Mengenang Pramoedya Ananta Toer, Membaca Bumi Manusia

By: Mochammad Asrori

“Ilmu pengetahuan semakin banyak melahirkan keajaiban. Dongengan leluhur sampai malu tersipu. Tak perlu lagi orang bertapa bertahun untuk dapat bicara dengan seseorang di seberang lautan. Orang Jerman telah memasang kawat laut dari Inggris sampai India! Dan kawat semacam itu membiak berjuluran ke seluruh permukaan bumi. Seluruh dunia kini dapat mengawasi tingkah-laku seseorang. Dan orang dapat mengawasi tingkah-laku seluruh dunia.” (Bumi Manusia)

Pramoedya Ananta Toer dilahirkan dari ayah seorang guru. Nama aslinya, sebagaimana tertulis dalam cerita pendek semi otobiografi Cerita dari Blora, adalah Pramoedya Ananta Mastoer. Dia menghilangkan awalan Jawa “Mas” dari “Mastoer” karena dirasakan terlalu aristokratik, dan hanya menggunakan “Toer” sebagai nama keluarganya.

Pada masa kemerdekaan Indonesia, Pram tergabung dalam kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta. Dia menulis cerpen serta buku di sepanjang karir militernya. Pada 1950-an Pram tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali dia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia saat itu. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Tindakan ini menciptakan friksi antara Pram dan pemerintahan Soekarno.

Semasa hidup, sastrawan kelahiran Blora tahun 1925 ini memang tak lepas dari terali penjara. Tahun 1965 hingga 1979, dia ditahan rezim Orde Baru dengan berpindah-pindah tempat, mulai dari penjara Jakarta, Tangerang, Nusakambangan, Semarang, Pulau Buru, dan Magelang. Pada pemerintahan Belanda pun dia pernah ditahan pada tahun 1947—1949. Nasib karyanya juga tidak lebih baik. Banyak hasil tulisannya yang dirampas Belanda, Inggris, bahkan pemerintahan Indonesia sendiri. Rezim Orde Baru pernah membakar dan merampas karyanya.

Pada tahun 1995 Pram mendapatkan Ramon Magsaysay Award. Sempat diberitakan, 26 tokoh sastra Indonesia tidak setuju dan menulis surat protes ke yayasan Ramon Magsaysay untuk mengingatkan reputasi gelap Pram sebagai “jubir sekaligus algojo Lekra” di masa Demokrasi Terpimpin. Mochtar Lubis bahkan mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah dianugerahkan padanya di tahun 1958.

Dalam berbagai opini di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra 1965. Mereka menuntut Pram untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran tidak terpujinya memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya pada masa paling gelap bagi kreativitas.

Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya di masa pra 1965 itu tidak lebih dari golongan polemik biasa yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang kelewat jauh. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku.

Banyak dari tulisan Pram menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Beberapa tulisannya juga semi otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Pram terus aktif sebagai penulis dan kolumnis.

Ramon Magsaysay Award dia peroleh untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Fukuoka XI 2000, dan pada 2004 mendapat Norwagian Author’s Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Dia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.

Deretan karya-karya tulisan Pram antara lain: Sepuluh Kepala Nica (1946, namun hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta 1947), Kranji-Bekasi Jatuh (1947, fragmen dari Di Tepi Kali Bekasi), Perburuan (1950, pemenang sayembara Balai Pustaka, Jakarta, 1949), Keluarga Gerilya (1950), Subuh (1951, kumpulan 3 cerpen), Percikan Revolusi (1951, kumpulan cerpen), Mereka yang Dilumpuhkan I & II (1951), Bukan Pasarmalam (1951), Di Tepi Kali Bekasi (1951, dari sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada 22 Juli 1947), Dia yang Menyerah (1951, kemudian dicetak ulang dalam kumpulan cerpen), Cerita dari Blora (1952, pemenang karya sastra terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Jakarta, 1953), Gulat di Jakarta (1953), Midah Si Manis Bergigi Emas (1954), Korupsi (1954), Mari Mengarang (1954, tak jelas rimbanya di tangan penerbit), Cerita dari Jakarta (1957), Cerita Calon Arang (1957), Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958), Panggil Aku Kartini Saja (1963, diberitakan dibakar oleh AD 13 Oktober 1965), Kumpulan Karya Kartini (1963, diberitakan dibakar oleh AD 13 Oktober 1965), Wanita Sebelum Kartini (1963, diberitakan dibakar oleh AD 13 Oktober 1965), Gadis Pantai (1962-1965), Sejarah Bahasa Indonesia, Satu Percobaan (1964), Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963), Lentera (1965, tak jelas nasibnya di tangan penerbit ), Bumi Manusia (1980, dilarang Jaksa Agung), Anak Semua Bangsa (1981, dilarang Jaksa Agung), Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981), Tempo Doeloe (1982, antologi sastra pra-Indonesia), Jejak Langkah (1985, dilarang Jaksa Agung), Sang Pemula (1985, dilarang Jaksa Agung), Rumah Kaca (1988, dilarang Jaksa Agung), Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995), Arus Balik (1995), Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1997), Arok Dedes (1999), Mangir (2000), Larasati (2000), Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005).

Bumi Manusia adalah buku pertama dari empat novel yang berdiri sendiri. Novel dalam kuartet Buru ini meliputi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Keempatnya dihasilkan oleh almarhum Pramoedya Ananta Toer sewaktu dalam tahanan buangan di Pulau Buru. Melalui tetralogi Buru inilah Pram berkali-kali dicalonkan sebagai peraih Nobel Sastra.

Novel yang oleh adikalangan dianggap sebagai karya terbaik dari Pram ini mulai ditulis pada tahun 1975 secara sembunyi-sembunyi, dan diterbitkan pada tahun 1980 ketika dia dibebaskan dari Pulau Buru. Jilid pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia untuk kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

Bumi Manusia bertutur tentang perjalanan hidup seorang anak pribumi bernama Minke, cerminan pengalaman RM Tirto Adisuryo seorang tokoh pergerakan pada jaman kolonial yang mendirikan organisasi Sarekat Priyayi dan diakui oleh Pram sebagai organisasi nasional pertama. Kisahnya berlatar Indonesia jaman penjajahan Belanda, antara tahun 1898 hingga 1918, di mana seorang anak pribumi dipandang rendah dan tidak setaraf dengan bangsa-bangsa Eropa, khususnya Belanda.

Minke adalah seorang pribumi yang cerdik, berpikiran terbuka. Dia mendapat pendidikan di sekolah elite HBS. Saat itu pengaruh modernisme dan pemikiran rasionalisme mulai merasuk ke Hindia Belanda. Pemikiran modern itu membawa pengaruh yang besar kepada Minke dalam memandang segi-segi kehidupan. Salah satu yang mendapat perhatiannya adalah kehidupan Nyai Ontosoroh. Minke mulai menyelami sikap dan pemikiran kehidupan seorang nyai, istri simpanan seorang Belanda, yang pada masa itu dipandang rendah oleh masyarakat dan tidak punya hak di sisi undang-undang. Watak Nyai Ontosoroh menjadi sumber penting yang mewarnai perkembangan pemikiran Minke.

Novel ini juga mengisahkan jalinan kisah cinta Minke dengan Annelis, putri Nyai Ontosoroh, dengan begitu apik. Sebuah kisah percintaan antar-ras dengan akhir cerita yang dikemas melalui kekalahan sang tokoh. Pengadilan Belanda tak menganggap perkawinan keduanya sah karena Annelis adalah peranakan Belanda. Walau Minke tahu meski status Annelis adalah istri resminya, posisinya akan tetap kalah di hadapan pengadilan rekaan Belanda, dan Annelis akan tetap dibawa ke Belanda. Minke maupun Nyai Ontosoroh tidak tinggal diam dan terus berupaya berjuang melawan sistem peradilan yang timpang.

Bumi Manusia berakhir dengan kisah yang menyayat hati dan kesan mendalam. Watak Minke yang bermula tumbuh sebagai seorang pengagum Eropa berakhir dengan tragedi yang diakibatkan oleh sistem Eropa yang dipujanya.

Saat diterbitkan, novel ini mendapat sambutan hangat hingga harus mengalami cetak ulang lebih dari 10 kali hanya dalam setahun. Novel ini juga telah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa. Namun kemudian pada tahun 1981, Bumi Manusia dinyatakan sebagai bacaan terlarang di Indonesia karena dituding membawa paham Marxisme-Leninisme dan Komunisme.

Berbagai kalangan menyayangkan perlakuan semena-mena terhadap buku ini, karena diakui tak satupun ideologi marxisme yang menyusup dalam novel Bumi Manusia. Karya ini justru penuh dengan pesan kemanusiaan serta pembelaannya terhadap harkat dan martabat manusia. Bumi Manusia murni gambaran segi-segi kehidupan bangsa terjajah beserta segelintir manusianya yang mencoba meretas kesadaran pentingnya menuntut ilmu untuk kemajuan kehidupan bangsanya.

Novel-novel Pram memang seakan merupakan salah satu bentuk kemarahannya terhadap sistem, individu, organisasi dan pihak yang menindas, yang berlindung di balik sistem keadilan. Namun kesemuanya itu tak terlepas dari pandangan semasa hidup Pram yang selalu berpendapat pentingnya keberanian.

Keberanian penulis dalam menempuh resiko seorang diri untuk mengangkat hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat. Kondisi memprihatinkan rakyat di negara dunia ketiga membuat para penulis memikul tanggung jawab lebih berat. Pram sendiri menyayangkan generasi sekarang yang pemikirannya terlampau miskin dan tidak memiliki perhatian pada kemanusiaan.

37 comments for “Mengenang Pramoedya Ananta Toer, Membaca Bumi Manusia

  1. linna
    February 20, 2008 at 17:02

    Pramoedya bagi saya adalah penulis (yang sepanjang pengetahuan saya) terbaik yang dimiliki indonesia. namun disaat beliau ingin memberi yang terbaik untuk bangsanya yang menurutnya harus diperbaiki alias “dirombak total” (seperti yang saya baca di buku “saya terbakar amarah sendirian–>hasil wawancara P.A.T dgn Andre Vitheck) yang terbit setahun menjelang wafatnya Pramoedya, malah dicekal oleh rezim yang telah membuatnya hampil tuli permanen karena dipopor bedil. sungguh Indonesia telah kehilangan seorang tokoh besarnya dan makin tenggelam ke dalam keterpurukan. Novel yang awalnya diterima namun akhirnya “disembunyikan” karena dianggap terlalu berani. Bumi manusia dan tiga novel lainnya (tetralogi) serta karya-karyanya yang lain bisa jadi masterpiece sebagaimana penulis Rusia Leo Tolstoy yang punya “War and Peace” dan “Anna Karenina” sebagai masterpiece. Pramoedya adalah “cermin” bagi western countries yang ingin membaca Indonesia lewat karya-karya beliau. namun karya2 tersebut hendaknya tak hanya untuk dikenang. Tapi direnungkan. semoga akan lahir Pramoedya2 berikutnya yang akan mampu “melukis” Indonesia lewat karya-karyanya.

  2. February 21, 2008 at 03:26

    Membaca ke empat buku Tetralogi Pram, memang membawa kesenangan tersendiri bagi saya. Saya tertari gaya bahasa dan cara dia menceritakan dengan berdiri di atas setting jaman pergerakan dulu.

    Namun saya kira buat orang kebanyakan, (paling tidak beberapa teman saya), mereka tertarik membaca buku pertama… membaca buku kedua (biasanya tidak selesai) dan tidak melanjutkan ke buku selanjutnya….

    menurut saya pribadi hal ini dikarenakan buku pertama sangat universal dan mulai buku ke dua dst. nuansa budaya dan pergerakan serta politik meningkat, jadi kelihatannya bagi beberapa orang kehilangan daya tariknya.

  3. February 21, 2008 at 06:17

    Trims buat Linna. Nama alm. Pram, dalam jajaran sastrawan nasional, memang sulit dicari bandingannya. Pram kurang beruntung, bahkan untuk seorang calon penerima nobel sastra, ia sama sekali tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah. Ia harus berjuang sendiri agar karya-karyanya bisa dikenal dunia. Padahal, bisa dibayangkan efek yang akan melekat pada sastra Indonesia jika Pram mendapat nobel. Rasanya kita harus bersabar menanti munculnya pengganti Pram yang mampu melebihi pencapaiannya dalam khasanah sastra Indonesia.

    Trims juga buat Pak Brahmastagi. Benar sekali jika dikatakan dari tetralogi Pram, Bumi Manusia lebih universal, lebih menyentuh sisi kemanusiaan, lebih enak untuk dinikmati. Bumi Manusia merupakan pintu masuk dari polemik-polemik yang intens ingin dihadirkan Pram dari tetraloginya. Pram memang mengusung realisme dalam karya-karyanya, sehingga ia mengedepankan aspek deskripsi yang langsung bisa diindera oleh imajinasi pembaca. Ia tidak menggunakan gaya bahasa njlimet penuh perumitan yang justru mengaburkan gambaran pembaca.

  4. February 24, 2008 at 05:36

    pak pram, almarhum meninggalkan warisan budaya yang sangat luar biasa di negeri ini yang tak akan musnah dimakan sang waktu kalo tidak dihapus dengan paksa oleh sejarah. dia memang banyak musuhnya. tapi karya2nya tetap menyisakan sebuah “keabadian” berkreasi ketika masa2 pengekangan justru dicabik-cabik oleh penguasa. semoga pak pram mendapatkan kedamaian di alamnya yang baru.

  5. February 24, 2008 at 08:19

    saya kira Pram sangat beruntung, karena meskipun dalam penjara beliau mendapat kesempatan dalam kesempitan utk tetap menulis dan mendistribusikan karyanya di luar penjara. Barangkali itulah jalan yang diberikan-Nya kepada Pram, namun sayang hingga ke akhir hayatnya ia tidak kembali membuat pengakuan pada-Nya.

  6. February 24, 2008 at 14:38

    Subhanallah…
    :)

  7. February 24, 2008 at 18:31

    Aku hanya ingin klarifikasi komentar KARNA:

    “saya kira Pram sangat beruntung”:
    Pram tidak mendapatkan keberuntungan apa-apa. Di penjara, Pram diijinkan menulis karena pihak Indonesia mendapat tekanan keras dari Internasional. Itupun, Pram hanya diberi pena dan kertas, plus pukulan popor senjata di telinga. Ingat, tetralogi buru dituturkan secara lisan sebelum dialihkan dalam tulisan. Lagipula, sampai sekarang pihak Kejaksaan belum mencabut larangan buku Pram.

    “namun sayang hingga ke akhir hayatnya ia tidak kembali membuat pengakuan pada-Nya”:
    Pram bukan orang agamis, tapi spiritualis. Pengakuan pada-Nya sifatnya individual dengan Tuhan. Itu sudah menjadi hak prerogatif Tuhan. Jangan salah, dulu banyak muslim yang anti Pram dengan melempari rumahnya dan membakar bukunya. Intinya, kadar keyakinan seseorang tak bisa dilihat dari pakaiannya. Buktinya, Rhoma Irama ketahuan ngeloni Angel Elga.

    Salam

  8. February 25, 2008 at 07:17

    Trim buat Pak Sawali, Karna, BidadariAzzam, dan Antok yang telah nimbrung dalam pembicaraan seputar Alm Pram.

    Alm. Pram sebagai penulis memang telah memberikan warisan yang sangat luar biasa pada negeri ini. Patut disyukuri karena sebagian besar karya-karyanya (walau dicoba paksa dihilangkan dari sejarah) masih dapat kita nikmati. Saya rasa, kita harus lebih concern ke karya-karya Pram itu sendiri, dan bagaimana karya itu memiliki daya imbas sosial, budaya, maupun politik tanpa menarik benang merah sejarah kehidupannya. Akan terlalu baur dan penuh prasangka.

    Terlepas dari beruntung atau tidak beruntung, Pram jelas memiliki jiwa yang tebal sebagai penulis. Di tengah keberpihakan waktu ia menulis, di tengah ketidakberpihakan dan di tengah kekangan ia tetap berkarya. Ia tetap konsisten untuk menyuarakan satu sisi hidup yang ia hidupkan melalui tulisan.

  9. February 25, 2008 at 07:57

    Ada satu perusahaan media on-line di Indonesia yang langsung mencoret nama anggota yang akan direkrutnya bila tidak pernah membaca karya Pram. Saya tidak tahu alasannya. Kebetulan saya sedang baca karya Pram ‘bumi manusia’, Tak peduli apakah ia ateis atau seorang pemuka agama, lihatlah semangat, sikap, pandangan yang berusaha lebih baik dari hari kemarin di muka bumi ini, yang tak kenal lelah memperjuangkan hak-haknya.
    Hapus pelarangan beredarnya buku2 Pram.

  10. February 25, 2008 at 08:51

    Terima kasih, Mbak Yuyun. Saya setuju!

  11. March 1, 2008 at 14:00

    keberuntungan bagi Pram menurut saya adalah karena karya dan eksistensinya tetap diakui dan ia sendiri masih dalam keadaan hidup utk mengetahui dirinya mendapatkan pengakuan tsb, terlepas dari apakah dia peduli atau tidak terhadap hal itu. Bukan hal mudah untuk tetap berkarya walau dalam pengasingan dan pemenjaraan atau pelarian. Sekedar perbandingan, Hamka menulis tafsir selama dipenjara, dan Tan Malaka selama perjalanan dari penjara ke penjara menghasilkan Madilog dan berbagai pamflet berisikan pemikirannya. Mungkin ada yang berpikir Pram tidak seberuntung Hamka, tetapi setidaknya ia tidak semalang Tan Malaka yang malah baru diketahui kuburnya.
    Dulu saya merasa beruntung dapat membaca fotokopian sebagian tetralogi bumi manusia dan madilog, sekarang malah sudah terbit gonta-ganti desain sampulnya. =)

    “Pram bukan orang agamis, tapi spiritualis. Pengakuan pada-Nya sifatnya individual dengan Tuhan. Itu sudah menjadi hak prerogatif Tuhan.”
    Saya memang tidak berada di samping Pram saat ia menghembus nafas terakhirnya, tp setidaknya dari pengakuannya di buku Aku terbakar api amarah sendiri itu, ia nyatakan keengganannya mengakui-Nya. Soal dia agamis, spiritualis, relijius, sejenisnya, diterima atau ditolak oleh-Nya, bukan itu yg saya utarakan.
    Pram sengaja menghindari atau memang tidak tertarik menulis soal pengalaman spiritualnya dalam penulisan kisah-kisahnya. Bahkan menurut pengakuannya, Pram tidak pernah membaca karya Pram sendiri. Dalam fiksinya sekalipun, Pram tetap seorang humanis, begitu pendapat saya.

  12. christ
    April 9, 2008 at 06:00

    Wah…aku baru baca Arok Dedes dan Panggil Aku Kartini Saja. Memang menarik membaca kedua buku karangan Pram itu. Pengen sih baca tetraloginya, cuman bingung belinya di mana. Ada yang bisa bantu ???

  13. April 9, 2008 at 09:50

    Thanks. Yang saya tahu, resminya memang tetralogi itu masih terbatas. Jadi memang harus rajin berburu. Dulu saya mendapatkan Bumi Manusia di Blauran Surabaya. Yang lain mungkin bisa membantu?

  14. megaa..
    May 10, 2008 at 03:12

    PRAMOEDYA ANANTA TOER…
    baru-baru ajh saya mendalami sastra. saya tertarik dengan sastrawan yang satu ini. saya baru ajh baca karya romannya yg berjdl “Gadis Pantai”. feodalisme JAWA yg gag beradab, ternyata dituangkan oleh pram dlm roman ini..
    saya kagum pd PRAM,,

  15. mujay
    May 10, 2008 at 03:25

    oh jadi pengen maen ke rumahnya

  16. May 12, 2008 at 09:35

    Sayang sekali tuan rumahnya sudah tidak ada ya Jay, tapi mungkin sangat inspiratif untuk proses kreatif kita. Trims ya jay.

  17. May 12, 2008 at 09:36

    Buat Mega, Gadis Pantai Pram memang asyik dibaca, karena runut dan detil dalam menggambarkan perkembangan psikologis tokohnya.
    Thanks ya Mega.

  18. uuN
    May 22, 2008 at 00:17

    BRAVO Mr. Pramoedya!

    Dulu penasaran banget kenapa karya Pram banyak di bakar,
    karena mengandung paham Marxisme-Leninisme dan Komunisme? Itu kayaknya bisa2nya mereka aja, buku2 Pram sangat inspiring, mungkin mereka merasa terancam sama karya2 yang dihasilkan Pram,hehehe.. I just admire him that much!
    Tetralogi udah lumayan lama kok ada di toko buku besar seperti gramedia. Thanks god Lentera mau m’cetak ulang karya2 Pram =D
    Selain Tetralogi, Bukan Pasar Malam juga wajib baca, bagus banget. oya denger2 gadis pantai harusnya ada lanjutannya ya, tapi krn dibakar yaaah apa daya?! hikzhikz..

  19. May 22, 2008 at 07:36

    Trims buat Uun. Yah saat jaman kuliah dulu memang karya-karya Pram banyak mengundang keingintahuan untuk membacanya, terutama tetralogi. Susahnya kemudian jadi keterusan pengen baca karya lain, mulailah berburu dan membaca Cerita dari Blora, Arok Dedes, Gadis Pantai, Larasati, dll. Dari keterangan yang ditulis dalam novelnya, Gadis Pantai, memang masih ada lanjutannya, semacam dwilogi, sayang tidak diketahui rimbanya.

  20. iswandy
    May 24, 2008 at 14:52

    bicara karya pram memang tiada habisnya, sungguh menggugah kesadaran dan keberanian kita sebagai manusia yang diberkahi martabat oleh Yang Kuasa.
    Semoga lebih banyak lagi kaum muda yang mengenal karyanya dan semoga lagi karya Pram bisa dijadikan bacaan wajib di sekolah menengah atas dan universitas

  21. nur
    September 17, 2008 at 06:45

    aku ga` banyak komentar tentang pramoedya
    pokok nya dia sip (spiritual, intelektual, profesional)

  22. ixora
    September 23, 2008 at 17:50

    almarhum terlalu cepat pergi,,
    pemuda indonesia masih hanya omdo,,,omong doang…
    g ada yg keren kayak minke..g ada yg open minded kyk minke + pram..
    maunya almarhum bikin kursus kepribadian dulu,,buat pemuda,,,
    atau bikin kongres pemuda duLu…
    (utopia bgt,,,hoho)
    dia keren bgt,,nganggap semua deritanya sebagai “sport” belaka…
    walau baru selesai baca bumi manusia dan anak semua bangsa,,saya sudah sangat terinspirasi buat dari jurnalis..!!
    semoga bisa secepatnya!
    hik,,sedih sekali dia sudah g ada….
    tapi kita harus tetp semangat!
    hidup pramis!
    hehe…

  23. amin
    September 28, 2008 at 06:21

    saya pecinta karya Pram, malah kalau ditanya, kalau kamu mau jadi penulis, siapa idola kamu ?. Pasti saya menjawab, Pram. Saya pernah mengenyam Keluarga Gerilya, Cerita dari blora, Bumi Manusia, perburuan, suboh dan banyak lagi. Ternyata filosofinya banyak membentuk jalur berfikir saya tentang kemanusiaan. salam dari malaysia.

  24. sonya
    October 7, 2008 at 00:56

    berkomentar mengenai karya-karya Pramoedya yang dilarang beredar dan sempat dibakar oleh TNI, Pram mengajak kita sebagai manusia untuk kritis dan berjuang dalam menyatakan kebenaran. Sementara rezim orde baru itu banyak membuat kesalahan yang ditutupi oleh murahnya tingkat standar kehidupan oleh karena itu mereka sangat khawatir kalau pada akhirnya dengan tulisan2 Pram, masyarakat bukan lagi terbakar amarah sendirian, namun benar2 membakar rezim orde baru beramai-ramai :). sudah cukup 32 tahun kita dibohongi.

    buku karya Pram yang lain seperti Di Tepi Kali Bekasi, Cerita dari Djakarta, Cerita dari Blora, Subuh dan Perburuan bisa dibeli dimana ya? Di toko buku online hanya tertulis ‘out of print’. Cerita Djakarta dan Perburuan, yang dijual di toku buku online hanya yang versi terjemahan dalam bahasa Inggris. Versi aslinya kemana ya? Saya sudah baca edisi terjemahan dari Cerita dari Blora yang dikemas dalam edisi terjemahan berjudul All That Is Gone, tapi rasanya kurang menggigit. apa karena bahasa inggris saya yang pas2an :D.

  25. weepee
    October 12, 2008 at 04:21

    buat christ n rori, tetralogi pulau buru ada lengkap kok di gramedia denpasar. coba tengok aja, di perpustakaan propinsi bali juga ada.

  26. isa
    February 18, 2009 at 12:23

    nyari bukunya Pramoedya yang Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa ne versi bahasa Inggrisnya, da yang punya gak?

  27. indach ananta toer
    August 13, 2009 at 09:24

    aku seperti menemukan perbendaharaan kataku di wajah opa Pram.jangankan membaca tentang beliau,melihat fotonya saja di hp, di MP4, di komputerku, aku langsung menitikkan air mata. beliau inspirasi terbaik! yang bagiku mengajarkan tentang banyak hal.

  28. May 14, 2010 at 16:25

    saya mencari kemana- mana tidak menemukan,diseluruh toko buku..bisa minta tolong,kemana saya bisa mencari buku yang ber judul percikan revolusi dan subuh…

  29. May 14, 2010 at 16:36

    cerpen karya Pramoedya Ananta Toer,judul Subuh (1951, kumpulan 3 cerpen), Percikan Revolusi (1951, kumpulan cerpen) dimana saya bisa menemukan bukunya….?

  30. December 28, 2010 at 19:20

    The content of your site is really created with care, Who is your team?

  31. January 6, 2012 at 15:18

    you are truly a excellent webmaster. The site loading pace is incredible. It seems that you’re doing any distinctive trick. Furthermore, The contents are masterwork. you’ve performed a great task in this matter!

  32. Dhen Bagoes
    January 23, 2012 at 21:23

    Pramoedya Ananta Toer merupakan seorang pendongkrak birokrasi pada masa itu.
    Kalau saja ada orang seperti beliau saat ini, mungkin Indonesia akan lebih baik.

  33. February 11, 2012 at 07:31

    Jadi semakin tidak sabar ingin melangkahkan kaki ke toko buku, semoga saya masih bisa mendapatkannya…

  34. Haryo Siman
    May 1, 2012 at 21:04

    Saya sedang mencari dua karya klasik Pram: ‘Keluarga Gerilya’ dan ‘Di Tepi Kali Bekasi’. Adakah yang tahu di mana saya dapat membelinya di Jakarta ini?

  35. May 2, 2012 at 09:34

    salam kenal semua..
    ada banyak pesan yang bisa kita ambil dari karya Pram, mari memetik pesan itu dan mnyemaikannya di bumi manusia*.

  36. kheno kupang
    August 19, 2013 at 10:10

    salam kenal yaa.. untuk pecinta opa PRAM.
    alangkah lebih baiknya jika kita tidak hanya membentuk perpustakan (PRAM) di otak kita saja, tapi bagaimana kita bisa alirkan itu ke tangan. :)

  37. October 2, 2014 at 21:25

    Saya salut dengan pribadi almarhum Pramoedya Ananta Toer. Keinginannya untuk berkarya melalui tulisan teramat kuat. Bahkan kekejaman terstruktur yang menghalanginya untuk berkarya pun ia tebas. Lebih dari 50 buku telah ia terbitkan. Begitu banyak suka dan duka yang hadir. Dan setiap buku yang terbit, memiliki ceritanya sendiri dalam proses penerbitannya. Semoga amal beliau diterima disisi-Nya. Karyamu selalu menginspirasi kami, Pak. :’)
    Ahmad Mufid´s last blog post ..Pose Foto Cihuy Bagi Masyarakat Agar Terlihat Cakep

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge