Self Publishing or Major Publishing

September 7, 2009
By Rie Yanti

SalamatahariBy Rie Yanti

Yet the old question seems relevant these days: do you self publish or publish your book through major publishing? Self publishing is exhausting. First, get the pre production things done: manuscript, layout and cover design. For legal shake you also should register its copyright and ISBN. Then print it, while calculating the book price (usually five times of production costs). Distribution is the next step. If you hire the professional, they would ask 35-60% discount. Afterward, it’s promotion. That’s all? That’s the beginning! The most thrilling part is to know the public responds. You need to at least reach BEP, don’t you?

Meanwhile, publishing via major publisher make us get a bit hands free. You will even received royalty’s down payment. You only need to convince the editor or the agent your manuscript is good (and sells). Often, you must adjust your taste to theirs.

* * *

Ditolak penerbit memang menyakitkan. Saya pernah mengalaminya. Dalam keadaan patah hati sekaligus sebal dengan arogansi penerbit, terbesit pemikiran untuk menerbitkan naskah sendiri alias self publishing. Apalagi setelah terinspirasi kesuksesan Dewi Lestari dengan Supernova-nya atau Rachmania Arunita dengan Eiffel I’m in Love-nya.

Sebenarnya, ada banyak yang harus dipersiapkan untuk menerbitkan buku sendiri. Mulai dari modal, desain dan layout, hak cipta, skala penerbitan, percetakan, harga buku, distribusi, promosi, kalkulasi modal, juga ISBN (International Standar Book Number).

Tapi apa self-publishing seribet itu?

Saya coba mewawancarai Sundea, pengelola blog Tobucil dan penangkap keseharian. Dea, panggilan akrabnya, sudah menulis dua buku: Salamatahari dan Dunia Adin. Salamatahari diterbitkan sendiri.

“Menerbitkan sendiri artinya kita bisa bebas memperlakukan karya kita,” kata Dea, “tidak terikat konsep perusahaan, tidak ada kesepakatan dengan editor. Memang sih, kalau diterbitkan major label, kita tinggal teken kontrak dan terima royalti. Editing sampai promosi mereka yang urus. Namun konsekuensinya, kita jadi nggak bebas, capek hati. Sementara kalau self publishing, kita capek fisik, tapi hasilnya bisa sesuai keinginan.”

Berapa sih modalnya? Penyiar salah satu radio swasta di Bandung ini mengaku tidak mengeluarkan sepeser pun untuk menerbitkan buku yang dicetak 1.000 eksemplar itu. Ha?

Yah, “Karena dibantu teman-teman. Pertamanya, minta teman-teman memilih cerita. Lalu, teman yang bisa menggambar membuat ilustrasi. Yang bisa mencetak, ya mencetak,” jelasnya enteng.

Selain itu, teman-teman Dea juga mau terjun mendistribusikan dan mempromosikan Salamatahari. Seperti Tobucil, Lawang Buku, dan toko-toko buku independen lainnya, serta stasiun radio di Bandung.

Mungkin Dea beruntung memiliki teman-teman yang tidak mengharap apa-apa selain agar semakin banyak orang yang menikmati kehangatan cerita-cerita Salamatahari. Bagaimana bila kita tidak semujur itu?

Saya mendapat informasi bahwa dengan modal sekitar Rp 30 juta kita bisa mencetak 3.000 eksemplar novel setebal 200 halaman. Lalu jika distribusinya menggunakan profesional, tolong dicatat, diskon yang mereka minta (yang akan dibagi dengan pihak toko buku) berkisar 35—60%. Langkah membayar profesional ini praktis bila Anda tidak punya waktu dan teman-teman yang militan dalam memasarkan buku Anda, seperti Dea.

SundeaSaat ini, Dea bahkan sudah mulai mempersiapkan Salamatahari 2. Masih self-publishing. Tapi ilustrasi, desain, dan layout-nya dikerjakan orang yang berbeda, Erri Nugraha. Salamatahari 2 juga baru akan dicetak setelah ada yang memesan (metode print on demand).

Tak mau tanggung, Dea sekarang serius mempelajari bidang penerbitan. Dibantu teman-temannya di Dipan Senja, Dea belajar mengalkulasi modal, merencanakan launching, dan sebagainya.

Bagaimanapun, saya pikir kelengkapan hak cipta juga perlu dilirik. Anda bisa mendaftarkan dan memproteksi hak cipta karya secara hitam di atas putih dengan tarif 1,6 jutaan. Memang, begitu sebuah karya terlahir, penciptanya otomatis memperoleh hak cipta yang dilindungi pemerintah. Namun hak cipta ini tanpa sertifikat. Sehingga bila suatu hari ada yang nakal, dan ternyata dia yang punya sertifikat, Anda akan kesulitan membuktikan karya Anda di muka hukum.

Oh ya, saya tadi bicara ISBN, jadi saya coba menerangkannya sedikit. Setiap judul buku, kalau mau serius, perlu identitas yang diakui secara internasional. Pencantuman ISBN dan barcode di sampul buku ini di samping untuk kode identifikasi produk yang diperlukan pihak toko buku, juga dibutuhkan penerbit serta penulis untuk membangun citra global.

Kemana mengurusnya? Ke Tim ISBN/KDT Perpustakaan Nasional RI, Jl. Salemba Raya 28 A, Jakarta. Biayanya seingat saya Rp 25.000 per judul. Satu hari seharusnya selesai, tapi tahu lah, PNS. Info lebih lanjut silakan kunjungi situsnya.

Self publishing bukanlah pekerjaan mudah. Terutama jika jaringan Anda kurang. Seperti saya, hehehe. Saya hanya bisa menulis. Jadi, menerbitkan melalui penerbit lain (mayor maupun indie), barangkali pilihan yang tepat.

Eh, tapi, saya pun keras kepala dan susah tunduk pada kemauan orang lain. Saya ingin menentukan sendiri bagaimana karya saya akan dipublikasikan. Maka, self publishing mungkin menarik juga.

Bingung. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sih.

Anda sendiri pilih yang mana? Atau mau mengikuti langkah Sundea? Cewek penggemar matahari ini berniat terus di jalur self publishing sampai ada penerbit yang beridealisme sama dengannya. [photos by Rie]

Tags: ,

18 Responses to “ Self Publishing or Major Publishing ”

  1. Dina on September 8, 2009 at 12:09 am

    kl liat dea keknya gampang, ya..
    doh, jadi pengen nerbitin sendiri karya-karya gw yang dulu..

  2. Brahmanto Anindito on September 8, 2009 at 8:50 pm

    Kalau aku, lihat self pub atau major pub spt bernapas ama mulut atau hidung. Pakai mulut, akan lbh banyak udara yang masuk. Tp nggak ada filternya (bulu hidung). Jd pastikan dulu udaranya emang bersih.

    Sedangkan kalau pakai hidung dan udaranya kotor, kita bisa bersin2. Bersin2 tuh nggak enak. Tp merupakan alarm ada yg salah.

  3. BookWhirl.com on September 9, 2009 at 2:13 am

    Your post is quite a fair entry about POD and traditional publishing. It doesn’t matter what your book is about. It all boils down to the decision of the writer whether to go with traditional publishing, or to self-publish. Each has its own risks and perks. Just don’t forget to establish thriving book marketing plan. And even when all else fails, don’t quit.

    Keep on writing, we believe in you–always.

    Sincerely,
    BookWhirl.com
    You have the book…We have the Marketing Resources.

  4. rie on September 9, 2009 at 9:21 am

    @Dina
    Iya, Dea beruntung banget ya. Dia banyak temen juga sih. Jd, salah satu cara buat bisa self-publish adalah banyak temen. Yg bisa dimintai tolong, tentunya, hehehe.

    @Brahm
    He-eh, pastikan nggak salah milih & salah langkah. Kalo serba salah, tetep aja berabe.

    @BookWhirl.com
    Yes, keep on writing. That’s what Dea always says to me. So, publishing is important but the most important is that we’re always writing because it’s a proof that we can write and we have talent, then people would see…
    rie´s last blog ..Self Publishing or Major Publishing My ComLuv Profile

  5. ariez on September 9, 2009 at 9:05 pm

    blum baca sampe kelar sih
    tapi kayaknya ga tertarik ah!

    hehehe

    masih mending di serain ke penerbitnya
    sakit ati sakit ati dah

  6. BookWhirl.com on September 10, 2009 at 10:57 am

    Yes, i strongly agree with you to keep on writing. By keeping on, you will hone your talent and eventually, you will improve. In case you want to advertise your book for free, please avail of our free ad listing service which is located on this link: http://www.bookwhirl.com/Online-Directory-Listing.php

    Thank you very much.

    Sincerely,
    BookWhirl.com
    You have the book…We have the Marketing Resources.

  7. Brahmanto Anindito on September 10, 2009 at 2:52 pm

    What an interesting advice and offer from BookWhirl :)

  8. Arianto Sam on September 11, 2009 at 12:44 pm

    wah dengan baca posting anda ini saya jadi semangat lagi untuk belajar menjadi lebih baik :)
    sukses selalu sob :D
    Arianto Sam´s last blog ..CHEESY MEATBALL FONDUE My ComLuv Profile

  9. Google-TCW on September 11, 2009 at 1:51 pm

    Hi from google Google-TCW

  10. rie on September 12, 2009 at 8:19 am

    @ariez
    Oke, oke, Riez. Terserah kamu aja hehehe. Aku sih tergantung jenis naskahnya aja. Tp sepertinya aku nggak sanggup self-publish deh, mendingan dikasih ke penerbit biarpun yg indie label.

    @BookWhirl.com
    Thak’s a lot.

    @Arianto Sam
    Sukses juga ^_^
    rie´s last blog ..Wallow in Red Rat Temple My ComLuv Profile

  11. Sundea on September 16, 2009 at 4:57 pm

    Hehehe … “Salamatahari 1″ nerbitinnya emang “sekedar seneng-seneng”, tapi yg ke dua ini lebih serius dan harus lebih profesional, termasuk pemasarannya. Temen-temennya juga sekarang lebih profesional biar sistemnya bisa lebih kuat dan jalan lebih lama.

    Tapi tetep menyenangkan, kok. Kayak punya sesuatu yg seutuhnya punya kita sendiri aja. Moga2 ini berhasil ^_^

    Ayo, Temen-temen, jangan berenti nulis. Tulis apa yg kamu memang mau tulis . Hal yang ditulis dengan tujuan baik pasti akan nemuin sendiri pembacanya, Dea percaya. Yang perlu dijaga terus passion nulis sama semangat untuk nyarinya … =D

    Don’t give up, what’s real can’t die ;)
    Sundea´s last blog ..Behind the Scene Salamatahari : Menjemur My ComLuv Profile

  12. rie on September 17, 2009 at 8:12 am

    Hai, De. Makasih udah dateng ke sini.

    Apa sih yg nggak menyenangkan buat Dea? Pasti semua menyenangkan, hehehe…

    Maksih juga buat pesen2nya… ^_^
    rie´s last blog ..Wallow in Red Rat Temple My ComLuv Profile

  13. mynameisnia on September 18, 2009 at 10:15 am

    Wah, Dea masuk Warung Fiksi! Hehe..
    mynameisnia´s last blog ..The Old Man And The Sea My ComLuv Profile

  14. rie on September 29, 2009 at 8:36 am

    Iya, dipaksa masuk hehehe…
    rie´s last blog ..Sormag, a Vehicle for Getting Your Name Exposure My ComLuv Profile

  15. [...] akan menjadi best seller. Kecuali kalau si penulis mau menanggung biaya cetak sehingga seperti menerbitkan sendiri (tapi di bawah nama sebuah [...]

  16. catur on November 21, 2009 at 11:15 am

    wah, kami juga punya pengalaman sama
    menerbitkan buku 3 rb eksemplar n dipasrkan dgn bantuan distributor
    memang sebuah pengalaman yg sangat memuaskan
    lihat buku kami di http://letstalkabout.co.cc

  17. Erickbandung.com in Marketing Mix - Warung Fiksi on November 25, 2009 at 9:42 am

    [...] kerja, inilah komikus yang telah menerbitkan komik-komik “cacat” seperti Perpustakaan Sketsa (self publishing), From Bandung with Laugh (DAR! Mizan), dan Binatang Jatuh (MnC Gramedia) yang bakal dirilis [...]

  18. rie on November 26, 2009 at 9:39 am

    @catur
    Wow! Keren tuh!

Leave a Reply

CommentLuv Enabled