<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Terapi Sinema, Jauhkan Kita dari Negativitas dalam Hitungan Jam</title>
	<atom:link href="http://warungfiksi.net/terapi-sinema-jauhkan-kita-dari-negativitas-dalam-hitungan-jam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://warungfiksi.net/terapi-sinema-jauhkan-kita-dari-negativitas-dalam-hitungan-jam/</link>
	<description>copywriting &#124; ghostwriting &#124; scriptwriting &#124; about culture, nature and creature of Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 04:32:34 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Brahm</title>
		<link>http://warungfiksi.net/terapi-sinema-jauhkan-kita-dari-negativitas-dalam-hitungan-jam/comment-page-1/#comment-1097</link>
		<dc:creator>Brahm</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 01:46:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=183#comment-1097</guid>
		<description>Terima kasih, Pak Ryanto. Sebetulnya tulisan saya di atas bukan ttg LoA (Law of Attraction), melainkan ttg Terapi Sinema :P. Tp nggak papa deh. Saya tertarik jg menyampaikan opini. Btw, kok baru baca sekarang, Pak? Buku ini kan happeningnya sudah sejak 2 th lalu. Hehehe ....

Awalnya saya jg ragu dg Hukum Ketertarikan, krn saya ini otak kiri bgt. Segalanya dinilai dari logika. Spt Anda, kayaknya. Anda mungkin lbh banyak perlu otak kiri (analisis), misalnya, utk memutuskan sell atau buy saham atau valas (hehehe, saya jg pernah main di situ, Pak). Ditambah lg, saya sendiri blm pernah mengalami kejadian besar yg mewujud dari gambaran positif di otak saya, sebagaimana disarankan buku2 LoA. Kalau kejadian2 remeh (yg mendukung hukum ini) sih sering.

Tp yg bikin saya antusias adalah: Pertama, LoA sesuai dg semangat Wufi utk menghindari buang2 waktu mengkritik karya seni orang lain. Saya nggak bilang mengkritik itu buruk. Tp bukankah ktk mengkritik karya orang lain, kita hanya akan terjebak dalam kubangan negativitas!

Beberapa minggu silam, saya menonton acara motivasinya Mario Teguh di MetroTV. Kurang-lbh Pak Mario berpesan, “Jangan menekuni profesi yg berbasiskan kritikus.” Krn hidup kita nantinya akan tercurah untuk terus mencari2 kesalahan orang lain. “Alih2 begitu, jadikan hidup kita utk membesarkan orang lain,” imbuhnya.

Entah Pak Mario pendukung LoA atau bukan, saya menangkap kata2nya sbg perpanjangan tangan dari hukum tersebut. Intinya, mari buat lingkungan kita dipenuhi dg hawa positif.

Tak ada polisi atau KPK di ranah seni. Karya buruk bukanlah kriminal (kecuali isi karya tsb memang nyata2 mengajak pembaca/penonton melakukan tindakan kriminal/asusila). Jd, apakah Anda jengkel menonton/membaca karya buruk? Santai aja, lg. Nggak usah dibahas. Nggak usah ditulis. Salah2 malah jd populer tuh karya. “Pesan2 yg negatif tdk bermanfaat bg Anda,” tegas Rhonda Byrne dlm The Secret (halaman 163).

Alasan kedua kenapa saya mendukung LoA adalah krn ajarannya sesuai dg agama. Coba baca ulang The Secret (buku yg baru Anda baca judulnya itu, bukan?). Sekarang ganti semua kata “semesta” dg “Tuhan”. Anda akan mendapati betapa LoA ternyata khutbah agama yg biasa keluar-masuk telinga kita ^_^.

Brp lama kita diingatkan kalimat ini: “Tuhan di atas prasangka manusia.” Kalau manusia berprasangka Tuhan kejam, mk Tuhan semacam itulah yg dia rasakan sehari2. Sebaliknya, bl kita berprasangka Tuhan itu baik, mk sifat Tuhan itulah yg akan kita jumpai dlm keseharian.

Dlm Islam jg ada perintah utk mensyukuri nikmat. Jika kita bersyukur, nikmat itu akan ditambah (hal positif menarik hal2 positif lainnya). Sedangkan kalau kita mengingkari nikmat itu, maka celakalah kita (bahasa Alqurannya: “Sesungguhnya azab-Ku amat pedih.”). Dg kata lain, perasaan negatif (menyangkal nikmat) akan mendatangkan negativitas lainnya (azab).

LoA satu semangat dg agama (yg saya tahu): Kita dianjurkan selalu berterima kasih dan berprasangka baik thd apa yg kita alami. Teknik visualisasi yg disarankan tokoh2 LoA itu pun bisa dipandang sbg doa nonverbal kan.

Lalu Anda tanya, dimana logikanya? Wah, kalau urusannya iman, susah melogiskannya. Segala hal berbau logika akan runtuh di depan sesuatu yang berbau Tuhan. Krn Dia yg menciptakan logika, shg Dia enak saja memilih menggunakan logika atau justru bertindak tidak logis (di luar nalar manusia).

Jd kalau Anda memaksa mencari logikanya, ya saya nggak punya cara lain kecuali menunjukkan ayat2 Alquran ttg syukur, optimisme dlm berdoa, dan prasangka baik thd Tuhan. ^_^</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih, Pak Ryanto. Sebetulnya tulisan saya di atas bukan ttg LoA (Law of Attraction), melainkan ttg Terapi Sinema <img src='http://warungfiksi.net/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . Tp nggak papa deh. Saya tertarik jg menyampaikan opini. Btw, kok baru baca sekarang, Pak? Buku ini kan happeningnya sudah sejak 2 th lalu. Hehehe &#8230;.</p>
<p>Awalnya saya jg ragu dg Hukum Ketertarikan, krn saya ini otak kiri bgt. Segalanya dinilai dari logika. Spt Anda, kayaknya. Anda mungkin lbh banyak perlu otak kiri (analisis), misalnya, utk memutuskan sell atau buy saham atau valas (hehehe, saya jg pernah main di situ, Pak). Ditambah lg, saya sendiri blm pernah mengalami kejadian besar yg mewujud dari gambaran positif di otak saya, sebagaimana disarankan buku2 LoA. Kalau kejadian2 remeh (yg mendukung hukum ini) sih sering.</p>
<p>Tp yg bikin saya antusias adalah: Pertama, LoA sesuai dg semangat Wufi utk menghindari buang2 waktu mengkritik karya seni orang lain. Saya nggak bilang mengkritik itu buruk. Tp bukankah ktk mengkritik karya orang lain, kita hanya akan terjebak dalam kubangan negativitas!</p>
<p>Beberapa minggu silam, saya menonton acara motivasinya Mario Teguh di MetroTV. Kurang-lbh Pak Mario berpesan, “Jangan menekuni profesi yg berbasiskan kritikus.” Krn hidup kita nantinya akan tercurah untuk terus mencari2 kesalahan orang lain. “Alih2 begitu, jadikan hidup kita utk membesarkan orang lain,” imbuhnya.</p>
<p>Entah Pak Mario pendukung LoA atau bukan, saya menangkap kata2nya sbg perpanjangan tangan dari hukum tersebut. Intinya, mari buat lingkungan kita dipenuhi dg hawa positif.</p>
<p>Tak ada polisi atau KPK di ranah seni. Karya buruk bukanlah kriminal (kecuali isi karya tsb memang nyata2 mengajak pembaca/penonton melakukan tindakan kriminal/asusila). Jd, apakah Anda jengkel menonton/membaca karya buruk? Santai aja, lg. Nggak usah dibahas. Nggak usah ditulis. Salah2 malah jd populer tuh karya. “Pesan2 yg negatif tdk bermanfaat bg Anda,” tegas Rhonda Byrne dlm The Secret (halaman 163).</p>
<p>Alasan kedua kenapa saya mendukung LoA adalah krn ajarannya sesuai dg agama. Coba baca ulang The Secret (buku yg baru Anda baca judulnya itu, bukan?). Sekarang ganti semua kata “semesta” dg “Tuhan”. Anda akan mendapati betapa LoA ternyata khutbah agama yg biasa keluar-masuk telinga kita ^_^.</p>
<p>Brp lama kita diingatkan kalimat ini: “Tuhan di atas prasangka manusia.” Kalau manusia berprasangka Tuhan kejam, mk Tuhan semacam itulah yg dia rasakan sehari2. Sebaliknya, bl kita berprasangka Tuhan itu baik, mk sifat Tuhan itulah yg akan kita jumpai dlm keseharian.</p>
<p>Dlm Islam jg ada perintah utk mensyukuri nikmat. Jika kita bersyukur, nikmat itu akan ditambah (hal positif menarik hal2 positif lainnya). Sedangkan kalau kita mengingkari nikmat itu, maka celakalah kita (bahasa Alqurannya: “Sesungguhnya azab-Ku amat pedih.”). Dg kata lain, perasaan negatif (menyangkal nikmat) akan mendatangkan negativitas lainnya (azab).</p>
<p>LoA satu semangat dg agama (yg saya tahu): Kita dianjurkan selalu berterima kasih dan berprasangka baik thd apa yg kita alami. Teknik visualisasi yg disarankan tokoh2 LoA itu pun bisa dipandang sbg doa nonverbal kan.</p>
<p>Lalu Anda tanya, dimana logikanya? Wah, kalau urusannya iman, susah melogiskannya. Segala hal berbau logika akan runtuh di depan sesuatu yang berbau Tuhan. Krn Dia yg menciptakan logika, shg Dia enak saja memilih menggunakan logika atau justru bertindak tidak logis (di luar nalar manusia).</p>
<p>Jd kalau Anda memaksa mencari logikanya, ya saya nggak punya cara lain kecuali menunjukkan ayat2 Alquran ttg syukur, optimisme dlm berdoa, dan prasangka baik thd Tuhan. ^_^</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ryanto Alexander</title>
		<link>http://warungfiksi.net/terapi-sinema-jauhkan-kita-dari-negativitas-dalam-hitungan-jam/comment-page-1/#comment-1096</link>
		<dc:creator>Ryanto Alexander</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Oct 2008 12:23:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=183#comment-1096</guid>
		<description>Saya Ryanto, pegawai BEI. Akhir-akhir ini saya baru saja membaca buku &#039;Law Of Atraction&#039; karangan Rhonda Bryne. Saya terus terang terkejut dengan teori-teorinya yang menurut saya &#039;to good to be true&#039;, lalu saya coba cari pro-kontra nya diinternet. Lalu saya menemukan weblog ini.
Kalau boleh, saya ingin bertanya sekalian, Pak Bram Anda percaya hukum Law Of Attraction? Mengapa? Dimana logikanya? Tolong saya dijelaskan karena meskipun kadang-kadang saya juga mengalami contoh-contoh di buku itu, saya terus terang skeptis,
Sebelumnya, terima kasih. Weblognya bagus.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya Ryanto, pegawai BEI. Akhir-akhir ini saya baru saja membaca buku &#8216;Law Of Atraction&#8217; karangan Rhonda Bryne. Saya terus terang terkejut dengan teori-teorinya yang menurut saya &#8216;to good to be true&#8217;, lalu saya coba cari pro-kontra nya diinternet. Lalu saya menemukan weblog ini.<br />
Kalau boleh, saya ingin bertanya sekalian, Pak Bram Anda percaya hukum Law Of Attraction? Mengapa? Dimana logikanya? Tolong saya dijelaskan karena meskipun kadang-kadang saya juga mengalami contoh-contoh di buku itu, saya terus terang skeptis,<br />
Sebelumnya, terima kasih. Weblognya bagus.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Brahm</title>
		<link>http://warungfiksi.net/terapi-sinema-jauhkan-kita-dari-negativitas-dalam-hitungan-jam/comment-page-1/#comment-1093</link>
		<dc:creator>Brahm</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 10:07:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=183#comment-1093</guid>
		<description>Thx, Aleena. Aku nggak begitu mengikuti film2 Jim Carrey, jd nggak tahu :P. Tp kalau dulu memang dia full mbanyol (Ace of Ventura, Me Myself and Irene, bahkan di Batman &amp; Robin kalau nggak salah).

Hahaha, kenapa terapi ini nggak cocok dg sinetron. Pertama, sinetron itu berseri. Kedua, isi sinetron jarang sekali yg bermutu. Kamu pasti sedang pura2 nggak tahu ya? :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Thx, Aleena. Aku nggak begitu mengikuti film2 Jim Carrey, jd nggak tahu <img src='http://warungfiksi.net/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . Tp kalau dulu memang dia full mbanyol (Ace of Ventura, Me Myself and Irene, bahkan di Batman &amp; Robin kalau nggak salah).</p>
<p>Hahaha, kenapa terapi ini nggak cocok dg sinetron. Pertama, sinetron itu berseri. Kedua, isi sinetron jarang sekali yg bermutu. Kamu pasti sedang pura2 nggak tahu ya? <img src='http://warungfiksi.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Aleena</title>
		<link>http://warungfiksi.net/terapi-sinema-jauhkan-kita-dari-negativitas-dalam-hitungan-jam/comment-page-1/#comment-1094</link>
		<dc:creator>Aleena</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 05:51:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=183#comment-1094</guid>
		<description>Bram, kalo dipikir-pikir, sebenarnya sudah lama saya menjalankan terapi ini. Misalnya di saat patah hati, bersedih, bosan, ngambek, de el el. Tapi tidak tahu sedetil ini prosesnya. Sekarang setelah baca tulisan ini saya tahu.

Saya biasanya pakai film-film komedi. Film-filmnya Jim Carey. Tapi akhir-akhir ini Jim Carey film-filmnya serius ya? Hu&#039;uh.

Yang mau saya tanyakan, Bram, kenapa kamu bilang sinetron jangan?

Cheers
Aleena</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bram, kalo dipikir-pikir, sebenarnya sudah lama saya menjalankan terapi ini. Misalnya di saat patah hati, bersedih, bosan, ngambek, de el el. Tapi tidak tahu sedetil ini prosesnya. Sekarang setelah baca tulisan ini saya tahu.</p>
<p>Saya biasanya pakai film-film komedi. Film-filmnya Jim Carey. Tapi akhir-akhir ini Jim Carey film-filmnya serius ya? Hu&#8217;uh.</p>
<p>Yang mau saya tanyakan, Bram, kenapa kamu bilang sinetron jangan?</p>
<p>Cheers<br />
Aleena</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

