisa membuat sebuah web series berbekal kamera ponsel dan beberapa teman. Tapi bila ingin hasil yang lebih bagus, tentu peralatannya harus profesional. Jangan lupa pula untuk menyewa orang-orang profesional, termasuk penulis skenarionya 🙂
  6. Marketing. Produk terbaik di dunia pun kalau tidak dipasarkan takkan laku. Dalam hal web series, marketing ini bisa berarti SEO (Search Engine Optimization), membangun komunitas (misalnya menjalin hubungan baik dengan bloggers, reviewer, atau komunitas-komunitas offline), mengefektifkan peran social media, memanfaatkan tempat yang sudah terbukti memiliki umat (video-video YouTube ditonton sekitar 2 milyar kali per hari), serta aktif berpromosi.

Nah, mulai sekarang, jangan banyak mengeluh soal sinetron yang mendominasi tayangan televisi atau film horor yang masih bergentayangan di bioskop-bioskop. Anda tidak suka? Jangan tonton. Buatlah sendiri tayangan kreatif Anda melalui web series. Setuju?

6 Replies to “Tired of Mainstreams? Make Your Own Web Series”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge