Rahasia Sunyi: The Novel
  • Tanah Kerinci

    Kerinci. Sepotong tanah surga yang terhempas ke bumi. Jatuh di pusaran Samudera Indonesia. Di atas Pulau Sumatra.

  • Alam yang indah

    Jika kau mendamba ketenangan, datanglah. Sebab selain alamnya indah, Kerinci jauh dari gaduhnya modernitas kota.

  • Terkesan magis, misterius

    Namun, sial kadang tak bisa ditolak. Di balik sunyi itu, tersembul sebuah rahasia yang meremangkan bulu kuduk Lautan.

  • Memiliki aura yang berbeda

    Rahasia bahwa kematian bukanlah akhir cerita. Rahasia bahwa kehidupan bisa jadi lebih menakutkan dari kematian.

  • Sekaligus eksotis

Summary

Genre: Thriller / misteri
Author: Brahmanto Anindito
Format: Buku cetak
Dimension: 13 cm x 19 cm
Pages: 362 + x halaman
Weight: 0.32 kg
ISBN: 978-979-780-611-8
Publisher: GagasMedia
Tahun terbit: 2013

Price: 49.000

Novel Rahasia Sunyi


Synopsis

Lautan Angkasawan pergi ke Kerinci karena sebuah teka-teki. Kirey Fowler, mantan kekasihnya, tewas dalam kecelakaan di kawasan gunung tertinggi di Pulau Sumatra itu. Ayah sang gadis lalu meminta Lautan untuk menelusuri rahasia di balik kematian tersebut. Merasa pernah mengenal Kirey luar-dalam, Lautan menerima saja permintaan Mr. Fowler. Maka terbanglah lulusan SMK itu ke Kerinci, salah satu kabupaten di Provinsi Jambi. Satu per satu pintu misteri terbuka. Tapi, tampaknya Lautan tidak sendiri di sana. Nyawanya terancam untuk sebuah jawaban.

What the Readers Say

Inilah komentar para pembaca Rahasia Sunyi. Mereka bukan pejabat atau selebritas. Mereka hanya penikmat novel sejati yang benar-benar membaca Rahasia Sunyi dari awal sampai akhir. Jadi, mereka sangat tahu apa yang mereka katakan ini:
DessiPenggambaran cerita Rahasia Sunyi yang detail membuat saya seolah-olah ikut berkelana bersama Lautan Angkasawan, meniti jalan panjang di Kerinci dan Padang. Saya bahkan turut merasakan berdirinya bulu roma tokoh itu. Merinding!

Dessi Dwi Aristanti
Tentor dan laboran

IndrieDi luar alurnya yang mampu membuat pembaca deg-degan dan penasaran, cerita novel ini saya pikir dapat mempersuasi pembaca untuk berinvestasi emas. Apalagi kalau memperhatikan passion dari tokoh Kirey. Rasanya, ini sisi unik dari Rahasia Sunyi, sebuah fiksi yang dibangun berdasarkan potongan-potongan data faktual.

Indrie Vijayanti
Ibu rumah tangga

YusufRahasia Sunyi-nya Brahmanto ini memang beda. Di samping jalan ceritanya yang menarik, berliku-liku dan penuh kejutan, ada banyak pengetahuan tentang internet melebur dalam alur. Kebetulan, saya adalah konsultan di bidang TI dan menggemari hal-hal semacam ini.

Moch. Yusuf
Pembicara publik dan penulis buku

RiniThriller rasa Indonesia yang matang. Masih dengan napas petualangan dan teknologi yang menjadi ciri khas penulis, Rahasia Sunyi hadir lebih dari sekadar penyegar kepembacaan bagi pria dan wanita segala usia.

Rini Nurul Badariah
Penyunting dan penerjemah

WinMembaca novel ini, saya seperti diajak bertamasya ke sebuah pelosok eksotik di Sumatra. Demi apa pun, cerita Rahasia Sunyi membuat saya berkeringat, sedikit-sedikit menahan napas, dan terkadang bulu kuduk berdiri.

Win Andriyani
Wartawati

AlviPetualangannya seru, aroma detektifnya luar biasa, ketegangannya sampai puncak. Gaya menulisnya pun keren, berteknik. Saya adalah pembaca nakal yang sesekali suka loncat paragraf karena penasaran interaksi tokoh berikutnya. Tapi di Rahasia Sunyi, saya tidak bisa melakukan itu. Karena setiap kali saya mencoba meloncat, selalu ada informasi yang tertinggal.

Alvi Syahrin
Pengarang Dilema

AstridKesan pertama sepertinya berat. Tapi percayalah, Brahmanto sukses meramu cerita dengan sederhana, unik, menyenangkan, dan--yang terpenting--tidak membingungkan, padahal dia memasukkan banyak jargon teknologi dalam novel ini.

Astrid Ayu Septaviani
Social Media Manager

NoviellyaLatar lokal sisi barat Sumatra di Rahasia Sunyi menawarkan pengalaman kultural. Suka! Saya juga suka gaya bercerita lewat Quora yang dikutip dari scrapbook Kirey Fowler. Lewat media itulah, sosok Rey-Rey yang seharusnya telah tiada menjadi akrab bagi pembaca.

Noviellya Indah Lestari

TiaraSaya suka unsur culture yang dibahas di Rahasia Sunyi. Bikin pengetahuan bertambah. Semua misteri dibuka pelan-pelan. Perlahan menuju ending. Rapi sekali. A recommended culture thriller!

Tiara Orlanda
Singer, videographer, psikolog

AbbasElemen kultur yang tersaji benar-benar sebangun dengan setting. Membuktikan butuh banyak riset untuk membuat naskah ini.

Abbas Aditya

SalmaRahasia Sunyi bener-bener bikin aku merinding. Ada sensasi yang berbeda. Ini novel misteri yang pertama kali aku baca, and... this is crazy, I love it!

Salma

RastriaBrahmanto Anindito selalu sukses bikin lupa makan lupa minum dengan akhir cerita yang tak terduga!

Rastria Hanoum

FitriNovel Rahasia Sunyi sukses bikin gue semakin cinta dengan Indonesia dan penasaran dengan pesona Kerinci.

Fitri Puri Chandra
Mahasiswi

TifanyRahasia Sunyi bener-bener bacaan yang wajib baca!

Tifany DN
Laboratory analyst

HanifahTernyata ada rahasia di balik simple-nya kover novel Rahasia Sunyi. Keren banget, sukses buat aku merinding.

Hanifah Laylia

ApriliaRahasia Sunyi: bayangan, kenangan, luka, dan tangisan.

Aprilia Rosyta Putri

NitaEmosi dan rasa takut bergelut menjadi satu mencermati barisan-barisan kalimatnya. Namun di balik kengerian itu ternyata ritme romantis mengiringi.

Nita Femmilia
Project Officer

OktabriSalut! Pesona daerah Kerinci benar-benar tersaji dengan apik.

Oktabri

FitriaSaking penasarannya, saya menghabiskan novel ini dalam dua jam aja. Salut buat Brahmanto Anindito atas jalan cerita yang tidak terduga.

Fitria Koto

RethaPokoknya suka sama Lautan!

Retha Aryudhanti

ThiRahasia Sunyi keren banget nget! Amazing story. Ditunggu karya selanjutnya.

Thi Febriana

YoniLautan, Lachlan, Kirey, Tiara, Om Inal, Bu Elita, Tante Lusi, Roa, Aria, Randy, Wendy. Rahasia Sunyi harus banget tuh dijadiin film. Beuh!

Yoni Yolanda
Mahasiswi

AffiJadi penasaran banget sama Gunung Kerinci dan hutannya....

Affi

NayTertarik banget dengan pembahasan uhang pandak, sejenis kera dengan intelejensia melebihi orang utan dan simpanse. Penulis berhasil membawa pembaca ke suasana hutan yang mencekam, suasana kamar yang angker. Brahmanto juara banget dalam hal ini.

Nay Sharaya

PalupiRahasia Sunyi karya Brahmanto Anindito bikin merinding... Keren banget!

Palupi Rahmadani

TheresiaJarang banget pengarang Indonesia nulis buku kayak gini. Ceritanya nggak bisa ditebak, bikin pengen terus-terusan baca. Setelah beli Rahasia Sunyi, saya langsung cari-cari karangan Brahmanto yang lain.

Theresia Novi Kusumaningrum

SalsabilaRahasia Sunyi is such a must-read book. Coolest book I've ever read.

Salsabila H.

PasoloSang penulis bercerita dengan baik. Latar Kerinci juga dijelaskan secara rinci. Keren markotop deh! Gara-gara Rahasia Sunyi, saya jadi kecanduan baca buku dengan tema yang sama.

Pasolo

LucktyTerasa sekali hawa-hawa Sumatra yang masih perawan. Mungkin bagi orang kota, sesuatu yang mistis terasa ganjil di zaman Noah pakai Kakao Talk atau Agnes Monica pakai Line seperti ini. Tapi bagi saya yang berdomisili di ujung Sumatra, sangat terasa nyata. Kejadian kayak gini masih ada loh! Hebatnya, rasa supranatural tadi bisa dicampur dengan rasa modern. Salut banget sama penulisnya yang cerdas. Ini kalau difilmin bakal keren deh.

Luckty Giyan Sukarno
Librarian

DestySebagian besar budaya di Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan kepercayaan supranatural. Percaya tidak percaya, selalu ada kisah seperti itu di tiap daerah. Demikian juga di Kerinci. Bagi saya, ini bukan masalah. Saya malah makin tertarik karena Brahmanto menuliskannya dengan apik. Dia juga memadukannya dengan teknologi yang kebanyakan belum pernah saya kenal.

Pauline Destinugrainy

FannyRahasia Sunyi beneran seru abis. Dari awal sampai akhir bikin penasaran.

Fanny Fredlina

QoriainaBaru selesai baca Rahasia Sunyi dan baru sadar kalau ini novel thriller. Kirain romance. Tapi bakal nyesel kalau belum baca!

Qoriaina Aisyah

MonikaSumpah demi Kirey hidup lagi, Rahasia Sunyi bikin gue merinding.

Monika Zabarjad Wildan

AyyaHarus baca! Dari semua novel yang pernah saya baca, ini paling cetar deh.

Layutsa Amin

NanaMengingatkan saya akan novel lain yang kental unsur sejarah dan teka-tekinya. Bedanya, Rahasia Sunyi lebih ribet twist-nya, menegangkan dan membuat bulu kuduk berdiri. Penuturan Brahmanto pun lebih mudah diikuti. Rasanya, karakter Lautan benar-benar hidup dan saya bisa mengerti jalan pikirannya. Petualangannya, terutama di dalam hutan Kerinci, benar-benar membuat jantung saya deg-degan saking serunya.

Martina Daruli

PetronelaKarakter-karakternya menarik, plotnya stabil dan rapi. Bikin gue langsung nyaman dan masuk ke dalam ceritanya.

Petronela Putri
Mahasiswi, novelis, blogger

SariBagi saya yang terbiasa membaca novel thriller dan detektif dari penulis luar, buku ini menarik. Selain latar belakang lokasinya yang apik, alur ceritanya pun membuat jantung saya ikutan berdegup di atas normal.

Sari Hanifah

LindaHiyy, kebayang nggak sih kalau jadi Lautan? Aku sih milih langsung kabur aja dari tuh rumah :D Dalam hati, bersyukur juga nggak baca Rahasia Sunyi malam hari.

Linda Zunialvi

SeptantyaRisetnya luar biasa. Setting Kerinci, baik lokasi maupun budayanya, terasa nyata. Penggambaran Hutan Sumatra, beserta adegan kejar-kejaran dengan macan, juga membuat saya seperti sedang memutar ulang adegan serupa dalam film Journey. Seru sekali!

Septantya Chandra

SulisUntuk yang susah move on dari genre romance, Brahmanto menyuguhkan sebuah cerita yang bisa dimasuki oleh kalangan mana pun. Dia memasukkan banyak unsur dan menggabungkannya menjadi sebuah cerita yang menarik sekali. Twist-nya dapet, dan caranya bercerita membuat saya enggan melepas novel ini.

Sri Sulistyowati

FIRST CHAPTERS

LANGIT YANG MENDUNG sedang meniupkan napas lembapnya. Manusia-manusia pun bergeliat tak nyaman. Gerah merasuki tiap liang pori-pori mereka. Terutama mereka yang berada dalam mobil tak berpendingin. Dan, seolah keadaan belum cukup menjengkelkan, klakson-klakson itu tak henti-hentinya menyalak. Saatnya kesabaran benar-benar diuji.

Seperti biasa, jalanan Ibu Kota macet bukan kepalang. Lautan Angkasawan, pegawai outsourcing yang baru pulang dari perjalanan surveinya ke Kalimantan selama lima hari, terjebak di dalamnya.

Jakarta.

Hari ini dia sudah berada di Jakarta. Maka punahlah harapan untuk berlenggang di jalanan besar sebagaimana yang bisa dilakukannya dengan sempurna di Kalimantan. Jakarta adalah tempat menyatunya jutaan masalah. Jalanannya senantiasa dijejali tumpukan mesin-mesin beroda.

Di tengah kemacetan yang sangat lumrah itu, otak Lautan terus dibawa melamun. Pikirannya melompong. Hingga dia terlambat menyadari, Wrangler hijau lumut di depannya berhenti mendadak. Lautan berusaha menjejak rem semampunya....

BRAKK!!

“Oh,” desah pria itu. Terlambat.

Mobil di depan perlahan menepi ketika Lautan masih tercengang.

Si pengemudi lalu keluar dengan wajah bersungut. Orang dengan kacamata hitam itu tampak berotot, kepalanya botak, hidungnya mancung. Bule itu segera memeriksa pantat mobilnya. Lalu, dia menunggu Lautan yang memutar roda pikapnya maju pelan-pelan. Pandangannya tajam ke arah Lautan. “Can’t you see zebra crossing’s red light, huh?”

Dilihat dari setelan jasnya yang parlente, si Bule pasti bukan orang sembarangan. Bukan turis yang kebetulan memiliki SIM internasional dan sedang berjalan-jalan dengan mobil barunya. Tebersit keinginan Lautan untuk mengegas begitu saja pikapnya. Namun, alih-alih menekan pedal gas, Lautan malah menurunkan jendela mobil, dari setengah terbuka menjadi terbuka penuh.

Setelah itu, Lautan membungkuk. Dan begitu terjadi kontak mata di antara mereka, si Bule tersenyum. Semakin lama semakin lebar. Dahi Lautan mengernyit. Tak habis pikir. Baru kali ini orang ditabrak bisa tersenyum selebar itu.

Belum juga mobil Lautan menepi, ekspatriat itu menggebrak-gebrak bagian belakang pikapnya. Lautan menoleh ke belakang sambil mengomel, “Sabar, Mister. Ini pikap pinjeman.”

Si pria botak terus menggebraki sisi mobil hingga sampai pada jendela samping Lautan. “HAHAHAHA.... Let’s go lunch! My treat. Please.

Lautan semakin tak paham, terlihat sekali dari bibirnya yang melongo membentuk aksara O itu. Dia menabrak mobil orang dan orang itu malah tertawa girang, lalu hendak mentraktirnya makan siang. Bilang “please” pula.

“LAUTAN! LAUTAN!!” Bule itu membuka kacamatanya. Lautan jadi bisa melihat bekas luka yang membelah alis kiri pria lima puluh tahun itu. Luka yang pernah sangat familier.

Memori Lautan perlahan-lahan terbangun. Otaknya mulai bisa membedakan bule di depannya dengan bule-bule lain yang dia temui dalam beberapa bulan terakhir.

“Mr. Fowler? Lachlan Fowler?” Ekspresi Lautan adalah gabungan dari rasa senang dan heran. Entah berapa persen herannya, berapa persen senangnya. Yang jelas, ketakutannya sudah nol persen.

* * *


BERADA DALAM MANAJEMEN grup Accor dari Prancis, rumah makan ini mempunyai kualitas makanan dan pelayanan bintang empat. Jelas bukan tipe tempat Lautan makan, sekalipun untuk setahun sekali. Jadi, ini kesempatan sekali seumur hidup!

Namun, saat pelayan menghampiri, Lautan yang kebingungan melihat menunya malah akhirnya memesan masakan nasional: nasi goreng. Masakan ini tidak terlalu mahal, maksudnya untuk menjaga hati sang pentraktir. Tapi begitu tahu Mr. Fowler tak sedikit pun ragu memesan menu salmon, Lautan segera meratapi pilihan nasionalisnya itu.

Mr. Fowler dan Lautan mengobrol basa-basi sampai hidangan yang dipesan tiba. Seperti kawan yang lama tak bersua, mereka asyik tertawa. Pertama, membicarakan pekerjaan Lautan, lantas topik menyimpang ke masa lalu. Dulu, ada masanya saat Lautan sangat takut bila apel ke rumah Kirey. Sebab, Mr. Fowler selalu mencari gara-gara. Pria itu belum bisa rela putrinya yang blasteran berpacaran dengan murid SMK selevel Lautan.

Kirey Fowler adalah siswi SMA yang cantik, WNI keturunan Australia, kaya, cerdas, gaul, dan modis. Sementara Lautan hanyalah keturunan orang yang mendekati miskin. Dia kurus, berkulit sawo terlalu matang, dan gaya berpakaiannya jauh dari kesan fashionable. Kirey yang setahun lebih tua dari Lautan sebenarnya juga berkali-kali menolak cinta Lautan. Namun, pelan-pelan, hati gadis itu luluh juga. Dan pada gilirannya, hati sang ayah ikut lumer. Tampaknya, Lautan memiliki pesona tersembunyi di balik tampangnya yang pas-pasan.

Makanan pun tiba di meja mereka. Harumnya sungguh membuat liur membanjir.

Bon appétit,” ujar Mr. Fowler sambil meraih garpu dan pisaunya.

Bon appétit, Sir,” jawab Lautan.

Sambil bersantap siang dengan lahap, percakapan remeh-temeh diteruskan. Mr. Fowler baru mulai berwajah serius sesudah makanan di meja tandas.

“Kamu masih sayang Rey-Rey, Lautan?” tanyanya.

Lautan tertawa masam, “Rey siapa… oh! Kirey? Ya, saya masih sangat mencintainya, Sir. Sulit melupakan gadis seperti itu. Tapi, Anda tahu, saya sudah punya pacar sekarang.”

“Oh ya? Sudah berapa lama?”

“Delapan bulan.”

Mr. Fowler melemparkan senyum menggoda kepada Lautan. “Pemangsa cewek, hah? Bukannya baru setahun kamu putus dari Rey-Rey? Jadi, kamu hanya butuh empat bulan untuk cari pacar baru ya?”

Mulut Lautan hendak mengucapkan pembelaan diri, tapi perhatian Mr. Fowler teralihkan. Seorang pelayan melewatinya. Bule itu lalu memegang tangan sang pelayan.

Red wine, please.” Mr. Fowler menyempatkan diri menoleh kepada Lautan, “Wine?”

Lautan mengangkat telapak tangannya.

“Satu gelas saja, please,” ucap Mr. Fowler kepada pelayan itu dengan bahasa Indonesia yang cadel.

Red wine yang mana, Sir?”

“Yang bagus.”

“Di sini semuanya bagus, Sir.” Pelayan itu tersenyum ramah.

“Sudahlah, berikan saja segelas. Aku bukan orang Prancis. Aku tidak cerewet soal anggur, hahaha. Terima kasih.”

Pelayan itu mengangguk anggun, lalu pergi. Mr. Fowler menyelipkan sebatang rokok ke bibirnya. Warna gelap bibir itu, tak salah lagi, pasti disebabkan oleh rokok. Setahun tak berjumpa, tak ada yang berubah dari lelaki tua ini. Dia masih pengisap rokok yang keras kepala. Putri kesayangannya sekalipun tak sanggup menasihatinya.

“Kemarin, aku mimpi Rey-Rey. Dia mengenakan pakaian pengantin. Kamu tahu apa artinya mimpi seperti itu?”

Lautan mengangkat kedua bahunya. Mr. Fowler melirik sedetik, lalu memantik geretannya. Asap nikotin pun semerbak di meja nomor sebelas dalam restoran tersebut. Mr. Fowler memang memilih meja restoran khusus perokok.

“Bahkan pada awal-awal hari kematiannya, aku tidak pernah memimpikan putriku, baik itu sebelumnya, sewaktu dia sekarat, maupun setelahnya. Tidak pernah! Mengapa tiga hari ini tiba-tiba aku bermimpi Rey-Rey? Tiga kali berturut-turut, pula. Aku benar-benar tidak paham.”

Suasana rumah makan yang lengang membuat ruangan terasa hening. Terutama ketika Mr. Fowler berhenti bicara. Hanya terdengar gemeretak bunyi rokok yang terisap kuat-kuat. Kemudian, Mr. Fowler meniupkan asapnya ke samping sambil tetap menatap Lautan. Ekspresi bule itu senantiasa mengingatkan Lautan pada tokoh kartun Popeye.

“Bolehkah aku minta tolong sedikit kepadamu, Lautan?” Mr. Fowler membuat ekspresi Popeye lagi untuk membuang asap rokoknya.

“Tentu. Apa itu?”

“Kamu masih sayang Rey-Rey kan? Bukan sayang seperti... seperti... kamu tahu....” Lautan mengangguk-angguk. Dan Mr. Fowler menyambung kata-katanya, “Aku ingin sekali tahu bagaimana detail perjalanan Kirey, dari awal berniat ke Kerinci, sampai hari kematiannya. Sebelum aku sendiri yang mati.”

“Maksud Anda?” Lautan mengerutkan dahi. “Bukankah semua sudah jelas? Dia mengalami kecelakaan. Dia terimpit mobil, dan berusaha meloloskan diri dengan mengamputasi kakinya. Tapi dia ga...”

“Dia meninggal kehabisan darah,” potong Mr. Fowler. “Ya-ya-ya, itu versi kepolisian. Tapi kepolisian tidak pernah mengungkap, mengapa Kirey bisa ada di sana? Apa yang dia cari? Hendak ke mana dia? Mengapa terburu-buru? Aku percaya pada penjelasan mereka. Tapi entahlah, aku merasa… masih ada sesuatu yang hilang.”

Lautan menunduk. Dia membuang muka ke jendela restoran, dan melihat orang berseliweran di luar sana. “Pentingkah itu, Sir?”

Mr. Fowler menarik tubuhnya hingga punggungnya bertemu sandaran sofa. Satu isapan rokok. Satu ekspresi Popeye. Lalu, isapan rokok lagi.

“Selama beberapa hari ini, aku merasa terus dihantui. Putriku seperti masuk ke otakku. Mencoba berkomunikasi denganku. Ah, kamu takkan paham. Kamu pasti menganggapku sudah gila.”

Pesanan anggur merah Mr. Fowler tiba. Dia mengisap rokoknya yang masih setengah itu. Lalu, meletakkannya di atas asbak.

“Tidak,” sanggah Lautan. “Saya paham. Yah, tidak benar-benar paham, tapi saya pikir… perasaan itu memang bisa terjadi pada siapa saja. Telepati, mungkin.”

Mr. Fowler menuding singkat ke arah Lautan, “Sekarang aku tanya, kamu lebih percaya telepati atau takdir Tuhan?”

Lautan tidak mengerti ke mana arah pertanyaan ini, tapi dia menjawab juga. “Dua-duanya. Tapi saya lebih percaya takdir... apa pun yang berhubungan dengan Tuhan lebih saya percayai.”

“Nah.” Mr. Fowler menyempatkan diri meneguk anggurnya. Dia menyeringai nikmat. Tampaklah giginya yang menjadi merah muda lantaran red wine itu. “Inilah takdir itu! Aku beberapa hari ini sering bermimpi soal Rey-Rey. Rasa penasaranku sebagai orangtua langsung datang lagi, seperti serangan migrain. Aku butuh seseorang yang bisa membantu mencari tahu tentang perjalanan Rey-Rey yang sebenarnya! Lalu, aku ingat mantan calon menantuku yang mengenal Rey-Rey luar-dalam, dan bertanya-tanya, ‘Maukah dia menolongku? Kita tak pernah kontak setahun lebih, kan?’ Tapi, ting tong, paket delivery! Takdir Tuhan datang begitu saja di hadapanku. Meskipun, yah, dengan mengorbankan bemper belakangku.”

Lautan melongo dengan uraian Mr. Fowler. Dia lalu tertawa dan meminum lemon squash-nya. Lautan tahu, ini cuma akal-akalan bule tua itu. Takdir atau telepati? Bila dia menjawab “telepati”, pasti Mr. Fowler berkata telepatilah yang membuat mereka sekarang bertemu di sini. Lautan mengelap mulutnya dengan serbet. “Begini saja. Biar saya pikir-pikir dulu, Sir.”

Mr. Fowler bergeming.

Selama belasan detik, mereka saling diam.

Namun, setiap perokok selalu punya alasan untuk menghindari situasi canggung semacam ini: melanjutkan mengisap rokoknya.

Sir, bukannya apa-apa, saya...”

“Kamu tahu, Lautan,” potong Mr. Fowler. “Tidaklah normal orangtua menguburkan anaknya. Itu menyedihkan. Sangat menyedihkan. Suatu hari nanti, kamu pasti memahami situasiku, Nak.”

Lautan menatap mata orang tua itu dengan perasaan bersalah.

Kepala Lautan tiba-tiba mengulang kembali masa-masa itu, ketika keluarganya terimpit masalah ekonomi dua tahun lalu. Ayah Lautan di-PHK mendadak, padahal dari pekerjaan ayahnyalah keluarga mereka menyambung hidup. Gaji kakaknya hanya cukup untuk menghidupi satu orang, itu pun pas-pasan. Sementara ibunya sekadar ibu rumah tangga yang tak berpengalaman dan tak berpenghasilan. Lautan masih siswa SMK, saat itu. Orangtuanya menyuruhnya fokus menyelesaikan studi dan melarangnya untuk ikut campur.

Di saat yang sama, PLN mulai memadamkan listrik di rumahnya. Lalu, pemilik rumah mulai agresif menagih uang kontrak yang tertunggak tiga bulan. Tidak ada yang bersedia meminjamkan uang. Tidak ada sumber pendapatan. Semua orang di keluarga itu menjadi frustrasi.

Lalu, datanglah Kirey mengulurkan bantuan kepada Lautan. Mereka jadi mempunyai uang untuk membayar kontrakan dan tagihan-tagihan lain. Tidak berhenti di sana, Kirey memodali mereka untuk membuka depot jamu di rumah itu, supaya kelak mereka tidak mengandalkan pekerjaan rutin di tempat orang. Lautan masih ingat kata-katanya, “Ini saham lho, ntar keuntungannya sekian persen musti disetor ke gue, hahaha....”

Lautan tahu, Kirey hanya bercanda. Karena dari bulan ke bulan, tahun ke tahun, bahkan sampai hari kematiannya, Kirey tak pernah sekalipun menyinggung ke mana larinya dana sumbangan itu. Gadis itu memang suka menolong, tanpa pamrih, tanpa pernah ingin memperlihatkan sisi malaikatnya itu.

Meet the Author

Brahmanto Anindito, pengarang Rahasia Sunyi
Brahmanto Anindito adalah pengarang Semanyun Senyuman Mahasiswa, Pemuja Oksigen, Satin Merah, selain tentu saja Rahasia Sunyi. Beberapa media nasional pernah memuat tulisan-tulisannya. Lulusan Komunikasi Unair ini pernah menjadi wartawan di majalah gaya hidup, editor di majalah bisnis, dan sekarang copywriter di perusahaan integrated marketing communication. Brahm adalah Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah 2002 Unika Atma Jaya Jakarta, Juara III Lomba Penulisan Essai 2003 Kedubes Korea dan Diknas RI, juga Juara I #IndonesiaUnite Blogger Competition 2009 Kompas. Pada 2012, Deutsche Welle Media mengundang dan membiayai Brahm untuk menghadiri Global Media Forum di Bonn, Jerman.

STORY BEHIND

untuk putriku, Kiara Hanifa Anindya
Cinta kami padamu adalah emas murni, bukan emas perhiasan
Mungkin kurang menarik
Tapi lihatlah, ia lebih bercahaya!


PADA TAHUN 2006, aku jalan-jalan ke daerah barat Indonesia selama seminggu. Membolang ke Padang, Kerinci, dan Batam. Yah, sekadar eskapisme. Daripada jenuh di rumah dan melihat pemandangan yang itu-itu saja, mending jalan-jalan kan? Tapi sialnya, Padang dan Batam ternyata kurang-lebih sama seperti kota-kota besar lain: sumpek, penuh hingar-bingar dan karbon monoksida.

Merekam suasana danau di Kerinci untuk bahan penulisan Rahasia SunyiAku lebih suka Kerinci. Alamnya menawan. Magis. Kehidupan masyarakatnya pun unik. Tak heran, saat itu langsung tercetus ide, “Harus nulis cerita berlatar belakang Kerinci nih!” Tapi dasar pemalas, sesampainya Surabaya, ide itu malah mangkrak. Baru lima tahun kemudian, aku mulai serius menulisnya. Hingga jadilah novel yang kalian pegang ini.

Maka syukur Alhamdulillah aku panjatkan kehadirat Allah SWT. Tidak hanya atas rezeki yang telah membawaku ke tempat-tempat indah-Nya, melainkan juga untuk anugerah berupa terbitnya novel yang awalnya aku beri judul Kirey ini.

Terima kasih kepada GagasMedia yang sudah memberi kepercayaan pada Rahasia Sunyi untuk terbit di bawah namanya. Terima kasih Mas Christian Simamora, Mbak Gita Romadhona yang ternyata bersuara imut, Mas Ibnu Rizal dan Mbak Nurul Hikmah selaku editor, serta segenap tim GagasMedia dari divisi hulu sampai divisi hilir.

Terima kasih juga kepada para pembaca pertamaku: Pak Moch. Yusuf yang sudah memberikan kritikan untuk masalah IT, Teh Rini Nurul Badariah untuk masukan masalah suspense (dan mengomporiku untuk tetap menjadi spesialis di genre ini), Dessy Dwi Aristanti untuk wawasan tentang hemofilia, Ledi Diana untuk saran-saran mengenai budaya di ranah Minang, dan Moch. Asrori yang mengkritisi aspek sastranya (walapun aku sebenarnya hanya pencerita, bukan sastrawan). Beruntung sekali bisa mendapat masukan-masukan berharga dari kalian.

Oh ya, terima kasih juga pada rekan menulis novel Satin Merah yang sekarang menjadi istriku: Rie Yanti. Dialah yang sebenarnya paling pertama membaca naskah Rahasia Sunyi, bahkan ketika bab-babnya masih bolong dan dipenuhi kalimat-kalimat yang belum tuntas. Hahaha, pardonne-moi, Chérie....

Lalu yang terakhir, yang juga sangat penting, aku harus berterima kasih kepada para pembaca (dan pembeli) novel Rahasia Sunyi. Harapanku, semoga novel ini bukan saja menghibur, melainkan juga memberikan sesuatu yang lain.

 


Jabat erat selalu,

 

Brahmanto Anindito

FEEDBACK

Novel Rahasia Sunyi dapat dibeli di toko buku-toko buku besar di kota Anda. Atau dengan menghubungi GagasMedia selaku penerbit. Atau bisa juga dengan menghubungi langsung penulisnya melalui:

 

   
 


Ingin memberikan komentar, kritik membangun, saran atau dukungan? Sama saja. Silakan dialamatkan ke salah satu dari media-media online tersebut.


See ya! :)

to the top