Menyaran Bacaan Wajib Sastra Indonesia

Salah satu novel menghibur yang WAJIB BACA

Melihat buku-buku di rak, katakanlah toko buku atau perpustakaan, kadang kita jadi pusing dengan begitu banyak jibunan buku. Semua terasa lebih menarik dari yang lain. Akibatnya, justru mood kita untuk membaca atau membeli jadi surut.

Hal paling lazim dilakukan adalah seleksi berdasarkan sampul buku. Sampul, atau halaman cover, baik novel atau kumcer (kumpulan cerita pendek), merupakan perwajahan buku yang pertama kita sorot. Tentu sampul yang menarik akan lebih menarik minat kita menjamah dan menariknya dari rak, “Buku apa sih ini, bagus banget sampulnya?”

Tidak berhenti di situ, sampul buku juga memiliki banyak kisah, di sana kita bisa melihat judul, penerbit, dan pengarang, sehingga kita bisa meraba temanya.

Judul ibaratnya pintu masuk buku. Tiap judul memiliki sense yang berbeda-beda pada tiap orang, jangan terjebak judul yang provokatif. Segera lanjutkan menengok sampul belakang buku, terkadang di sana kita biasa melihat sinopsis cerita, juga komentar pakar-pakar yang telah membacanya. Paling tidak ini bisa menjadi barometer kualitas novel atau kumcer yang kita baca.

Sangatlah aman untuk membaca buku yang sudah kita tahu siapa pengarangnya. Arti kata “tahu” bisa jadi karena kita telah membaca karya-karya dari pengarang tersebut sebelumya, atau “tahu” karena kita mendapat rekomendasi, baik dari media (semisal resensi buku) atau orang lain yang telah membaca terlebih dahulu. Setidaknya di pikiran kita telah tumbuh rasa penasaran, sebagus apa sih cerita buku si Anu, apa sebagus buku sebelumnya? Atau penasaran, semenarik apa sih sehingga si Anu bisa bicara kayak gitu?

Pengetahuan tentang siapa yang menerbitkan buku kiranya juga bermanfaat bagi kita, walaupun bisa jadi sangat menipu. Penerbit besar bukan berarti menerbitkan karya-karya besar, malah biasanya standar baku penerbit besar adalah karya-karya yang laku di pasaran, akibatnya karya-karya yang mereka terbitkan adalah karya yang ngepop, yang lagi booming, dan pastinya gampang basi. Mulailah memetakan penerbit buku, mana yang benar-benar memiliki idealisme untuk menerbitkan buku-buku bermutu, atau paling tidak penerbit yang sadar konsep, memiliki standar jelas, sisi unik, terhadap buku yang mereka terbitkan.

Tapi kembali lagi ke awal, semua tergantung selera. Dan saya samasekali tidak menyalahkan beberapa anak muda yang lebih suka membaca teenlit, dan wanita metropolis dengan chicklit.

Menyaran Bacaan Wajib Sastra Indonesia ini merupakan refleksi ketika penulis membaca Majalah Sastra Horison edisi April 2007, di halaman tengah mengenai program LMKS (Lomba Mengulas Karya Sastra) dan LMCP (Lomba Menulis Cerita Pendek) yang pengumuman pemenangnya baru pada bulan September 2007, bekerja sama dengan Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Diknas.

Majalah Sastra Horison sendiri sudah kita kenal sejak lama, yang hingga saat ini masih berjibaku eksis dalam khasanah sastra Indonesia. Walaupun pada beberapa dekade terakhir lebih menyoal ke sisi edukatif. Majalah yang diampu oleh nama-nama yang sudah matang di dunia sastra Indonesia seperti Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail, Arwah Setiawan, Jamal D. Rachman, Hamsad Rangkuti dan Joni Ariadinata ini berjuang mengenalkan sastra di dunia pendidikan lewat berbagai jalur, bahkan menerjunkan sastrawan-sastrawan terbaik negeri ini ke sekolah-sekolah dan universitas-universitas untuk berdialog.

Nah, dalam program LMKS ini, panitia menetapkan masing-masing 20-an judul novel, kumcer, kumpulan puisi, dan naskah drama yang harus diulas peserta. Ketika saya menengok deretan judul-judul novel dan kumcer tersebut, terbetik pertanyaan, “Di antara ratusan buku yang pernah kita baca, sudahkan karya-karya fiksi tersebut turut di dalamnya?” Simaklah judul-judul tersebut:

Novel:

  1. Belenggu, Armijn Pane
  2. Bumi Manusia, Pramudya Ananta Toer
  3. Dadaisme, Dewi Sartika
  4. Gadis Pantai, Pramudya Ananta Toer
  5. Geni Jora, Abidah El-Khalieqy
  6. Kitab Omong Kosong, Seno Gumira Ajidarma
  7. Maut dan Cinta, Mochtar Lubis
  8. Merahnya Merah, Iwan Simatupang
  9. Namaku Tiweraut, Ari Sekarningsih
  10. Orang-Orang Proyek, Ahmad Tohari
  11. Olenka, Budi Darma
  12. Pasar, Kuntowijoyo
  13. Perjalanan Penganten, Ajip Rosidi
  14. Pol, Putu Wijaya
  15. Rumah Kaca, Pramudya Ananta Toer
  16. Senja di Jakarta, Mochtar Lubis
  17. Tabula Rasa, Ratih Kumala
  18. Telegram, Putu Wijaya
  19. Tenggelamnya Kapal van Der Wijck, Hamka
  20. Tuyet, Bur Rasuanto
  21. Upacara, Korie Layun Rampan.

Kumcer:

  1. Adam Ma’rifat, Danarto
  2. Cerita dari Blora, Pramudya Ananta Toer
  3. Dari Ave maria ke Jalan lain ke Roma, Idrus
  4. Daun Kering, Trisno Sumardjo
  5. Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, Kuntowijoyo
  6. Godlob, Danarto
  7. Hujan Menulis Ayam, Sutarji Calzoum Bachri
  8. Kali Mati, Joni Ariadinata
  9. Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, Gus tf Sakai
  10. Keajaiban di Pasar Senen, Misbach Yusa Biran
  11. Kritikus Adinan, Budi Darma
  12. Membaca Hang Jebat, Taufik Ikram Jamil
  13. Menuju Kamar Durhaka, Utui Tatang Sontani
  14. Merdeka, Putu Wijaya
  15. Robohnya Surau Kami, A.A. Navis
  16. Sagra, Oka Rusmini
  17. Saksi Mata, Seno Gumira Ajidarma
  18. Sampah Bulan Desember, Hamsad Rangkuti
  19. Sebatang Ceri di Halaman, Fachrunnas MA Jabbar
  20. Senyum Karyamin, Ahmad Tohari.

Novel dan kumcer di atas diseleksi dari masa yang berbeda, dan dari sekian banyak novel serta kumcer yang paling berkualitas (namun belum maksimal kita apresiasi). Walaupun beberapa jadul banget, sudah kita kenal saat masih di bangku sekolah. Yang jelas novel dan kumcer di atas adalah yang terbaik pada masanya dan masih dapat kita nikmati karena temanya tidak pernah mati. Beberapa novel dan kumcer adalah yang terbaik di periode 1980-an dan 1990-an karena memenangi penghargan nasional.

Terkadang malu juga mengakui bahwa saya sendiri hanya pernah membaca sekitar setengahnya dari daftar di atas. Tapi jika ingin lebih fasih dan meragami khasanah sastra Indonesia, bolehlah kita menengok karya-karya di atas. Yuk, kita cari!

23 comments for “Menyaran Bacaan Wajib Sastra Indonesia

  1. fey
    October 8, 2007 at 04:50

    ya ampun, blom satupun yang aku baca, hmm lagian emang ga begitu suka sastra sih, terlalu berat.

  2. October 18, 2007 at 04:09

    Terlalu berat? Kan belum baca satu pun, jadi kok bisa berpendapat begitu Fey? Coba deh baca salah satu dulu. Tidak semua kok karya-karya di atas berlabel “berat” seperti dugaanmu. Karya-karya Pramudya, Ahmad Tohari, dan Gus Tf memiliki gaya cerita yang runtut dan enak dibaca. Mungkin hanya sajiannya yang berbeda. Menambah ragam bacaan = menambah wawasan. Tapi thanks atas komentarnya.

  3. rie yanti
    October 27, 2007 at 02:19

    Saya suka baca. Tapi buku2 yang saya baca nggak termasuk dalam list di atas. Yang sudah saya baca hanya Belenggu dan Tenggelamnya Kapal van Der Wijk. Pengen sih baca buku2nya Pramoedya. Tapi harganya kok mahal ya? Terus habis dibaca, pengen banget dibikin diskusi. Biar jadi pembaca aktif.

  4. vhea
    October 27, 2007 at 12:00

    karya – karya anak bangsa memang sangat bagus. karya karya mereka sangat sarat makna….. tapi sayangnya generasi muda sekarang kurang menyukai karya – karya yang seperti itu, mereka beranggapan bahwa karya-karya tu sudah kuno,padahal makna yang terkandung didalam karya tersebut sangatlah besar dan bermamfaat bagi siapa saja yang membacanya,saya sudah pernah membaca sebagian dari buku- buku diatas,tapi kenapavovel harimau! harimau!tidak dimasukkan kedalam daftar diatas. padahal novel tu mempunyai nilai sastra yang tinggi….

  5. October 29, 2007 at 10:29

    Thanks buat Rie yanti, bagus lho konsepnya, memang setelah membaca buku kita perlu juga mendiskusikannya, tentu untuk menguatkan alasan kita tentang sisi-sisi menarik bacaan kita, mengapa? Karena tiap orang punya kadar penerimaan sendiri-sendiri, katakanlah resepsi pembaca beda-beda. Apa yang menyebabkan berbeda tentu saja latar belakang pengalaman hidup
    yang berbeda, jadi dengan diskusi kita jadi tahu apa beda penekanan sisi menarik dari lawan diskusi dan hubungannya dengan pengalaman hidupnya. Soal buku yang mahal yah memang mahal, kan tergantung harga kertas dan dolar, hehe… Tapi kita bisa lari ke perpus kok, atau kita bisa saling pinjam buku sama teman-teman.

    Makasih Vhea tentang usulannya, intinya kita jangan membatasi bacaan pada satu ragam bacaan, hal itu hanya akan mempersempit cakrawala berpikir kita. Karakter novel atau karya yang bagus dapat kita lihat dari aspek tema yang tak lekang oleh waktu. Karya yang berangkat dari tren biasanya juga akan cepat basi, karena tren terus berubah, beda sama karya yang berangkat dari penggalian ide. Orang yang beranggapan bahwa novel dalam daftar tersebut kuno mungkin membaca sisi kebahasaannya saja, bukan dari isinya, sayang sekali bukan? Padahal banyak muatan pikiran-pikiran yang menarik dari tiap novel atau cerpen yang mencerminkan keragaman realitas kehidupan. Dengan banyak membaca kita juga belajar ragam kehidupan.

  6. van_riz
    November 25, 2007 at 13:36

    wah…!bagus sekali karya novelnya lom pernah gw baca selama ini,memang sih novel itu salah satu dari karya sastra yang memang diakui dunia dan belum satupun yang terlewatkan.

  7. November 27, 2007 at 08:28

    Aduh, maksud Vanriz novel yang mana? Memang novel-novel yang terdapat dalam daftar bagus-bagus dan telah diakui keunggulannya dalam khasanah sastra Indonesia. Memang tidak semuanya karya sastra kontemporer, beberapa merupakan karya sastrawan kita di masa lalu. Tapi semua tetap penting untuk dibaca, sehingga pengetahuan kita tentang sastra Indonesia menjadi lengkap. Kita bisa mengamati perkembangan tema dan segi-segi lain dalam karya sastra Indonesia yang tentu saja cerminan pemikiran pengarang pada masanya. Jadi jangan ragu untuk membaca.

  8. December 26, 2007 at 13:54

    Memang kelemahan kita terutama guru bahasa dan sastra Indonesia adalah belum banyak membaca atau menguasai karya sastra. Jika sebagian besar kita sudah mampu membaca karya sastra di atas kita akan lebih mudah untuk menuangkan hasil ulasan karena wawasan kita tentang karya sastra cukup memadai. Persoalan inilah yang dihadapi sebagaian besar guru bahasa indonesia. Mari kita mulai untuk membaca karya-karya sastra bermutu.

  9. December 26, 2007 at 13:57

    Tulisannya bagus. mari kita membaca karya sastra terutama sekali bagi guru bahasa Indonesia

  10. January 9, 2008 at 03:51

    Terima kasih Mas Basri untuk apresiasinya. Memang diakui atau tidak, pembelajaran sastra di sekolah-sekolah kurang mendapat porsi maksimal. Hal ini terutama dipicu oleh minat para guru Bahasa Indonesia sendiri yang kurang dalam mengapresiasi karya sastra. Jika guru Bahasa Indonesianya belum membaca karya sastra, saya rasa mustahil bisa menularkan kenikmatan dalam membaca karya sastra pada murid-murid.

    Jadi bapak dan Ibu guru, mulailah membaca karya sastra. Jadilah virus menular yang mampu menginfeksi siswa untuk gemar membaca.

  11. Nana
    February 4, 2008 at 07:20

    Nana ingin memiliki CD & novel tenggelamnya kapal van der wijk tapi dimana Nana bisa mendapatkan CD & novel itu karna Nana ingin menghadiahkan untuk Mama

  12. nu_wey
    March 13, 2008 at 04:24

    yang sudah saya baca cuma bukunya Ahmad tohari dan Budi Darma, itu pun waktu SMA dulu.
    makasih daftar kumcernya, saya jadi pengin baca!

  13. retno utami
    April 16, 2008 at 01:03

    saya sedang melacak novel Tuyet karya Bur Rasuanto . Dulu pernah punya dan sudah baca tetapi sekarang entah di mana rimbanya? Jika ada pembaca yang berkenan untuk mencarikan. Saya tinggal di Bontang, gaka ada toko buku sebesar Gramedia di jakarta.

  14. YUSWAN
    June 17, 2008 at 01:57

    TOLONG DONG INFOR UNTUK LMKS DAN LMCP TAHUN 2008, TANKS YA.

  15. fate libary
    July 14, 2008 at 15:18

    keajaiban di pasar senen lucu kali… dapat menggelitik kulit kepala yang memang jarang keramas…

  16. KAFRAWI
    August 16, 2008 at 02:09

    Mohon dikirimkan hasil LMKS DAN LMCP 2008

  17. KAFRAWI
    August 16, 2008 at 02:15

    TLG INFOX LMKS DAN LMCP 2008, THANKS

  18. Ratih Jumiawati
    September 21, 2008 at 09:56

    Trimakasih atas karya-karyanya yang memang sangat bermanfaat bagi Bangsa Indonesia.

  19. September 28, 2008 at 07:21

    (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  20. takim
    October 30, 2008 at 06:52

    aku mau bca cerpen dari ave maria

  21. malixs
    March 26, 2010 at 17:34

    kepingin banget baca sastra indonesia klasik.
    cuma domisili saya jauh dari indonesia.
    adakah karya sastra di atas yang sudah di convert ke ebook yang bisa di download??
    tolong infonya..

  22. May 13, 2011 at 12:12

    ya klo terjebak judul seh mungkin sudah umum ya, kadang visual memang kadang lebih menggoda karna lebih mengarah ke indra penglihatan, meskipun kadang sinopsis juga menuntut untuk di pelajari namun saya berkemungkinan kurang efisien karna yang di butuhkan pengguna adalah kemudahan dan kenyamanan dlm memilih.
    ya ini hanya sekedar pendapat ya untuk sebuah kemasan seni di butuhkan perpaduan antara berbagai media dan materi mengemas atau berkarya, seperti yg di lakukan kaum2 kontemporer dlm berekspresi.

    salam
    be4rt´s last blog post ..roh seni kontemporer

  23. nana
    October 31, 2013 at 09:16

    sudah baca tetralogi pramudya yang berawal dari bumi manusia, sayang gadis pantai yang sejatinya trilogi 2 buku lainnya musnah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge