The Strongest Reason to Write

Strongest-Reason-of-WritingOne always has a reason behind thing she does. So do the writers when write. I myself write simply because I want to write. That’s all. You may say, it’s a shallow reason. But I think otherwise. Let me use the love analog. If a woman ask her man, “Why do you love me?”, and he reply, “Because you’re gorgeous, rich, smart,” do you believe that’s a good answer?

Well, I don’t. Why? If you love your woman due to that, once she is no longer rich (for instance, because her business is ruined) or suddenly not gorgeous anymore (for example by a car accident), you’re done! That’s where your relationship ends.

Conversely, a man who sincerely loves her partner could be instead stammer and don’t know what to answer. Because, the love just came to him, and getting stronger without reason. Same as in the writing. When someone ask you why do you write, try not to make any reason. That’s true love. That’s the strongest reason.

* * *

Setiap orang punya alasan untuk melakukan sesuatu. Begitu juga penulis. Seseorang menjadi penulis dan menulis bisa karena berbagai hal: untuk menyampaikan gagasan, mengkritik, supaya beken, atau menambah penghasilan. Anda sendiri pasti punya kan? Coba, apa motivasi menulis Anda?

Kalau saya, sejak kecil saya suka melamun. Saya juga paling senang kalau guru Bahasa Indonesia memberi tugas mengarang. Karena dengan begitu saya punya wadah untuk menuangkan lamunan-lamunan saya tadi.

Nah, suatu hari, guru Sastra Indonesia SMA saya menyuruh kami membuat cerpen. Bukan main girangnya saya. Hasilnya, delivery over promise! Cerpen-cerpen hampir satu buku berhasil saya hasilkan! Saya memang gemar menulis.

Sayangnya, kegiatan tulis-menulis itu sempat terhenti saat saya kuliah. Padahal saya kuliah di Fakultas Sastra. Aneh ya? Sering sih menulis, tapi tidak didokumentasikan. Saya hanya mencorat-coret kertas ketika suntuk. Begitu mood saya bagus lagi, tulisan itu saya buang.

Baru setelah lulus kuliah saya memutuskan balik menulis, bahkan menjadi penulis. Tapi saya harus belajar dari nol. Dan kebanyakan secara otodidak. Tidak pernah saya memakai teori apapun. Saya belajar menulis ya dengan menulis.

Pun, bagi saya tidak penting pengklasifikasian tulisan seperti cerpen, puisi, esai, sketsa, dan lain-lain. Walaupun terkadang saya harus berkompromi. Jika saya mengincar penerbit mayor, misalnya, maka saya hanya bisa menulis cerpen, puisi, esai, atau novel.

Namun bila rencananya (self publish), maka saya bebas menentukan bentuk: cerpen yang lebih condong ke sketsa, esai yang mirip cerpen, dan sebagainya. Seperti itulah kebanyakan karya-karya saya.

Yang terbiasa dengan pengklasifikasian secara konvensional mungkin akan menganggap gaya penulisan saya aneh. Memang. Sering saya sendiri tak tahu tulisan saya pantasnya dimasukkan ke mana. Pasalnya, saya menulis bukan karena ingin dibilang cerpenis, novelis, esais, atau penyair. Saya menulis karena … pengen aja.

Justru itulah alasan terkuat saya dalam menulis!

Lihatlah. Jika seorang pria ditanya oleh pasangannya, “Kenapa kamu mencintaiku?” dan kemudian menjawab, “Karena kamu cantik, kaya, cerdas”, apakah itu alasan yang bagus? Saya pikir tidak. Karena begitu sang wanita mendadak tak kaya lagi (umpamanya karena bisnisnya tiarap) atau tiba-tiba tidak cantik lagi (misalnya gara-gara tabrakan), habislah raison d’être dari cinta tersebut. Habis pula hubungan itu.

Sebaliknya, pria yang dengan tulus mencintai pasangannya bisa saja malah gelagapan dan tidak tahu harus menjawab apa ketika ditanya “Kenapa kamu mencintaiku?” Sebab, rasa cintanya datang begitu saja, dan semakin lama semakin kuat tanpa teranalisis penyebabnya.

Dalam menulis pun demikian. Jika Anda ditanya kenapa menulis, cobalah untuk tidak mencari-cari alasan, apalagi alasan yang berkaitan dengan masalah ekonomi. Cobalah untuk berkata, “Saya menulis karena ingin menulis.” Percayalah, kelak Anda akan mendapatkan sesuatu yang melebihi harapan Anda.

11 Replies to “The Strongest Reason to Write”

  1. Brahmanto Anindito

    Ada fakta unik. Beberapa penulis yg kukenal, sebagaimana aku jg, punya benang merah: pas sekolah dulu tulisannya diragukan, maksudnya dituding memplagiat. Pdhl jelas2 itu karya kita.

    Di SD aku pernah diketawain guru pas nyerahin cerpen karyaku, “Ini ngarang sendiri? Bukannya dari majalah apa gitu?”. Teman2 yg nggak ngerti apa2 ttg bakat dan minatku ikutan sok tahu meragukan keaslian karyaku.

    Di SMP, puisiku pernah dicibir oleh guru, “Paling ini dibuatin kakakmu ya?” Apapun argumenku, pertanyaan itu diulang lg. Salah seorang teman yg ngerti proses kreatifku sampai ikut panas, “Tunjukin aja coret-coretanmu tadi, tunjukin!”

    Tp aku yg waktu itu msh pemalu males ribut. Cukup membatin, “Aku pasti tunjukin. Tp nanti, Pak. Setelah dewasa!”

    “Dendam” itulah the strongest reason to write versiku.

    Reply
  2. Rie

    Alhamdulillah, aku nggak pernah dituduh memplagiat karya orang. Lagian dari SD sampe SMA aku akur2 aja sama guru Bahasa Indonesia. Mungkin mereka punya sama dendam sama kamu, Brahm, makanya kamu kena tuduhan gitu. Atau kamu emang memplagiat? Wkwkwk…

    Anyway, sekarang dendammu sudah terpuaskan dong? Kan kamu udah jadi penulis. 🙂
    .-= Rie´s last blog ..Mama dan Pasar =-.

    Reply
  3. 'dee

    saya menulis untuk detoksifikasi 😀 melepaskan toksin- toksin dari pikiran dan jiwa… he he he… cuma saja saat dilepas biasanya saya ‘daur ulang’, agar tidak mengotori lingkungan, syukur2 kalau berguna… 😀 d.~

    Reply
  4. nasphie

    sama banget dengan saya,,suka sekali nulis,,dan sempet terhenti sampai sekarnag belum di teruskan lagi.
    kalau nyoba nulis malah berhenti di tengah jalan..:'(

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.