Personal Branding with Books

Write a book is part of your personal branding strategy

Bagi Anda yang profesinya bukan penulis, saya tanya, apa manfaat menulis buku bagi Anda? Mungkin sebagian akan menjawab tidak ada manfaatnya. Wah, sepertinya yang menjawab seperti ini bukan orang yang biasa baca buku ya ๐Ÿ™‚ Lalu, ada juga jawaban untuk menambah pendapatan. Ya, boleh-boleh saja. Apa lagi? Beramal pengetahuan untuk orang banyak? Sudah pasti. Terus, apa lagi?

Tahukah Anda, ada satu manfaat lain yang sering tidak disadari. Personal branding, Saudara-saudara. Branding melalui buku itu penting, entah itu buku memoar, insight keprofesian, diktat kuliah/sekolah, atau sekadar how-to yang ringan.

Kalau Anda seorang tokoh publik, atau setidaknya berniat menjadi tokoh publik, buku Anda adalah alat yang efektif untuk menunjukkan kepakaran serta kredibilitas Anda. Apalagi bila Anda menerbitkannya melalui penerbit mayor. Terasa lebih bergengsi. Di penerbit mayor, tidak semua naskah boleh terbit, ada mekanisme seleksi yang ketat. Selain itu, melalui penerbit mayor yang sudah ternama, buku Anda akan dicetak 3.000 hingga 10.000 eksemplar sekaligus, lalu didistribusikan ke toko-toko buku di seluruh Indonesia. Bandingkan jika Anda menerbitkannya secara indie. Namun, di sini saya tidak hendak membandingkan kedua metode penerbitan ini.

Yang hendak saya sampaikan adalah manfaat menulis dan menerbitkan buku sebagai salah satu strategi personal branding. Lihatlah, para motivator, trainer, sales, pebisnis, broker, calon presiden, banker dan tokoh agama telah memanfaatkan buku sebagai alat menjaring massa dan meraih popularitas. Tung Desem Waringin, Hermawan Kartajaya, Ary Ginanjar, Safir Senduk dan Ippho Santosa adalah sedikit saja di antara contoh orang-orang yang sukses membangun brand-nya melalui buku. Lebih intelek. Lebih elegan.

Memang, untuk membangun personal brand, Anda tetap bisa potong kompas dengan memanfaatkan space iklan di media massa atau mengotori jalan-jalan umum dengan baliho dan spanduk bergambar Anda, lengkap dengan kata-kata bijak. Tapi, itu cara yang sangat mahal dan hanya berefek sesaat.

Sementara dengan buku, selama ia memiliki ISBN, nama Anda akan selamanya tercatat secara internasional. Buku itu akan disimpan di perpustakaan-perpustakaan, mulai dari tingkat kecamatan sampai perpustakaan nasional di mancanegara. Sifat personal branding yang tahan lama ini akan semakin tahan zaman bila Anda memasukkan buku tersebut ke dalam Google Books.

Buku, di lain sisi, memiliki citra intelek. Artinya, masyarakat hampir selalu menilai penulisnya sebagai orang yang pandai dan terpelajar. Itulah kenapa dosen yang sudah menerbitkan buku akan mendapat kenaikan poin di kampusnya. Seorang pembicara akan tampak mentereng jika di CV-nya terpajang daftar panjang buku-bukunya. Tokoh-tokoh publik yang sedang berkampanye, mulai dari caleg sampai capres, pun sibuk memunculkan citra intelektualnya melalui peluncuran buku berisi kisah hidup dan pengalamannya.

Namun, sekadar mengingatkan, efek positif yang muncul setelah peluncuran buku Anda tidak bisa seketika. Tidak bisa seperti iklan televisi yang berpeluang menjadikan Anda langsung terkenal jika setiap hari terus diputar di prime time. Efek keterkenalan yang diakibatkan buku butuh waktu. Meski jelas, menulis buku biayanya jauh lebih murah, dampaknya bertahan dalam jangka panjang, serta cenderung membuktikan intelektualitas Anda.

Jadi, kenapa Anda tidak menulis buku?

Sebenarnya, tidak harus Anda yang menulis kok. Tugas itu dapat Anda serahkan pada tim Anda. Atau, bisa juga pada penulis profesional. Sehingga, Anda tetap dapat fokus di bidang Anda tanpa direpotkan dengan teknis penulisan (jika Anda tidak suka atau tidak sempat menulis). Bagaimanapun, ide dan pemikiran dalam buku itu tetap harus dari Anda. Karena ini buku Anda. Kepakaran Anda. Brand Anda. Dan Andalah yang kelak akan menikmati hasilnya. [photo from DenverLibrary.org]

7 Replies to “Personal Branding with Books”

  1. Mochamad Yusuf

    Ini artikel beneran atau sebenarnya memiliki motif terselubung? Ada udang dibalik batu gitu… Hehehe. Maksudnya kalau mau sukses tulis buku dong. Tapi kalau nggak bisa nulis, mintalah bantuan padaku. Hehehe. Benar nggak, Brahm.

    Reply
  2. Brahmanto Anindito Post author

    Wehehe, jangan (dibongkar) gitu dong, Pak. Artikel ini kan sekadar sharing pentingnya melakukan personal branding secara intelek dan elegan. Soal teknisnya nanti, terserah pribadi masing2 ๐Ÿ™‚

    Nggak tahu, ini HP kok susah dapet sinyal wi-fi akhir2 ini. Internetan dari kartu pun Edge melulu, kadang malah GPRS. Mana phone memory-nya suka full lagi. Nantilah, kucoba hapus2 yg nggak perlu dan apdet2 aplikasinya.

    Reply
  3. Brahmanto Anindito Post author

    Ya, sudah kelihatan dari tulisannya kok, kalau nggak suka nulis, hehehe…. Itu poinnya. Hobi nggak bisa dipaksakan. Kalau nggak hobi nulis, meski diikutkan seminar/workshop menulis yang harganya 1 milyar, ya tetap akan sia2.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.