Mind Mapping for Fiction Writing

Mind mapping exampleDo you make a skeleton before writing your work of fiction? I do. It is important for me. The skeleton is like a railroad that makes the machinist saves his time from thinking all the time, “Where do I go after this station?” You can say, skeleton for a novel is the same as scenario for a movie. The audience does not need it, but the storymakers do.

I love to use a mind mapping method. It is more practical and flexible. Have you known it? It is just like the picture I borrow from Mindmap.com beside. And, design something like that is painless. First of all, prepare a large sheet of paper and markers in various colors. Then, just follow where your brain goes:

  1. Write or draw the main idea in the middle of paper. Use a variety of colors.
  2. Write the sub ideas as a branch. Continue to develop the branch’s branches.
  3. If there are sub ideas associate with another, do not hesitate to connect them with line.

In my opinion, you should separate a mind map for characters and for plot. There is no standard of excellence in mind mapping. As long as it helps you a lot, it is a good mind map. As I said, your audience does not need it. Your end-product is still a novel, not a mind map.

* * *

Setiap akan menulis novel (atau melakukan pekerjaan panjang apapun), saya terbiasa memulai dengan kerangka konsep. Sebagian orang bilang, ini membuang-buang waktu, membatasi kreativitas, old school, malah bikin writer’s block. Saya bilang, ah, tidak juga. Kerangka dalam novel itu sama seperti skenario dalam film. Mungkinkah film bagus tanpa skenario?

“Mungkin saja,” jawab Anda. Toh Srimulat bisa tampil lucu tanpa diskenario terlebih dahulu.

Hahaha, tunggu dulu. Tahukah Anda, setiap Srimulat atau grup-grup semacam itu hendak manggung, mereka selalu mengadakan pertemuan untuk membahas segala sesuatunya. Jadi, sebenarnya mereka tidak benar-benar spontan. Sesuatu yang spontan biasanya tidak pernah berakhir bagus, kecuali kalau Anda memang manusia setengah dewa di bidang itu.

Ketika menjuri salah satu peserta Stand Up Comedy Indonesia di Kompas TV, Indro Warkop mengatakan, “Melawak itu nggak bisa total dari spontanitas, Pak. Kalau Anda terlalu pede dan meremehkan konsep, siap-siap saja menjadi tidak lucu.”

Saya juga ingat, bahkan komedian sekelas Jim Carrey mengaku pernah garing saat terlalu percaya diri melakukan stand up comedy tanpa persiapan. “All messed up!” ujarnya, mengomentari penampilannya sendiri.

Di dunia penulisan industrial pun lagi-lagi saya melihat kesamaan. Dulu sekali, wartawan turun lapangan dalam keadaan kepala kosong, tanpa tahu mau meliput apa. Mereka mengais berita. Melihat kecelakaan, mereka menulis berita kecelakaan. Memergoki orang mau bunuh diri, menulis berita usaha bunuh diri. Mengalir mengikuti angin berhembus. Spontan.

Tapi masa-masa itu sudah berlalu. Wartawan zaman sekarang sebelum turun lapangan pasti sudah dibekali dengan kerangka peliputan. Bagaimana bila mendadak bertemu peristiwa menarik di jalan? Ya tinggal ditulis saja, kalau memang tertarik. Yang jelas, ada atau tidak ada peristiwa spontan di jalan, wartawan itu akan tetap punya sesuatu untuk ditulis.

Itulah fungsi rencana dan kerangka. Ibarat rel kereta api, ia memastikan masinis tidak usah bingung-bingung lagi, “Setelah dari stasiun ini, kemana lagi ya?”

Jangan terlalu mengandalkan insting, ilham, spontanitas atau keberuntungan. Turutilah saran guru-guru mengarang bahasa Indonesia dan bahasa Inggris kita dulu: mulailah sebuah tulisan dengan kerangka! Terutama tulisan panjang. Kalau cerpen atau artikel, saya kira langsung menulis saja mungkin selesainya lebih cepat.

Ada bermacam cara untuk menyusun kerangka. Yang saya suka adalah metode mind mapping atau pemetaan otak. Dengan metode sederhana ini, Anda bisa melihat gambaran besar cerita, brainstorming, membangun alur, mengetahui bagian mana yang perlu diriset, melihat koneksi antar tokoh atau peristiwa, dan memudahkan aliran ide.

Bagaimana merancang karya dengan mind map? Gampang. Pertama-tama, siapkan kertas lebar dan spidol-spidol berwarna-warni. Lalu ikuti saja kemana otak Anda pergi (tentu saja yang ada hubungannya dengan cerita):

  1. Tulis atau gambar ide utama di tengah kertas. Gunakan variasi warna agar tidak bingung sendiri membaca alur otak Anda.
  2. Tulis sub-sub ide yang penting sebagai cabang. Terus kembangkan cabang-cabang itu.
  3. Jika ada sub yang berhubungan dengan sub lain, jangan ragu, sambungkan dengan garis.

Tidak ada patokan baku kapan sebuah kerangka dirasa cukup. Anda sendirilah yang mengendalikan seberapa luas mind map itu. Oh ya, berdasarkan pengalaman saya, pisahkan antara mind map untuk tokoh dan untuk alur, agar tidak rancu.

Anda akan terkejut melihat hasil akhir mind mapping. Sebuah gambar yang artistik! Seperti itulah kurang-lebih gambaran saraf-saraf otak kita bekerja. Konsep-konsep, sub konsep, saling terjalin, terpilin, bercabang, berserabut, membangun dan mempengaruhi satu sama lain.

Pajang peta otak ini (atau apapun model kerangka Anda) di ruang kerja. Entah tulisan Anda fiksi atau nonfiksi, mulailah menulis berdasarkan kerangka itu.

Namun kerangka bukanlah Undang-undang yang detail mendikte apa yang harus dilakukan. Di lapangan, Anda tetap harus berimprovisasi mengembangkan cerita. Bila mendadak muncul ide lain atau ilham baru, asalkan masih relevan, jangan diabaikan meski sebelumnya tidak tercantum di kerangka Anda. Anggaplah ilham (yang didapat secara spontan) itu sebagai rezeki yang dapat mewarnai dan memperindah tulisan Anda.

Anda juga tidak harus mengerjakan urut dari A sampai Z. Anda mau mengerjakan bagian J dulu, lalu B, terus P, dan melompat balik ke A, terserah! Dan santai saja, seberapa liar Anda bermanuver, Anda takkan kehilangan arah dan lupa alur. Karena Anda sudah memegang kerangkanya. Petanya.

8 Replies to “Mind Mapping for Fiction Writing”

  1. Rizal

    Dulu seseorang pernah menyarankan hal yang sama, tapi bukan untuk mengurai suatu gagasan dalam menulis melainkan untuk perencanaan karier. Tapi sepertinya menarik juga saran anda. Terima kasih. 😀

    Reply
  2. Rie

    Aku nggak pernah bikin kerangka pake gambar, tapi tulisan. Cuman, nggak jarang malah jadi membingungkan. Dan nggak bisa mengerjakan secara melompat-lompat, krn nantinya malah serasa punya utang.

    Reply
  3. Pingback: Aleena

  4. Brahmanto Anindito Post author

    Hm, baru ingat, guru sejarah di SMA-ku juga selalu ngajar dg metode mindmapping. Berarti komenku (#4) perlu diralat. Aku udah kenal metode ini sejak SMA. Jd waktu itu memang enak ngikutin pelajaran sejarah. Kan peristiwa satu dg peristiwa lain terhubung, itu bs langsung kelihatan di mind map tsb. Bahkan dg bab lain!

    Btw, ada satu lg yg perlu kutambahkan. Baru inget guru sejarahku itu jg suka menghubung2kan bab satu dg bab2 sebelumnya, hehehe. Bahwa kita selalu bisa “mengawinkan” mind map satu dg lainnya, selama memang ada yg sub yg sama (overlapping). Jd, kalau mau sebenarnya kertas mind map bisa digandeng2. Hasilnya akan semakin luas, semakin kompleks, dan kita semakin bisa melihat permasalahan secara keseluruhan. Tentu saja ini perlu atau tidak, sesuaikan dg kebutuhan saja.

    Reply
  5. zinseszins rechner kredit download ändern

    Making a note to come back later, as I can't watch videos at work, but I love ThisLife from what I've seen of it . . . . if only it would scan my old film camera photos for me as well.John recently posted.. .fqkj{position:absolute;clip:rect(445px,auto,auto,488px);}approval John recently posted.. .fqkj{position:absolute;clip:rect(445px,auto,auto,488px);}approval [ .fqkj{position:absolute;clip:rect(445px,auto,auto,488px);}approval ]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge