<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Logika Bertutur dalam Fiksi</title>
	<atom:link href="http://warungfiksi.net/logika-bertutur-dalam-fiksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://warungfiksi.net/logika-bertutur-dalam-fiksi/</link>
	<description>copywriting &#124; ghostwriting &#124; scriptwriting &#124; about culture, nature and creature of Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 04:32:34 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Brahm</title>
		<link>http://warungfiksi.net/logika-bertutur-dalam-fiksi/comment-page-1/#comment-962</link>
		<dc:creator>Brahm</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 03:25:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=149#comment-962</guid>
		<description>Silakan. Ke bhanto@yahoo.com ya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Silakan. Ke <a href="mailto:bhanto@yahoo.com">bhanto@yahoo.com</a> ya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Aleena</title>
		<link>http://warungfiksi.net/logika-bertutur-dalam-fiksi/comment-page-1/#comment-961</link>
		<dc:creator>Aleena</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 03:21:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=149#comment-961</guid>
		<description>Mmmm..... *Masih binggung dengan penerapan*

Loading....

Hang!!

Begini saja, saya ada cerpen saya sendiri. Nanti saya kirim ke mas Bram. Terus mas Bram coba menganalisisnya dengan &#039;pengkritisian logika&#039;, sehingga saya bisa melihat langkah-langkahnya.

Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana? Cerpenya cuma 3 halaman, kok.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mmmm&#8230;.. *Masih binggung dengan penerapan*</p>
<p>Loading&#8230;.</p>
<p>Hang!!</p>
<p>Begini saja, saya ada cerpen saya sendiri. Nanti saya kirim ke mas Bram. Terus mas Bram coba menganalisisnya dengan &#8216;pengkritisian logika&#8217;, sehingga saya bisa melihat langkah-langkahnya.</p>
<p>Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana? Cerpenya cuma 3 halaman, kok.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Brahm</title>
		<link>http://warungfiksi.net/logika-bertutur-dalam-fiksi/comment-page-1/#comment-960</link>
		<dc:creator>Brahm</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 02:55:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=149#comment-960</guid>
		<description>Definisi kefiktivan itu ya bagaimana pencerita mendefinisikan sampai sejauh mana unsur2 fiktif hrs dianggap nyata oleh pembaca/penontonnya. Ini yg menyebabkan Superman (yg kekuatannya ajaib dan tdk masuk akal itu) menjadi meyakinkan, bukan tampil sbg makhluk rekaan yg khayal, meski kita tahu dia khayalan.

Biasanya definisi kefiktivan ada di bab2 awal. Tp tdk selalu. Bahkan bisa jd definisi kefiktivan bisa ada di karya lain. Misalnya (lg2 aku ambil tokoh fantasi nih, biar jelas) tokoh Sub Zero dlm Mortal Kombat. Di filmnya, tdk diceritakan bagaimana bisa tokoh itu mengeluarkan ilmu yg membekukan lawannya. Tp kefiktivan itu tlh didefinisikan pd karya lain, yaitu game Mortal Kombat. Dg begini, orang yg menonton filmnya tdk heran dg kemampuan sang tokoh yg tdk terjelaskan sepanjang film itu.

Inilah seninya mengkaji logika bertutur. Banyak hal yg perlu dipertimbangkan (tdk bisa langsung vonis). Begitu kompleks. Begitu mengasyikkan. Setidaknya buat aku ^_^. Aku suka dg pertanyaan2mu, Aleena. Thx. Ada pertanyaan lain?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Definisi kefiktivan itu ya bagaimana pencerita mendefinisikan sampai sejauh mana unsur2 fiktif hrs dianggap nyata oleh pembaca/penontonnya. Ini yg menyebabkan Superman (yg kekuatannya ajaib dan tdk masuk akal itu) menjadi meyakinkan, bukan tampil sbg makhluk rekaan yg khayal, meski kita tahu dia khayalan.</p>
<p>Biasanya definisi kefiktivan ada di bab2 awal. Tp tdk selalu. Bahkan bisa jd definisi kefiktivan bisa ada di karya lain. Misalnya (lg2 aku ambil tokoh fantasi nih, biar jelas) tokoh Sub Zero dlm Mortal Kombat. Di filmnya, tdk diceritakan bagaimana bisa tokoh itu mengeluarkan ilmu yg membekukan lawannya. Tp kefiktivan itu tlh didefinisikan pd karya lain, yaitu game Mortal Kombat. Dg begini, orang yg menonton filmnya tdk heran dg kemampuan sang tokoh yg tdk terjelaskan sepanjang film itu.</p>
<p>Inilah seninya mengkaji logika bertutur. Banyak hal yg perlu dipertimbangkan (tdk bisa langsung vonis). Begitu kompleks. Begitu mengasyikkan. Setidaknya buat aku ^_^. Aku suka dg pertanyaan2mu, Aleena. Thx. Ada pertanyaan lain?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Aleena</title>
		<link>http://warungfiksi.net/logika-bertutur-dalam-fiksi/comment-page-1/#comment-959</link>
		<dc:creator>Aleena</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 04:19:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=149#comment-959</guid>
		<description>Dan definisi kefiktivan? Apakah gerangan itu?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dan definisi kefiktivan? Apakah gerangan itu?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Brahm</title>
		<link>http://warungfiksi.net/logika-bertutur-dalam-fiksi/comment-page-1/#comment-958</link>
		<dc:creator>Brahm</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 03:30:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=149#comment-958</guid>
		<description>Hi to you too, Aleena. Tp jwb dulu, yg menarik tuh tulisan di atas atau aku? Hehehe.

Tentu sj yg kutulis ini bisa diaplikasikan lah. Dulu sewaktu jd kritikus, aku menggunakannya utk &quot;membantai&quot; karya2 orang lain. Sekarang, setelah &quot;insaf&quot; dan menjadi praktisi, aku memakainya utk mengoreksi benang2 logika dlm karya2ku sendiri.

Metodenya nggak kutulis di sini, krn bisa2 ini jd tulisan yg puanjaaaang, apalagi hrs dilengkapi dg contoh2nya pula. Contoh yg baik (yg jls) itu kan kudu riil supaya mudah dikenali pembaca. Artinya, karyanya hrs sdh beredar di masyarakat luas. Masalahnya, mengutip2 kalimat atau paragraf dlm karya orang yg sdh berhak cipta, kalau mau bersikap etis dan elegan, hrs atas ijin empunya. Jd aku memutuskan tdk pakai kutipan samasekali.

Inti Pengkritisian Logika tuh sederhana kok: Mencari CL (cacat logika)! Utk mencari CL, kumpulkan dulu dugaan2 ketidaklogisan cerita. Lalu dianalisis berdasarkan: Bagaimana definisi kefiktivan karya itu, apakah ketidaklogisan yg ditemukan bersifat telak, dan apakah ketidaklogisan itu signifikan thd cerita. Kurang lebih begitu, Aleena.

Logika hanya merupakan salah satu unsur dlm penulisan. Bisa saja suatu cerita logis (CL-nya minim atau nihil), tapi tidak menarik. Ada jg cerita yg seru tp tidak logis. Tentu saja kita semua berharap mampu membuat cerita yang dahsyat sekaligus logis. Setidaknya, jangan sampai karya kita terperosok ke strata paling rendah: udah ceritanya nggak menarik (mungkin krn klise), eh, banyak mengandung CL pula.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hi to you too, Aleena. Tp jwb dulu, yg menarik tuh tulisan di atas atau aku? Hehehe.</p>
<p>Tentu sj yg kutulis ini bisa diaplikasikan lah. Dulu sewaktu jd kritikus, aku menggunakannya utk &#8220;membantai&#8221; karya2 orang lain. Sekarang, setelah &#8220;insaf&#8221; dan menjadi praktisi, aku memakainya utk mengoreksi benang2 logika dlm karya2ku sendiri.</p>
<p>Metodenya nggak kutulis di sini, krn bisa2 ini jd tulisan yg puanjaaaang, apalagi hrs dilengkapi dg contoh2nya pula. Contoh yg baik (yg jls) itu kan kudu riil supaya mudah dikenali pembaca. Artinya, karyanya hrs sdh beredar di masyarakat luas. Masalahnya, mengutip2 kalimat atau paragraf dlm karya orang yg sdh berhak cipta, kalau mau bersikap etis dan elegan, hrs atas ijin empunya. Jd aku memutuskan tdk pakai kutipan samasekali.</p>
<p>Inti Pengkritisian Logika tuh sederhana kok: Mencari CL (cacat logika)! Utk mencari CL, kumpulkan dulu dugaan2 ketidaklogisan cerita. Lalu dianalisis berdasarkan: Bagaimana definisi kefiktivan karya itu, apakah ketidaklogisan yg ditemukan bersifat telak, dan apakah ketidaklogisan itu signifikan thd cerita. Kurang lebih begitu, Aleena.</p>
<p>Logika hanya merupakan salah satu unsur dlm penulisan. Bisa saja suatu cerita logis (CL-nya minim atau nihil), tapi tidak menarik. Ada jg cerita yg seru tp tidak logis. Tentu saja kita semua berharap mampu membuat cerita yang dahsyat sekaligus logis. Setidaknya, jangan sampai karya kita terperosok ke strata paling rendah: udah ceritanya nggak menarik (mungkin krn klise), eh, banyak mengandung CL pula.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

