Mind Mapping untuk Penulisan Fiksi

Mind Mapping untuk Penulisan Fiksi

Pernah melihat coretan-coretan amburadul tetapi nyeni semacam ini? Mind Mapping, namanya. Pemetaan pikiran ini bukan sekadar corat-coret. Ini adalah teknik visualisasi otak yang bisa menjadi game changer untuk proses kreatif Kakak.

Jadi, setiap akan menulis novel atau skenario, biasakan membuatnya. Meskipun sebagian orang akan berpendapat, ini hanya membuang-buang waktu, membatasi kreativitas, old school, malah membuat pekerjaan buntu, atau berbagai anggapan miring lainnya.

Pentingnya Mind Mapping

Pentingnya Mind Mapping

Mungkinkah film bagus tanpa skenario? Bahkan kelompok pertunjukan lawak legendaris yang katanya terbiasa spontan melawak, seperti Srimulat, tetap melakukan briefing dan brainstorming sebelum manggung. Tidak ada yang benar-benar spontan. Sesuatu yang sepenuhnya spontan biasanya tidak pernah berakhir bagus.

Ketika menjuri salah satu peserta Stand Up Comedy Indonesia di Kompas TV, Indro Warkop pernah mengatakan, “Melawak itu enggak bisa total dari spontanitas, Pak. Kalau Anda terlalu pede dan meremehkan konsep, siap-siap aja menjadi enggak lucu.”

Bukan hanya Om Indro, komedian sekelas Jim Carrey saja mengaku pernah garing saat terlalu percaya diri melakukan stand up comedy tanpa persiapan. “All messed up!” ujarnya, mengomentari penampilannya sendiri.

Menyiapkan peta konsep juga penting di dunia karya tulis.

Dahulu sekali, wartawan turun lapangan dengan kepala kosong, tanpa tahu hendak meliput apa. Mereka mengais berita. Melihat kecelakaan, mereka menulis berita kecelakaan. Memergoki orang mau bunuh diri, mereka menulis berita usaha bunuh diri.

Masa-masa seperti itu sudah berlalu. Wartawan sekarang sebelum turun lapangan sudah dibekali dengan kerangka peliputan. Agar kerjanya efektif dan produktif. Sebab, spontanitas hanya membuang-buang waktu.

Otak kita tidak bekerja linier seperti daftar belanjaan: Satu, lalu dua, kemudian tiga, dan seterusnya. Melainkan saling terkoneksi satu sama lain, dan terkadang acak. Sebuah aroma teh bisa mengingatkan Kakak pada hujan, lalu pada kenangan mantan, lalu pada berita pembunuhan di kafe.

Nah, mind mapping meniru cara kerja sel saraf otak yang saling terhubung itu. Bagi penulis fiksi, berarti mind mapping berguna untuk:

  • Melihat gambaran besar ceritanya.
  • Menemukan cacat logika. Dengan visualisasi, lubang dalam cerita lebih terlihat dibanding dengan hanya membayangkannya.
  • Memicu kreativitas lanjutan. Satu cabang ide akan memancing cabang-cabang baru yang tidak terduga.

Jadi, janganlah terlalu mengandalkan insting, ilham, spontanitas, atau keberuntungan. Turutilah saran guru-guru bahasa Indonesias kita dahulu: mulailah sebuah tulisan dengan kerangka. Dan salah satu bentuk kerangka adalah mind mapping yang kita bicarakan ini.

Langkah-langkah Mind Mapping

Langkah-langkah Mind Mapping

Jangan bayangkan yang rumit-rumit. Metode mind mapping ini begitu sederhana, bahkan mengasyikkan membuatnya. Cukup siapkan whiteboard atau kertas lebar dan spidol-spidol berwarna-warni. Lalu, ikuti saja ke mana otak Kakak pergi (tentu saja yang ada hubungannya dengan cerita).

Gunakan struktur ini untuk membangun kerangka novel yang kokoh:

  1. The Core (Inti). Letakkan premis atau judul karya di tengah. Misalnya, “Kisah Detektif yang Takut Darah”.
  2. The Pillars (Cabang Utama). Tarik 3-4 cabang besar dari inti. Biasanya terdiri dari tokoh, alur, latar, dan tema/pesan.
  3. Deep Dive (Pendalaman). Pecah cabang-cabang utama tadi. Di Cabang Tokoh, umpamanya, buatlah subcabang Tujuan, Motivasi, Penghalang, Kelemahan. Hubungkan tokoh A dan B dengan garis panah jika mereka memiliki hubungan rahasia. Di Cabang Alur, gunakan struktur seperti 15 beat sheets Save The Cat!. Di Cabang Latar, pecah menjadi Lokasi, Aturan Komunitas, dan Pancaindra (bau pasar ikan, suara sirine kota).

Terus kembangkan cabang-cabang dan subcabang-subcabang tersebut. Tidak ada patokan baku kapan sebuah mind map dirasa cukup. Kakak sendirilah yang menentukan seberapa luas mind map itu.

Gunakan variasi warna agar tidak bingung sendiri membaca visualisasi otak Kakak sendiri, hehehe. Misalnya, merah untuk bahaya, biru untuk karakter protagonis, hijau untuk latar tempat. Ketimbang teks, otak lebih cepat memproses warna.

Dan gambar! Jika memungkinkan, tempelkan foto referensi aktor (cast impian Kakak) atau ilustrasi tempat yang menjadi latar cerita. Tidak usah perfeksionis. Berantakan juga tidak apa-apa, yang penting jelas maksudnya.

Kakak akan terkejut melihat hasil akhir mind mapping ini. Sebuah gambar yang artistik, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Seperti itulah kurang-lebih gambaran saraf-saraf otak kita bekerja. Konsep-konsep, subkonsep, saling terjalin, bercabang, berserabut, membangun, dan mempengaruhi satu sama lain.

Lalu Apa?

Selamat! Sekarang, Kakak sudah memiliki kompas dalam berkarya. Kakak bisa memajang peta pemikiran alias mind map ini di meja kerja, supaya tidak tersesat ketika sedang menggarap tulisan tersebut.

Ingat, peta atau kompas bukanlah rel kereta api. Kita boleh mengabaikannya, sesekali. Jika saat menulis bab 5, misalnya, Kakak menemukan ide yang melenceng dari mind map, tetapi relevan dengan cerita dan sepertinya lebih keren, ikuti saja. Gas! Mind map bisa direvisi belakangan.

Kakak juga tidak harus mengerjakan urut dari A sampai Z. Kakak mau mengerjakan bagian J dulu, lalu B, terus P, dan melompat balik ke A, terserah! Santai saja, Kakak takkan kehilangan arah dan lupa alur. Karena Kakak sudah memegang kerangkanya. Petanya!

Ringkasan Mindmapping Fiksi (dalam bentuk mindmap)

BAGIKAN HALAMAN INI DI

7 thoughts on “Mind Mapping untuk Penulisan Fiksi”

  1. Dulu seseorang pernah menyarankan hal yang sama, tapi bukan untuk mengurai suatu gagasan dalam menulis melainkan untuk perencanaan karier. Tapi sepertinya menarik juga saran anda. Terima kasih. 😀

    Reply
  2. Aku nggak pernah bikin kerangka pake gambar, tapi tulisan. Cuman, nggak jarang malah jadi membingungkan. Dan nggak bisa mengerjakan secara melompat-lompat, krn nantinya malah serasa punya utang.

    Reply
  3. Pingback: Aleena
  4. @Rie: Wah, coba deh sekali-sekali.

    Hm, baru ingat, guru sejarah di SMA-ku juga selalu ngajar dg metode mindmapping. Berarti komenku (#4) perlu diralat. Aku udah kenal metode ini sejak SMA. Jd waktu itu memang enak ngikutin pelajaran sejarah. Kan peristiwa satu dg peristiwa lain terhubung, itu bs langsung kelihatan di mind map tsb. Bahkan dg bab lain!

    Btw, ada satu lg yg perlu kutambahkan. Baru inget guru sejarahku itu jg suka menghubung2kan bab satu dg bab2 sebelumnya, hehehe. Bahwa kita selalu bisa “mengawinkan” mind map satu dg lainnya, selama memang ada yg sub yg sama (overlapping). Jd, kalau mau sebenarnya kertas mind map bisa digandeng2. Hasilnya akan semakin luas, semakin kompleks, dan kita semakin bisa melihat permasalahan secara keseluruhan. Tentu saja ini perlu atau tidak, sesuaikan dg kebutuhan saja.

    Reply

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don't do that, please!