Seno Gumira Ajidarma

By: Mochammad Asrori

Penuh warna. Mungkin itulah frase yang bisa saya berikan untuk menggambarkan masa kecil Seno Gumira Ajidarma. Anak pertama dari dua bersaudara ini gemar sekali melawan aturan sekolah, sampai-sampai dia harus diskors dan dicap sebagai penyebab setiap kasus. Contohnya banyak, seperti mengajak teman-temannya tidak ikut kelas wajib koor di SD. Juga saat SMP, dia tidak mau memakai ikat pinggang, dan seenaknya mengeluarkan baju. Jika yang lain memakai baju putih, dia akan memakai batik. Jika yang lain berambut pendek, dia malah menggondrongkan rambutnya.

Sastrawan, fotografer, komikus dan kritikus film Indonesia yang biasa menggunakan tokoh Sukab dalam tulisan-tulisannya ini sedari kecil memang susah diatur. Rasanya pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya tidak berlaku lagi. Perangai Seno bertolak belakang sekali dengan ayahnya, Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo, guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Walau nilai untuk tiap pelajaran ilmu pasti saat di sekolah tidak jelek-jelek amat, Seno tak suka aljabar, ilmu ukur, dan berhitung.

Setelah lulus SMP, Seno pun enggan sekolah. Terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang Jerman Karl May, Seno mengembara selama tiga bulan. Berbekal surat jalan dari RT Bulaksumur yang gelarnya profesor doktor, dia menggelandang ke Jawa Barat hingga Sumatera. Ceritanya seru seperti di film-film: Menyeberang sungai, naik kuda dengan sepatu mocasin (model boot yang ada bulu-bulunya). Seno juga sempat jadi buruh pabrik kerupuk di Medan. Pernah, lantaran kehabisan ongkos, pria berbadan tinggi besar ini minta duit kepada ibunya. Tapi ibunya malah mengirim tiket untuk pulang. Ya sudah, Seno pulang, dan akhirnya meneruskan sekolah.

Seno sengaja memilih SMA yang boleh tidak pakai seragam sehingga dia bebas memakai celana jinsnya. Komunitas gaul yang dipilihnya pun bukan teman-teman di lingkungan elite rumah orangtuanya, perumahan dosen Bulaksumur. Tapi komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di Malioboro. Secara fisik, Seno memang tak ada bedanya dengan anak-anak itu. Yang tidak mengenalnya dekat pasti tidak tahu apa yang membedakan Seno dengan anak-anak itu: Seno remaja adalah seorang pembaca buku yang sangat lahap!

Meski tak bercita-cita menjadi penulis, di SMA tahun 1974, Seno mulai menulis. Dia mewajibkan dirinya menulis karena suka membaca. Seno terobsesi menguasai tulisan. Tertarik puisi-puisi mbeling-nya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Seno lalu tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison. Waktu itu usianya baru 17 tahun, namun pusinya sudah berhasil menembus majalah sastra Horison.

Kalau sekarang Seno jadi sastrawan, sebetulnya bukan itu mulanya. Awalnya, dia mau jadi seniman “biasa” yang bisa bahagia hidup apa adanya. Untuk itulah, walau tak mengerti tentang drama, dua tahun Seno ikut teater Alam pimpinan Azwar A.N. Menjadi seniman yang dia lihat tadinya bukan karya, namun Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut gondrong, dan beristri cantik. Namun begitu sadar seniman itu harus punya karya, barulah Seno mencoba berkarya dengan menulis cerpen dan esai.

Pada usia 19 tahun pria yang kadang-kadang menulis inisial SGA di karya-karyanya ini sudah bekerja menjadi wartawan koran. Awalnya karena Seno butuh uang untuk menikahi Ike. Dan memang kemudian mereka menikah. Di usia yang ke-20, anaknya, Timur Angin, lahir. Praktis, kesempurnaan hidup sudah direngkuhnya dalam usia 20 tahun. Di tahun itu juga pria kelahiran 19 Juni 1958 di Boston, Amerika Serikat ini masuk Institut Kesenian Jakarta, jurusan sinematografi.

Rupanya, walau berseberangan secara pemikiran, Seno tetap menuruni darah keilmuwanan yang mengalir deras di dalam keluarganya. Ayahnya bergelar PhD di bidang Fisika dan dikenal sebagai ahli energi alternatif. Ibunya, Poestika Kusuma Sujana, adalah dokter spesialis penyakit dalam. Tak heran Seno terlihat enak saja menikmati jenjang pendidikan Sarjana (S1) Fakultas Film & Televisi IKJ, Magister (S2) Ilmu Filsafat Universitas Indonesia, dan Doktor (S3) Ilmu Sastra Universitas Indonesia. Semua itu diselingi berbagai proses kreatifnya seperti membuat novel, naskah drama, skenario, komik, cerita pendek, kolom, dan esai.

Cerpen-cerpennya banyak muncul di harian Kompas, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, majalah Matra, Djakarta!, Horison, dan Latitute. Cerpen Sebuah Pertanyaan untuk Cinta pernah difilmkan dan ikut serta dalam JIFFEST (Jakarta International Film Festival). Pada tahun 1987, Seno mendapatkan SEA Write Award. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai Cerpen Terbaik Kompas 1993. Tahun 1997, berkat kumpulan cerpennya, Saksi Mata (1994), Seno memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary. Itu belum termasuk Negeri Senja (2004) yang akhirnya mendapat Khatulistiwa Literary Award 2004.

Saksi Mata merupakan satu bagian dari trilogi Insiden yang mengandung fakta seputar insiden Dili yang ditabukan media massa semasa Orde Baru. Bersama roman Jazz, Parfum & Insiden dan kumpulan esai Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara menjadi dokumen tentang bagaimana sastra tak bisa menghindar untuk terlibat secara praktis dan konkret dalam persoalan politik, apabila politik kekuasaan itu menjadi semakin tidak manusiawi. Di masa reformasi, kewaspadaan atas perilaku kekuasaan tidak bisa dilepaskan. Ketiganya diterbitkan ketika Orde Baru masih berkuasa. Di masa reformasi, ketiga buku itu diterbitkan kembali untuk saling mengingatkan dan meningkatkan kewaspadaan atas perilaku kekuasaan.

Buku-bukunya yang lain antara lain Manusia Kamar, Sang Buronan, Wisanggeni, Kitab Omong Kosong, Penembak Misterius, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, Kematian Donny Osmond, Iblis Tidak Pernah Mati, Matinya Seorang Penari Telanjang, Sepotong Senja untuk Pacarku, Surat dari Palmerah, Biola Tak Berdawai, Kisah Mata, Kalathida, dan Linguae.

Seno selalu menganggap segala pekerjaan tulis-menulisnya ibarat “jadi tukang”. Menurutnya, menjadi tukang tidak cukup berbekal keterampilan. Ada pergulatan intens. Tukang kayu harus kenal kayu secara personal. Petani harus kenal cuaca, tanah, air, benih, secara personal. Keangkuhan para intelektual membuat rendah derajat tukang. Padahal di dalam ”pertukangan” ada perfection, yang di dalamnya ada penghayatan, ada pengetahuan yang mendukung. Kesibukan Seno sekarang, selain mengajar di IKJ pada mata kuliah Penulisan Kreatif dan Kritik Film dan bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta-Jakarta, adalah membaca, menulis, memotret, membuat komik, dan jalan-jalan.

Setidaknya, begitulah yang saya tahu tentang seorang Seno Gumira Ajidarma.

18 comments for “Seno Gumira Ajidarma

  1. March 16, 2008 at 03:15

    saya mengenal SGA dari tulisan**nya di majalah Intisari. tulisannya khas dengan kalimat** yang panjang. Saya gak ngerti, itu bagus atau malah buruk. Tapi kalau saya sendiri, kok jadi capek ya baca kaliamat ** panjang gitu. Tapi isinya sich emang oke. Salut buat SGA.

  2. March 17, 2008 at 09:39

    Memang jika ditilik dari rentetan karya-karya awal hingga karya terkini, SGA punya gaya eksplorasi bahasa cerita yang kuat. Wah masak dari sekian buku-buku SGA kamu malah mengenalnya dari majalah intisari? Coba deh baca kumpulan cerpen atau novelnya, dijamin asyik!

  3. March 19, 2008 at 11:49
  4. March 31, 2008 at 15:35

    sejauh ini saya belum mendapat kesempatan untuk membaca karya pak Seno (karena kantong tekor) selain adaptasi Biola Tak Berdawai. Saya belum menonton filmnya, tapi novel tersebut bagus sekali.

  5. April 1, 2008 at 08:58

    Trims, sudah mampir di sini, Calvin. Kantong tekor? Di perpus kan banyak juga karya-karya SGA. Gratis. Baru beli kalau benar-benar suka, hehehe. Setidaknya itu prinsipku selama ini. Lebih tepatnya: Prinsip Ekonomi :)

  6. April 2, 2008 at 08:41

    ada karya SGA yang mas rori bisa rekomendasikan untuk saya? jangan berat2 euy, soalnya kalau terlalu sastra saya pusing juga sih. Novel tebal indonesia terakhir yang saya baca adalah Kerudung Merah Kirmizi pas SMU, praktis abis itu udah ga terlalu aktif baca, soalnya buku2 sekarang mahal. :( (pengen baca rahasia Meede, tapi masya allah, harganya…)

  7. Syandra
    April 3, 2008 at 09:03

    gabung ya…, rori kayanya mengenal betul SGA ya, saya syandra, sdaya kuliah di Fak. Sastra (S. Indonesia) UNPAD. ya sebagai individu yang dituntut untuk memahami sastra, Seno dan karyanya cukup bisa membuka pemikiran2 yang baru untuk saya.

  8. Syandra
    April 3, 2008 at 09:06

    gabung ya…, rori kayanya mengenal betul SGA ya, saya syandra, saya kuliah di Fak. Sastra (S. Indonesia) UNPAD. ya sebagai individu yang dituntut untuk memahami sastra, Seno dan karyanya cukup bisa membuka pemikiran2 yang baru untuk saya.

  9. April 3, 2008 at 10:26

    Terima kasih buat Calvin dan Syandra. Selamat bergabung.

    Saya pertama kali mengenal SGA dari cerpen-cerpen di media massa, juga kemudian dari buku-buku kumpulan cerpen terbaik kompas. Kebanyakan dari sana saya mendapati cerpen-cerpen yang menghibur, sarat muatan sosial, dan jauh dari kesan rumit, mungkin terlalu imajinatif, seperti “Penembak Misterius” atau “Sepotong Senja Untuk Pacarku.”

    Saya rasa SGA merupakan satu di antara penulis-penulis yang semua karyanya enak dibaca oleh siapapun.

  10. April 7, 2008 at 07:55

    Saya dulu pernah menulis Skripsi tentang karya-karya SGA, terutama cerpen. Dan saya sangat suka gaya dia berceritanya. sejumlah cerpen SGA mengilhami saya dalam menulis cerpen. Tapi sayang kumpulan cerpen “Penembak Misterius” hilang.

  11. TESI
    April 13, 2008 at 06:34

    Sejak kuliah saya suka SGA!!!! Saya suka cara dia bertutur tentang hidup..cinta..juga tragedi…terasa jujur. Bagi saya, membaca Seno memberikan banyak perspektif baru…terutama saya jadi yakin Life is just a sweet misery, hanya perlu dijalani sepenuh hati..tanpa ketakutan atau ekspektasi berlebihan..hallah..
    Saya paling suka sepotong senja untuk pacarku, manusia kamar juga Surat…Epilog dalam Parfume, jazz dan insiden. Sayang..kumpulan cerpen Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta..hilang beberapa tahun lalu. Thanks Rori..

  12. April 14, 2008 at 09:26

    Wow, membaca komentarnya seperti membaca potongan puisi, terutama bagian “life is just a sweet misery, hanya perlu dijalani sepenuh hati, tanpa ketakutan atau ekspektasi berlebih”. Mantap….

    Tapi rasanya siapapun yang pernah membaca SGA akan mengangguk-angguk setuju plus idem. Trims juga buat Tesi.

  13. Eko Kriswanto
    May 5, 2008 at 16:07

    Seno? Memang imajinatif. Kreativitasnya juga mbludag. Beberapa tanggapan tentang berkaitan dengan kalimat-kalimat yang bersayap, saya ikut mengamini. Lihat lagi, tulisan-tulisan tentang para Walisanga di majalah Intisari, para kartunis, juga beberapa penjelajahan yang disertai foto dihitam-putihkan. Atau barangkali Seno sudah mulai sampai pada perenungan tertentu yang kita belum mencapainya? Walahualam!

  14. May 6, 2008 at 09:08

    Sejak muda SGA memang tidak sekedar berkutat di dunia tulis menulis fiksi, minatnya meruap di ranah teater, jurnalistik, fotografi,
    komik, film, dll. Kalau masalah perenungan, mungkin sudah siklusnya. Ketika kita mencapai umur tertentu, sebagian orang yang merasa pencariannya sudah tuntas akan berubah jadi bijak. Tapi ada pula orang yang terus mencari, nah inilah yang kadang menjadikan seseorang jadi sulit kita pahami dengan jalan pikiran kita. Trims buat Pak Eko.

  15. September 26, 2008 at 19:55

    seno emang cihuy bgt dah =)

  16. November 1, 2009 at 07:27

    sungguh saya kagum pda bapak Seno. Karena saya benar-benar merasakan bahwa ” Ketika JURNALISTIK di bungkam , sastra harus bicara”. Teruslah berkarya

  17. ester
    November 4, 2009 at 20:24

    @nisa-afganisme yippie!!!!!!!!!

  18. April 28, 2010 at 15:51

    Oh, jadi seperti ini ya kehidupan penulis indonesia modern favoritku. pingin download karya2nya yang belum aku punya tapi dimana ya downloadnya?
    .-= awan´s last blog .. =-.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge