Project Priority in Warung Fiksi

Anda pasti menduga, ketika profesi sama dengan hobi kita, itulah surga dunia! Seperti memakan gaji buta, kita dibayar untuk mengerjakan apa yang kita senangi. Hobi dan pekerjaan saya kebetulan juga klop. Hobi saya menulis, profesi saya penulis. Surga dunia?

Professional writers for books, e-books, scenarios, ads scripts, web contents, internal media, sales letters, press releases, proposals, presentation slides, etc.

Tunggu dulu. Selalu ada konsekwensi lain dari hobi dan pekerjaan yang kebetulan sama ini. Salah satunya adalah bentroknya kepentingan diri dan klien. Mengingat semua orang memiliki 24 jam dalam sehari, tidak bisa ditambah-tambah, mau tidak mau kita harus melakukan prioritas dalam bekerja.

Dulu, sewaktu masih bekerja di perusahaan orang lain, saya selalu membatin, “Wah, alangkah enaknya kalau saya bisa keluar dari sini dan menjadi penulis full time untuk diri sendiri.”

Pekerjaan saya waktu itu sebenarnya juga menulis: wartawan, editor, dan copywriter. Kalau mau mengaku sebagai penulis purnawaktu (full time) pun sah-sah saja, sebenarnya. Tapi karena statusnya pegawai, saya jadi tidak punya kuasa untuk menentukan mau menulis apa. Semuanya diatur oleh mekanisme kantor.

Setelah resign, saya merdeka. Setidaknya, awalnya! Saya bisa menghasilkan novel, skenario film, dan apapun yang saya mau. Namun faktanya, saya tetap harus melayani klien di Warung Fiksi. Jadi apa yang saya tulis masih diatur oleh orang lain. Secara de facto, saya masih punya bos!

Walaupun kondisi sekarang jelas lebih baik, karena dulu bos saya ada dua: atasan-atasan saya di kantor dan klien atasan-atasan saya. Terus terang, bingung juga untuk memuaskan keduanya sekaligus, terlebih ketika keduanya memiliki keinginan yang berlainan. Sekarang, bos saya hanya klien, sehingga fokusnya hanya untuk memuaskan satu pihak tersebut. Itu pun saya bisa memilih-milihnya (sebelum teken kontrak). Memilih siapa calon bos saya.

Bagaimanapun, apapun jalan hidup kita, selama masih berusaha mencari uang, kita tidak bisa benar-benar menjadi diri sendiri. Tidak tahu lagi kalau kita sudah mencapai financial freedom, mungkin kita baru bisa berbuat semaunya.

Tapi selama belum mencapai tingkatan “bebas keuangan” itu, kami menyiasati problem kepentingan ini dengan membaginya menjadi empat kuadran:

(1) Client’s Projects

– Alokasi waktu dan tenaga: 40%

Inilah proyek yang menghidupi kami di Warung Fiksi, jadi akan selalu kami prioritaskan pengerjaannya. Klien adalah orang yang telah mempercayai kita, bahkan sudah membayar kita di depan. Konyol dan tidak profesional bila kepentingannya tidak diutamakan.

Bahkan secara agama pun kita wajib memprioritaskan pembeli dalam sebuah perdagangan, bukan? Orang bilang, pembeli (klien) adalah raja.

Meskipun dengan begitu, saya jadi seperti bernostalgia menjadi karyawan yang serba terikat lagi. Apa boleh buat. Itu sudah risiko profesi. Mau sepenuhnya bebas? Tutup saja jasa profesionalnya 🙂

(2) Personal Projects

– Alokasi waktu dan tenaga: 30%

Setiap orang mempunyai ambisi pribadi. Selama dalam koridor yang positif, ambisi-ambisi ini harus terus dipupuk. Kami mengibaratkan proyek penulisan dari orang lain adalah profesi, dan proyek pribadi adalah hobi.

Suka atau tidak, terus mengerjakan proyek-proyek pesanan orang lain, sementara proyek personal terbengkelai itu lama-lama juga menjenuhkan. Maka kita perlu mengimbanginya.

Tapi berhubung proyek pribadi umumnya tidak menghasilkan uang secepat proyek dari klien, kami pun mencurahkan hanya 30% waktu serta tenaga produktif kami untuk proyek-proyek jenis ini.

(3) Experimental Projects

– Alokasi waktu dan tenaga: 15%

Belum tentu menghasilkan uang, tapi tetap harus dilakukan. Seperti bagian Research and Development (R&D), kita perlu rutin bereksperimen dan berinovasi kalau tidak ingin dilibas zaman serta kerasnya persaingan. Tujuan lain dari proyek eksperimen adalah menyiapkan sekoci penyelamat ketika kapal kita yang biasanya menghasilkan uang ternyata karam juga suatu hari nanti.

Contoh gampang dari proyek eksperimen adalah seperti yang dilakukan Bentang Pustaka, salah satu lini penerbitan Mizan. Mereka menerbitkan novela-novela dalam bentuk e-book yang dijual di Google Play Store saja. Tidak ada versi cetaknya.

Tapi novela-novela itu tetap diedit, diberi ISBN, dan didesain secara profesional. Boleh jadi, ini salah satu eksperimen Bentang dalam mengefisiensikan biaya produksi, mengantisipasi lesunya dunia penerbitan konvensional, meraih pembaca baru, dan mencari alternatif jalur distribusi selain toko buku (yang biasanya meminta potongan besar tapi kejam dalam memperlakukan buku-buku yang kurang laku itu).

(4) Social Projects

– Alokasi waktu dan tenaga: 15%

Proyek sosial bukan berarti harus menyumbangkan buku ke perpustakaan, berzakat, infak, atau sedekah. Yang saya maksud di sini lebih kepada kegiatan kreatif yang memang ditujukan untuk kemanusiaan atau menyelamatkan harga diri orang lain.

Setiap manusia pada dasarnya berhati mulia. Buktinya, dada kita selalu menghangat bila bisa menolong orang lain, bahkan terkadang mata sampai menitikkan air mata bahagia. Hidup ini memang bukan sekadar mengejar profit. Di sinilah proyek pro bono terasa sangat logis untuk dilakukan, meski tidak menguntungkan secara material.

Contoh social project? Banyak sekali. Membantu menulis iklan atau copywriting untuk pengusaha kecil, membuat sales letter gratisan untuk yayasan sosial, menyusun buku putih untuk tokoh yang tersudutkan oleh media mainstream, dan sebagainya. Di level paling sederhana, konsisten berbagi ilmu dan pengalaman melalui blog atau media sosial pun tergolong proyek sosial.

Begitulah….

Kami membagi prioritas kerja di jam-jam produktif Warung Fiksi menjadi empat kuadran. Tentu, persentase di tiap-tiap kuadran hanyalah perkiraan. Bisa jadi lebih banyak atau lebih sedikit, tergantung kondisi di lapangan.

2 Replies to “Project Priority in Warung Fiksi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge