<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Logika Bertutur dalam Fiksi</title>
	<atom:link href="http://warungfiksi.net/logika-bertutur-dalam-fiksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://warungfiksi.net/logika-bertutur-dalam-fiksi/</link>
	<description>fictions and facts from Indonesia, as a raw material to make Indonesia-based story</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Mar 2010 03:12:42 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Puisi Rupa: Pemberontakan Estetika Puisi Modern &#171; Kedai Puisi</title>
		<link>http://warungfiksi.net/logika-bertutur-dalam-fiksi/comment-page-1/#comment-965</link>
		<dc:creator>Puisi Rupa: Pemberontakan Estetika Puisi Modern &#171; Kedai Puisi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 09:00:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=149#comment-965</guid>
		<description>[...] Begitulah, Wianta berjuang demi satu integritas yang ada pada bagian dirinya. Ia berusaha keras agar segala yang ia telah kenal dan ia miliki mendapat hati di khasanah dunia kesenian. Melalui perenungan, Wianta berusaha keluar dari konvensi puisi modern dengan memperkokoh dan mengembangkan secara terus menerus bentuk estetika puisi rupa. Ia menciptakan medium tempat lalu-lintas segala bentu fenomena melalui gaya ekspresi fenomena internal dan gaya ekspresi fenomena eksternal yang diwujudkan dalam tulisan cepat tanpa koreksi atau sensor logika. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Begitulah, Wianta berjuang demi satu integritas yang ada pada bagian dirinya. Ia berusaha keras agar segala yang ia telah kenal dan ia miliki mendapat hati di khasanah dunia kesenian. Melalui perenungan, Wianta berusaha keluar dari konvensi puisi modern dengan memperkokoh dan mengembangkan secara terus menerus bentuk estetika puisi rupa. Ia menciptakan medium tempat lalu-lintas segala bentu fenomena melalui gaya ekspresi fenomena internal dan gaya ekspresi fenomena eksternal yang diwujudkan dalam tulisan cepat tanpa koreksi atau sensor logika. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sinetron Suci Tidak Mendidik! &#171; Oase Filsafat Diri</title>
		<link>http://warungfiksi.net/logika-bertutur-dalam-fiksi/comment-page-1/#comment-964</link>
		<dc:creator>Sinetron Suci Tidak Mendidik! &#171; Oase Filsafat Diri</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 07:59:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=149#comment-964</guid>
		<description>[...]  sinetron suci adalah cerita yang menyalahi ilmu psikologi perkembangan anak-anak dan memperkosa akal sehat [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...]  sinetron suci adalah cerita yang menyalahi ilmu psikologi perkembangan anak-anak dan memperkosa akal sehat [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ATM NINO, PACAR KHANZA ADA Rp10 MILYAR &#171; Sains-Inreligion</title>
		<link>http://warungfiksi.net/logika-bertutur-dalam-fiksi/comment-page-1/#comment-963</link>
		<dc:creator>ATM NINO, PACAR KHANZA ADA Rp10 MILYAR &#171; Sains-Inreligion</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 14:50:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=149#comment-963</guid>
		<description>[...] gpp kok, kan cuma sinetron.  Mungkin sebagian besar iya, tidak perduli ketidaklogisan.  Namun, ketidaklogisan yang konyol menempatkan pikiran di bawah karpet benar-benar menghilangkan [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] gpp kok, kan cuma sinetron.  Mungkin sebagian besar iya, tidak perduli ketidaklogisan.  Namun, ketidaklogisan yang konyol menempatkan pikiran di bawah karpet benar-benar menghilangkan [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Brahm</title>
		<link>http://warungfiksi.net/logika-bertutur-dalam-fiksi/comment-page-1/#comment-962</link>
		<dc:creator>Brahm</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 03:25:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=149#comment-962</guid>
		<description>Silakan. Ke bhanto@yahoo.com ya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Silakan. Ke <a href="mailto:bhanto@yahoo.com">bhanto@yahoo.com</a> ya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Aleena</title>
		<link>http://warungfiksi.net/logika-bertutur-dalam-fiksi/comment-page-1/#comment-961</link>
		<dc:creator>Aleena</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 03:21:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://warungfiksi.wordpress.com/?p=149#comment-961</guid>
		<description>Mmmm..... *Masih binggung dengan penerapan*

Loading....

Hang!!

Begini saja, saya ada cerpen saya sendiri. Nanti saya kirim ke mas Bram. Terus mas Bram coba menganalisisnya dengan &#039;pengkritisian logika&#039;, sehingga saya bisa melihat langkah-langkahnya.

Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana? Cerpenya cuma 3 halaman, kok.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mmmm&#8230;.. *Masih binggung dengan penerapan*</p>
<p>Loading&#8230;.</p>
<p>Hang!!</p>
<p>Begini saja, saya ada cerpen saya sendiri. Nanti saya kirim ke mas Bram. Terus mas Bram coba menganalisisnya dengan &#8216;pengkritisian logika&#8217;, sehingga saya bisa melihat langkah-langkahnya.</p>
<p>Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana? Cerpenya cuma 3 halaman, kok.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
