<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Memilah-milih Buku</title>
	<atom:link href="http://warungfiksi.net/memilah-milih-buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://warungfiksi.net/memilah-milih-buku/</link>
	<description>fictions and facts from Indonesia, as a raw material to make Indonesia-based story</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Sep 2010 17:01:45 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
	<item>
		<title>By: Rori</title>
		<link>http://warungfiksi.net/memilah-milih-buku/comment-page-1/#comment-1586</link>
		<dc:creator>Rori</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 01:52:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=156#comment-1586</guid>
		<description>Yah, itu memang resikonya, Mbak Inda. Kalau begitu kasusnya, lebih baik pinjam di perpustakaan. Tapi yang seperti ini, jangan mengharap buku-buku baru.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yah, itu memang resikonya, Mbak Inda. Kalau begitu kasusnya, lebih baik pinjam di perpustakaan. Tapi yang seperti ini, jangan mengharap buku-buku baru.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: inda</title>
		<link>http://warungfiksi.net/memilah-milih-buku/comment-page-1/#comment-1452</link>
		<dc:creator>inda</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 16:57:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=156#comment-1452</guid>
		<description>kalau ada novel yang kita beli terus membuat kita engga beli novel lagi gimana. saya beli history of lovenya nicole krauss. menurut saya itu novel bagus banget. saya puas seratus persen. bulan berikutnya saya niat cari novel lain. trus koq ya novel novel lainnya itu koq terasa - idih rugi banget gw buang duit untuk novel kaya gini-, history of love buat saya kecanduan berat. saya baca berulang ulang sampai novelnya lecek. karena saya merasa gak mungkin ada novel sebagus itu.
sekarang saya bacanya atau belinya buku kum cer ajalah.
pernah ga ada yang seperti saya, merasa terikat pada satu novel trus jadi sinis sama novel yang lain.
kalau ada yang sama seperti saya, bolehlah kasih tau sama saya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalau ada novel yang kita beli terus membuat kita engga beli novel lagi gimana. saya beli history of lovenya nicole krauss. menurut saya itu novel bagus banget. saya puas seratus persen. bulan berikutnya saya niat cari novel lain. trus koq ya novel novel lainnya itu koq terasa &#8211; idih rugi banget gw buang duit untuk novel kaya gini-, history of love buat saya kecanduan berat. saya baca berulang ulang sampai novelnya lecek. karena saya merasa gak mungkin ada novel sebagus itu.<br />
sekarang saya bacanya atau belinya buku kum cer ajalah.<br />
pernah ga ada yang seperti saya, merasa terikat pada satu novel trus jadi sinis sama novel yang lain.<br />
kalau ada yang sama seperti saya, bolehlah kasih tau sama saya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rie yanti</title>
		<link>http://warungfiksi.net/memilah-milih-buku/comment-page-1/#comment-1017</link>
		<dc:creator>rie yanti</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 02:29:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=156#comment-1017</guid>
		<description>Oya, maap salah. Hehehe. Maap ya, Bang Andrea (btw Andrea Hirata pernah mampir di wufi ga?). Thanx Brahm.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Oya, maap salah. Hehehe. Maap ya, Bang Andrea (btw Andrea Hirata pernah mampir di wufi ga?). Thanx Brahm.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rori</title>
		<link>http://warungfiksi.net/memilah-milih-buku/comment-page-1/#comment-1016</link>
		<dc:creator>Rori</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 02:49:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=156#comment-1016</guid>
		<description>Trims, Rie. Datang ke diskusi buku boleh juga. Sayangnya tidak setiap buku ada diskusinya, bahkan jarang sekali acara ini diadakan. Diadakan pun kemungkinan besar itu bukan buku (dari genre) favorit kita.

Eh, yang bilang teenlit itu transisi bukan HTR, melainkan Andrea Hirata. Hm, jadi kamu lebih setuju pada Andrea? Ya, ya ya. Kalau saya.... Saya pilih yang tengah-tengah deh. Hehe... (tapi maksud saya bukan Moammar Emka lho).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Trims, Rie. Datang ke diskusi buku boleh juga. Sayangnya tidak setiap buku ada diskusinya, bahkan jarang sekali acara ini diadakan. Diadakan pun kemungkinan besar itu bukan buku (dari genre) favorit kita.</p>
<p>Eh, yang bilang teenlit itu transisi bukan HTR, melainkan Andrea Hirata. Hm, jadi kamu lebih setuju pada Andrea? Ya, ya ya. Kalau saya&#8230;. Saya pilih yang tengah-tengah deh. Hehe&#8230; (tapi maksud saya bukan Moammar Emka lho).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rie yanti</title>
		<link>http://warungfiksi.net/memilah-milih-buku/comment-page-1/#comment-1015</link>
		<dc:creator>rie yanti</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 02:43:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=156#comment-1015</guid>
		<description>Ada pepatah bilang ‘jangan menilai buku dari sampulnya’. Tapi kalau bukunya sendiri disegel, mau nggak mau kita menilai buku dari sampulnya. Saya biasanya membeli buku setelah membaca resensinya di media, atau mengetahui terlebih dahulu siapa pengarangnya. Soal penerbit, saya tidak peduli, karena penerbit yang sudah punya reputasi pun tidak menjamin bisa memasarkan karya-karya yang bagus. Tips lain yang bisa saya kasih dalam memilih buku, coba datang ke acara diskusi atau peluncuran buku. Selain kita bisa tahu isi buku tersebut menarik (bagus) atau tidak, kita juga bisa dapat tanda tangan penulisnya. ?
Poplit vs sastra? Tergantung selera pasar juga. Kalau banyak yang suka baca poplit, banyak juga yang nulis poplit. Yang baca sastra cuma orang-orang tertentu kayak sastrawan, praktisi pendidikan, jurnalis. Kita nggak bisa maksa orang-orang buat suka sastra kalau mereka lebih nyaman membaca poplit. Lagipula, bukankah ini yang dinamakan kebebasan berekspresi?
Jujur saya terganggu dengan kehadiran poplit, dengan pertimbangan alurnya yang mudah ditebak, bahasanya yang terlalu sehari-hari. Tapi saya berharap apa yang dikatakan Helvy Tiana Rosa dalam acara talk show di TvOne itu benar, bahwa teenlit adalah transisi seorang penulis menuju sastra yang sebenarnya, yang dalam, yang menginspirasi. Anggap saja penulis poplit?atau apapun namanya itu? masih belajar menulis fiksi, seperti anak kelas satu SD yang baru belajar menulis. Nah, menjadi tugas para penulis sastra untuk mengarahkan mereka ke “jalan yang benar”.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ada pepatah bilang ‘jangan menilai buku dari sampulnya’. Tapi kalau bukunya sendiri disegel, mau nggak mau kita menilai buku dari sampulnya. Saya biasanya membeli buku setelah membaca resensinya di media, atau mengetahui terlebih dahulu siapa pengarangnya. Soal penerbit, saya tidak peduli, karena penerbit yang sudah punya reputasi pun tidak menjamin bisa memasarkan karya-karya yang bagus. Tips lain yang bisa saya kasih dalam memilih buku, coba datang ke acara diskusi atau peluncuran buku. Selain kita bisa tahu isi buku tersebut menarik (bagus) atau tidak, kita juga bisa dapat tanda tangan penulisnya. ?<br />
Poplit vs sastra? Tergantung selera pasar juga. Kalau banyak yang suka baca poplit, banyak juga yang nulis poplit. Yang baca sastra cuma orang-orang tertentu kayak sastrawan, praktisi pendidikan, jurnalis. Kita nggak bisa maksa orang-orang buat suka sastra kalau mereka lebih nyaman membaca poplit. Lagipula, bukankah ini yang dinamakan kebebasan berekspresi?<br />
Jujur saya terganggu dengan kehadiran poplit, dengan pertimbangan alurnya yang mudah ditebak, bahasanya yang terlalu sehari-hari. Tapi saya berharap apa yang dikatakan Helvy Tiana Rosa dalam acara talk show di TvOne itu benar, bahwa teenlit adalah transisi seorang penulis menuju sastra yang sebenarnya, yang dalam, yang menginspirasi. Anggap saja penulis poplit?atau apapun namanya itu? masih belajar menulis fiksi, seperti anak kelas satu SD yang baru belajar menulis. Nah, menjadi tugas para penulis sastra untuk mengarahkan mereka ke “jalan yang benar”.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
